Madrasah reform

Saya diundang menjadi nara sumber di International Conference on Madrasah Reform (ICMR) 2021 (tautan lengkap sidang pleno dapat dilihat di YouTube) pada 6 Desember 2021. Judul presentasi saya adalah “The assessment on performance and delivery of madrasah and pesantren educations: The importance of the education blueprint”.

Dua puluh dua tahun dengan UTM

Foto dengan toga Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan rentang waktu 22 tahun, lulus Ph.D. tahun 1998 (foto dengan toga tahun 1999), dilantik menjadi profesor tahun 2010 (foto dengan toga tahun 2011), dan foto terakhir tahun 2021.

Berikut adalah jabatan-jabatan yang saya pegang di UTM dan juga jabatan-jabatan di luar UTM dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2022 yang ditulis secara kronologis di bawah ini.

  • 2018–2022 | Direktur Institut, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research (ISI-SIR), Universiti Teknologi Malaysia
  • 2017–2022 | Adjunct Professor, Universitas Negeri Malang, Indonesia
  • 2015–2019 | Direktur, Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano), Universiti Teknologi Malaysia
  • 2010–2022 | Profesor (VK07), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia
  • 2015 | Visiting Scientist, Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Jerman
  • 2009–2014 | Ketua Grup Catalytic Science and Technology (CST), Universiti Teknologi Malaysia
  • 2008–2014 | Global Alliance Manager (Region 1 – South East Asia), Universiti Teknologi Malaysia
  • 2008–2010 | Associate Professor (DS53), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia
  • 2007–2008 | Pensyarah Kanan (DS51), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia
  • 2003–2007 | Pensyarah (DS45), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia
  • 2002–2003 | Research Officer, Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia
  • 2001–2002 | COE Visiting Researcher, Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang
  • 1999–2001 | JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow, Laboratory of Catalytic Reaction Chemistry, Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang
  • 1998–1999 | Postdoctoral Fellow, Department of Chemistry, Universiti Teknologi Malaysia

Pada tahun 2008, saya memulai pengalaman saya di bidang administrasi sebagai Manajer Hubungan Internasional di Kantor Urusan Internasional UTM. Saya bekerja di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Mohd Azraai Kassim sebagai direktur dan Assoc. Prof. Dr. Mohammad Ismail Abd Aziz sebagai Wakil Direktur. Saya bekerja di Kantor Internasional UTM selama 5 tahun 4 bulan, di mana saya terlibat dalam upaya UTM untuk mendapatkan dosen dan mahasiswa dari Indonesia. Ini adalah bagian dari upaya UTM untuk memperoleh status universitas riset pada 10 Juni 2010.

Saat itu, UTM memiliki lebih dari 30 dosen dari Indonesia dan sekitar 450 mahasiswa. Saya melakukan banyak kunjungan ke Indonesia bersama Prof. Dato’ Seri Dr. Zaini Ujang, Naib Canselor UTM, dan juga Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris, Direktur Pemasaran UTM saat itu. Sebagai International Affairs Manager, inisiatif pertama saya adalah mengunjungi Dr. Fasli Jalal, yang pada saat itu menjabat sebagai Dirjen Dikti, pada tanggal 9 Februari 2009 untuk memperkenalkan Indonesia Scholar-in-Residence Program (ISRP).

Kebahagiaan semu

Kepuasan tidak sama dengan kebahagiaan. Kepuasan hanya bertahan pada jangka masa yang pendek, sedangkan kebahagiaan lebih lama bertahan efeknya. Salah satu contoh kepuasan adalah menerima pujian. “Pujian dapat meningkatkan kebahagiaan“, kata para peneliti, walaupun sebenarnya kebahagiaan tersebut sebenarnya adalah hanyalah kepuasan. Mungkin ini adalah alasan mengapa banyak orang yang suka pamer supaya dipuji, supaya puas. Karena pujian tersebut sifatnya jangka pendek, maka frekuensi untuk pamer perlu tinggi supaya selalu puas. Akhirnya ketagihan. Ini fenomena yang kita temui dalam media sosial, pamer supaya dipuji. Inilah yang membuat Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, menjadi sangat kaya raya karena sekarang manusia mempunyai platform untuk mendapatkan kepuasan dari pujian. Mungkin dia paham betul dengan psikologi manusia yang dia manfaatkan menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan.

Kebahagiaan adalah emosi yang datang pergi, bergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan. di bawah ini adalah cara untuk memandang kehidupan supaya tetap bahagia, walaupun dalam keadaan senang atau susah.

"Betapa indahnya menjadi orang yang beriman! Ada kebaikan baginya walau apa pun yang terjadi padanya - dan tidak ada seorang pun, selain dia, yang menikmati berkah ini. Jika dia menerima hadiah, dia berterima kasih kepada Allah atas karunia yang membawa kebaikan baginya. Dan jika kesulitan menimpanya, dia sabar, dan kesengsaraan ini juga membawa kebaikan baginya" (Muslim).
Kisah pencarian tak henti-hentinya tikus untuk kebahagiaan, video yang luar biasa oleh Steve Cutts. Sumber aslinya bisa dilihat di YouTube.

Belajar dari angka nol

Prof. Damardjati Supadjar (almarhum, Universitas Gadjah Mada) menyatakan bahwa “Hidup ini seperti matematika, kita harus belajar dari angka nol. Kalau diperhatikan, selama manusia hidupnya hanya menjumlah atau menambah, misalnya tambah harta, tambah anak, atau tambah jabatan, niscaya hidupnya tidak akan cepat menuju kesempurnaan, menuju ‘infinitum’ (ketidakterbatasan). ‘Infinitum’ diperoleh jika manusia melakukan pembagian dengan angka nol. Angka nol itu, dalam bahasa agama, sama dengan ikhlas. Artinya, hidup itu harus ikhlas, niscaya kita bisa segera mencapai infinitum.”

Didik muridmu menjadi orang yang merdeka

Selama 20 tahun karier saya sebagai dosen, saya telah membimbing 34 mahasiswa Ph.D. dan 5 postdoc. Sebagai seorang dosen, saya banyak belajar dari pengalaman mereka dalam menyelesaikan Ph.D. mereka. Beberapa dari mereka lambat untuk menyelesaikan Ph.D. karena ada masalah keluarga dan keuangan. Saya harus bersabar dan perlu menyusun strategi supaya mereka bisa lulus.

Saya menyadari bahwa karakter setiap mahasiswa yang dibimbing tidak sama. Mereka individu yang unik. Mereka berbeda karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Kita terkadang lupa, bahwa kita perlu menghargai keunikan individu, berusaha menggali kepribadian individu tersebut agar bisa berprestasi. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mempromosikan nilai keunikan pribadi, rasa hormat, kejujuran, kemandirian, keterlibatan, dan harapan.

Terkadang, hanya karena untuk menghasilkan angka-angka, seperti impact factor, h-index, naik pangkat sebagainya, yang hanya bersifat jangka pendek, kita mengorbankan tujuan jangka panjang dan mulia dalam mendidik orang, hanya untuk kesuksesan semu. Mahasiswa perlu dididik untuk mandiri, kreatif, mampu berpikir sendiri, dan memiliki integritas moral yang tinggi.

Merdeka belajar itu penting!

Kisah sisir dalam memaknai sesuatu

Akhirnya sisir yang menemani istriku, Terry Terikoh, selama 31 tahun, sejak beliau masih gadis, akhirnya patah oleh si bungsu Fahima Zikra. Sisir ini juga telah menyisir kepalaku selama 23 tahun, sejak kami menikah pada tahun 1993. Tidak terhitung berapa banyak rambut yang rontok oleh sisir ini. Memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun, kami berterima kasih karena sisir ini telah berkhidmat dengan keluarga kami lebih dari tiga dasawarsa.

Mungkin bagi sebahagian orang, patahnya sisir adalah hal yang biasa. Tidak luar biasa. Ini bergantung bagaimana kita melihat dan meletakkan nilai kepada sesuatu. Memaknai sesuatu. Dalam hidup ini saya berusaha untuk memaknai semua yang yang saya alami, walaupun kecil dan sepele. Bagi saya, seharusnyalah kita memaknai dari detik ke detik kehidupan yang singkat ini supaya berarti.

Rasa ketidakadilan

Setiap fajar, berita-berita yang saya baca selalu menorehkan goresan ketidakadilan di hati. Ada yang semakin menggunung hartanya, bukan semata-mata karena kerja keras, melainkan karena sistem yang memihak pada mereka yang telah berada di puncak. Di sisi lain, ada yang terus terjepit dalam kemiskinan, dengan pandemi COVID-19 menambah beban mereka. Dan tak ketinggalan, ada pula yang terus menerus haus akan kekuasaan, tanpa memedulikan nasib mereka yang terpinggirkan.

Ketidakadilan, sebuah fenomena yang tak asing bagi kita semua. Ia muncul bukan hanya karena ada yang sengaja menindas, melainkan juga karena ada yang tak sengaja salah langkah. Mendapatkan keuntungan dan pengambilan keputusan yang tidak tepat atau salah; dua hal yang seringkali menjadi akar dari ketidakadilan. Bagi saya, keserakahan yang menjadi dasar dari tindakan mengambil keuntungan adalah sesuatu yang sulit untuk dimaafkan. Namun, kesalahan dalam pengambilan keputusan adalah hal yang manusiawi. Setiap insan pasti pernah berbuat salah. Dengan perspektif ini, kita bisa melihat dunia dengan lebih bijaksana, meskipun ia tak selalu adil. Dunia ini memang tidak adil.

Kelicikan iblis dan manusia

Saya mempunyai buku yang berjudul “Dialog dengan iblis” yang dikarang oleh Muhammad Abdul Al-‘Maghawiri. Buku yang menceritakan bagaimana iblis dalam menjerumuskan manusia untuk berbuat jahat seperti yang dapat dilihat dari video singkat di bawah ini. Setelah membaca buku ini, ada dua hal yang saya simpulkan, pertama iblis itu pintar, dan kedua adalah licik. Dua kemampuan ini yang membuat iblis dapat dengan mudah memperdaya manusia.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, kita dapat merasakan bahwa kelicikan iblis ini juga terdapat pada manusia. Hal ini sering tidak kita sadari. Seringkali kita melihat orang-orang yang jujur dan teguh dalam pendirian sepertinya tidak berhasil dalam karir. Sepertinya perlu kelicikan diperlukan untuk mencapai prestasi. Hal yang sama juga dapat kita lihat ketika tujuan utama dan hakikat menjadi kabur. Sebagai contoh, kita lupa bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendidik. Kita lupa bahwa tujuan politik adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Kita lupa bahwa tujuan hukum adalah untuk keadilan. Dan seterusnya.

Saya menemukan sebuah website yang menarik yang menjelaskan bagaimana menjadi licik: https://www.wikihow.com/Be-Cunning. Saya melihat bahwa kita dapat menjadikan sifat licik itu menjadi kelicikan yang baik, dan menghindari kelicikan yang jahat dengan cara mengetahui bagaimana menjadi orang yang licik. Setelah saya baca, saya menyadari bahwa ada orang-orang yang saya kenal mempunyai karakter yang licik, bahkan sangat licik — sehingga dia dapat mencapai prestasi dunia yang hebat dimata manusia. Di bawah ini adalah hasil saduran saya terhadap website https://www.wikihow.com/Be-Cunning yang menjelaskan bagaimana menjadi orang yang licik.

Bagaimana menjadi licik?

Kamus Online Merriam-Webster mendefinisikan “licik” sebagai kata sifat yang berarti “mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara yang cerdas dan sering kali menipu.” Orang yang licik bersedia menggunakan kehalusan, akal-akalan, dan tipu daya untuk memanipulasi orang lain dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia mampu memahami niat orang lain dan menggunakan informasi ini untuk kemajuan pribadi. Menjadi licik adalah cara yang bagus untuk memastikan kita mengelola orang-orang dan kekuatan dalam hidup kita sehingga kita selalu menjadi yang teratas.

Menjadi perseptif

Maksud dari perseptif adalah cepat melihat, memahami, atau menyadari sesuatu. Ini adalah karakter utama yang diperlukan untuk menjadi orang licik.

1. Selalu mencari informasi lebih lanjut. Orang yang licik melihat hal-hal yang orang lain tidak melihatnya atau melewatkannya begitu saja. Mereka melihat mesin kehidupan yang tersembunyi. Orang licik selalu mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebelum membuat keputusan.

2. Mempertanyakan motif orang lain. Orang yang licik terkenal karena kemampuan mereka untuk melihat melalui fasad orang lain. Dia melakukan ini karena dia mempunyai kemapuan “membaca” orang lain.

3. Mencari detail kecil. Orang yang licik memperhatikan hal-hal yang kecil yang dapat dimanipulasi untuk keuntungan mereka. Jika kita memperhatikan detail kehidupan, kita akan menemukan diri kita lebih siap untuk memanfaatkan peluang ketika peluang itu muncul dengan sendirinya.

4. Waspada. Seseorang tidak mungkin licik jika dia cuek dan tidak fokus. Bagian penting dari kelicikan adalah menjadi aktif dan waspada pada saat yang paling penting.

5. Ambil sudut pandang yang objektif. Orang yang licik berusaha untuk tidak membiarkan persepsi dan pengambilan keputusan mereka dikaburkan oleh emosi atau prasangka.

6. Perhatikan kekuatan dan kelemahan orang lain. Langkah ini sangat penting. Orang licik memperbaiki diri dengan membodohi, menipu, atau menipu orang lain. Orang tertentu jauh lebih mudah ditipu oleh orang yang licik ketika kekuatan dan kelemahannya diketahui, daripada tidak diketahui.

Membangun kecerdasan untuk menjadi licik

1. Latihan, latihan, latihan. Jika kita dilahirkan dengan sangat licik dan kejam, kita mungkin seorang psikopat. Kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menjadi licik melalui latihan. Mencoba menemukan peluang berisiko rendah sebagai latihan untuk menjadi licik dalam situasi yang serius. 

2. Jangan pernah menerima apapun tanpa pertimbangan. Orang yang licik adalah orang yang skeptis. Jangan pernah menerima informasi yang kita berikan atau kesan yang diberikan seseorang kepada kita tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Terus-menerus bertanya pada diri sendiri apakah orang yang berinteraksi dengan kita tampak tulus. 

3. Pertimbangkan semua kemungkinan keberhasilan. Sebelum segala sesuatu terjadi, luangkan waktu untuk membayangkan setiap kemungkinan situasi yang mungkin terjadi dan antipasi skenario terburuk yang mungkin terjadi.

4. Belajar dari kesalahan. Penipu yang paling berpengalaman pun terkadang tertangkap. Gunakan kegagalan kita sebagai pengalaman belajar. 

5. Kenali dirimu. Orang yang licik tentu harus dapat menemukan kekuatan dan kelemahan orang lain, tetapi hampir sama pentingnya bahwa dia juga dapat menemukan kelemahannya sendiri.

Menipu orang lain

1. Sempurnakan wajah penipu kita. Sama seperti orang yang licik harus bisa membaca wajah orang lain, mereka juga harus bisa mencegah orang lain membaca wajah mereka sendiri. Sebagai contoh, cobalah untuk tidak tersenyum atau cekikikan saat kita menipu seseorang. Sebaliknya, santai dan ambil napas dalam-dalam.

2. Percaya diri dan tegas. Orang-orang lebih cenderung mempercayai orang lain yang tampak percaya diri dalam pengambilan keputusan mereka. Jika kita licik, kita harus siap untuk mengeksploitasi ini. 

3. Belajar berbohong. Kebohongan adalah sahabat orang yang licik. Kebohongan yang baik masuk akal, atau setidaknya sulit untuk disangkal. Berbohong dengan baik membutuhkan banyak kecerdasan dan kontrol emosional. Orang yang licik tidak hanya bisa berbohong kepada orang lain, dia juga bisa berbohong pada dirinya sendiri. 

4. Pasang perangkap (metaforis). Kita perlu memasang jebakan supaya orang terjerumus. Dengan menilai kekuatan, kelemahan, dan motivasi orang lain, kita dapat membuat jebakan yang hebat.

5. Jauhi sorotan. Orang yang licik tidak pernah terlalu banyak menarik perhatian orang lain.

6. Memiliki alternatif jika tidak berhasil. Orang yang licik mempertimbangkan semua hasil yang mungkin untuk skema mereka – bahkan hasil yang tidak menguntungkan. Selalu memperhitungkan kemungkinan kegagalan. Siapkan rencana jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. 

Semoga kita dijauhi dari sifat iblis dan godaan setan yang terkutuk. Wallahu A’lam Bishawab.

Kualitas pemikiran

Setiap hari saya selalu bertemu dan berbicara dengan orang. Di kampus, saya selalu berbicara dan berdiskusi dengan mahasiswa dan juga kawan-kawan sesama pensyarah atau dosen. Dengan mahasiswa, saya selalu mempengaruhi mereka untuk berpikir dan dan bertindak dengan baik.

Di bawah ini adalah gambaran bahwa kualitas pemikiran kita yang sangat dipengaruhi oleh kesadaran supra dan juga alam bahwa tidak sadar, yang berupa intuisi, kekuatan spritual, pengalaman masa lalu dan kebiasaan seseorang. Kesadaran supra akan memberikan inspirasi kepada kesadaran, dan alam bawah tidak sadar memberikan proyeksi kepada kesadaran dan pemikiran. Inspirasi adalah proses yang dirangsang secara mental untuk melakukan hal-hal yang kreatif. Suasana mental yang baik sangat diperlukan, dan ini mesti difasilitasi oleh suasana dan lingkungan yang kondusif.

kualitas pikiran .png

Namun, inspirasi dan proyeksi tidak akan berjalan dengan baik jika pikiran dan hati kacau, yang disebut sebagai mekanisme yang menghambat (inhibitory mechanism). Gangguan mental dan kesehatan adalah faktor yang menyebabkan hambatan ini.

Untuk mendapatkan kualitas pemikiran yang baik, kita mesti mempunyai kekuatan spritual dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Buang atau jauhi kebiasaan-kebiasaan yang buruk, karena secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pemikiran kita.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mengasah penalaran logika semata-maya tetapi juga mengasah kekuatan spiritual. Publikasi dari Gerd Gigerenzer ini dapat dirujuk. Dikatakan bahwa “intuition is the highest form of intelligence“.

Bahan pembicaraan kita

Kadang-kadang topik pembicaraan kita dengan seseorang bergantung kepada tujuan juga dan kepentingan. Jika kita bertemu dengan kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, topik pembicaraan bisa melantur ke mana-mana. Namun, kadang-kadang dari topik tersebut kita bisa menganalisis sampai di mana “tingkat” kualitas dari pembicaraan tersebut.

Terdapat tiga tingkat kualitas pembicaraan. Tingkat paling dasar adalah topik yang membicarakan mengenai masalah kebendaan, masalah kebutuhan dasar hidup seperti makanan, kendaraan, rumah, pendidikan sebagainya. Masalah hidup. Tingkatan yang lebih tinggi adalah pembicaraan mengenai topik mengenai sukses. Sukses dalam konteks ini saya definisikan kepada manfaat seseorang kepada orang lain. Orang sukses adalah orang yang banyak memberi manfaat pada orang lain. Tingkat yang paling tinggi adalah pembicaraan mengenai “kearifan”. Pembicaraan mengenai hakikat hidup yang mensinergikan antara iman dan ilmu yang dinamakan sebagai al-hikmah. Makin tua seseorang, seharusnya, makin banyak dia membicarakan al-hikmah, makin ariflah dia. Seseorang yang melulu tertambat membicarakan hanya pada masalah kebutuhan dasar kehidupan dan masalah remeh, maka tertambatlah dia di sana. Padahal hidup itu ada tujuan yang lebih abadi.