Guru-guruku

Beberapa orang guru saya telah meninggal dunia.  Mereka tidak tahu bahwa mereka mempengaruhi keabadian; dan mereka tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti. Saya menulis tentang mereka di blog ini; Prof. Dr. Susanto Imam RahayuProf. Dr. Rochim SuratmanProf. Dr. Mardjono Siswosuwarno, dan Drs. Hiskia Ahmad.

Berikut ini adalah nama-nama guru dan pembimbing yang pernah mengajar saya selama kuliah di S1, S2, S3 dan postdoc. Beberapa orang telah meninggal dunia.

Institut Teknologi Bandung (1987-1995). Enam setengah tahun sebagai sarjana (S.Si. dalam bidang kimia) dan mahasiswa pascasarjana (M.T. dalam bidang Ilmu dan Teknik Material).

  • Prof. Ir. Tata Surdia
  • Prof. Ir. Ibrahim Sastramihardja
  • Prof. Dr. Waloejo Loeksmanto
  • Prof. Dr. Soekeni Soedigdo
  • Prof. Dr. Sjamsul Arifin Achmad
  • Prof. Dr. Oei Ban Liang
  • Prof. Dr. Noer Mansjoeriah Surdia
  • Prof. Dr. Muhammad Wirahadikusumah
  • Ir. Mathijs Stefanus Tupamahu, M.Si.
  • Drs. Soejoto
  • Drs. Samyoeto, M.Si.
  • Drs. Rawuh
  • Drs. Ismono
  • Drs. Herman
  • Drs. Hasbuna Kifli, M.Si.
  • Drs. Hadi Sutedjo
  • Drs. Budi Setiadi, MA
  • Drs. Hiskia Ahmad
  • Dra. Rubiah Kasa
  • Dra. Irawati
  • Dr. Tan Ik Gie
  • Dr. Susanto Imam Rahayu
  • Dr. Sadijah Ahmad
  • Dr. Purwo Arbianto
  • Dr. Mumu Sutisna
  • Dr. Muliawati
  • Dr. Ir. Rochim Suratman
  • Dr. Ir. Mardjono Siswosuwarno
  • Dr. Ir. Eddy Ariyono Subroto
  • Dr. Ir. Bambang Widyanto
  • Dr. Ing. Barnas Holil
  • Dr. Fadjar Harjanto
  • Drs. Detlev Naroso Hadisoebroto
  • Dr. Cynthia Linaya
  • Drs. Bunbun Bundjali
  • Dr. Buchari
  • Dr. Bambang Ariwahjoedi
  • Dr. Aloysius Rusli

Universitas Padjadjaran (1988 – 1989). Satu tahun sebagai mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran Gigi.

  • drg. Dede Sutardjo
  • drg. Maman Abdulrachman

Pusat Penelitian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (1990 – 1992). Dua tahun sebagai mahasiswa tugas akhir melakukan penelitian tentang analisis aktivasi neutron.

  • Dr. Harjoto Djojosubroto (Pembimbing Tugas Akhir)

Universiti Teknologi Malaysia (1995 – 1999). Empat tahun sebagai mahasiswa Ph.D. dalam bidang kimia material dan postdoc. Satu tahun sebagai peneliti (Mei 2002 – Mei 2003).

  • Prof. Dr. Halimaton Hamdan

Hokkaido University (1999 – 2002). Dua setengah tahun sebagai peneliti pascadoktoral JSPS dan peneliti tamu.

  • Prof. Dr. Bunsho Ohtani

“Ya Allah, ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.”

Debat kusir

Terkadang saya perlu menghindari debat kusir. Istilah debat kusir, yaitu istilah yang menggambarkan sebuah perdebatan yang tidak ada habisnya, sia-sia, dan tidak memiliki kesimpulan. Dalam kuliah terakhir Metodologi Penelitian kemaren, saya menekankan kepada mahasiswa untuk selalu berpikir sebagai seorang saintis, dan menghindari perdebatan yang sia-sia. Mudah-mudahan ilmu kimia yang mereka pelajari selama satu semester ini dapat mereka terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dari beberapa sumber, cerita tentang debat ini berawal dari cerita tentang perbualan antara Pak Kusir yang sedang mengendarai delman (dogcart) dan temannya. Konon, dari sinilah istilah itu berasal. Pada suatu kesempatan, Pak Kusir sedang asyik berbincang dengan temannya. Dalam percakapan itu terjadi percakapan bebas di antara mereka. Sambil mengobrol mereka mendengar kuda kentut. Begitu mendengar kudanya kentut, Pak Kusir berkata “kuda saya masuk angin”, tetapi kemudian temannya menjawab “tidak, kuda itu keluar angin”. Akhirnya terjadilah perdebatan diantara mereka. Debat ini kemudian diistilahkan dengan debat kusir, debat yang tidak ada penghujungnya, mana yang betul antara “keluar angin” dan “masuk angin”.

Nah, inilah fenomena debat kusir yang terlihat jelas di media sosial. Ambil ini sebagai hiburan jangan terlalu memikirkannya dan dibawa ke hati.

Foto menggunakan toga

Empat bulan yang lalu saya memposting foto saya di LinkedIn menggunakan toga Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Hari ini saya melihat foto tersebut telah disukai oleh 1,730 orang dan telah menerima 70,216 kesan.

Agama dan filsafat

Saya menemukan perbedaan antara filsafat dan agama yang diposting di salah satu media sosial seperti di bawah ini.

Filsafat

“Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab.”

Agama

“Jawaban yang tidak akan pernah dipertanyakan.”

Sebagai orang yang tidak mendalami filsafat, saya pikir agama dan filsafat jangan dicampuradukkan, karena pikiran manusia yang sangat terbatas. Menurut Prof. Dr. H. Rasyidi, perbedaan antara filsafat dan agama bukan terletak pada bidangnya, tetapi terletak pada cara-cara menyelidiki bidang-bidang itu sendiri, yaitu:

  • Filsafat adalah berfikir, sedangkan agama adalah mengabdikan diri.
  • Agama banyak berhubungan dengan hati, sedangkan filsafat banyak berhubungan dengan pemikiran.
  • Filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadah atau mengabdi.
  • Pokok agama bukan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang penting adalah hubungan manusia dengan Tuhan.
  • Agama dan filsafat dapat dibedakan sebagai enjoyment dan contemplation, misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut enjoyment, sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut contemplation, yaitu memikirkan pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu. Sedangkan agama dapat dikiaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau contentment.
  • Agama mulai dari keyakinan yang kemudian dilanjutkan dengan mencari argumentasi untuk memperkuat keyakinan itu, sedangkan filsafat berawal dari mencari-cari argumen dan bukti-bukti yang kuat dan timbullah keyakinan.
  • Agama dapat diidentikkan dengan air terjun dari bendungan dengan gemuruhnya, sedangkan filsafat diumpamakan dengan air telaga yang jernih, tenang dan kelihatan dasarnya.
  • Seorang penganut agama biasanya selalu mempertahankan agamanya habis-habisan karena dia sudah mengikatkan diri kepada agamanya itu, sebaliknya seorang ahli filsafat bersifat lunak dan sanggup meninggalkan pendiriannya jika ternyata pendapatnya keliru.

Wallahu A’lam Bishawab

Dua puluh tip untuk menafsirkan klaim ilmiah

Daftar ini akan membantu non-ilmuwan untuk menafsirkan klaim ilmiah yang ditulis oleh William J. Sutherland, David Spiegelhalter, dan Mark A. Burgman.

  • Perbedaan dan kebetulan menyebabkan variasi.
  • Tidak ada pengukuran yang tepat.
  • Bias merajalela
  • Jumlah sampel yang lebih banyak biasanya lebih baik.
  • Korelasi tidak berarti sebab-akibat.
  • Regresi ke mean dapat menyesatkan.
  • Ekstrapolasi di luar data berisiko.
  • Waspadalah terhadap kekeliruan tingkat dasar.
  • Kontrol itu penting.
  • Pengacakan menghindari bias.
  • Carilah replikasi, bukan pseudoreplikasi.
  • Ilmuwan adalah manusia.
  • Signifikansi adalah signifikan.
  • Pisahkan tidak ada efek dari tidak signifikan.
  • Ukuran efek penting.
  • Relevansi studi membatasi generalisasi.
  • Perasaan mempengaruhi persepsi risiko.
  • Ketergantungan mengubah risiko.
  • Data dapat dikeruk atau dipetik ceri.
  • Pengukuran ekstrim dapat menyesatkan.

Referensi: https://www.nature.com/news/policy-twenty-tips-for-interpreting-scientific-claims | Twenty tips for interpreting scientific claims [PDF]

Hidup yang nyaman

Ada beberapa hal yang dapat membuat hidup menjadi lebih nyaman.

  • Kehidupan itu sangat bergantung kepada bagaimana kita memandang dan meletakkan standar hidup. Standar hidup yang sederhana akan membuat hidup lebih bahagia.
  • Jangan terlalu bergantung kepada hal-hal di luar diri.
  • Ciptakan kemandirian dan kedaulatan dalam mencapai kegembiraan diri.

Jujur dalam menilai

Kita perlu jujur dalam menilai kualitas sesuatu. Apakah kualitasnya setara dengan emas yang berkilau atau hanya sebatas batu biasa. Sesuatu yang berkualitas emas biasanya memiliki harga yang mahal. Oleh karena itu, banyak usaha dilakukan untuk membuat batu terlihat seperti emas, karena ini jalan yang mudah dan murah. Namun, kualitas batu tetap sama saja, hanya penampilannya yang menyerupai emas. Ini sering disebut sebagai pencitraan. Saat ini, pencitraan terjadi dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Banyak universitas yang mencitrakan diri mereka sebagai institusi pendidikan yang berkualitas, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Mereka hanya menutupi kekurangan mereka dengan lapisan tipis yang menyerupai emas, padahal kualitas pendidikan yang mereka tawarkan tetaplah sebatas batu biasa.

Pendidikan mesti jujur, karena itulah hakikat pendidikan. Tanpa kejujuran, pendidikan akan menjadi sampah.

Qimah

Ada konsep qimah yaitu motif seseorang mengambil keputusan atau tindakan, dan setiap keputusan dan tindakan harus didasarkan pada satu qimah saja, jika dicampur maka akan kacau balau. Tujuan ini disebut qimatul ‘amal (nilai yang dikejar dari suatu perbuatan). Oleh karena itu, setiap tindakan harus memiliki nilai tertentu yang ingin dicapai oleh orang yang melakukan tindakan tersebut – jika tidak, tindakan tersebut akan sia-sia. Sungguh tidak pantas seseorang melakukan suatu tindakan tanpa tujuan. Sebaliknya, ia harus memperhatikan pencapaian nilai-nilai di balik tindakannya. Ada empat jenis qimah:

  • Nilai materi (qimah madiyah), misalnya kegiatan di bidang perdagangan, pertanian, industri dan sejenisnya. Tujuan dilakukannya perbuatan ini adalah untuk mendapatkan hasil material, yaitu untuk memperoleh keuntungan. Nilai ini memiliki peran tersendiri dalam kehidupan.
  • Nilai-nilai kemanusiaan (qimah insaniyah), seperti menolong orang yang sedang tenggelam, atau orang yang sedang kesusahan. Dalam hal ini, tujuan dari perbuatan tersebut adalah untuk menyelamatkan manusia, tanpa membedakan warna kulit, ras, agama atau pertimbangan lain selain kemanusiaan.
  • Nilai-nilai moral (qimah akhlaqiyah), seperti kejujuran, amanah, atau rahmat (kasih sayang). Yang dimaksud dengan semua ini adalah aspek khuluqiyah (sikap yang baik) tanpa memperhatikan kemaslahatan materi atau manusia; karena terkadang sifat khuluq ini juga berlaku untuk selain manusia seperti cinta pada hewan dan burung. Bisa juga perbuatan khuluqiyah ini justru mendatangkan kerugian materiil. Namun, mencapai nilai moral dari suatu tindakan adalah suatu keharusan.
  • Nilai-nilai spiritual (qimah ruhiyah), seperti ibadah. Kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk keuntungan materi, bukan untuk kemanusiaan dan bukan urusan khuluqiyah, melainkan semata-mata untuk ibadah. Oleh karena itu, pencapaian nilai-nilai spiritual tersebut harus selalu dijaga agar tidak tercampur dengan nilai-nilai lainnya.

Contoh campur-baur yang dapat menimbulkan kekacauan adalah ketika nilai-nilai kemanusiaan bercampur dengan hal-hal materi, seperti membantu orang dalam kecelakaan kemudian mengumpulkan upah untuk membantu mereka, atau membantu orang dengan memberi mereka hutang dan kemudian mengumpulkan bunga dari mereka.

Dunia hanya permainan

Surah Al-Hadid ayat 20 berbicara tentang realitas kehidupan sementara di dunia.  Beberapa kata deskriptif digunakan untuk mengungkapkan kepada kita sifat aslinya. Setelah itu, Allah SWT memperingatkan kita untuk mengingat bahwa kehidupan dunia ini tidak lain adalah kenikmatan yang menipu.