Sains, agama dan perspektif

Di bawah ini adalah catatan saya ketika melihat ceramah Neil deGrasse Tyson di YouTube, bahwa hanya 7% saja saintis elit di Amerika Serikat yang percaya Tuhan. Data ini dipublikasikan di Nature dengan judul “Scientists are still keeping the faith” dan “Leading scientists still reject God.” Fenomena yang menarik.

Sumber: YouTube

Saya tidak tahu mengapa hanya sedikit saintis elit di Amerika Serikat yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Namun, menurut pendapat saya, hal ini disebabkan karena orang-orang ini kehilangan perspektif yang menyeluruh dalam memandang kehidupan. Perspektif mereka sempit. Hal ini juga terjadi dengan profesor saya di Jepang yang juga tidak percaya dengan Tuhan. Beliau saintis yang hebat.

Manusia adalah mahluk yang mempunyai keterbatasan. Perspektif manusia seperti berada dalam kapal selam. Semuanya berada di bawah air dan jika kita melihat ke luar jendela, yang kita lihat hanyalah kegelapan. Perspektif Allah SWT melihat melampaui apa yang kita lihat. Kita dapat membandingkan perspektif-Nya dengan periskop. Dia melihat di mana kapal selam itu berada dan ke mana arahnya. Dia tidak terbatas dalam perspektifnya seperti kita.

Walaubagaimanapun, sebagai manusia kita perlu berusaha meluaskan perspektif kita dengan cara meningkatkan pengetahuan, berusaha mencari tujuan kehidupan, berusaha mendekati sifat-sifat Allah SWT (lihat gambar di bawah), dan mengasah hati supaya dapat melihat sesuatu dengan jelas dengan perspektif yang luas.

Mustahil manusia dapat mencapai sifat-sifat Allah, namun manusia perlu berusaha.

Saya pikir, saintis yang tidak percaya Tuhan ini kurang mengasah hatinya. Kita tidak boleh menjadi manusia yang kehilangan perspektif dalam melihat kehidupan secara menyeluruh, dan membiarkan diri kita tertambat dengan dunia.

Wallahu a’lam bishawab

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.