Diam dan terlalu banyak berbicara

Pagi hari ini bagus untuk melakukan refleksi diri untuk menyambut bulan ramadhan. Besok umat Islam sudah mulai melaksanakan ibadah puasa.

Saya merasa, semakin tua umur ini, saya semakin banyak berbicara. Mungkin karena semakin banyak pengalaman dan ditambah lagi lebih arif melihat sesuatu sehingga selalu ingin membicarakan sesuatu yang saya anggap tidak benar. Sebagai makhluk sosial yang diprogram untuk menggunakan komunikasi sebagai alat utamanya, berbicara merupakan alat yang sangat efektif untuk bertahan hidup dan berkembang. Yang saya perhatikan adalah bahwa banyak orang yang menghabiskan masanya untuk berbicara mengenai dirinya sendiri. Saya tidak tahu alasannya, mungkin ini fitrah manusia yang memerlukan perhatian dari orang lain. Supaya diakui oleh orang lain.

Kita seringkali lupa bahwa diam juga kekuatan. Dengan diam, kita dapat mendengar apa yang dikatakan dan juga apa yang tidak dikatakan. Dengan diam dan merenung kita bisa dengan lebih mudah mencapai kebenaran. Kita mesti mengontrol kapan sebaiknya kita berbicara dan mempergunakan kekuatan dalam diam untuk merenung dan berpikir. Dalam keheningan dan diam, Insya Allah, kita dapat membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang kusut dan tidak benar. Diam dan berzikir adalah saluran utama untuk keheningan batin dan pikiran.

Mari kita jalani ramadhan yang akan dimulai besok. Dalam berpuasa, kita kurangkan bicara yang tidak perlu dan gunakan kekuatan diam untuk mengasah kekuatan spiritual kita.

Published by

Hadi Nur

Currently, I and my family enjoy living in Johor Bahru area and are glad that we made the move.