Refleksi, sejarah dan realitas

Menurut saya, mempelajari sejarah dan merefleksikannya itu penting. Tanpa ini, kita akan kehilangan arah. Setiap manusia sebenarnya dibentuk oleh sejarah hidupnya. Semua tindakan dan pikiran kita, secara langsung dan tidak langsung pasti dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan juga bagaimana kita mempersepsikan masa lampau tersebut. Seseorang yang mempunyai masa lampau yang susah, tentu berusaha untuk tidak menghindari keadaan yang susah tersebut untuk masa yang akan datang. Sesorang yang menderita trauma pada zaman dahulu, tentu akan menolak dan menghindari hal yang sama.

Mungkin, dengan kesadaran terhadap sejarah dan merefleksikannya, kita dapat lebih arif dalam memandang sesuatu. Pandangan yang tidak sempit. Kadang-kadang, saya tersenyum sendiri dan khawatir melihat orang yang sangat sempit pandangan hidupnya. Hidup hanya untuk key performance indicator yang dibalut dengan angka-angka. Dalam filsafat, ini dinamakan sebagai persepsi dan kenyataan (perception and reality), kebenaran dari kenyataan dan kenyataan dari kebenaran (the reality of truth and the truth of reality). Manusia zaman modern ini banyak yang terperangkap dengan instrumen-instrumen yang sepertinya sangat rasional, mekanistik dan terukur. Tidak sadar, disamping kekuatan rasionalitas, manusia juga mempunyai kekuatan rohaniah (spiritual power), yang seringkali tidak diasah dengan baik. Kalau kita paham mengenai semua ini, kita mempunyai wadah yang sangat besar untuk menerima realitas dan melihat sesuatu dalam bingkai yang sangat besar dalam memahami kenyataan.

Bagaimana cara memahami kenyataan? Caranya adalah dengan membaca, membaca apa saja di alam ini, dan berusaha untuk melihatnya sampai pada esensi dan hikmah dari segala sesuatu. Kedua adalah dengan refleksi dan perenungan. Lambat laun akan muncul kesadaran baru. Lihatlah Imam Al-Ghazali, beliau dapat menghasilkan buku-buku yang sangat luar biasa karena beliau mempunyai waktu dan suasana yang mendukung untuk itu. Buku Ihya’ ‘ulum al-din beliau tulis sewaktu beliau mengasingkan diri dari dunia yang materalistik. Sistem pendidikan tinggi kita saat ini tidak mendukung hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, sangat jarang muncul pemikir-pemikir yang hebat di rantau ini sekarang ini. Kita sangat kurang dan tidak punya waktu untuk merefleksikan diri, dan seringkali lupa pada sejarah.

Published by

Hadi Nur

Currently, I and my family enjoy living in Johor Bahru area and are glad that we made the move.