Sains dan teknologi memperbaiki diri sendiri untuk berkembang

Akhir-akhir ini media di Indonesia dihebohkan dengan skandal “Dwi Hartanto, ilmuwan yang mengaku memiliki prestasi tapi ternyata bohong“. Ini adalah bukti bahwa hasil sains dan teknologi mempunyai sifat memperbaiki diri sendiri (self correction), termasuk berita-berita keberhasilannya. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh Karl Popper:

Karl Popper argued, “science is one of the very few human activities — perhaps the only one — in which errors are systematically criticized and fairly often, in time, corrected”

Buku yang ditulis oleh P.B. Medawar yang berjudul “Advice to a Young Scientist [PDF]” dapat digunakan sebagai rujukan bagaimana saintis sepatutnya bekerja.

Walaubagaimanapun, bagi saya, kasus ini memperlihatkan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia mendambakan “pahlawan” dalam bidang sains dan teknologi. Hal ini dibuktikan dari kasus ini. Pahlawan biasanya disanjung, dan jika ternyata terbukti bahwa sebenarnya orang tersebut bukan “pahlawan”, akhirnya dihujat karena kecewa. Lihat saja, B.J. Habibie sampai saat ini masih banyak yang mengidolakan dan menyanjung beliau karena banyak yang menganggap beliau adalah “pahlawan” dalam bidang sains dan teknologi di Indonesia.

Rujukan

B. Alberts et al., “Self-correction in science at work”, Science, 348 (2016) 1420-1422.