Sadar bahwa hidup tidak abadi

Kemaren setelah saya memberikan presentasi di seminar di Banda Aceh, saya diajak jalan-jalan keliling Banda Aceh oleh Pak Yusuf, staf di Balai Riset dan Standarisasi Industri Banda Aceh. Wisata Tsunami katanya. Apa yang diperlihatkan oleh wisata ini adalah kedahsyatan dari gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda Banda Aceh pada 26 Desember 2004. Saya diajak melihat kapal yang beratnya puluhan ton yang dibawa oleh gelombang Tsunami sejauh 5 km dari tepi pantai. Dapat dibayangkan betapa tingginya gelombang Tsunami, yang katanya tingginya mencapai lebih dari 4 meter. Lebih dari 200 ribu orang yang meninggal dunia. Nyaris tidak ada yang selamat dibawa oleh arus gelombang yang dahsyat ini. Inilah kekuatan alam. Inilah kekuasaan Allah SWT.

Apa yang saya rasakan setelah mendengar cerita dari Pak Yusuf adalah bahwa kapan dan dimana saja manusia dapat berakhir hidupnya. Manusia adalah mahluk yang lemah. Terasa bahwa badan ini hanyalah tempat tinggal sementara ruh. Ruh hanya menumpang dibadan ini. Badan boleh reput karena penuaan dan akhirnya mati, namun ruh abadi.

Saya hanya bisa mengucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali”. Terasa bahwa manusia perlu agama dan keyakinan terhadap hidup setelah mati.

Tulisan di di pintu gerbang kuburan massal: “Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al-Anbiya, 35).

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.