Efek Jokowi

Siapa Jokowi? Informasi mengenai Jokowi atau Joko Widodo dapat dijumpai dengan mudah melalui mesin pencari Google: klik disini. Apa yang menarik dari Jokowi adalah keberhasilannya memenangi “hati rakyat”. Disamping itu beliau juga dianggap berhasil sebagai Walikota Solo dan akhirnya terpilih sebagai Gubernur Jakarta. Beliau tetap menjadi soroton media karena gaya kepemimpinannya yang lain dari yang lain. Ada beberapa catatan penting mengenai gaya kepemimpinan beliau yang patut ditiru, bukan saja oleh birokrat dipemerintahan tetapi juga bagi para pemimpin di universitas.

Lebih banyak dilapangan

Gaya Jokowi yang setiap hari mendatangi fasilitas-fasilitas publik seperti kantor lurah, camat, rumah sakit dan lain-lain memberikan banyak efek positif dalam menyelesaikan masalah. Banyak pemimpin yang lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan rapat sehingga tidak mengetahui secara riil permasalahan dilapangan.

Apa adanya

Berbicara apa adanya. Tidak ada kesan sombong, membanggakan diri dan lugas dalam berbicara.

Sederhana

Kesederhanaan dalam penampilan mendatangkan efek yang positif untuk mendekatkan diri kepada rakyat.

Tidak ada pencitraan

Walaupun banyak mengatakan bahwa kesederhanaan dan gaya kepemimpinan beliau adalah untuk pencitraan, namun saya yakin beliau jauh dari kesan politik pencitraan. Kita buktikan saja nanti. Saya yakin yang namanya pencitraan itu tidak akan bertahan lama. Ini hanya untuk strategi jangka pendek.

Be a wise man (Menjadi orang bijaksana)

“Be a wise man”

Menjadi bijaksana itu tidak mudah. Orang akan lebih mudah menjadi pandai karena rajin belajar. Menjadi orang yang produktif juga lebih mudah, asalkan rajin dan disiplin. Hal itu banyak dibuktikan disekeliling kita. Sebagai contoh, kita bisa saja mencetak mahasiswa menjadi ‘mesin’ untuk publikasi ilmiah dengan cara menekan mereka untuk menjadi produktif — misalnya untuk memenuhi target Dirjen Dikti mengejar Malaysia dalam publikasi ilmiah. Tapi, apakah ini bijaksana?

Oleh karena itu, saya mencoba menguraikan mengapa menjadi bijaksana itu penting dan seharusnya menjadi tujuan utama dari pendidikan, terutama pendidikan di universitas. Penting, karena saya bertugas sebagai seorang dosen di universitas, dan mempunyai tanggung jawab mendidik mahasiswa menjadi orang yang bijaksana.

Sebelum kita masuk dalam uraian mengapa kebijaksanaan mesti menjadi tujuan utama dalam pendidikan (tinggi), ada baiknya kita melihat terlebih dahulu mengenai pengertian kebijaksanaan.

Ini pengertian Wisdom atau kebijaksanaan menurut “Mbah” Wikipedia:

Kebijaksanaan adalah pemahaman yang mendalam dan realisasi seseorang terhadap sesuatu, peristiwa atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan sesuai dengan pemahaman tersebut. Hal ini memerlukan kontrol emosi sehingga prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuanlah yang menentukan tindakan seseorang tersebut. Kebijaksanaan juga pemahaman menyeluruh tentang kebenaran dan juga kemampuan untuk menilai secara optimum tindakan yang dilakukan.

Menurut saya, definisi kebjaksanaan menurut Wikipedia sudah sangat baik. Saya menulis dalam huruf tebal berwarna coklat beberapa kata kunci dari definisi tersebut, iaitu: pemahaman yang mendalam, realisasi, kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan, kontrol emosi, prinsip-prinsip universal, dan prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan. Di bawah ini adalah uraian dari kata-kata kunci tersebut.

Pemahaman yang mendalam

Untuk menjadi bijaksana, pemahaman terhadap sesuatu hal tidak boleh setengah-setengah. Kita harus paham betul permasalahan sampai detail. Perlu waktu, penelahaan dan mungkin juga kontemplasi untuk mendapat pemahaman terhadap sesuatu hal. Dalam acara dialog di televisi, seringkali kita melihat orang berbicara “asal bunyi” karena pemahamannya terhadap suatu permasalahan tidak begitu mendalam.

Realisasi

Pemahaman saja tidak cukup. Perlu ada tindakan untuk merealisasikan pemahaman. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai “No action talk only“. Orang yang bijaksana tidak hanya pandai berkata-kata tetapi juga perlu membuktikan kata-katanya dalam bertindak. Jangan hanya menjadi tukang kritik. Orang bijaksana adalah orang yang pemikiran dan ucapannya sesuai dengan tindakannya.

Kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan

Tidak semua orang mampu bertindak cepat dan tepat. Perlu pengetahuan, pengalaman  dan juga keberanian untuk itu. Yang banyak adalah orang yang bertindak lambat. Lambat mengambil keputusan, sehingga masalah lain timbul karena lamanya keputusan itu diambil. Kalaupun cepat, seringkali tidak tepat.

Kontrol emosi

Orang yang tidak dapat mengontrol emosi bukanlah orang yang bijaksana. Elemen ini yang biasanya jarang dipunyai orang. Perkelahian di parlemen di beberapa negara menjadi contoh orang-orang yang berpendidikan tinggi tidak dapat mengontrol emosi.

Prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan

Orang yang bijaksana perlu menerapkan prinsip-prinsip universal, seperti etika, kelaziman dengan menggunakan nalar yang baik dan didukung oleh pengetahuan yang cukup. Orang baik dan bermoral tinggi tidak cukup menjadi orang bijaksana tanpa memiliki pengetahuan yang cukup.

Nah, dengan penjelasan di atas, adalah sangat penting mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Saya dapat merasakan dan melihat bahwa pendidikan sekarang belum lagi untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Banyak pemimpin yang tidak bijaksana yang kita perhatikan disekeliling kita. Pikirkanlah.

Wassalam,

Hadi Nur
Guru Kimia di Universiti Teknologi Malaysia

Mau dibawa kemana pendidikan kita?

Tulisan ini adalah bahan renungan untuk kita memikirkan kemana tujuan pendidikan di universitas.

Kemaren saya jalan-jalan ke toko buku di Jusco Tebrau, Johor Bahru dan menemukan buku di bawah ini yang berjudul “A Whole New Mind: Why Right-Brainers Will Rule The Future” karangan Daniel H. Pink. Saya sempat memfoto sampul belakang buku tersebut, yang saya foto secara diam-diam (karena dilarang dilakukan di toko buku). Setelah saya telurusi di internet, ternyata buku ini adalah salah satu buku “New York Times bestseller“.

Adalah menarik, karena dalam buku tersebut dijelaskan bahwa untuk memasuki zaman konseptual (conceptual age), manusia perlu diasah untuk memanfaatkan “otak kanan” mereka. Orang yang ber-otak kanan adalah orang yang berperan dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Kenapa? karena kemampuan otak kiri lambat laun akan digantikan oleh otomasi dan komputer. Pada zaman pertanian, industri dan informasi (zaman sekarang), ekonomi dan masyarakat dibangun di atas landasan logis dan kemampuan seperti kemampuan komputer. Gambar di bawah ini menggambarkan bagaimana otak kiri dan kanan berfungsi.

Di zaman sekarang, pengetahuan dan pemikiran manusia diarahkan untuk membentuk masyarakat yang lebih cenderung mempunyai kemampuan memanfaatkan otak kiri. Lihat saja, negara-negara maju banyak mencurahkan waktu dan dana untuk menghasilkan manusia yang mempunyai kemampuan otak kiri yang hebat. Tes-tes yang menguji otak seperti PSAT, SAT, GMAT, LSAT, MCAT telah menjadi alat yang sangat penting untuk masuk dalam masyarakat elit dan kelas menengah.

Nah, menurut Daniel H. Pink, dalam zaman konseptual, zaman yang akan datang setelah zaman informasi sekarang, kemampuan otak kanan akan lebih banyak digunakan. Terjadi pergeseran dari “otak kiri” ke “otak kanan”. Di zaman konseptual, kita perlu dilengkapi oleh enam hal seperti di bawah ini.

  • Tidak hanya fungsi tetapi juga DESAIN
  • Tidak hanya argumen tetapi juga CERITA
  • Tidak hanya fokus tetapi juga SYMPHONY
  • Tidak hanya logika tetapi juga EMPATI
  • Tidak hanya keseriusan tetapi juga BERMAIN
  • Tidak hanya akumulasi tetapi juga MAKNA

Secara ringkas, penjelasannya adalah seperti berikut:

  • DESAIN – Bergerak melampaui fungsi dengan melibatkan estetika.
  • CERITA – Kemampuan bercerita, bukan hanya argumen.
  • SYMPHONY – Menambahkan inovasi dan tidak hanya fokus kepada hal-hal rinci.
  • EMPATI – Di luar logika dan melibatkan emosi dan intuisi.
  • BERMAIN – Membawa humor dalam kehidupan sehari-hari.
  • MAKNA – memberikan makna bagi kehidupan.

Seperti yang diperlihatkan dalam gambar “otak kiri dan kanan” di atas, hal-hal yang disebutkan di atas akan membawa kebahagiaan hidup. Kebahagian tersebut didapatkan dari melakukan pekerjaan memuaskan, menghindari emosi yang negatif, jaringan sosial yang kaya, bersyukur dan optimisme.

Kembali lagi kepada perenungan. Universitas yang hanya mementingkan angka, seperti impact factor dari publikasi ilmiah, daripada proses yang lebih memberdayakan “otak kanan” akan menghasilkan orang-orang yang digambarkan oleh gambar “otak kiri” (silahkan lihat gambar di atas).

Salam,
Hadi Nur (Guru kimia di Universiti Teknologi Malaysia)

Ingin menjual tanah yang tidak digarap di Cimahi

Sewaktu saya bekerja di Sapporo, Jepang tahun 1999 – 2002, saya sempat menyisihkan uang untuk membeli sebidang tanah di Cimahi, Jawa Barat. Awalnya, saya berencana untuk kembali ke Bandung dan membangun rumah di tanah ini. Namun, nasib mengantarkan saya bekerja di Malaysia. Oleh karena itu, saya ingin menjual tanah tersebut.

Luas tanah adalah ~ 700 meter persegi dan terletak di Jalan Tengah Raya, Ngamprah, Cimahi, Jawa Barat.  Jika berminat, silahkan hubungi saya: Hadi Nur (hadi.nur@gmail.com). Untuk melihat lokasi tanah, silahkan klik peta “Google Maps” di bawah ini atau klik link berikut: peta lokasi tanah.

Farewell to UTM alumnus from Indonesia

Farewell to UTM alumnus from Indonesia has been held at The Centre for Teaching and Learning (CTL) hall on 13 October 2012. Also present was Mr. Djudjur S. H. Hutagalung, Minister Counsellor for Social and Cultural Affairs at Indonesia Consulate in Johor Bahru. 46 graduates from Indonesia have received their scrolls during the 49th UTM Convocation Ceremony, where 9 of them were baccalaureate graduates and the rest were postgraduate graduates (Ph.D. and M.Sc.). Congratulations!

Angka, statistik dan penelitian ilmiah

Permainan angka merupakan mainan bagi banyak orang, penguasa, pengusaha, universitas dan lain-lain. Permainan ini juga menjadi mainan dari media massa. Melihat angka-angka makro ekonomi Indonesia (sebagai contoh), kadang-kadang saya merasa data-data tersebut tidak sesuai dengan keadaan di lapangan. Apakah saya yang bodoh, atau data-data tersebut yang membodohi saya. Contoh lain juga mengenai university ranking. Permainan angka-angka statistik juga sangat kelihatan. Sekali lagi saya merasa dibodohi. Dalam university ranking juga ada yang disebut sebagai employability, perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa, citations per faculty, dan sebagainya. Dalam kenyataan, karena angka-angka ini, tujuan utama dari universitas didirikan seakan-akan tidak diabaikan, yaitu untuk mendidik mahasiswa dan menjadi sumber kebijaksanaan (wisdom).

41dLervnCsL._SY344_BO1,204,203,200_.jpg

Di kampus, banyak dosen atau pensyarah bermain-main dengan angka. Dalam publikasi ilmiah, ada yang disebut dengan h-index dan citation. Demi angka, banyak strategi ‘aneh’ yang dibuat, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan etika akademis. Demi impact factor, permainan juga dilakukan dengan cara sebagai berikut. Para pengarang sebuah jurnal sepakat untuk merujuk artikel-artikel yang dipublikasikan juga dalam jurnal tersebut, sehingga impact factor-nya menjadi sangat tinggi, bahkan bisa menyamai Nature dan Science. Jurnal yang saya temukan bermain dengan citation adalah Energy Education Science and Technology Part A: Energy Science and Research dengan impact factor pada tahun 2011 adalah 31.677. Ini yang disebut sebagai citation cartel. Publikasikan sendiri dan rujuk sendiri.

Ini satu lagi mengenai angka. Saya juga mendengar dari seorang kawan pensyarah di Universiti Malaya, seorang mahasiswa bidang kimia berhasil menerbitkan 36 manuskrip di jurnal international selama 36 bulan pengajian PhD-nya. Mendengarkan hal tersebut, kening saya berkedut. Yang menjadi menjadi pertanyaan saya adalah, patutkah? Sebagai researcher yang juga meneliti dalam bidang ini, yang juga mempunyai pengalaman postdoc selama 4.5 tahun, bagi saya untuk mendapatkan hasil penelitian yang berkualitas adalah tidak mungkin mempublikasikan hasil penelitian setiap satu bulan. Apa yang saya usulkan kepada kawan saya di Universiti Malaya tersebut adalah, bentuk satu tim untuk menilai kesahihan publikasinya. Kalau perlu lihat log book mahasiswa tersebut. Jika log book-nya lengkap dan mahasiswa tersebut memang melakukan penelitian dengan cara yang betul, maka dia layak menjadi ‘superstar‘ dalam bidang penelitian. Kalau tidak, ini mesti menjadi pelajaran untuk kita bahwa melakukan penelitian yang benar bukanlah hal yang mudah. Saya tidak ingin skandal penipuan yang telah mengemparkan dunia ilmiah, yang dilakukan oleh Jan Hendrik Schön, yang menerbitkan data palsu di Science dan Nature (sebanyak 17 manuskrip) tidak terulang — hanya demi angka untuk pencapaian yang semu dan pencitraan. Dalam dunia akademik tidak ada jalan pintas.

Merujuk pada sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Dan Agin yang berjudul “Junk Science” (lihat gambar), kalimat yang ditulis pada sampul buku tersebut, Junk Science: An Overdue Indictment of Government, Industry, and Faith Groups That Twist Science for Their Own Gain, dapat menjadi refleksi kepada keadaan (sebagian) dunia sains atau ilmiah pada saat ini.

Saya merasa, sekarang, seakan-akan strategi hanya untuk mengejar hal-hal ini. Semua ini untuk siapa? [sambil merenung].