Be a wise man (Menjadi orang bijaksana)

“Be a wise man”

Tulisan di atas sengaja saya letakkan di halaman pertama website saya. Sengaja, karena menjadi bijaksana itu tidak mudah. Orang akan lebih mudah menjadi pandai karena rajin belajar. Menjadi orang yang produktif juga lebih mudah, asalkan rajin dan disiplin. Hal itu banyak dibuktikan disekeliling kita. Sebagai contoh, kita bisa saja mencetak mahasiswa menjadi ‘mesin’ untuk publikasi ilmiah dengan cara menekan mereka untuk menjadi produktif — misalnya untuk memenuhi target Dirjen Dikti mengejar Malaysia dalam publikasi ilmiah. Tapi, apakah ini bijaksana?

Oleh karena itu, saya mencoba menguraikan mengapa menjadi bijaksana itu penting dan seharusnya menjadi tujuan utama dari pendidikan, terutama pendidikan di universitas. Penting, karena saya bertugas sebagai seorang dosen di universitas, dan mempunyai tanggung jawab mendidik mahasiswa menjadi orang yang bijaksana.

Sebelum kita masuk dalam uraian mengapa kebijaksanaan mesti menjadi tujuan utama dalam pendidikan (tinggi), ada baiknya kita melihat terlebih dahulu mengenai pengertian kebijaksanaan.

Ini pengertian Wisdom atau kebijaksanaan menurut “Mbah” Wikipedia:

Kebijaksanaan adalah pemahaman yang mendalam dan realisasi seseorang terhadap sesuatu, peristiwa atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan sesuai dengan pemahaman tersebut. Hal ini memerlukan kontrol emosi sehingga prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuanlah yang menentukan tindakan seseorang tersebut. Kebijaksanaan juga pemahaman menyeluruh tentang kebenaran dan juga kemampuan untuk menilai secara optimum tindakan yang dilakukan.

Menurut saya, definisi kebjaksanaan menurut Wikipedia sudah sangat baik. Saya menulis dalam huruf tebal berwarna coklat beberapa kata kunci dari definisi tersebut, iaitu: pemahaman yang mendalam, realisasi, kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan, kontrol emosi, prinsip-prinsip universal, dan prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan. Di bawah ini adalah uraian dari kata-kata kunci tersebut.

Pemahaman yang mendalam

Untuk menjadi bijaksana, pemahaman terhadap sesuatu hal tidak boleh setengah-setengah. Kita harus paham betul permasalahan sampai detail. Perlu waktu, penelahaan dan mungkin juga kontemplasi untuk mendapat pemahaman terhadap sesuatu hal. Dalam acara dialog di televisi, seringkali kita melihat orang berbicara “asal bunyi” karena pemahamannya terhadap suatu permasalahan tidak begitu mendalam.

Realisasi

Pemahaman saja tidak cukup. Perlu ada tindakan untuk merealisasikan pemahaman. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai “No action talk only“. Orang yang bijaksana tidak hanya pandai berkata-kata tetapi juga perlu membuktikan kata-katanya dalam bertindak. Jangan hanya menjadi tukang kritik. Orang bijaksana adalah orang yang pemikiran dan ucapannya sesuai dengan tindakannya.

Kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan

Tidak semua orang mampu bertindak cepat dan tepat. Perlu pengetahuan, pengalaman  dan juga keberanian untuk itu. Yang banyak adalah orang yang bertindak lambat. Lambat mengambil keputusan, sehingga masalah lain timbul karena lamanya keputusan itu diambil. Kalaupun cepat, seringkali tidak tepat.

Kontrol emosi

Orang yang tidak dapat mengontrol emosi bukanlah orang yang bijaksana. Elemen ini yang biasanya jarang dipunyai orang. Perkelahian di parlemen di beberapa negara menjadi contoh orang-orang yang berpendidikan tinggi tidak dapat mengontrol emosi.

Prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan

Orang yang bijaksana perlu menerapkan prinsip-prinsip universal, seperti etika, kelaziman dengan menggunakan nalar yang baik dan didukung oleh pengetahuan yang cukup. Orang baik dan bermoral tinggi tidak cukup menjadi orang bijaksana tanpa memiliki pengetahuan yang cukup.

Nah, dengan penjelasan di atas, adalah sangat penting mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Saya dapat merasakan dan melihat bahwa pendidikan sekarang belum lagi untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Banyak pemimpin yang tidak bijaksana yang kita perhatikan disekeliling kita. Pikirkanlah….

Wassalam,

Hadi Nur
Guru Kimia di Universiti Teknologi Malaysia

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s