Angka, statistik dan penelitian ilmiah

Permainan angka merupakan mainan bagi banyak orang, penguasa, pengusaha, universitas dan lain-lain. Permainan ini juga menjadi mainan dari media massa. Melihat angka-angka makro ekonomi Indonesia (sebagai contoh), kadang-kadang saya merasa data-data tersebut tidak sesuai dengan keadaan di lapangan. Apakah saya yang bodoh, atau data-data tersebut yang membodohi saya. Contoh lain juga mengenai university ranking. Permainan angka-angka statistik juga sangat kelihatan. Sekali lagi saya merasa dibodohi. Dalam university ranking juga ada yang disebut sebagai employability, perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa, citations per faculty, dan sebagainya. Dalam kenyataan, karena angka-angka ini, tujuan utama dari universitas didirikan seakan-akan tidak diabaikan, yaitu untuk mendidik mahasiswa dan menjadi sumber kebijaksanaan (wisdom).

Di kampus, banyak dosen atau pensyarah bermain-main dengan angka. Dalam publikasi ilmiah, ada yang disebut dengan H-index dan citation. Demi angka, banyak strategi ‘aneh’ yang dibuat, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan etika akademis. Demi impact factor, permainan juga dilakukan dengan cara sebagai berikut. Para pengarang sebuah jurnal sepakat untuk merujuk artikel-artikel yang dipublikasikan juga dalam jurnal tersebut, sehingga impact factor-nya menjadi sangat tinggi, bahkan bisa menyamai Nature dan Science. Jurnal yang saya temukan bermain dengan citation adalah Energy Education Science and Technology Part A: Energy Science and Research dengan impact factor pada tahun 2011 adalah 31.677. Ini yang disebut sebagai citation cartel. Publikasikan sendiri dan rujuk sendiri.
41dLervnCsL._SY344_BO1,204,203,200_.jpgIni satu lagi mengenai angka. Saya juga mendengar dari seorang kawan pensyarah di Universiti Malaya, seorang mahasiswa bidang kimia berhasil menerbitkan 36 manuskrip di jurnal international selama 36 bulan pengajian PhD-nya. Mendengarkan hal tersebut, kening saya berkedut. Yang menjadi menjadi pertanyaan saya adalah, patutkah? Sebagai researcher yang juga meneliti dalam bidang ini, yang juga mempunyai pengalaman postdoc selama 4.5 tahun, bagi saya untuk mendapatkan hasil penelitian yang berkualitas adalah tidak mungkin mempublikasikan hasil penelitian setiap satu bulan. Apa yang saya usulkan kepada kawan saya di Universiti Malaya tersebut adalah, bentuk satu tim untuk menilai kesahihan publikasinya. Kalau perlu lihat log book mahasiswa tersebut. Jika log book-nya lengkap dan mahasiswa tersebut memang melakukan penelitian dengan cara yang betul, maka dia layak menjadi ‘superstar‘ dalam bidang penelitian. Kalau tidak, ini mesti menjadi pelajaran untuk kita bahwa melakukan penelitian yang benar bukanlah hal yang mudah. Saya tidak ingin skandal penipuan yang telah mengemparkan dunia ilmiah, yang dilakukan oleh Jan Hendrik Schön, yang menerbitkan data palsu di Science dan Nature (sebanyak 17 manuskrip) tidak terulang — hanya demi angka untuk pencapaian yang semu dan pencitraan. Dalam dunia akademik tidak ada jalan pintas.

Merujuk pada sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Dan Agin yang berjudul “Junk Science” (lihat gambar), kalimat yang ditulis pada sampul buku tersebut, Junk Science: An Overdue Indictment of Government, Industry, and Faith Groups That Twist Science for Their Own Gain, dapat menjadi refleksi kepada keadaan (sebagian) dunia sains atau ilmiah pada saat ini.

Saya merasa, sekarang, seakan-akan strategi hanya untuk mengejar hal-hal ini. Semua ini untuk siapa? [sambil merenung].

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Angka, statistik dan penelitian ilmiah”

  1. Saya sangat setuju dengan inti tulisan Prof Hadi . Saya ingin mengatakan bahwa seorang ilmuan hendaknya selalu berorientasi nilai dan bukan harga. Harga sangat relatif tanpa standar baku tetapi nilai selalu merujuk pada kebenaran .Terkadang sesuatu itu mempunyai harga rendah tetapi nilainya sangat tinggi dan sebaliknya . Bagi saya nilai identik dengan kebenaran sedangkan harga identik dengan kemenangan (semu).Semua orang yang mengejar harga akan cenderung korupsi (merusak) dan orang semacam ini banyak jumlahnya yaitu orang orang yang tidak pintar bersyukur terhadap nikmat Allah yang tak terhitung banyaknya ,karenanya Lukmanul Hakim pernah berdoa agar dirinya dimasukkan kedalam kelompok minoritas dan setelah ditanya alasannya dia menjawab “Bukankah Tuhan telah berfirman bahwa hanya sedikit dari hamba-hambanya yang pintar bersyukur ?’

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s