My new year’s resolution in 2013

Tomorrow, we will leave in 2012. Age increases. Hair is reduced. Hope to live longer in this world is decreasing. Measurable results and performance for the year 2012 was quite satisfactory, if viewed from the worldly aspects. Four times invited as a keynote speaker at international seminars in Indonesia and the United States. Twelve scientific publications with the cumulative impact factor are 25. Guiding twenty PhD students and two MSc students. But there are some questions that need to be answered in order to get a reward from Allah SWT and bring benefit to mankind.

Are all of these achievements started with good intentions, not to expect financial rewards, power, or just to show off?

Is all of this will bring benefits to the people?

To be honest, the answer is no.

Based on the above considerations and as noted on the front page of this website, the following is my resolution for next year.

The most important thing in my life is to be a good person. I will try to be a better person in 2013 and follow the following guideline: How to become a good person.

The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, “The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)” telah sebelas tahun berlalu. Acara ini diadakan di Sapporo pada tahun 2001. Kebetulan saya, satu-satunya postdoc di Hokkaido University dari Indonesia pada waktu itu, telah ditunjuk sebagai ketua untuk acara seminar ini. Saya masih ingat, dengan ditemani oleh Ahmad Hidayat Lubis dan Dwi Gustiono, kami menemui Prof. Michio Yoneyama, Director of International Student Center, Hokkaido University, untuk membicarakan HISAS-1. Beliau sangat mendukung acara ini, dan mengatakan bahwa HISAS-1 merupakan acara ilmiah pertama yang dibuat oleh persatuan mahasiswa asing di Hokkaido University. Acara ini telah dilaksanakan di Hokkaido University Multimedia Education Building, Graduate School of International Media and Communication pada 4 Nopember 2001, dan telah berlangsung dengan baik.

Prof. Takashi S. Kohyama bersedia menjadi keynote speaker dengan bantuan Joeni Setijo Rahajoe, yang ketika itu adalah mahasiswa PhD Prof. Kohyama. Pihak Kita Gas Co. Ltd. yang diwakili oleh Mr. Yozo Maeizumi (Managing Director) juga bersedia datang untuk memeriahkan acara ini. Ahmad Hidayat Lubis mempunyai andil besar untuk mendatangkan Mr. Maeizumi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Tokyo, Winnetou Nowawi, dan juga ketua PPI Jepang, Romi Satria Wahono, juga datang menghadiri HISAS-1.

Acara HISAS-1 berlangsung dengan meriah. Gelak tawa para peserta pecah ketika Heru Rachmadi, sang dokter hewan, menceritakan pengalamannya melakukan inseminasi buatan pada sapi. Hari Sutrisno dan Subeki juga menjadi bintang dalam HISAS-1, karena presentasi mereka tidak membuat mengantuk, penuh canda.

Sehat Jaya Tuah, yang menjadi sekretaris acara ini meninggal dunia pada 29 Mei 2010 (jam 10 malam) karena serangan jantung di Palangkaraya, Indonesia. Teringat senyuman dan keramahan Sehat Jaya Tuah.

Acara ini tinggal kenangan. Buku prosiding HISAS-1 masih menghias lemari buku saya.

Website acara ini dapat di akses di alamat berikut ini: http://hadinur.com/hisas1/

RAFSS 2012 and Scientific Talks [10 – 12 December 2012]

The Regional Annual Fundamental Science Symposium 2012 (RAFSS 2012) has been successfully held in Persada Johor International Convention Centre, Johor Bahru, and is also due to the support of Profs. Yasuhiro Shiraishi, Tadao Nagatsuma and Massaki Ashida from Graduate School of Engineering Science, Osaka University, and Prof. Hisao Yoshida from Nagoya University. These professors also gave scientific talks at Universiti Teknologi Malaysia. Also, I would like to congratulate Mr. Shamsuddin Chik Zi (my MSc student) in winning the best poster (content) in RAFSS 2012. Prof. Shiraishi very interested with simple method to make mesoporous materials proposed in Shamsuddin’s poster. So, he gave high marks to the Shamsuddin’s poster.

On statistically illiterate – Journal Impact factors

49711707

Professor Stephen Curry, a Professor of Structural Biology at Imperial College, London on “journal impact factors”:

“If you include journal impact factors in the list of publications in your cv, you are statistically illiterate.”

“If you are judging grant or promotion applications and find yourself scanning the applicant’s publications, checking off the impact factors, you are statistically illiterate.”

“If you publish a journal that trumpets its impact factor in adverts or emails, you are statistically illiterate. (If you trumpet that impact factor to three decimal places, there is little hope for you.)”

“If you see someone else using impact factors and make no attempt at correction, you connive at statistical illiteracy.”

Please read his writing entitled “Sick of Impact Factors” in his blog.

Note: Thank you Professor Stephen Curry for having warned me not to play with numbers and ignore the essence of scientific publications. So, the best way to evaluate the importance of a research article: read the paper (not based on its impact factor).

Sombong

“Kemaren saya bertemu dengan seeorang yang menyombongkan diri. Mungkin tidak seorangpun diantara kita yang senang melihat orang menyombongkan diri, apalagi kita tahu bahwa prestasi yang disombongkannya tersebut tidaklah sehebat prestasi yang sebenarnya. Atau mungkin dia hanya menutup kelemahan dirinya?”

National Nuclear Energy Agency – Yogyakarta [31 October 2012]

I was invited as a keynote speaker at Seminar Nasional SDM Teknologi Nuklir VIII 2012 at Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir, the National Nuclear Energy Agency (BATAN), Yogyakarta on 31 October 2012 which is held at Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB), BATAN. The other keynote speakers were Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto (The head of the National Nuclear Energy Agency) and Prof. Rochmadi (Professor, Universitas Gadjah Mada).

Sadar akan singkatnya hidup di dunia

Gambar di atas sangat tepat menggambarkan kehidupan ini. Seandainya semua orang di dunia sadar bahwa hidup di dunia ini singkat, mungkin hidup ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan. Namun tidak begitu adanya. Keserakahan akan prestasi dan prestise duniawi tetap merupakan bagian dari kehidupan ini. Nasehat untuk diri sendiri, yang (secara rata-rata umur manusia) telah menghabiskan lebih dari 50% kesempatan hidup di dunia ini. Walaupun kita tidak pernah mengetahui kapan ajal sampai.