The culture of self-promotion

Self-promotion, why not?

In the Internet era, many ways to promote yourself. Sometimes quite disgusting to see people promoting themselves although they have only a few or small achievements. Today is the era of the culture of self-promotion. Many people try to become famous by approaching the mass media, usually by exaggerating the news. Over claim!

Unlike the prophets, they became popular and had many followers because they conveyed moral force and the idea of truth. Because of these, the prophets became role models for society. The proverb that says “silence is golden” is not valid anymore in today’s era.

In the world of science, self-promotion also happened. The following is a snippet from the website of Prof. Gerad ‘t Hooft on “how to be famous.”

You may consider the option of connecting your work with mystery topics such as telepathy and consciousness. Make outrageous claims of having solved long-standing problems. Of course, you expect that you will become famous, but unfortunately, only a few really good theoretical physicists have equations and effects named after them. This is because colleagues recognize their importance and since they want to give names to equations and effects anyway, they bestow the discoverers with that honor. The bad theoretical physicist, in anticipation, names his own equations and effects, and even his entire theories, after himself right away. The impudence to attach your own name to whatever you claim to have discovered is considered improper in science, and in practice, it betrays amateurism and incompetence. If a good theoretician refers to an equation to which colleagues have attached his/her own name, he/she uses a different description if available.

On your way towards becoming a bad theoretician, take your own immature theory, stop checking it for mistakes, don't listen to colleagues who do spot weaknesses, and start admiring your own infallible intelligence. Try to overshoot all your critics, and have your work published anyway. If the well-established science media refuse to publish your work, start your own publishing company and edit your own books. If you are really clever you can find yourself a formerly professional physics journal where the chief editor is asleep. To recognize such a journal, look for one where, in the list of board members on the cover, more than 50 % has already deceased. Accuse all your critics of the short-sightedness that you actually suffer too much from yourself. It is easy and pleasant, it does not require the hard work of checking and re-checking your results, and if you are sufficiently eloquent, you might even gather some admirers.

Your next step should be to advertise your work. Your reputation may have caused the xxx ArXives and Wikipedia to refuse your submissions (congratulations, they are not really peer-reviewed), but in that case, you can still start your own weblog, and buy pop-ups in Google. Do not mention the number of citations you received in the established literature (you probably did not receive any) but instead install a counter that identifies the number of times someone by mistake downloaded your papers. Some people just download anything so you are guaranteed to get many hits there, and you can proudly announce those numbers.

Melayu proverb says “Tong kosong nyaring bunyinya“, means “Empty barrel voiced a loud”.

Do’s and don’t’s in writing blog

In the era of democracy, many argue that all people can write about anything in the blog. In fact not so, because the other factors must be considered; culture, politics and our position in society and government. Indeed, freedom can mean differently depends on our point of view. For example, if we consider humans are matter, we can imagine that we can move anywhere in this planet. But, are we free? The answer is very relative. Anything in this world can entrap us. And we, as humans, can also trap mentally. We can imagine us as a prisoner even though we do not. So, we need to live wisely in the world because everything in this world is very relative.

Please consider do’s and don’t’s in writing blog!

Intelligence, honesty and loyal to the government

If I am not mistaken, a researcher from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) wrote an article on the character of government officials in Indonesia. The researcher says three characteristics of government officials in Indonesia; are intelligence, honesty (not corrupt) and loyal to the government. However, none of the government officials have these three characters at once. He is not loyal to the government if he is intelligent and honest. Usually, government officials are stupid if they are honest and loyal to the government. He is corrupt if he is intelligent and loyal to the government.

In Harmonia Progressio

Kalimat di atas merupakan motto dari Institut Teknologi Bandung, almamater saya, yang bermaksud “kemajuan dalam harmoni”. Artinya kita maju bersama-sama dengan penuh kerukunan. Hal ini didasarkan kepada arti daripada kata ‘harmoni’. Harmoni istilah berasal dari Yunani ἁρμονία (Harmonia), yang berarti “bersama, kesepakatan, kerukunan”. Dalam musik, harmoni sangat diperlukan supaya musik tersebut memberikan nada yang ‘enak’ didengar. Enak didengar? Ada kalanya musik tertentu enak didengar oleh kita tapi tidak enak didengar oleh orang lain. Ada yang suka jazz, ada yang suka dangdut.

Dalam kepemimpinan, seseorang yang telah terpilih atau dipilih sebagai pemimpin haruslah mengetahui ‘harmoni’ yang tepat dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pemimpin tersebut haruslah memperhatikan ‘harmoni’ yang dapat diterima oleh banyak orang dalam menjalankan kepemimpinannya. Mampu memainkan harmoni yang baik inilah yang menyebabkan seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik. Tidak ada gunanya memainkan ‘harmoni’ atau ‘lagu’ sendiri tetapi tidak disukai oleh kebanyakan orang lain. Alhasil, semua target akan berantakan.

In harmonia progressio!

Universitas Indonesia Convocation

I and UTM Vice-Chancellor, Prof. Dato’ Ir. Dr. Zaini Ujang attended the Universitas Indonesia Convocation 2010. In this occasion, Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, former President of Indonesia, received a doctorate honoris causa from the Universitas Indonesia in the field of philosophy of technology. When giving a speech on the awarding of the title, Habibie expressed great respect and admiration for the two women, his mother R.A. Tuti Marini Puspowardojo, and his wife Hasri Ainun Besari.

Ambisi

Saya mengenal beberapa orang kawan yang sangat bersemangat dan berkeinginan sangat kuat untuk mencapai ketenaran dan kekuasaan. Kawan-kawan ini adalah pekerja keras dan selalu mencari peluang untuk mencapai tujuan tersebut, walaupun kadang-kadang banyak tindakan mereka tidak disukai orang. Dengan kata lain, ambisi kadang-kadang dapat menyebabkan kita mengambil jalan pintas sehingga mengorbankan integritas dan nilai-nilai moral.

Walaubagaimanapun, ambisi tersebut dapat menjadi dorongan yang tidak merusak. Di bawah ini adalah beberapa cara untuk mengarahkan ambisi menjadi hal yang positif:

Gunakan ambisi untuk memanfaatkan kesempatan

Dengan ambisi kita dapat melihat cara-cara untuk melakukan hal-hal yang berbeda dan inovatif. Ini mungkin dengan mengembangkan penemuan-penemuan baru. Melakukan hal-hal yang berbeda dapat menjadi suatu kekuatan untuk melakukan kebaikan. Pengusaha sukses seperti Bill Gates, manusia terkaya di dunia, merupakan contoh orang yang menyalurkan ambisi mereka dalam mencari peluang-peluang baru.

Gunakan ambisi sebagai alat untuk perubahan

Jika kita berkesempatan menjadi pemimpin, kita dapat menggunakan ambisi ini untuk melakukan perubahan positif. Seorang pemimpin yang baik dapat mengindentifikasi keperluan untuk perubahan yang positif untuk kebaikan organisasi. Beberapa orang kawan saya gagal memanfaatkan peluang ini. Mereka malah memanfaatkan kekuasaan ketika mereka memimpin. Mereka lebih mementingkan ambisi pribadi daripada organisasi. Orang seperti boleh jadi dapat sukses dalam mencapai ambisi pribadi namun gagal sebagai pemimpin, dan akhirnya banyak dihujat oleh banyak orang.

Gunakan ambisi sebagai alat untuk pertumbuhan pribadi

Ambisi dapat menjadi keinginan untuk berprestasi. Oleh karena itu ambisi dapat menjadi alat pendorong untuk mencapai impian. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang yang selalu belajar dan bekerja dengan keras untuk mengembangkan kemampuannya.

Kematian adalah realitas kehidupan

Tulisan ini adalah ringkasan dari artikel yang ditulis oleh Prof. Shahul Hameed yang tulisan aslinya dapat di baca di sini [broken link]. Mudah-mudahan dengan mengingat kematian kita sadar bahwa kita harus berbuat baik di dunia ini. Insya Allah.

death

Selama berabad-abad, kematian umat manusia dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan dan menakutkan, sesuatu yang harus ditunda tanpa batas waktu atau dihapuskan jika mungkin, sekali untuk semua.

Ini karena dua alasan. Pertama, kematian mempersingkat kehidupan di dunia ini. Kedua, tidak ada “bukti” tentang kesempatan untuk mengetahui bagaimana kehidupan di dunia yang akan datang. Kematian adalah, seperti yang Shakespeare dengan Hamletnya berkata, “the undiscovered country from whose bourn no traveler returns“.

Dalam semua keyakinan agama-agama, kematian adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang abadi. Dari sudut pandang Islam, kematian adalah realitas kehidupan, sebuah kepastian yang tidak dapat dikecualikan. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa hari kiamat harus dihadapi setelah kematian, dan semua amal dan perbuatan kita harus dipertanggungjawabkan nantinya. Orang-orang yang menabur jahat akan menuai yang jahat dan orang-orang yang menabur baik akan menuai yang baik. Semua daya tarik dan glamor dunia ini tidak abadi.

Dari sudut pandang ini, kematian adalah bentuk transisi dari kehidupan dunia ini kepada dunia lain yang abadi. Itu berarti, kematian bagi manusia bukanlah tempat berhenti yang terakhir.

Dalam kehidupan dunia ini, tubuh dan jiwa tidak terpisah, kecuali saat tidur.

Tidur: Kematian sementara

Gagasan bahwa tidur adalah suatu bentuk kematian sementara, di mana jiwa meninggalkan tubuh, dipercayai oleh penganut agama-agama yang lain. Agama Hindu memiliki gagasan bahwa “jiwa terpenjara dalam tubuh sampai mati membebaskannya”.

Jiwa manusia datang dari Allah, dan milik dunia roh, sedangkan tubuh adalah milik dunia materi.

Misi hidup di dunia

Allah telah mengirim kami ke dunia ini dengan misi dan kita perlu untuk memenuhi misi tersebut. Kita tidak boleh terperangkap oleh gagasan bodoh bahwa dunia ini selama-lamanya; atau bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian.

Al-Quran menjelaskan bahwa hidup, kematian, kebangkitan dan pengadilan, semuanya adalah realitas dari Tuhan dan kita manusia harus menghadapi mereka satu demi satu. Dan pada hari kiamat kita akan diminta untuk menjelaskan keyakinan dan tindakan kita.