Kematian adalah realitas kehidupan

deathTulisan ini adalah ringkasan dari artikel yang ditulis oleh Prof. Shahul Hameed yang tulisan aslinya dapat di baca di sini. Mudah-mudahan dengan mengingat kematian kita sadar bahwa kita harus berbuat baik di dunia ini. Insya Allah.

Selama berabad-abad, kematian umat manusia dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan dan menakutkan, sesuatu yang harus ditunda tanpa batas waktu atau dihapuskan jika mungkin, sekali untuk semua.

Ini karena dua alasan. Pertama, kematian mempersingkat kehidupan di dunia ini. Kedua, tidak ada “bukti” tentang kesempatan untuk mengetahui bagaimana kehidupan di dunia yang akan datang. Kematian adalah, seperti yang Shakespeare dengan Hamletnya berkata, “the undiscovered country from whose bourn no traveler returns“.

Dalam semua keyakinan agama-agama, kematian adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang abadi. Dari sudut pandang Islam, kematian adalah realitas kehidupan, sebuah kepastian yang tidak dapat dikecualikan. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa hari kiamat harus dihadapi setelah kematian, dan semua amal dan perbuatan kita harus dipertanggungjawabkan nantinya. Orang-orang yang menabur jahat akan menuai yang jahat dan orang-orang yang menabur baik akan menuai yang baik. Semua daya tarik dan glamor dunia ini tidak abadi.

Dari sudut pandang ini, kematian adalah bentuk transisi dari kehidupan dunia ini kepada dunia lain yang abadi. Itu berarti, kematian bagi manusia bukanlah tempat berhenti yang terakhir.

Dalam kehidupan dunia ini, tubuh dan jiwa tidak terpisah, kecuali saat tidur.

Tidur: Kematian sementara

Gagasan bahwa tidur adalah suatu bentuk kematian sementara, di mana jiwa meninggalkan tubuh, dipercayai oleh penganut agama-agama yang lain. Agama Hindu memiliki gagasan bahwa “jiwa terpenjara dalam tubuh sampai mati membebaskannya”.

Jiwa manusia datang dari Allah, dan milik dunia roh, sedangkan tubuh adalah milik dunia materi.

Misi hidup di dunia

Allah telah mengirim kami ke dunia ini dengan misi dan kita perlu untuk memenuhi misi tersebut. Kita tidak boleh terperangkap oleh gagasan bodoh bahwa dunia ini selama-lamanya; atau bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian.

Al-Quran menjelaskan bahwa hidup, kematian, kebangkitan dan pengadilan, semuanya adalah realitas dari Tuhan dan kita manusia harus menghadapi mereka satu demi satu. Dan pada hari kiamat kita akan diminta untuk menjelaskan keyakinan dan tindakan kita.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s