Rasionalisasi pendidikan tinggi

Saya tidak tahu tulisan yang saya kirimkan ke KOMPAS pada tanggal 29 April 2018 ternyata telah dipublikasikan pada tanggal 5 Mei 2018. Saya baru tahu hari ini karena ada kawan yang share di Whatsapp. Tulisan aslinya lebih panjang, dan saya kurangkan sesuai dengan keperluan untuk publikasi di KOMPAS. Mudah-mudahan bermanfaat untuk perkembangan pendidikan tinggi di tanah air. Insya Allah.

kompas

Di bawah ini adalah versi awal dari tulisan yang diterbitkan oleh KOMPAS yang agak panjang.

Rasionalisasi pendidikan tinggi: Perlukah?

Pendidikan tinggi rasional secara detail, tetapi irasional secara umum. Ini logika pendidikan tinggi pada hari ini.

Rasionalisasi pendidikan tinggi

Seperti yang sudah dimaklumi, tugas pokok perguruan tinggi adalah untuk berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia untuk kesejahteraan umat manusia. Mungkin sudah saatnya kita melihat kembali, merefleksikan diri dan melihat disekeliling kita, apakah pendidikan tinggi perlu dirasionalisasikan. Kita perlu melihat persoalan ini dari luar orbit. Perlu kesadaran baru, yang tidak saja melibatkat nalar tetapi juga kesadaran batin. Mungkin perlu kesadaran bahwa sistem pendidikan tinggi telah terbelenggu dan tidak memiliki kebebasan. Bebas dari sistem kapitalisme pengetahuan, sosial, ekonomi dan politik yang membentuk dunia saat ini. Kesadaran liberasi dan transformasi untuk membebaskan diri sangat diperlukan. Banyak perguruan tinggi yang tanpa sadar, terpaksa atau dipaksa untuk ikut trend dan mungkin melenceng dari tujuan asalnya didirikan.

Pendidikan tinggi perlu orisinil. Dalam arti, pendidikan tinggi mesti menyelesaikan permasalahan mendasar yang dihadapi oleh bangsa dan negara. Sistem yang ada sekarang ini memaksa golongan yang lemah untuk menjadi pengikut. Pengikut hanya berfungsi sebagai konsumen. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan tinggi yang sangat kuantitatif dan komersial. Pemain-pemain besarnya adalah perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan riset dan pendidikan tinggi seperti ElsevierThomson Reuters dan Quacquarelli Symonds (QS). Secara langsung dan tidak langsung, disadari dan tidak disadari visi dan misi dari pendidikan tinggi juga dikontrol oleh kekuatan yang sepertinya sangat rasional ini. Akibatnya banyak universitas yang menjadi agresif, dan kadangkala meninggalkan wisdom-nya.

Pendidikan tinggi menjadi rasional secara detail, tetapi irasional secara umum. Nampak rasional dengan instrumen-instrumen yang terukur pada tingkat administrasi keilmuan seperti indikator dari hasil penelitian dalam bentuk bibliography data, tetapi irasional pada tingkat kontribusi nyata kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memanusiakan manusia. Sampai saat ini, kita masih menjadi konsumen dibandingkan produsen dari produk-produk teknologi. Pendidikan tinggi perlu diletakkan pada tujuan asalnya, iaitu pendidikan tinggi yang berdaulat, bermartabat dan memanusiakan manusia. Perlu perenungan dan refleksi untuk bertanya, apakah kita sudah merdeka atau menjadi budak sukarela dari kekuatan yang membentuk sistem pendidikan tinggi saat ini?

Kritik terhadap sistem pendidikan tinggi sekarang

Herbert Marcuse dari Institute for Social ResearchThe Frankfurt School mengatakan bahwa masyarakat dunia sekarang sudah menjadi sistem satu dimensi. Salah satu cirinya adalah terjadinya administrasi total. Terjadi administrasi total dari pendidikan tinggi, dimana segala hal diatur, sehingga keunikan dan potensi setiap universitas yang beragam itu menjadi hilang. Sebagai contoh, semua dosen dan mahasiswa pasca sarjana wajib dan dipaksa mempublikasikan hasil penelitian mereka dijurnal yang berindeks (Scopus dan Clarivate Analytics). Dengan cara ini, universitas lebih memikirkan hasil daripada proses. Tidak peduli apakah universitas tempat dosen tersebut bekerja mempunyai fasilitas laboratorium yang memadai atau tidak. Walaupun kebijakan ini positif dan rasional untuk memaksa dosen mempublikasikan karyanya, namun perlu dikaji apakah kebijakan ini dapat memanusiakan manusia, memartabatkan dan mendaulatkan pendidikan tinggi.

Hal ini menjadi dilema ketika riset, dan teknologi disatukan dengan pendidikan tinggi. Hikmah atau esensi dari pendidikan tinggi adalah menghasilkan wisdom. Lulusan dari perguruan tinggi, disamping memperoleh skill, tetapi juga memperoleh wisdom dari proses pendidikan tersebut. Dilain pihak, hikmah dari riset dan teknologi adalah produk. Sangat jelas, hikmah dari riset dan teknologi dan pendidikan tinggi itu tidak sama. Indikatornya juga berbeda. Sehingga terjadi dilema terhadap kebijakan yang diambil untuk memajukan riset dan teknologi dan pendidikan tinggi secara sekaligus, karena hikmahnya berlainan. Pendidikan menjadi kehilangan fokus kepada pembangunan manusia, karena juga mengejar fokus yang lain. Saya sering bertemu dengan dosen-dosen yang tidak punya waktu untuk membuat riset dengan beban mengajar yang tinggi, bahkan lebih dari 20 SKS per semester. Saya juga pernah menemukan penelitian yang hanya bertujuan untuk hanya untuk sekedar publikasi ilmiah, tanpa mengabaikan proses penelitian yang normal berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan.

Kebijakan publikasi ini bagus untuk shock therapy, untuk menumbuhkan kesadaran ilmiah, dan juga memberikan kesadaran pentingnya teks dalam ilmu pengetahuan. Penelitian tanpa teks adalah nothing. Saya diberitahu bahwa analogi dari kebijakan ini seperti proses mencapai khusyu dalam shalat. Bagaimana kita akan khusyu dalam shalat jika kita tidak tahu bacaan shalat dan tidak teratur melaksanakannya. Ini ibarat, bagaimana kita dapat mempublikasikan hasil penelitian di jurnal ternama, jika menulis dan membuat riset saja jarang atau tidak pernah. Untuk jangka panjang, strategi yang tepat yang memperhatikan kondisi riil dari perguruan tinggi dan masyarakat sangat diperlukan. Jangan sampai, dehumanisasi, agresivitas dan individualistik dihasilkan dari kebijakan yang diambil. Ini masalah yang timbul dalam dunia modern yang banyak diidiskusikan oleh para filsuf dan budayawan, dan juga saya rasakan sebagai dosen di perguruan tinggi.

Ciri kedua sistem satu dimensi adalah, penggunaan istilah-istilah fungsional. World Class Universityuniversity rankingh-indexcitation dan lain sebagainya adalah istilah-istilah fungsional yang digunakan dalam pendidikan tinggi. Banyak universitas yang latah dengan istilah World Class University, tanpa mengetahui apa hakikat sebenarnya dari istilah itu. Hal ini saya alami sendiri. Ketika memberikan ceramah diberapa universitas di Indonesia, yang paling ditonjolkan sebelum saya memberikan ceramah adalah hanya berkaitan dengan h-indexcitation, padahal itu hanya merupakan informasi bibliografi, yang tidak semestinya berkaitan dengan prestasi keilmuan seseorang. Seringkali kita salah kaprah dalam memandang prestasi keilmuan. Tidak selalunya tingginya h-index bermakna tingginya kualitas riset, dan tidak selalunya rendahnya h-index bermakna rendahnya kualitas riset. Bahkan, h-index dapat tinggi hanya dengan menulis review article, tanpa melakukan riset di laboratorium. Kita dudukkan dulu apa arti salah kaprah. Dalam bahasa Inggris pengertian salah kaprah adalah “having or showing faulty judgment or reasoning” yang maksudnya adalah menunjukkan penilaian atau penalaran yang salah terhadap sesuatu. Persepsi dapat dibentuk oleh media (termasuk media sosial). Seringkali kita salah kaprah memandang prestasi keilmuan orang atau institusi karena media memberikan informasi dan penjelasan yang tidak tepat. Seringkali informasi tersebut sengaja dibesar-besarkan supaya menarik perhatian. Padahal salah kaprah. Bagi orang yang tidak mengerti bidang-bidang keilmuan tertentu, kadang-kadang mereka hanya melihat pencapaian itu hanya dari bibliographic data seperti citationh-index dan lain sebagainya dari Scopus atau Clarivate Analytics. Permainan angka ini sangat rawan terhadap manipulasi dan permainan dengan indikator angka. Tidak semua proses pendidikan dapat diangkakan.

Ciri ketiga adalah pencitraan. Banyak universitas-universitas sudah terjebak dengan pencitraan yang menggunakan istilah-istilah fungsional, seperti World Class University dan university ranking tersebut.

Semua kritik-kritik di atas sebenarnya bukan hal yang baru karena telah disampaikan oleh para filsuf, budayawan dan juga ilmuwan seperti filsuf dari Institute for Social ResearchThe Frankfurt School dan juga Seyyed Hossein Nasr yang dikenal dengan kritiknya terhadap sains modern yang menurutnya terlalu mekanistik dan kurang mempertimbangkan nilai. Paul Karl Feyerabend melalui teorinya mengenai epistemological anarchism juga mengemukakan kritik terhadap sains modern. Menurut Feyerabend, satu-satunya prinsip yang tidak menghambat kemajuan adalah anything goes.

Proses epistemologi

Saya melihat permasalahan ini dari perspektif proses epistemologi. Dengan begitu, diharapkan kita dapat melihat apakah proses yang dijalani ini sudah benar. Proses epistemologi (epistemological process) dimulai dengan ketidaktahuan, keragu-raguan atau rasa ingin tahu. Pengetahuan itu adalah kombinasi antara pengalaman (experience) dan penjelasan akal (reason). Penjelasan dengan akal saja tanpa pengalaman hanya akan menghasilkan hal-hal yang sifatnya spekulasi atau kemungkinan-kemungkinan. Kombinasi pengalaman (experience) dan penjelasan akal (reason) akan menghasilkan pengetahuan (knowledge). Kalau pengetahuan dikelola, diolah dan dirumuskan dengan rapi dan tertib maka tingkatnya akan naik menjadi sains (science). Oleh karena itu, pengetahuan tidak akan berkembang jika pengalaman ilmiah dan riset — yang diterjemahkan kepada fasilitas dan dana riset, dan juga ketersediaan waktu dari dosen untuk melakukan riset — tidak diperhatikan dan dikelola dengan baik. Akibatnya, proses epistemologi tidak akan berlangsung dengan baik jika semua perangkat penunjang untuk mendapatkan pengalaman ilmiah dan riset itu tidak lengkap dan tersedia. Sebagai orang yang berkecimpung dalam riset kimia, saya mengatakannya sebagai “sastra kimia”, iaitu ilmu kimia yang dihasilkan tanpa adanya fasilitas laboratorium, hanya sekedar berteori saja tanpa ada proses pengalaman riset di laboratorium. Berbeda dengan ilmu-ilmu yang hanya mengandalkan kertas dan pena saja, seperti ilmu ekonomi dan sastra, tanpa fasilitas laboratorium yang lengkap, karya ilmiah mustahil untuk dihasilkan dari sains kimia dan terapan.

Apa yang perlu dilakukan?

Kita mesti berani untuk think and rethinkshape and reshape, dan make and remake pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan bangsa dan negara. Pemerintah dan pengambil keputusan jangan merasa mereka telah menemukan kebenaran terhadap yang mereka lakukan terhadap kemajuan pendidikan tinggi. Arah dan juga landasan yang kukuh  harus didudukkan dan ditentukan untuk membawa pendidikan tinggi untuk masa depan. Perlu inovasi untuk menjadikan pendidikan tinggi berdaulat, bermartabat dan memanusiakan manusia.

Semua elemen yang terkait dengan pendidikan tinggi, seperti cendekiawan, budayawan, ilmuwan dan teknokrat perlu duduk untuk membuat blueprint pendidikan tinggi Indonesia, yang sampai saat ini tidak kita miliki. Saya sangat mengharapkan Indonesia mempunyai blueprint pendidikan tinggi yang mantap dalam waktu dekat ini, sehingga kerisauan saya hilang — dan untuk menghindari debat yang tidak perlu mengenai arah pendidikan Indonesia. Saya mungkin salah.

Walaubagaimanapun, saya sangat mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi dalam memajukan riset, teknologi dan pendidikan tinggi Indonesia. Alhamdullilah dan Tahniah!

Hadi Nur

Adjunct Professor Universitas Negeri Malang (UM) dan Profesor Universiti Teknologi Malaysia (UTM)