Year: 2010
Kaderisasi dan promosi
Baru saja saya membaca harian Kompas yang terbit hari ini: “Harian Kompas kembali memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi”. Salah satu penghargaan diberikan kepada Prof. Bambang Hidayat, Kepala Observatorium Bosscha ITB di Lembang selama 31 tahun. Kemudian dari artikel yang saya baca di harian Kompas tersebut ada komentar dari pembaca “.… bertahun-tahun hanya satu-satunya profesor di jurusan Astronomi ITB. Pengkaderan yang buruk dari Bambang Hidayat …“.
Saya rasa di luar kemampuan beliau dalam bidang akademik yang memang boleh dibanggakan, beliau gagal dalam mendidik dan mengkader dosen-dosen muda di jurusan astronomi ITB untuk menjadi profesor seperti beliau. Setahu saya, sampai beliau pensiun tahun 2004, tidak ada lagi profesor selain beliau yang di jurusan astronomi ITB, padahal banyak dosen-dosen muda yang cukup potensial. Jika pada waktu itu tidak layak, tentu perlu dibantu dan didorong untuk mencapai syarat-syarat menjadi profesor.
Tulisan ini mungkin bisa menjadi refleksi bahwa tujuan menjadi seorang dosen tidaklah semata-mata menjadi peneliti, tetapi juga sebagai pendidik. Bukan saja mendidik mahasiswa, tetapi juga melakukan kaderisasi dalam bidang ilmu.
Kecerdasan spiritual, Key Performance Indicator yang dilupakan

KPI atau Key Performance Indicator adalah alat yang digunakan untuk pengukuran kuantitatif, yang digunakan sebagai alat penentu keberhasilan suatu organisasi. Sebagai contoh, dalam bisnis, persentase pendapatan yang berasal dari pelanggan dapat merupakan sebuah Key Performance Indicator. Di sekolah menengah, tingkat kelulusan siswa dapat dipakai sebagai Key Performance Indicator. Di universitas, jumlah publikasi ilmiah, perbandingan jumlah dosen yang mempunyai Ph.D. dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai Key Performance Indicator.
Dalam tingkat individual, dalam kehidupan, juga ada cara mengukur kemampuan seseorang dengan apa yang disebut sebagai:
- Intelligence Quotient (IQ), yang digunakan untuk memecahkan masalah logis.
- Emotional Quotient (EQ), yang digunakan untuk menilai situasi disekeliling kita untuk berperilaku secara tepat.
- – Spiritual Quotioent (SQ), yang memungkinkan kita untuk mempertimbangkan dan bertanya apakah kita ingin berada dalam suatu keadaan atau situasi yang akan kita hadapi, secara spiritual.
Ketika kita menghadapi kesulitan, IQ bersandar pada kekuatan kita mengatasi masalah dengan kemampuan analitis; EQ bersandar pada kekuatan dan keberanian emosional kita serta kepercayaan diri; sedangkan SQ bersandar pada “kekuatan yang tidak terbatas”. Bagi orang yang beragama, kekuatan ini dapat disebut sebagai “keimanan”. Konsep SQ diperkenalkan oleh Dana Zohar dan Ian Marshall sebagai salah satu dimensi baru kecerdasan manusia, yang mereka klaim sebagai kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia.
Berdasarkan keterangan di atas, melihat KPI-KPI yang ada dalam organisasi kita, apakah kita pernah berpikir “Apakah pekerjaan yang telah saya jalani telah memenuhi kebutuhan spiritual saya?”, “Apakah hubungan saya dengan orang-orang dalam organisasi dimana saya bekerja telah telah memberikan kebahagiaan kepada saya dan juga kepada mereka?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan hanya mengandalkan IQ dan EQ saja. Kita perlu SQ yang tinggi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena SQ yang tinggi diperlukan untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, harga diri yang baik, dan hubungan harmonis di antara manusia.
Apakah kita pernah memikirkan hal di atas untuk kehidupan organisasi kita?
Uang atau status?
“New studies show that money and social values are processed in the same brain region, providing insight into how we make choices”

Pernyataan dan foto di atas mempunyai makna yang dalam mengenai cara kita memandang harta dan juga status sosial. Saya melihat dunia (pendidikan) sekarang ini lebih mementingkan kebendaan dan status simbol dibandingkan dengan moral. Kadang-kadang kita lupa bahwa tujuan kita mendirikan universitas adalah untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai ilmu dan juga bermoral. Kita lupa makna dari kata “pendidikan tinggi”, lupa dengan tujuan kita mendidik mahasiswa supaya mempunyai moral integrity yang baik. Kita lebih banyak menggunakan “cosmetics“, yang hanya membuat kita cantik dan gagah kalau dilihat dari “luar”.
Kekuatan ide dalam penelitian
Dalam penelitian, peralatan adalah faktor yang openting dalam keberhasilan penelitian, namun, menurut saya, ide adalah faktor yang paling menentukan apakah penelitian tersebut mempunyai impak atau tidak. Saya selalu memberitahu mahasiswa saya bahwa saintis tersebut adalah ‘problem seeker‘, bukan ‘problem solver‘. Di bawah ini adalah publikasi yang pernah saya terbitkan sewaktu saya melakukan postdoc di Hokkaido University. Kekuatan idelah yang membuat penelitian tersebut dapat dipublikasikan di jurnal yang bergengsi. Penelitian dalam bidang katalisis ini hanya menggunakan Gas Chromatography sebagai satu-satu teknik analisis. Ini membuktikan bahwa kekuatan dari manuskrip ini adalah dari ide yang dikemukakan. Kami mengusulkan konsep baru dari katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase Boundary Catalysis‘.
Dalam pendidikan, proses lebih penting dibandingkan hasil
Judul di atas sangat jelas pesannya. Pesan tersebut juga disampaikan oleh kolega saya, profesor dari Jepang, profesor senior yang akan pensiun 2 tahun lagi di Osaka University. Beliau mengamati bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai dalam pendidikan tinggi. Sekarang universitas lebih cenderung untuk mencapai tujuan ‘semu’ yang sifatnya hanya tujuan ‘kosmetik’, seperti ingin terkenal, ingin masuk ranking, yang untuk mencapai tujuan tersebut banyak meninggalkan nilai-nilai ‘hakiki’ pendidikan. Beliau mengatakan, ketika beliau dulu menyelesaikan PhD di Osaka University pada tahun 70-an, pembimbing beliau hanya mengatakan — “lakukanlah penelitian dengan cara yang baik (good work), karena ini lebih penting daripada hasil penelitian itu sendiri”. Dengan kata lain “proses” jauh lebih penting daripada “hasil”.
Saya menemukan laporan yang menarik, bagaimana cara menilai “proses” dalam pendidikan tinggi: “Criteria for Performance Excellence” yang diformulasikan oleh Baldrige National Quality Program Education, pemerintah Amerika Serikat. Silahkan lihat kriterianya di bawah ini. Salah satu kriteria yang penting adalah ‘ethics‘, faktor yang banyak dilupakan oleh pendidikan tinggi, baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Please click the following picture to download the file [3.41 MB]
Regional Annual Fundamental Science Symposium
I attended the Regional Annual Fundamental Science Symposium 2010 (RAFSS 2010) held at the Grand Seasons Hotel, Kuala Lumpur on 8-9 June 2010. This symposium is organized by Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Prof. Michio Matsumura, Director of Research Center for Solar Energy Chemistry of Osaka University is also invited to this symposium. On 10 June 2010, I accompanied Prof. Matsumura to meet UTM students, which will go to Osaka University on 28 November 2010 to 4 December 2010 under the UTM Global Outreach Program. I will be accompanying lecturer in this program. The next day, on 11 June 2010, I accompanied Prof. Matsumura to visit the laboratory of Assoc. Prof. Chen Zhong in Nanyang Technological University (NTU) to discuss the possible collaboration between Osaka University and NTU.
https://www.flickr.com/photos/hadinur/sets/72157624153007549
Internet dan akibatnya


Artikel ini saya foto dengan menggunakan handphone ketika terbang dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Apa yang menarik adalah, ternyata kebiasaan berinternet dapat merusak cara kita berpikir. Silahkan klik gambar untuk memperbesar artikel tersebut.
Dalam analisisnya, Nicholas Carr — orang yang mengusulkan hubungan antara berinternet dengan cara berpikir — mengatakan bahwa orang yang dipengaruhi oleh internet sukar untuk berpikir secara mendalam. Namun, orang ini dapat mengambil keputusan dengan cepat, dikarenakan informasi yang banyak dapat secara cepat didapatkan, walaupun keputusan tersebut tidak dipikirkan secara mendalam.
UTM delegation visits Makassar
UTM delegation consists of Hadi Nur, Prof. Ahmad Kamal Idris (UTM Director of Marketing), Prof. Mohd Salleh Abu (UTM Dean of the Faculty of Education), Assoc. Prof. Dr. Ahmad Nazri Muhamad Ludin (UTM Dean of Faculty of Built Environment) and Dr. Yusof Boon (UTM Head of Postgraduate Studies, Faculty of Education) pay an official visit to the office of South Sulawesi Province, Hasanuddin University and Makassar State University from 26 to 28 May 2010 to discuss the Memorandum of Understanding to be signed, tentatively, at the end of July 2010.
During the meeting, the Secretary of the South Sulawesi province, Mr. Andi Muallim, described the philosophy of Bugis-Makassar people to solve problems — In Indonesian, he described as the philosophy of 3 ujung, namely:
- Edge of the tongue (ujung lidah): solving the problem with the diplomacy
- Edge of Badik (ujung Badik). The Badik is a traditional dagger that originates from the coastal tribes of southern Sulawesi such as the Bugis and the Makasarese: this is the second approach, with a means of combating if the diplomacy fails
- Edge of the penis (ujung kemaluan): and if both of the above approaches fail, the last approach is by marriage, so that both parties become a family.
It sounds very vulgar and sadistic, but this is an exciting philosophy because we can see these cultural influences in Malaysia in reality. As evidence, the Sultan of Johor is a descendant of the Bugis.
My website structure looks simpler and more colorful
My personal website, www.hadinur.com as a graph. Compared with other popular websites, my website structure looks more colorful and has a structure similar to the website of Harvard University and Google, but simpler. Please click the above image to see a comparison with other websites. Click www.aharef.info to explore website as graphs.


You must be logged in to post a comment.