Kita ini adalah ‘problem seeker’

Itu adalah kalimat yang saya sampaikan ketika menjadi penilai proposal penelitian staf dosen UTM yang mengikuti kursus untuk melanjutkan studinya pada 23 Desember yang lalu. Tidak jelas apa masalah yang akan diteliti di dua proposal yang saya baca dan nilai tersebut. Kadang-kadang para mahasiswa (terutama dalam bidang sains) tidak mengerti bahwa sebenarnya memformulasikan masalah adalah tahapan yang sangat penting dari suatu penelitian. Jika masalah diformulasikan dengan baik — penelitian akan dengan ‘mudah’ dilakukan. “We are a problem seeker” — itulah kalimat yang paling tepat. Proposal yang baik selalu didasarkan kepada ‘scientific issue‘, bukannya hanya sekedar membuktikan “sesuatu itu” salah atau benar atau hanya sekedar meningkatkan ‘performance‘ suatu teknik atau metoda. Hal-hal yang kadang-kadang juga tidak dimengerti oleh sebagian dosen-dosen yang membimbing mahasiswa. Bagaimanapun juga, topik-topik yang baik selalunya keluar dari para peneliti yang berpengalaman. Berpengalaman bekerja di laboratorium dan juga membimbing mahasiswa. Seharusnya dosen menjadi tempat bertanya. Banyak dosen-dosen kawan saya disini yang hanya bergantung kepada mahasiswa — bukan sebaliknya. Kenapa demikian, ini karena para dosen tidak lagi berakar di laboratorium. Para dosen dan para profesor telah meninggalkan dunia penelitian yang sebenarnya — ‘they are flying away‘ kata Profesor Dieter Freude dari Leipzig University kepada saya.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s