Profesor harus berakar di laboratorium

Para petinggi UTM masih masih belum mengeluarkan surat yang menyatakan saya berhenti sebagai dosen disini — walaupun saya tetap akan pindah ke Universiti Malaysia Pahang bulan September 2008. Minggu lalu saya telah dipanggil oleh TNCPI (Timbalan Naib Canselor Penyelidikan dan Inovasi — Dato’ Prof. Zaini Ujang) yang membujuk saya untuk tetap bekerja di UTM dengan menawarkan kenaikan pangkat dan juga memindahkan saya ke kampus UTM di Kuala Lumpur. Saya sangat terharu dengan tawaran tersebut yang bagi saya merupakan penghargaan terhadap apa yang telah saya hasilkan dalam bidang akademik selama saya bekerja di UTM. Saya juga merasakan semangat Dato’ Prof. untuk memajukan UTM, walaupun kami tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Saya berkesempatan berbincang dengan beliau di kantor beliau pada 31 Juli 2008 setelah jam kerja.

Saya menceritakan kepada beliau bahwa selama saya bekerja di UTM saya masih belum merasakan ‘budaya ilmiah’. Budaya ilmiah yang saya maksudkan tersebut termasuk adalah norma ilmiah dan sebagainya yang saya telah tulis dalam blog ini (lihat disini). Apa yang saya perhatikan adalah masih banyak profesor dalam bidang sains dan teknologi yang tidak memiliki budaya ilmiah. Jabatan profesor hanyalah sekedar ’embel-embel’ yang kurang memiliki arti ‘ilmiah’. Indikatornya adalah kurangnya publikasi ilmiah dan recognition dari komunitas ilmiah. Kebanyakan mereka hanyalah ‘jago kandang’ yang biasanya dijadikan sebagai bahan publisiti murahan di surat kabar — bukannya di jurnal-jurnal saintifik ataupun komunitas ilmiah internasional. Salah satu alasan yang yang paling mendasar kenapa ini terjadi adalah karena para profesor ini tidak berakar di laboratorium. Banyak para profesor yang tidak pernah masuk laboratorium sejak mereka lulus PhD. Oleh karena itu, kualitas keilmuan mereka patut dipertanyakan — karena semua kecanggihan dalam bidang sains dan teknologi bermula dari laboratorium. Apalah artinya saya, yang hanya dosen kontrak — yang walaupun sadar bahwa budaya ilmiah tersebut perlu dibangun — tetapi tidak mempunyai ‘kekuatan’ untuk membangun budaya tersebut disini. Dengan berpindahnya saya di universitas yang baru, Insya Allah saya akan mencoba untuk membangun ‘budaya ilmiah’ ditempat yang baru.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Profesor harus berakar di laboratorium”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s