Mentalitas profesional seorang profesor

Tulisan ini adalah modifikasi dari tulisan Jansen H. Sinamo yang berjudul “7 Mentalitas Profesional” yang saya yang saya pikir juga berlaku untuk seseorang yang bergelar Profesor:

Sejak saya dipromosikan sebagai associate professor banyak kawan-kawan saya memanggil saya “prof”, suatu gelaran yang kadang-kadang membuat saya malu dan bertanya: “Layakkah saya dipanggil dengan gelar itu?”. Saya malu karena saya merasa mentalitas saya tidaklah mencermin kualitas profesional seorang profesor ‘yang sebenarnya’ — kalau tidak dikatakan ‘profesor kampung’ yang hanya jago bertanding dikandang sendiri. Tulisan ini betujuan untuk menggambarkan sikap dan mentalitas yang perlu dipunyai oleh seorang profesor. Saya akan berusaha kearah itu, Insya Allah.

Mentalitas Mutu
Inilah ciri utama dari seorang profesor yang profesional, yaitu mementingkan kualitas daripada kuantitas. Silahkan baca tulisan saya yang berjudul Quantity or Quality? pertanyaan yang saya coba jawab pada tulisan saya tersebut. Menurut saya seseorang tidaklah layak menjadi seseorang profesor jika dia hanya mengandalkan kuantitas saja — apakah karena telah mengajar selama puluhan tahun tanpa sembarang hasil penyelidikan yang berkualitas layak dihargai sebagai profesor?

Mentalitas Altruistik
Inilah mentalitas kedua yang harus dipunyai oleh seorang profesor — setelah dia memenuhi mentalitas mutu di atas. Mentalitas ini didorong oleh pengabdian untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu yang dipunyainya untuk orang lain. Menurut Wikipedia: “Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan ‘orang lain’ tanpa memperhatikan diri sendiri”. Dalam hal ini, karena profesor selalu berhadapan langsung dengan masyarakat ilmiah dan mahasiswa yang diajar dan dibimbingnya, maka mereka tersebut adalah ‘orang lain’ tersebut.

Mentalitas Mendidik
Mendidik tidak sama dengan mengajar. Dalam mendidik faktor panutan memegang peranan penting. Tidaklah mendidik jika seorang profesor bercerita bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tercela jika dia melakukan plagiat dan tidak menghargai jerih payah mahasiswanya — seperti dengan mencantumkan namanya paling depan dipublikasi ilmiah — padahal semua hasil dalam publikasi ilmiah itu adalah hasil jerih payah mahasiswanya, dari ide, membuat proposal dan menulis publikasi tersebut. Sang profesor hanya bertugas memperbaiki bahasa Inggrisnya saja.

Mentalitas Pembelajar
Profesor hendaklah selalu meng-update pengetahuannya setiap saat. Jangan sampai mahasiswa yang dibimbingnya mengatakan profesor tersebut tidak layak sebagai pembimbing. Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang mengatakan hal ini kepada saya. Sampai mahasiswa tersebut menasehati profesornya untuk memberikan perhatian yang lebih banyak kepada penyelidikan. Sungguh sangat memalukan.

Mentalitas Pengabdian
Mengabdi untuk bidang ilmu merupakan mentalitas profesional seorang profesor. Masih banyak profesor ‘administrasi’ yang tidak mempunyai mentalitas ini — dimana seseorang diangkat menjadi profesor karena jabatan administrasi bukan karena prestasi ilmiah. Sebagai contoh, seseorang dinaikkan pangkat menjadi profesor karena ‘akan’ atau telah ‘menjabat’ sesuatu jabatan administratif seperti dekan atau pembantu dekan.

Mentalitas Kreatif
Kreativitas tidak hanya perlu dipunyai oleh profesor tetapi juga oleh semua orang. Namun, jika profesor tidak kreatif, dapat dibayangkan bahwa tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang dihasilkan olehnya.

Mentalitas Etis
Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.