Quantity or Quality?

Saya mempunyai seorang mahasiswa PhD dari Iran. Saya adalah ko-promotor (co-supervisor), sedangkan promotor utama mahasiswa saya ini adalah seorang profesor dari Faculty of Civil Engineering. Mahasiswa ini datang berkonsultasi dengan saya dan meminta saran saya mengenai hasil-hasil penelitiannya. Saya menyarankan supaya dia memulai menulis manuskrip untuk diterbitkan di jurnal internasional. “Tulislah sebuah manuskrip yang lengkap dengan data-data analisis yang menunjang hipotesis kita, sehingga sebuah kajian yang lengkap dan berkualitas dapat dihasilkan. Dengan begitu, mungkin kita dapat mempublikasikannya di jurnal yang bergengsi”, kata saya. Dua minggu kemudian dia datang lagi menemui saya. Dia berkata, “Profesor (promotor utama, red.) menyuruh saya untuk menulis 3 atau 4 manuskrip dari data-data yang kita punyai — bukan satu manuskrip yang lengkap”. Cara ini disebut sebagai salami slicing, dimana membagi hasil penelitian yang utuh kepada sebanyak mungkin manuskrip — yang sebenarnya dilarang dalam dunia akademik.

Quality or Quantity?” mungkin dua perkataan yang tepat untuk menggambarkan kisah di atas. Sebagai seorang peneliti saya selalu membaca publikasi yang mempunyai impak dan kontribusi yang tinggi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Biasanya jenis manuskrip ini ditulis dengan data-data analisis yang lengkap sehingga dapat menunjukkan bahwa hasil-hasil atau penemuan-penemuan baru tersebut dapat dipercayai dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Biasanya jenis penelitian ini dipublikasikan di jurnal yang bergengsi. Alhasil, biasanya, manuskrip ini selalunya dirujuk oleh orang lain, atau dengan kata lain mempunyai citation yang tinggi. Sebagai reviewer diberbagai jurnal international, saya selalu menolak (reject) manuskrip-manuskrip yang penemuannya tidak didukung dengan analisis-analisis yang lengkap.

Bagaimanapun, sebagai co-supervisor saya sudah menyuarakan hal yang saya anggap “benar” kepada mahasiswa saya — karena itulah kewajiban saya sebagai pendidik.

“Kontribusi anda kepada ilmu pengetahuan tidak diukur dengan berapa banyak publikasi anda, tetapi kepada kualitas publikasi yang anda hasilkan. Tidak ada gunanya publikasi anda yang banyak tersebut jika tidak pernah dibaca dan dirujuk oleh orang lain — karena berkualitas rendah”.

Mungkin “suara” di atas kedengarannya agak idealis, karena banyak kawan-kawan saya yang mengejar jumlah publikasi hanya untuk mengejar kenaikan pangkat. Bahkan ada yang mempublikasikan data-data yang sama di jurnal yang berbeda-beda. Wallahu a’lam bishawab.

3 thoughts on “Quantity or Quality?

  1. Pingback: Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Mentalitas profesional seorang profesor

  2. Pingback: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Mentalitas profesional seorang profesor

  3. di pagi hari mencoba mengunjungi catatan anda dan hasilnya ternyata sangat bagus untuk merenung… top banget mas silahkan dilanjutkan aku akan datang lagi

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s