Plato dan makna riset kontemporer

Di seberang lautan kebenaran, di mana bayangan Plato, sang filsuf, bermain dengan cahaya pengetahuan yang kekal dan murni, kita mungkin menemukan diri kita berlayar, terbelenggu dalam rantai yang tak tampak namun begitu kuat, membelenggu penelitian di negeri kita, Indonesia. Di negeri yang kaya akan keragaman dan potensi, mungkin tersembunyi sebuah ironi: bahwa dalam usaha mencapai kejayaan ilmiah, kita terperangkap dalam dunia yang lebih memperdulikan kuantitas ketimbang kualitas—sebuah pantomim yang menyedihkan dari apa yang seharusnya menjadi perjalanan intelektual yang membebaskan dan memberdayakan.

Gelombang penelitian, yang idealnya menerobos batas pengetahuan dan kebenaran, terkadang terhenti, tertahan oleh pesisir yang dicirikan oleh dorongan publikasi dan pengakuan. Bukankah kita lupa, bahwa di setiap percobaan dan teori seharusnya terletak jiwa yang mencari, yang merindukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai realitas di mana kita semua bertengger?

Pantaskah kita mengajukan sebuah hipotesis yang melankolis? Bahwa dalam penelitian ilmiah di negeri ini, kita terkadang kehilangan esensi pencarian kita: bukan hanya untuk apa yang baru dan menggugah, namun juga untuk apa yang benar dan bermakna. Bagaimana kita bisa membebaskan diri dari belenggu ini, meresapi kembali nilai-nilai murni dari riset dan eksplorasi ilmu pengetahuan?

Refleksi ini bukanlah undangan untuk meresapi keputusasaan, melainkan sebuah panggilan—suatu seruan untuk merenung dalam-dalam dan mengakar kembali pada esensi dari pencarian keilmuan itu sendiri. Di tengah-tengah hiruk pikuk dunia riset yang terkadang terperangkap dalam siklus produksi dan pengakuan, ada ruang untuk introspeksi, untuk mengingat kembali bahwa di setiap penjuru pertanyaan ilmiah seharusnya terdapat dahaga yang tak terpuaskan untuk memahami dan mengerti.

Kita memanggil Plato, tidak sebagai pengingat dogma filosofis, melainkan sebagai simbol dari keinginan untuk mencari yang otentik dan mendalam. Dengan mata yang tertuju pada ide-ide sejati, mari kita manfaatkan setiap percobaan, setiap penelitian, sebagai sarana untuk mendekati kebenaran, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai pengakuan atau produktivitas.

Dengan berpikir reflektif, kita mungkin menemukan kekuatan untuk melepaskan diri dari belenggu yang tak kasat mata ini, menciptakan riset yang bukan hanya melengkapi daftar publikasi, namun yang menjelajah ke dalam kedalaman misteri dunia, memberikan kita pencerahan yang tajam dan tak berkesudahan. Di sanalah, mungkin, kita akan menemukan kembali makna dari penelitian itu sendiri: sebuah perjalanan yang tak pernah berakhir menuju pengenalan dan kebijaksanaan.

Di antara angka dan makna: World’s Top 2% Scientists

Hening. Itulah yang saya rasakan ketika mata ini menatap sebuah pengakuan: “World’s Top 2% Scientists”. Tiga tahun, sebuah rentang waktu yang cukup untuk mengukir prestasi, namun juga cukup untuk merenungkan makna di baliknya.

Saya teringat sebuah kalimat yang tertulis dalam data yang saya baca dari website Elsevier, “Calculations were performed using all Scopus author profiles as of October 1, 2023. If an author is not on the list it is simply because the composite indicator value was not high enough to appear on the list. It does not mean that the author does not do good work”. Kalimat terakhir itu, bagaikan angin dingin Kota Malang yang berhembus ketika mengendarai sepeda motor, mengingatkan kita bahwa angka dan perhitungan, meski telah diolah dengan metode yang canggih, tidak selalu mencerminkan realitas yang ada di lapangan.

Kenapa? Karena saya, Anda, kita semua tahu bahwa di balik angka-angka itu, ada kisah-kisah yang tidak terhitung, ada perjuangan-perjuangan yang tidak tercatat, dan ada prestasi-prestasi yang tidak terlihat. Saya tahu, karena saya ada di lapangan, menyaksikan bagaimana orang-orang dan institusi bermain dengan angka-angka, menciptakan prestasi yang semu.

Tiga tahun berturut-turut, saya tercatat dalam “World’s Top 2% Scientists”, sebuah pengakuan yang disusun oleh Prof. John P.A. Ioannidis dan timnya di Stanford University berdasarkan data Elsevier. Database ini mencatat ilmuwan dengan sitiran tertinggi, memberikan informasi standar mengenai sitiran, indeks-h, hm-indeks yang disesuaikan dengan ko-penulisan, sitiran pada karya dengan posisi penulis yang berbeda, dan indikator kombinasi (c-score). Saya, untuk tiga tahun itu, berada dalam 2% ilmuwan paling top di dunia, baik dalam kategori “Career-Long Achievement” maupun “Single Year Achievement”.

Namun, apa sebenarnya makna dari semua ini? Apakah ini sekadar sebuah pengakuan atas karya-karya yang telah saya tulis? Ataukah ini sebuah pengingat bahwa di balik setiap angka dan data, ada kisah, ada perjuangan, dan ada makna yang lebih dalam yang tidak selalu dapat diukur dan dihitung?

Saya percaya, bahwa setiap ilmuwan, peneliti, dan akademisi yang berada di luar daftar tersebut, memiliki kisahnya sendiri, memiliki perjuangan dan kontribusi yang sama pentingnya, meski mungkin tidak terlihat dalam angka dan data. Karena itu, mari kita renungkan bersama, bahwa pengakuan ini bukanlah tujuan, melainkan sebuah perjalanan, sebuah proses dalam mencari makna dari setiap karya dan kontribusi kita.

Ya Allah, ampunilah saya.

Cerdik, namun apakah bijaksana?

Tersentak, itulah yang saya rasakan ketika mata ini tanpa sengaja menangkap sebuah iklan yang begitu berani menawarkan janji-janji manis di dunia akademis.

“Mengerjakan Paper Dengan Cepat dan Mudah Terindeks Scopus! Pelajari bagaimana cara saya menggunakan cara CERDIK yang mudah dipraktekkan, hingga punya 30 paper terindeks Scopus.”

Begitu bunyi iklan tersebut, dengan kata “CERDIK” yang dengan sengaja ditulis dengan huruf besar, seolah ingin menegaskan betapa mudahnya meraih kesuksesan di dunia ilmiah dengan cara tersebut.

Luar biasa, dan sekaligus miris.

Saya merenung, mencoba menelaah lebih dalam apa yang sebenarnya ditawarkan oleh iklan tersebut. Apakah ini sekadar trik pemasaran yang cerdik, atau memang ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin disampaikan oleh pembuat iklan tersebut? Saya mencoba untuk tidak terburu-buru menilai, namun ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati ini.

Cerdik. Kata itu terus bergema di benak saya. Apakah dengan menjadi cerdik, seseorang bisa dengan mudah menciptakan karya ilmiah yang bernilai? Apakah dengan cara yang cerdik, ilmu pengetahuan bisa berkembang dan memberikan manfaat yang sebenarnya bagi umat manusia?

Menulis, bagi saya, adalah sebuah proses yang sakral. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang yang melibatkan proses penelitian, pengamatan, dan refleksi yang mendalam. Menulis adalah cara kita untuk berkomunikasi dengan dunia, untuk menyampaikan temuan dan pemikiran kita agar bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang lain, bahkan oleh generasi yang akan datang.

Namun, apa jadinya jika menulis hanyalah menjadi alat untuk mencapai tujuan yang dangkal, seperti naik pangkat atau mendapatkan pengakuan dari peer? Apakah dengan cara seperti itu, kita bisa benar-benar memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia?

Tidak ada jalan pintas dalam ilmu pengetahuan. Tidak ada cara instan untuk menciptakan karya ilmiah yang benar-benar bermakna dan berdampak bagi banyak orang. Setiap karya ilmiah yang bernilai selalu melalui proses yang panjang dan melelahkan, melibatkan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran.

Ingat, menulis itu adalah step terakhir dari riset. Tidak ada gunanya publikasi dihasilkan jika tidak dilakukan dengan cara ilmiah. Tidak ada jalan pintas! Ingat itu.

Afiliasi dengan UM

Dalam bayang-bayang hari ini, saya menyadari sebuah perubahan. Afiliasi yang selama ini terpatri di Scopus dan Publons—yang menunjuk pada Universiti Teknologi Malaysia (UTM)—kini telah bergeser, mengikuti jejak langkah saya menuju Universitas Negeri Malang (UM). Sebuah transisi, sebuah perjalanan.

Scopus

Web of Science

Lagi-lagi prestasi semu

Dekapan waktu telah menyertai sebuah slide yang selalu hadir dalam setiap langkah saya. Sebuah slide yang bukan sekadar gambar atau teks, melainkan cerminan dari perjalanan intelektual yang panjang. Dari ruang-ruang kuliah yang berbeda, mulai dari penulisan ilmiah hingga metodologi riset, slide ini menjadi saksi bisu atas refleksi saya tentang dunia akademik yang kini tengah dihadapkan pada dilema.

Prestasi semu, sebuah bayangan yang terus menghantui dunia akademik. Di era serba cepat ini, banyak yang terjebak dalam pencarian kejayaan instan. Namun, sebuah kebenaran yang tak terbantahkan adalah: tidak ada jalan pintas dalam riset. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur yang memadai, dana yang cukup, dan kini ditambah dengan kebutuhan waktu yang semakin mendesak, riset berkualitas tinggi hanyalah mimpi. Publikasi ilmiah yang sejati, yang benar-benar memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan, bukanlah hasil dari trik-trik atau janji-janji kosong.

Dalam hening, saya merenung. Mengapa kita, sebagai bangsa, sering terjebak dalam pencarian kejayaan semu? Bukankah esensi dari riset adalah untuk menciptakan pengetahuan yang dapat mencerahkan dan memberdayakan masyarakat?

Kini, tugas kita bukan hanya sekadar menghasilkan publikasi, melainkan membangun kesadaran. Kesadaran bahwa riset bukanlah permainan, melainkan sebuah proses panjang yang memerlukan dedikasi dan integritas. Mari kita bersama-sama membangun tata kelola riset yang baik, memastikan bahwa setiap laboratorium adalah tempat bagi inovasi, dan terus mendorong generasi muda untuk bekerja dengan hati dan pikiran yang tulus.

Dalam setiap tetes keringat dan detik waktu, semoga kita selalu diberi kebijaksanaan untuk berkontribusi bagi Indonesia yang lebih cerdas dan beradab. Amin.

Revolusi hati: Mencari makna di balik pendidikan dan riset

Dalam kesibukan mengurus administrasi dan birokrasi dalam dunia pendidikan dan riset ilmiah, kita pun tidak sempat duduk merenung. Kita sering terjebak dalam pusaran informasi yang tak berujung, lupa pada esensi dari apa yang kita cari: makna. Pendidikan, yang seharusnya menjadi kompas bagi jiwa kita, kini sering kali hanya menjadi alat untuk mengukur kecerdasan tanpa menyentuh kedalaman hati. Namun, jika kita merenung sejenak, bukankah pendidikan sejatinya adalah pencarian makna?

Saya teringat akan sebuah konsep: bahwa berpikir dan bertindak tak dapat dipisahkan dari kerangka hati kita. Berpikir adalah gerakan jiwa menuju makna. Lantas, bagaimana dengan riset ilmiah? Bukankah riset juga seharusnya didasari oleh hati, bukan sekadar akal?

Mari kita melihat dunia dengan mata hati. Bayangkan jika kita menulis dan melakukan riset dengan pendekatan seperti itu. Riset bukan lagi sekadar mencari data dan fakta, melainkan mencari makna di balik setiap fenomena. Menulis bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan menyusun rasa dan pemikiran yang bersumber dari hati.

Mari kita untuk melihat dunia dengan mata hati. Bayangkan jika kita menulis dan melakukan riset dengan pendekatan seperti itu. Riset bukan lagi sekadar mencari data dan fakta, melainkan mencari makna di balik setiap fenomena. Menulis bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan menyusun rasa dan pemikiran yang bersumber dari hati. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Islamisasi pengetahuan. 

Oleh karena itu, marilah kita mulai revolusi dalam pendidikan dan riset. Ini bukanlah revolusi yang bersifat fisik, tapi revolusi hati — sebuah perjalanan untuk mencari makna, untuk memahami dunia dengan lebih dalam, dan untuk menulis serta melakukan riset dengan hati. Sebab, hanya dengan hati, kita dapat mencapai kebenaran yang hakiki.

Riset tanpa makna, seperti menulis dengan sintaksis tanpa semantik

Menggambarkan fenomena riset yang hampa, coba bayangkan seseorang yang sedang membuat kue. Dia mengikuti setiap tahapan dengan cermat, mengukur bahan dengan tepat, memanaskan oven pada suhu yang benar, dan mencampur semua bahan dengan urutan yang tepat. Akan tetapi, dia lupa menambahkan gula. Hasilnya? Kue yang terlihat sempurna, tetapi saat dicicipi, rasanya hambar dan tak berarti. Inilah yang terjadi ketika riset dilakukan hanya untuk mencapai angka dan prestise, bukan untuk mencari pengetahuan: tampak sempurna dari luar, namun kosong dan tak berarti di dalamnya.

Dalam konteks riset, sintaksis adalah seperti resep dalam pembuatan kue. Itu adalah rangkaian proses formal dalam riset, mulai dari merumuskan hipotesis, pengumpulan data, analisis data, hingga penulisan dan publikasi hasil penelitian. Sementara itu, semantik dalam riset adalah seperti gula dalam kue, yaitu unsur yang memberikan rasa dan makna. Tanpa semantik, atau tujuan yang jelas dan bermanfaat, riset menjadi serangkaian proses yang hampa, seperti kue tanpa gula.

Riset haruslah memiliki tujuan untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab, mengatasi masalah nyata di masyarakat, atau memajukan pengetahuan dalam bidangnya. Jika hanya diarahkan untuk meningkatkan branding atau meraih angka publikasi tertentu, maka riset tersebut akan kehilangan ‘rasanya’, menjadi tidak relevan dan tidak memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

Kita, sebagai bagian dari komunitas penelitian dan pendidikan, harus memastikan bahwa ‘gula’ atau semantik ini tidak pernah hilang dari ‘kue’ riset kita. Jangan sampai kita terjebak dalam pencarian angka dan prestise, sehingga melupakan makna dan manfaat nyata dari riset yang kita lakukan. Dengan begitu, riset yang kita hasilkan tidak hanya akan tampak menarik dari luar, namun juga memiliki ‘rasa’ dan ‘manfaat’ yang nyata bagi kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, dan juga mencerdaskan anak bangsa!

Ironi mahasiswa pascasarjana

Pendidikan pascasarjana mengalami transformasi seiring berjalannya waktu dan persaingan global yang semakin meningkat. Penting untuk menyoroti beberapa realitas yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana dan menekankan pentingnya mencari keseimbangan antara tujuan pendidikan dan tuntutan yang mungkin menyimpang dari esensi pendidikan, yaitu mendidik, mencerdaskan, dan membawa kebahagiaan.

Salah satu realitas yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana adalah tekanan untuk mempublikasikan makalah di jurnal internasional bergengsi, yang seringkali memerlukan biaya APC yang tinggi. Prestasi dalam publikasi makalah memang penting, tetapi perlu diingat bahwa tujuan utama pendidikan adalah menciptakan pemikiran kritis dan inovasi.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, cepat lulus dan menjadi lulusan tercepat dan termuda mungkin dianggap sebagai pencapaian. Namun, hal ini seharusnya tidak mengesampingkan proses belajar yang mendalam dan berkualitas.

Kemandirian dan proaktivitas dalam mencari kesempatan magang di universitas terkemuka di luar negeri menjadi salah satu tuntutan yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana. Meskipun magang dapat meningkatkan harga diri dan memperluas wawasan, mahasiswa perlu mempertimbangkan keseimbangan antara biaya dan manfaat yang diperoleh.

Beberapa mahasiswa pascasarjana mungkin fokus pada strategi peningkatan H-indeks, seperti saling sitasi dan salami slicing. Meskipun strategi ini dapat meningkatkan citra akademis, penting untuk tidak mengabaikan substansi dan integritas penelitian.

Fokus pada penelitian dan dukungan terhadap mahasiswa dalam mengenal dunia penelitian memang penting. Akan tetapi, pendidikan bukan hanya tentang penelitian semata, melainkan juga pengembangan karakter dan keterampilan interpersonal.

Penting bagi mahasiswa pascasarjana (dan juga dosennya!) untuk menemukan keseimbangan antara tujuan pendidikan dan tuntutan dunia. Fokus pada esensi pendidikan, seperti pemikiran kritis, inovasi, dan pengembangan karakter, akan membantu menciptakan generasi yang berkualitas, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Menyeimbangkan tujuan pendidikan dan tuntutan perguruan tinggi penting bagi mahasiswa pascasarjana demi menciptakan generasi berkualitas.

World’s Top 2% Scientists (2021-2022)

Saya telah masuk dalam “World’s Top 2% Scientists” selama dua tahun berturut-turut (2021 dan 2022) berdasarkan Elsevier Data Repository yang disiapkan oleh Prof. John P.A. Loannidis dan timnya di Stanford University. “World’s Top 2% Scientists” merujuk pada database ilmuwan yang paling banyak dikutip dan tersedia untuk umum yang memberikan informasi standar tentang sitasi, h-index, co-authorship adjusted hm-index, sitasi pada karya di posisi penulis yang berbeda, dan indikator gabungan (c-score). Selama dua tahun terakhir (2021-2022), saya masuk dalam 2% ilmuwan teratas dunia dalam kedua kategori, yaitu “Career-Long Achievement” dan “Single Year Achievement”. Untuk tahun 2022, data yang tersedia dapat diakses melalui situs web Elsevier. Berikut adalah data saya yang telah diekstrak dari situs web tersebut.

Cintailah ilmu pengetahuan

Tahu nggak, saat jatuh cinta, kita ingin berbagi kebahagiaan? Begitu juga saat jatuh cinta pada ilmu pengetahuan! Ayo, bangkitkan semangat belajar di komunitas ilmiah, khususnya mahasiswa. Sebagai dosen, berbagi pengetahuan bukan hanya tugas, tapi juga kebahagiaan. Di situs saya yang berisi kuliah yang saya ajar, saya ingin tunjukkan betapa menikmati berbagi ilmu. Semua demi cinta belajar dan perubahan bersama!

Saya pernah membaca pernyataan dari Carl Sagan yang mengatakan, “Tidak menjelaskan ilmu pengetahuan rasanya aneh bagi saya. Ketika Anda jatuh cinta, Anda ingin memberitahu dunia.” Pernyataan ini menyampaikan apresiasi mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan pentingnya berbagi penemuan serta keajaiban ilmu dengan orang lain. Pernyataan ini menggambarkan analogi antara hasrat akan ilmu pengetahuan dengan perasaan cinta, dan menekankan keinginan untuk menyebarkan antusiasme tersebut. Inilah yang perlu kita tanamkan pada masyarakat ilmiah, khususnya mahasiswa, terlebih bagi saya pribadi yang berprofesi sebagai seorang dosen.

Ilmu pengetahuan, sebagai pendekatan sistematis untuk memahami dunia alam, memiliki dampak yang mendalam pada kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan bertanggung jawab atas banyak kemajuan dan inovasi yang telah membentuk dunia modern. Bagi beberapa orang, tidak membagikan pengetahuan dan penemuan ilmiah dapat dianggap sebagai ketidakadilan atau bahkan penghinaan terhadap pencarian kemajuan kolektif.

Perbandingan dengan jatuh cinta menunjukkan bahwa hasrat akan ilmu pengetahuan bisa seintensif dan personal seperti cinta romantis. Ketika orang jatuh cinta, mereka sering merasa terdorong untuk berbagi kebahagiaan dan pengalaman mereka dengan orang lain, karena ini adalah pengalaman yang mendalam dan transformatif. Demikian pula, kegembiraan dan kepuasan yang didapat dari eksplorasi ilmiah dapat menginspirasi keinginan untuk berbagi pengetahuan dengan dunia.

Dengan menyebarkan pengetahuan ilmiah, kita tidak hanya meningkatkan pemahaman kolektif tentang alam semesta tetapi juga menginspirasi rasa ingin tahu dan hasrat pada orang lain. Hal ini dapat menyebabkan efek berantai, di mana lebih banyak orang terlibat dengan ilmu pengetahuan, berkontribusi pada kemajuannya, dan terus berbagi penemuan.

Selain itu, menjelaskan ilmu pengetahuan kepada orang lain dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman dan mempromosikan pengambilan keputusan berdasarkan bukti. Hal ini sangat penting di dunia saat ini, di mana informasi yang salah dapat menyebar dengan cepat, dan pemahaman publik tentang konsep ilmiah dapat memiliki konsekuensi signifikan bagi kebijakan dan kesejahteraan sosial.

Singkatnya, perasaan yang diungkapkan dalam pernyataan tersebut menekankan pentingnya berbagi pengetahuan ilmiah dan memupuk cinta untuk ilmu pengetahuan dalam masyarakat. Sama seperti orang ingin berbagi cinta dengan orang lain, para pendukung ilmu pengetahuan yang bersemangat harus merasa terdorong untuk menjelaskan dan mempromosikan pemahaman ilmiah demi kebaikan umat manusia dan kemajuan.