Belenggu metrik: Ironi dalam dunia ilmu pengetahuan

Kalau kita membaca buku “Weapons of Math Destruction” karya Cathy O’Neil (buku ini dapat dicari dan diunggah secara gratis melalui internet), terdapat terdapat sebuah paradoks yang serupa dalam dunia riset dan publikasi ilmiah.

"Weapons of Math Destruction" oleh Cathy O’Neil menyoroti bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan model matematika dan algoritma big data dalam masyarakat. O'Neil berargumen bahwa model-model ini sering kali memperkuat ketidaksetaraan dan ketidakadilan, dibangun berdasarkan asumsi yang salah atau data yang bias. Buku ini menyerukan peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pengembangan dan penggunaan model ini, serta perlunya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat. O'Neil juga menekankan pentingnya pendidikan dan kesadaran publik tentang dampak model-model ini, mendorong pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan etis dalam sains data.

Di sini, dalam dunia publikasi ilmiah, kita melihat bagaimana metrik, khususnya faktor dampak (impact factor), telah menjadi hal yang menjadi penentu kebijakan dalam dunia publikasi ilmiah, serupa dengan bagaimana algoritma big data mengukuhkan ketidaksetaraan dalam masyarakat, seperti yang diungkapkan dalam buku “Weapons of Math Destruction”.

Faktor dampak, sebuah metrik yang awalnya dirancang untuk mengukur pengaruh sebuah jurnal ilmiah, telah berubah menjadi alat penilaian bagi karya individu dan institusi. Ironisnya, seperti yang diungkapkan Eugene Garfield, pencipta Journal Impact Factor (JIF), penggunaan metrik ini untuk menilai individu adalah penyalahgunaan, karena variasi sitasi antarartikel dalam satu jurnal bisa sangat lebar.

Namun, dalam praktiknya, faktor dampak telah menjadi patokan utama dalam menentukan di mana para ilmuwan mempublikasikan karya mereka, siapa yang dipromosikan atau dipekerjakan, kesuksesan aplikasi hibah, bahkan hingga bonus gaji. Sebuah studi pada tahun 2019 menemukan bahwa 40% universitas di AS dan Kanada yang berfokus pada penelitian secara spesifik menyebutkan JIF dalam proses review, promosi, dan tenure.

Kritik terhadap faktor dampak mencakup keabsahan statistiknya dan dampaknya terhadap cara ilmu pengetahuan dilakukan dan dinilai. Salah satu kelemahan mendasar adalah faktor dampak menyajikan rata-rata dari data yang tidak terdistribusi normal. Selain itu, ada perdebatan lebih luas mengenai validitas faktor dampak sebagai ukuran pentingnya jurnal dan efek dari kebijakan yang mungkin diadopsi editor untuk meningkatkan faktor dampak mereka, mungkin dengan mengorbankan pembaca dan penulis.

Lebih jauh, faktor dampak telah dikritik karena mendorong perilaku negatif di kalangan para ilmuwan, editor, dan pemangku kepentingan lainnya. Beberapa kritik menunjukkan bahwa penekanan pada faktor dampak berasal dari pengaruh negatif politik neoliberal terhadap akademia. Tuntutan ini tidak hanya menuntut penggantian faktor dampak dengan metrik yang lebih canggih, tetapi juga diskusi tentang nilai sosial dari penilaian penelitian dan meningkatnya ketidakpastian karier ilmiah dalam pendidikan tinggi.

Kasus King Abdulaziz University

Sebuah narasi menarik terungkap dalam bab “ARMS RACE: Going to College” dari buku “Weapons of Math Destruction”. Di sini, kita diajak merenungkan bagaimana angka dan peringkat, seperti yang dikemas oleh U.S. News, seringkali lebih merupakan cerminan ilusi daripada realitas pendidikan yang autentik. Sebagai ilustrasi, O’Neil mengambil contoh Departemen Matematika di King Abdulaziz University, Arab Saudi. Dengan kejutan, departemen yang baru berusia dua tahun ini meloncat ke peringkat ketujuh pada tahun 2014, menyamai institusi-institusi agung seperti Cambridge dan MIT.

Kejadian ini bukan sekadar fenomena, melainkan sebuah pertanyaan mendalam tentang esensi dan integritas sistem peringkat itu sendiri. O’Neil menggali lebih dalam, menunjukkan bagaimana sistem peringkat, yang seharusnya menjadi tolok ukur, sering kali tergelincir menjadi alat manipulasi. Di King Abdulaziz University, lonjakan dramatis dalam peringkat menyingkap tabir bagaimana universitas mungkin lebih memilih strategi investasi finansial untuk mendongkrak posisi mereka, ketimbang berinvestasi dalam substansi pendidikan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, kita melihat bagaimana sebuah metrik yang dirancang untuk membantu, sekarang telah menjadi senjata yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan yang sejati. Di sini, faktor dampak, yang seharusnya menjadi alat, telah menjadi tuan yang menentukan nasib ilmu pengetahuan dan para ilmuwannya.

Akhir kata: “Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ukur, karena pada akhirnya, itu yang akan mengukur kita.

Integritas dan etika dalam pendidikan tinggi dan riset

Bayangkan, jika di suatu sudut kampus, terjadi percakapan seru antara dua dosen yang lagi asyik ngobrol. Mereka bukan siapa-siapa kok, hanya tokoh imajiner dalam skenario kita saja. Jika kebetulan ada yang namanya mirip, itu cuma kebetulan belaka, nggak ada hubungannya sama sekali. Lewat obrolan santai mereka ini, kita bisa lho, mengintip berbagai persoalan etika yang sering muncul dan menggelitik di dunia akademis. Yap, sesederhana itu, kita bisa dapat pencerahan tentang etika penelitian, hanya dari secangkir teh dan obrolan ringan dua dosen ini:

Arief: “Tau nggak, Budi, cerita soal dosen yang kejar target sampai-sampai mahasiswanya jadi korban? Ada yang nggak punya log book penelitian lho.”

Budi: “Iya, Arief, sering dengar. Kadang-kadang, mahasiswanya juga kayak robot, cuma ngumpulin data doang, nggak ngerti apa-apa tentang risetnya.”

Arief: “Betul banget. Kan ironis, nama saja pendidikan dan riset, tapi kok ya esensinya hilang. Harusnya kan belajar, bukan cuma ngejar hasil.”

Budi: “Dan denger-denger ada juga dosen yang ngarang data, ngutak-ngatik statistik biar keliatan ciamik di kertas. Itu sih merusak nama baik ilmu pengetahuan.”

Arief: “Benar banget. Jadi bukan cuma soal berapa banyak publikasi, tapi juga gimana caranya dapat. Kalau sampai ada kecurangan, ya apa artinya?”

Budi: “Nah, dan tekanannya bukan main, terutama buat mahasiswa S2 dan S3. Mereka diharapkan punya publikasi internasional, tapi bimbingannya? Nihil!”

Arief: “Ini nih yang harus kita perhatikan sebagai dosen. Kita harus lebih fokus ke mentoring yang benar, pastikan mereka ngerti proses riset yang sebenarnya.”

Budi: “Setuju banget. Kita juga harus sering-sering ngobrol tentang etika penelitian. Bukan cuma soal dapetin hasil, tapi juga soal riset yang bertanggung jawab.”

Arief: “Benar, Budi. Kita perlu budaya akademik yang sehat. Bukan cuma kejar-kejaran publikasi, tapi juga membangun komunitas ilmiah yang berkualitas dan berintegritas.”

Budi: “Dan jangan lupa soal kurikulum. Kita perlu pastikan kurikulum nggak cuma ngajarin teori, tapi juga praktek penelitian yang baik dan etis.”

Arief: “Yup, perubahan harus dari dasar. Mulai dari cara kita mendidik, cara kita riset, sampai cara kita nilai kinerja akademik. Perlu kerja keras nih dari semua pihak.”

Budi: “Betul, tantangannya besar, tapi aku yakin kita bisa. Yuk mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan terdekat. Jadilah contoh yang baik buat generasi penerus kita.”

Arief: “Setuju penuh. Mari kita jadi perubahan yang ingin kita lihat di dunia pendidikan tinggi!”

Refleksi atas distorsi ilmu pengetahuan

Dalam nyinyir ini (dan saya selalu tetap nyiyir bersuara), terdapat keperluan mendesak untuk menyuarakan kegelisahan. Kita menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, bagaimana dunia ilmu pengetahuan, yang seharusnya menjadi mercusuar pengetahuan, kini terjerumus dalam lembah fatamorgana. Ironis. Ketika ilmu pengetahuan yang mestinya berdiri tegak di atas fondasi kebenaran dan pencarian makna, kini terpapar oleh angin pencitraan yang semu? Hal ini terlihat ketika penghargaan kepada dosen hanya dilihat dari pencapaian semu yang hanya memperhatikan angka seperti jumlah publikasi dan sitasi tanpa melihat bagaimana proses angka itu dihasilkan, apakah dengan kaidah yang benar dan berintegritas. Saya memperhatikan faktor integritas sangat jarang diperhatikan padahal ini kunci dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Di era ini, di mana metrik menjadi dewa, peneliti dan akademisi terjebak dalam angka-angka yang menyesatkan. Publikasi menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Jumlah publikasi, faktor dampak jurnal, sitasi – semua ini telah menjadi hal yang dikejar, bukan alat untuk mengukur esensi pengetahuan yang sejati. Kita terlena dalam pesta angka yang menggiurkan, melupakan bahwa di balik angka-angka tersebut, seharusnya terdapat substansi pengetahuan yang berharga. Di universitas hal ini seringkali tidak diperhatikan dengan serius untuk mendidik calon ilmuwan. Kita seringkali lupa bahwa sebagai dosen tugas utama kita adalah mendidik.

Penerbitan yang tidak memperhatikan proses yang betul, yang seringkali bisa sampai diterbitkan di jurnal ternama (jika beruntung), yang lebih mengutamakan keuntungan daripada kebenaran ilmiah, adalah salah satu manifestasi dari krisis ini. Mereka bagaikan serigala berbulu domba, menawarkan jalan pintas menuju publikasi, namun pada akhirnya hanya menghasilkan karya-karya yang hampa makna. Ini adalah tragedi zaman, di mana integritas ilmiah dikorbankan demi pencapaian yang dangkal.

Kita harus bertanya, ke mana arah kompas ilmu pengetahuan kita? Apakah kita akan terus menerus berjalan dalam lingkaran pencitraan yang tak berujung? Atau, apakah kita akan kembali ke jalan yang benar: penelitian yang dilakukan dengan integritas, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran?

Kita perlu mengingat kembali bahwa ilmu pengetahuan bukanlah tentang berlomba-lomba dalam jumlah publikasi atau mengejar faktor dampak yang tinggi. Ilmu pengetahuan adalah tentang pencarian kebenaran, tentang membangun fondasi pengetahuan yang kokoh dan berarti. Kita harus kembali ke prinsip-prinsip dasar penelitian: integritas, keaslian, dan kontribusi nyata terhadap pengetahuan.

Mari kita buang jauh-jauh fatamorgana yang telah membutakan kita. Mari kita bangun kembali ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran dan pencarian makna yang sejati. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa ilmu pengetahuan akan terus menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan, bukan menjadi bayang-bayang yang menyesatkan dalam cahaya yang silau.

Nggak tahu lagi, saya mau ngomong apa. 🥲

Kemerdekaan dalam riset dan publikasi ilmiah

Opini ini merupakan kelanjutan dan pelengkap dari tulisan “Publikasi Ilmiah yang Kian Berfokus Kualitas dan Menjaga Integritas”, yang diterbitkan pada 9 Januari 2024 di KOMPAS. Tulisan ini memberikan perspektif yang lebih luas tentang tantangan dalam dunia publikasi ilmiah, menggabungkan pandangan historis dan kontemporer untuk memahami dinamika saat ini dalam riset dan publikasi ilmiah. 

Saat ini, di mana ilmu pengetahuan berlomba mengejar waktu, terukir sebuah epik sains yang berawal dari Eropa abad ke-16. Sebuah era di mana tokoh-tokoh seperti Newton, Galileo, Kepler, dan Descartes menjadi pahlawan dalam narasi ilmu pengetahuan. Namun, sebelum era tersebut, di bawah langit dunia Arab, terhampar zaman keemasan ilmu pengetahuan, sebuah era di mana tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan Ibnu al-Haytham menanam benih ilmu yang subur. Mereka, sebagai penjaga api pengetahuan, telah menyalakan lentera yang menerangi jalan bagi generasi mendatang, mengajarkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan adalah perjalanan tanpa batas, sebuah sungai yang mengalir melintasi waktu dan ruang, menghubungkan kita semua dalam satu narasi besar tentang keajaiban dan kearifan manusia. 

Dari cerita ini, kita, sebagai penjelajah zaman, harus mengambil pelajaran. Dalam perburuan keunggulan ilmiah, tidak ada jalan pintas yang lurus dan mudah. Di balik gemerlap nama-nama besar dalam jurnal-jurnal ternama, tersembunyi narasi tentang usaha dan ketekunan yang sering terlupakan, namun tak kalah penting. Di ruang-ruang penelitian yang mungkin tak pernah tercatat dalam daftar jurnal ternama seperti Nature atau Science, terjadi eksplorasi pengetahuan yang mendalam dan tulus.

Di Indonesia, perjalanan riset masih seperti kapal yang berlayar di tengah lautan yang luas dan misterius. Meski terkadang terombang-ambing, kita harus tetap berlayar dengan penuh harapan. Perbandingan dengan negara-negara maju bukanlah untuk menimbulkan rasa rendah diri, melainkan sebagai peta untuk navigasi perjalanan kita sendiri. Seperti para ilmuwan besar di masa lalu, kita harus berlayar dengan penuh optimisme dan komitmen untuk terus berkembang.

Di negara yang sedang membangun diri, seperti Indonesia, riset bukan hanya tentang mengejar publikasi elit, tetapi juga tentang perjalanan menemukan jawaban atas tantangan lokal yang unik. Di sini, ilmu pengetahuan bukan hanya teori yang mengambang di awan, melainkan aplikasi nyata yang menyentuh tanah dan kehidupan.

Kisah tentang kolaborasi versus persaingan dalam dunia ilmu pengetahuan adalah seperti dialog antara langit dan bumi. Di dunia yang ideal, ilmu pengetahuan adalah taman di mana pikiran-pikiran bertemu dan berdialog, bukan arena pertarungan ego. Kolaborasi internasional dan pertukaran ide adalah jembatan yang menghubungkan pulau-pulau pengetahuan, membawa kekayaan perspektif yang melampaui batas-batas persaingan sempit.

Diversifikasi kriteria keberhasilan dalam riset juga penting. Sukses dalam ilmu pengetahuan tidak hanya diukur dari seberapa sering nama seseorang muncul di jurnal ternama, tetapi juga dari dampak sosial, inovasi teknologi, dan kontribusi terhadap kebijakan publik. Setiap penemuan, besar atau kecil, adalah sebuah karya seni dalam galeri ilmu pengetahuan.

Dalam lanskap ilmu pengetahuan yang luas dan beragam ini, komunitas ilmiah Indonesia, serta negara-negara lain dengan cerita serupa, mungkin menemukan jalan mereka sendiri. Jalur yang tidak hanya diukur oleh frekuensi publikasi di jurnal internasional dan sitasi, tapi juga oleh seberapa dalam mereka menyentuh kehidupan dan seberapa jauh mereka menerangi jalan bagi generasi yang akan datang. Di sini, setiap penelitian, setiap penemuan, adalah sebuah cerita, sebuah lagu, yang menari dalam simfoni ilmu pengetahuan global.

Peran kebijakan pemerintah dalam membangun jurnal ilmiah lokal

Dalam narasi pembangunan jurnal ilmiah lokal yang hebat dan merdeka, peranan kebijakan strategis dari pemerintah bukanlah sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang krusial. Pemerintah, dengan kebijakan-kebijakannya, bukan hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator dan motivator dalam perjalanan panjang ini.

Bayangkan jika pemerintah mengambil langkah proaktif dengan mengalokasikan dana khusus untuk mendukung pembentukan dan pengelolaan jurnal ilmiah lokal, yang saat ini tampaknya kurang mendapat perhatian dalam perkembangannya. Ini bukan hanya sekadar investasi dalam bentuk finansial, tetapi juga investasi dalam membangun ekosistem ilmiah yang sehat dan mandiri. 

Selain itu, pemerintah dapat memainkan peran penting dalam menetapkan standar kualitas untuk jurnal-jurnal lokal, memastikan bahwa mereka tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Kebijakan ini akan mendorong peneliti untuk mengarahkan fokus riset mereka pada isu-isu lokal yang penting, daripada terjebak dalam persaingan untuk publikasi di jurnal internasional yang seringkali tidak sesuai dengan konteks lokal.

Pemerintah juga bisa mengambil langkah lebih jauh dengan mengintegrasikan publikasi di jurnal lokal ini dalam kriteria penilaian karir akademis dan juga pemberian dana penelitian. Dengan demikian, para peneliti akan lebih termotivasi untuk berkontribusi pada jurnal lokal, mengetahui bahwa karya mereka diakui dan dihargai dalam sistem karir akademis.

Dengan kebijakan strategis yang kuat dan terarah dari pemerintah, jurnal ilmiah lokal Indonesia tidak hanya akan berkembang menjadi wadah publikasi yang dihormati, tetapi juga menjadi katalisator dalam memajukan riset dan ilmu pengetahuan yang berakar pada kebutuhan dan realitas Indonesia. Ini adalah langkah menuju masa depan di mana Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga sebagai negara yang kaya akan sumber daya intelektual.

Kemerdekaan dalam publikasi ilmiah

Realitas hari ini memperlihatkan kita berjalan di atas tali yang direntangkan oleh bisnis publikasi global. Biaya publikasi, yang sering melampaui dana riset itu sendiri, menjadi raksasa yang menelan kreativitas dan keaslian. Di tengah kekangan ini, muncul sebuah panggilan untuk meraih kemerdekaan: pengembangan jurnal lokal.

Jurnal internasional, dengan cakrawala mereka yang luas, seringkali mengabaikan kekayaan pengetahuan lokal. Mereka menjadi panggung yang sempit, di mana narasi-narasi lokal terpinggirkan. Di sini, jurnal lokal menjadi tempat di mana pengetahuan lokal dapat mekar, memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini teredam.

Biaya publikasi yang membengkak menjadi cermin ironi. Dana yang seharusnya menghidupi riset, malah terkuras untuk membayar halaman-halaman di jurnal elit. Jurnal lokal, dengan biaya publikasi yang lebih terjangkau dan bisa digratiskan, menawarkan jalan keluar dari paradoks ini. Mereka menjadi pelabuhan bagi peneliti yang ingin mengalokasikan sumber daya mereka dengan lebih bijaksana.

Lebih dari itu, jurnal lokal adalah langkah menuju kedaulatan intelektual. Mereka membangun ekosistem ilmiah yang mandiri, di mana pengetahuan tidak hanya diukur dari lensa global, tetapi juga dari kekhasan lokal. Ini adalah perjalanan menuju keseimbangan, di mana ilmu pengetahuan tidak hanya berbicara dalam bahasa universal, tetapi juga meresapi dalam dialek-dialek lokal.

Kita berada di persimpangan. Di satu sisi, jurnal internasional dengan segala prestise dan dominasinya. Di sisi lain, jurnal lokal yang menjanjikan kebebasan dan kedekatan dengan realitas kita. Pilihan ini bukan sekadar tentang tempat publikasi, tetapi tentang bagaimana kita mendefinisikan dan membangun masa depan riset yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam pembangunan jurnal ilmiah lokal yang berkualitas dan mandiri di Indonesia, kita dihadapkan pada sebuah momen reflektif untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dalam dunia pendidikan tinggi dan riset. Kemerdekaan, dalam hal ini, bukan hanya sekadar lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga merdeka dalam berpikir, berkreasi, dan berinovasi. Kita perlu merdeka dalam riset dan publikasi ilmiah.

Standar riset akademis program sarjana, magister dan doktor

Berdasarkan pengalaman saya dalam membimbing mahasiswa dan menguji mahasiswa, saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk berbagi pandangan tentang standar kualitas yang seharusnya dicapai oleh mahasiswa di tingkat strata 1, 2, dan 3 (S1, S2, dan S3). Sering kali terjadi kebingungan dan ketidaksesuaian dalam proses pendidikan, khususnya dalam penelitian tugas akhir pada ketiga tingkat tersebut. Perhatian terhadap hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa standar akademis yang diharapkan dapat tercapai secara efektif.

Untuk mahasiswa S1, fokus utamanya adalah pada eksplorasi dasar dan pengenalan metode penelitian. Mereka diharapkan untuk menulis laporan lab yang rinci dan melakukan proyek akhir yang mencerminkan pemahaman mereka tentang konsep dasar kimia. Di tingkat ini, penting bagi mahasiswa untuk memperkenalkan diri mereka pada metodologi dasar penelitian ilmiah dan analisis data.

Di tingkat S2, penelitian diharapkan lebih mendalam. Mahasiswa di tingkat ini diharapkan menghasilkan karya yang dapat dipublikasikan di jurnal atau konferensi. Mereka juga diharapkan mengembangkan atau meningkatkan metodologi penelitian, seringkali dengan fokus pada area spesialisasi tertentu. Penelitian mandiri yang lebih mendalam dengan bimbingan dosen menghasilkan tesis magister yang menunjukkan kemampuan analisis dan sintesis yang canggih.

Di tingkat S3, standar riset menjadi lebih tinggi lagi. Penelitian harus memberikan kontribusi baru dan signifikan pada bidang kimia, seringkali melalui pendekatan inovatif atau eksplorasi area baru. Mahasiswa diharapkan menghasilkan publikasi di jurnal internasional terkemuka sebagai bukti kontribusi ilmiah mereka. Penelitian mereka harus cukup kuat untuk dipertahankan di hadapan panel ahli, menunjukkan penguasaan mendalam dan pemahaman luas tentang bidang studi. Kolaborasi riset seringkali melibatkan kerja sama dengan peneliti lain atau institusi, menunjukkan kemampuan untuk bekerja dalam tim penelitian yang lebih besar.

Perbedaan utama antara ketiga tingkat ini terletak pada tingkat kedalaman dan kompleksitas. S1 fokus pada dasar-dasar dan pengenalan, S2 lebih mendalam dengan spesialisasi, dan S3 menuntut kontribusi orisinal dan inovatif. Ekspektasi publikasi juga berbeda; S1 jarang mengharuskan publikasi, S2 mendorong publikasi sebagai bagian dari tesis, dan S3 seringkali memerlukan publikasi di jurnal terkemuka. Selain itu, tingkat independensi dalam penelitian juga meningkat dari S1 yang lebih terstruktur dan dipandu, ke S2 yang memberikan lebih banyak kebebasan, dan S3 yang menuntut tingkat independensi dan inisiatif yang tinggi dari mahasiswa. Standar ini mencerminkan perkembangan kemampuan penelitian mahasiswa dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut, dengan peningkatan ekspektasi terhadap kedalaman analisis, orisinalitas, dan kontribusi ilmiah.

Evaluasi holistik karya ilmiah

Opini kali ini menyoroti masalah penting dalam penilaian akademis, khususnya ketergantungan berlebihan pada peringkat dan kutipan dalam menilai kualitas karya seorang sarjana. Ini menegaskan bahwa peringkat Universitas Stanford dan sistem peringkat serupa seharusnya tidak menjadi satu-satunya penilaian yang menentukan. Sistem yang hanya mengandalkan jumlah kutipan tidak mempertimbangkan konteks atau kualitas kutipan tersebut, apalagi menyelidiki siapa sebenarnya yang berkontribusi dalam penulisan makalah. Ini dapat mengarah pada pengakuan yang tidak adil dan mengabaikan faktor penting lainnya dalam karya akademis.

Sistem seperti ini juga tidak mampu menilai dampak atau kreativitas karya ilmiah, serta relevansi terhadap disiplinnya. Untuk itu, opini ini menyarankan pendekatan yang lebih holistik dan kritis dalam menilai karya akademis. Ini termasuk membaca dan memahami konten makalah, menilai ketelitian metodologis, kreativitas, relevansi, dan melihat apakah penulis bekerja dengan berbagai penulis lain atau fokus pada tema tertentu. Selain itu, evaluasi kinerja mahasiswa setelah lulus dan dampak terhadap disiplin juga penting.

Singkatnya, tulisan ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh dan kritis dalam menilai karya ilmiah, daripada hanya bergantung pada metrik seperti peringkat dan kutipan yang sering kali tidak mencerminkan kualitas sebenarnya dari pekerjaan akademis. Ini mengajak kita untuk tidak hanya terpaku pada angka dan algoritma, tetapi juga mempertimbangkan nilai dan dampak nyata dari karya ilmiah bagi masyarakat dan disiplin ilmu yang bersangkutan.

Paradoks dan ironi dalam riset

Dalam dunia akademis yang penuh dengan tantangan dan paradoks, terdapat cerita-cerita yang sering terlupakan namun penting untuk diceritakan. Dialog berikut ini mengungkapkan realitas yang dihadapi oleh banyak peneliti di universitas-universitas di Indonesia, sebuah narasi tentang harapan tinggi yang terbelenggu oleh peraturan yang mengikat dan sering kali menghambat. Melalui percakapan antara dua peneliti, kita diajak untuk memahami dinamika dan ironi yang terjadi dalam tata kelola riset, di mana inovasi dan integritas akademis berusaha untuk bertahan hidup dalam sistem yang penuh dengan absurditas. Ini adalah cerminan dari perjuangan, kreativitas, dan terkadang, akal-akalan yang menjadi bagian dari perjalanan ilmiah.

Peneliti A: “Hai, kamu sudah dengar tentang teori absurb dalam tata kelola riset di universitas kita?”

Peneliti B: “Oh, maksudmu tentang harapan tinggi dengan peraturan yang mengikat tapi malah menghambat itu? Ya, itu seperti meminta kita untuk lari cepat sambil kaki kita diikat rantai!”

Peneliti A: “Benar sekali! Dan yang paling menggelikan adalah praktik ilmiah yang salah kaprah itu. Mereka ingin kita melakukan riset yang berkualitas dalam waktu singkat. Bayangkan, dana cair bulan Juli dan mereka mengharapkan kita sudah punya publikasi yang accepted di bulan Desember!”

Peneliti B: “Itu seperti meminta kita untuk membangun rumah dalam semalam. Dan jangan lupakan, rumah itu harus layak huni dan indah!”

Peneliti A: “Tepat! Dan jangan lupa, rumah itu harus dibangun dengan menggunakan teknik dan material yang belum tentu kita kuasai atau tersedia di pasar lokal. Kita diharapkan melakukan inovasi sambil tetap mematuhi semua peraturan yang ada.”

Peneliti B: “Ini benar-benar paradoks! Di satu sisi, mereka menginginkan kemajuan ilmiah yang cepat dan berkualitas. Di sisi lain, mereka memberikan kita waktu dan sumber daya yang tidak realistis. Ini seperti meminta kita untuk terbang tanpa sayap!”

Peneliti A: “Ya, dan yang paling ironis adalah ketika kita berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa dengan segala keterbatasan itu, mereka menganggapnya sebagai ‘standar’ dan mengharapkan lebih di masa depan.”

Peneliti B: “Betul! Ini bukan lagi tentang kemajuan ilmiah, tapi lebih kepada bagaimana kita bertahan hidup dalam sistem yang absurb ini. Mungkin kita harus mulai menulis paper tentang ‘Survival of the Fittest: Kisah Para Peneliti di Universitas Absurd’.”

Peneliti A: “Haha, itu akan menjadi best seller di kalangan akademisi! Atau mungkin kita bisa mulai riset tentang ‘Teori Absurd dalam Tata Kelola Riset: Studi Kasus Universitas di Indonesia’.”

Peneliti B: “Ide yang brilian! Tapi jangan lupa tentang akal-akalan yang terjadi di balik layar. Kita tahu banyak yang menggunakan data riset tahun lalu untuk membuat proposal baru.”

Peneliti A: “Ah, ya! Itu seperti memasak makanan kemarin untuk hidangan hari ini. Hanya dihangatkan, diberi bumbu baru, dan voila! Sebuah ‘proposal inovatif’ siap disajikan.”

Peneliti B: “Benar! Ini adalah tarian absurd di mana semua penari tahu langkahnya tapi tetap berpura-pura terkejut setiap kali musiknya berubah.”

Peneliti A: “Dan di tengah semua ini, kita diharapkan untuk tetap menjaga integritas akademis. Ironis, bukan? Kita diharapkan untuk menjadi inovatif sambil berjalan di atas tali yang sudah usang.”

Peneliti B: “Sungguh ironis! Tapi, hei, mungkin itu juga bagian dari ‘keterampilan’ yang harus kita kuasai, bukan? Bagaimana menjadi kreatif dalam keterbatasan, termasuk bagaimana mengolah data lama menjadi sesuatu yang tampak baru dan segar.”

Peneliti A: “Ya, ‘seni’ akademis dalam tata kelola riset yang absurb. Mungkin kita harus mulai mengadakan workshop tentang ini, ‘Seni Mengolah Data Lama: Bagaimana Membuat Proposal Riset Anda Terlihat Baru’.”

Peneliti B: “Haha, itu akan sangat populer! Tapi, tentu saja, kita akan melakukannya dengan menjaga etika dan standar ilmiah. Kita tidak ingin menjadi contoh buruk dalam buku teks sejarah ilmu pengetahuan.”

Peneliti A: “Tentu saja, integritas dan inovasi harus berjalan seiring. Mari kita tunjukkan bahwa meskipun sistemnya penuh dengan absurditas, kita masih bisa menghasilkan riset yang berkualitas dan bermakna.”

Peneliti B: “Setuju! Mari kita lanjutkan perjuangan kita di dunia akademis yang penuh dengan tantangan ini. Ke laboratorium, demi sains dan sedikit keajaiban!”

Peneliti A: “Untuk sains, integritas, dan sedikit keajaiban! Ayo kita buktikan bahwa di tengah absurditas, kita masih bisa berinovasi dan berkontribusi pada kemajuan ilmiah!”

Menari dalam melodi penelitian ilmiah

Untuk menghasilkan penelitian yang berdampak dan inovatif, kita harus mengakui bahwa riset idealnya bersifat “playful”, dipenuhi dengan eksplorasi dan kreativitas, bukan hanya terfokus pada hasil akhir seperti publikasi. “Playful” di sini menggambarkan sebuah pendekatan yang penuh dengan kegembiraan, kreativitas, dan sering kali tidak terikat oleh aturan atau struktur yang ketat. Pendekatan ini membuka jalan bagi penelitian yang lebih fleksibel dan inovatif.

Memandang penelitian sebagai proses kreatif, serupa dengan melukis atau menulis puisi, memungkinkan kita untuk mengadopsi pendekatan yang lebih dinamis dan terbuka. Dalam dunia ilmu pengetahuan, seringkali hasil akhir, terutama publikasi, dianggap sebagai ukuran keberhasilan utama. Namun, pandangan ini kurang tepat karena mengabaikan pentingnya proses penemuan dan eksplorasi yang merupakan inti dari penelitian.

Ilmuwan yang sukses sering kali dikenal karena kemampuan mereka untuk berpikir di luar kebiasaan, melihat koneksi yang tidak terlihat oleh orang lain, dan berani mengambil risiko dalam eksplorasi mereka. Mereka memperlakukan penelitian sebagai permainan intelektual, di mana rasa ingin tahu dan kegembiraan dalam menemukan hal baru menjadi pendorong utama, bukan sekadar publikasi hasil akhir.

Mengadopsi pandangan ini dalam penelitian berarti melihat setiap eksperimen, teori, dan hipotesis, bukan sebagai langkah menuju tujuan akhir publikasi, melainkan sebagai bagian dari proses kreatif yang terus berlangsung. Setiap kegagalan bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari bab baru, dengan peluang untuk belajar dan tumbuh.

Oleh karena itu, jika kita ingin mencapai penelitian yang berdampak, kita harus mengadopsi sikap yang lebih bermain, lebih terbuka terhadap eksplorasi dan kegembiraan dalam proses penemuan. Penelitian bukan hanya tentang mencapai publikasi, melainkan tentang proses pembelajaran dan penemuan yang terus-menerus. Setiap penemuan membuka pintu ke misteri baru, setiap jawaban mengarah pada lebih banyak pertanyaan. Ini adalah siklus pembelajaran dan penemuan yang tak berujung, di mana prosesnya sendiri merupakan bagian dari keindahan penelitian.

Dalam konteks ini, penelitian menjadi lebih dari sekadar pencarian jawaban; ia menjadi perjalanan intelektual yang penuh warna dan dinamis. Setiap langkah dalam penelitian membawa potensi untuk membuka wawasan baru, menginspirasi ide-ide baru, dan menantang pemahaman kita yang ada. Ini adalah perjalanan yang mengundang kita untuk merenung, bertanya, dan bereksperimen, di mana setiap temuan, tidak peduli seberapa kecil, menambah kekayaan pengetahuan manusia.

Dengan demikian, penelitian harus dilihat sebagai sebuah perjalanan yang berkelanjutan, di mana tujuan akhir bukanlah satu-satunya fokus, melainkan setiap langkah dalam perjalanan itu sendiri yang berharga. Ini adalah perjalanan yang menghargai proses penemuan, yang merayakan kreativitas dan inovasi, dan yang mengakui bahwa dalam setiap kegagalan terdapat peluang untuk belajar dan berkembang. Penelitian, dalam esensinya, adalah sebuah ekspresi dari keingintahuan manusia yang tak terbatas, sebuah perjalanan yang tak pernah berakhir dalam mencari pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar kita.

Dalam konteks pragmatisme John Dewey, penelitian dilihat sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dan tindakan. Dewey akan melihat proses pembelajaran dan penemuan yang terus-menerus sebagai kunci untuk memahami realitas, bukan hanya fokus pada hasil akhir seperti publikasi.

Dari perspektif konstruktivisme Jean Piaget dan Lev Vygotsky, pengetahuan dibangun melalui interaksi dengan lingkungan. Hal ini mencerminkan pandangan mereka bahwa pembelajaran adalah proses aktif di mana individu membangun pemahaman mereka sendiri, serupa dengan proses kreatif dalam penelitian.

Dalam humanisme Carl Rogers dan Abraham Maslow, penekanan diberikan pada nilai manusia, kebebasan, dan pengembangan pribadi. Ini mencerminkan pandangan humanistik dengan menekankan pada kegembiraan, kreativitas, dan kebebasan intelektual dalam proses penelitian, serta mengakui bahwa setiap kegagalan adalah peluang untuk pertumbuhan pribadi.

Mengikuti epistemologi konstruktif Immanuel Kant, pengetahuan dilihat sebagai hasil dari interaksi antara peneliti dan objek penelitiannya, mirip dengan bagaimana Kant memandang pengetahuan sebagai hasil dari cara kita memproses pengalaman.

Dalam eksperimentalisme William James, eksplorasi, eksperimen, dan pembelajaran melalui tindakan mencerminkan pandangan James bahwa pengetahuan ilmiah berkembang melalui percobaan dan pengujian ide-ide baru.

Berbagai pandangan filsuf yang telah memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman kita tentang pembelajaran, pengetahuan, dan proses kreatif, menciptakan sebuah pandangan holistik tentang penelitian ilmiah sebagai perjalanan intelektual dan kreatif.

Menuju penelitian berkualitas

Penelitian yang dilakukan secara asal-asalan, tanpa mengikuti pedoman ilmiah yang benar, tanpa etika ilmiah, atau yang hanya bertujuan untuk publikasi cepat, pada akhirnya hanya menghasilkan karya yang tidak substansial. Meskipun tampak mengesankan dalam bibliometri, karya tersebut tidak memberikan dampak nyata. Ironisnya, ini merupakan realitas yang saat ini kita hadapi, yang berkontribusi pada munculnya ilmuwan-ilmuwan yang tidak kredibel. Potensi penelitian kita terhambat oleh pengelolaan yang buruk dan kurang fokus, walaupun dana penelitian sebenarnya cukup tersedia. Hal ini mengakibatkan hasil penelitian yang tidak optimal, yang hanya berorientasi pada kepentingan bibliometri. Kapan kita akan mulai serius, efektif, dan efisien dalam mengelola penelitian?

Perspektif bijak yang melampaui angka

Dalam bayang-bayang peradaban yang terus bergerak, terkadang kita terlena dengan angka-angka bibliometri yang serupa hantu: nyata, namun tak selalu menceritakan seluruh kisah. Tak semua riset menciptakan dentuman yang signifikan di lantai pengetahuan. Ia akan menegaskan bahwa perspektif yang tepat adalah kunci, bukan sekadar penghitungan publikasi atau kutipan yang seringkali membelenggu pandangan kita.

Sebuah penelitian, bagai kanvas yang luas, tak selalu harus dicat dengan warna yang sama. Ada riset yang seperti lukisan abstrak, maknanya tersembunyi di balik garis-garis yang tak beraturan; ada pula yang seperti potret klasik, jelas tujuannya, mudah dicerna. Tetapi, bukan berarti yang abstrak itu tak berguna. Mungkin, di dalam kelokan garisnya, tersembunyi jawaban bagi pertanyaan yang belum kita tanyakan.

Penentu arah iptek bukanlah angka-angka bibliometri semata. Ia mungkin akan mengajak kita melihat lebih dalam, membedah lebih jeli. Dalam cahaya kebijaksanaan, kita harus mengakui bahwa setiap riset memiliki tempatnya masing-masing. Ada yang langsung bersinar, ada yang perlu waktu untuk memancarkan cahayanya.

Dalam perjalanan memajukan iptek, kita jangan terjebak dalam pujian semu terhadap riset yang ‘terlihat’ berdampak. Kita jangan salah kaprah. Seperti layaknya seorang seniman yang menilai lukisannya, kita perlu mata yang bijaksana untuk melihat riset, bukan hanya dari sudut pandang hitungan, tapi dari sisi nilai intrinsik dan potensi jangka panjangnya.

Di sinilah para pengambil keputusan berperan. Mereka haruslah berbekal pengetahuan dan kepekaan, mampu melihat lebih dari yang terlihat, memahami bahwa iptek bukan hanya tentang angka, tapi juga tentang wawasan, imajinasi, dan keberanian untuk mengeksplorasi yang belum terjamah.