World’s Top 2% Scientist

Saya termasuk dalam World’s Top 2% Scientist kategori Career-Long Achievement dan Single Year Achievement seperti yang diumumkan oleh UTM. Saya baru empat bulan di Universitas Negeri Malang (UM). Semoga tahun depan afiliasi saya mewakili UM.

Kartu nama

Kartu baru di Universitas Negeri Malang (UM) dan lama di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang menunjukkan tanggungjawab yang sama. Kita perlu memahami bahwa manusia ada karena memiliki identitas. Kartu nama ini tanpa saya sadari juga untuk membangun identitas saya.  Saya setuju dengan pendapat mereka bahwa ketakutan manusia terhadap kematian disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan identitas.

Majlis Konvokesyen UTM ke-23

Ini adalah buku Majlis Konvokesyen UTM ke-23 tahun 1999 yang saya simpan di rumah orang tua saya di Padang dan saya bawa ke Malang beberapa hari yang lalu. Saat itu saya adalah salah satu wisudawan. Hanya sebelas orang yang menerima ijazah Ph.D. pada waktu itu. Setelah saya perhatikan, banyak nama yang menerima ijazah sudah pensiun.

Laboratorium terpadu UM

Dalam dua hari terakhir, saya telah menyelesaikan pembuatan website Laboratorium Terpadu UM. Ini adalah hasilnya. Silakan klik gambar di bawah ini untuk mengunjungi situsnya.

Bahasa Indonesia logat Malaysia

Sehari sebelum saya dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Negeri Malang (UM), diadakan konferensi pers. Inilah yang ditulis wartawan: “Saat bertemu wartawan pada Rabu (29/6/2022), logat Bahasa Indonesianya masih seperti logat Malaysia. Ia mengaku merasa senang kembali ke tanah air.” Dari semua berita mengenai pengukuhan, ini komentar yang menarik dan jeli dari wartawan.

Rujukan: tribunnews.com

Mencari pembenaran atau kebenaran?

Dulu, sewaktu mula berkecimpung dalam bidang penelitian, ketika membaca makalah dan tesis, saya masih sukar melihat apakah data-data dan hasil-hasil penelitian tersebut adalah hanya mencari pembenaran (justification) atau kebenaran (truth). Sekarang, setelah lebih dua puluh tahun mempunyai pengalaman membaca ratusan makalah dan tesis saya lambat laun dapat melihat apakah laporan tersebut hanyalah untuk pembenaran bukannya berusaha mencari kebenaran.

Walaubagaimanapun saya sadar bahwa tekanan yang dialami oleh peneliti dan dosen sekarang ini untuk menghasilkan publikasi ilmiah adalah penyebab mengapa mencari kebenaran tidak menjadi tujuan utama. Yang penting adalah dapat memenuhi syarat untuk publikasi, hal yang sering sekali tidak dipedulikan. Oleh karena itu, cara pembenaran ini menjadi metoda yang biasa digunakan supaya makalah tersebut dapat dipublikasikan. Sayangnya, tidak semua penilai berpengalaman dan mempunyai pandangan bahwa mencari kebenaran itu sangat penting. Banyak makalah-makalah yang tidak untuk mencari kebenaran yang akhirnya dapat diterbitkan dengan cara ini. Inilah yang disebut sebagai trik dalam dunia riset. Ada juga trik yang dilakukan dengan cara yang anggun.

Saya memahami pembenaran adalah sebagai usaha menyetujui dan mendukung hasil riset. Sebagai contoh adalah hasil riset yang tidak sesuai dengan harapan dipaksakan dicarikan pembenarannya dengan rujukan-rujukan yang hanya mendukung hasil riset tersebut. Seharusnya untuk mencari kebenaran, semua rujukan yang berkaitan, baik yang mendukung dan tidak mendukung perlu dirujuk. Dari cara ini kita dapat melihat apakah hasil penelitian tersebut betul-betul dinilai dengan cara yang adil.

Saya sadar bahwa dunia ini memang tidak adil, namun sebagai ilmuwan dan peneliti kita perlu mencari kebenaran. Ini yang perlu diperjuangkan supaya ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan pesat.

JSPS postdoctoral fellow

Dua puluh tiga tahun silam, saya mendapat kehormatan diterima sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) postdoctoral fellow di Universitas Hokkaido. Saat itu, saya tengah menjalani postdoc di UTM. Sungguh di luar dugaan ketika Prof. Bunsho Ohtani merespons surel yang saya kirimkan dan bersedia merekomendasikan saya kepada JSPS untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Alhamdulillah, dari 10 pelamar dari Indonesia, saya beruntung menjadi salah satu dari dua orang yang terpilih menerima JSPS postdoctoral fellowship pada tahun 1999.