Menari di atas sistem dengan akal bulus

Dalam kehidupan yang seringkali tak sempurna dan memang tidak ideal ini, kita menemukan diri kita terjebak dalam jalinan sistem yang tak jarang penuh dengan celah dan kelemahan. Di sini, akal bulus menjadi semacam seni terselubung, sebuah tarian licik yang dimainkan oleh mereka yang pandai menemukan ritme dalam ketidaksempurnaan. Tak bisa dipungkiri, sistem yang kita sandarkan harapan seringkali memberi panggung bagi mereka yang cerdik untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, seolah-olah keadilan dan kejujuran hanyalah kata-kata yang terlupakan.

Ketika sistem memberi imbalan atas hasil tanpa memedulikan cara, tidak heran jika beberapa dari kita memilih jalan pintas, mengabaikan batas-batas etika demi piala kemenangan. Dan ketika sistem itu sendiri terinfeksi oleh korupsi dan ketidakadilan, akal bulus menjadi alat survival, sebuah strategi untuk bertahan dalam permainan yang sudah rusak sejak awal.

Kita tidak bisa mengabaikan bagaimana tekanan ekonomi dan sosial membentuk narasi ini. Bagi mereka yang terjepit oleh kebutuhan dan keinginan, akal bulus menjadi pilihan yang rasional, sebuah jawaban atas pertanyaan bagaimana cara bertahan hidup ketika jalan yang lurus tampak terlalu sempit dan terjal. Di sini, ketidaksetaraan menjadi guru yang kejam, mengajarkan pelajaran tentang bagaimana dunia bekerja bagi mereka yang tidak diberi kesempatan yang sama.

Namun, tidak semua tindakan licik lahir dari kebutuhan atau kekurangan. Ada pula yang terlahir dari sifat dasar manusia yang memang cenderung manipulatif, yang melihat sistem sebagai panggung sandiwara di mana mereka adalah sutradaranya. Nilai-nilai pribadi dan moral menjadi penentu, menjadi batas antara yang memilih jalan lurus dan yang berbelok, antara yang memegang teguh integritas dan yang membiarkan diri tergelincir.

Pendidikan dan lingkungan sosial yang kita alami juga turut menentukan. Bagaimana kita diajarkan untuk melihat dunia, apa yang kita anggap dapat diterima, dan bagaimana kita dibentuk oleh lingkungan kita, semua itu berkontribusi pada kecenderungan untuk memilih jalan yang satu atau yang lain. Dan ketika akal bulus menjadi norma, menjadi bagian dari keseharian, rasionalisasi menjadi lebih mudah. “Ini adalah cara dunia bekerja,” begitu kita meyakinkan diri.

Untuk mengubah tarian ini, kita membutuhkan lebih dari sekadar perubahan aturan. Kita membutuhkan transformasi yang lebih dalam, yang menggali akar dari sistem yang kita bangun dan nilai-nilai yang kita pegang. Kita membutuhkan reformasi yang menyentuh dasar dari bagaimana kita berinteraksi sebagai masyarakat, bagaimana kita mendefinisikan keberhasilan, dan bagaimana kita menghargai kejujuran dan integritas. Hanya dengan demikian kita bisa berharap untuk mengubah musik, sehingga tarian yang kita lakukan tidak lagi merupakan tarian akal bulus, melainkan tarian keadilan yang sejati.

Politik kampus

Saya sadar, politik kampus adalah serangkaian proses dan aktivitas yang terkait dengan pengambilan keputusan dalam lingkungan kampus. Proses ini sudah barang tentu melibatkan interaksi, perdebatan, dan terkadang persaingan antara berbagai pihak yang terlibat, termasuk dosen, peneliti, staf administratif, mahasiswa, dan pihak-pihak eksternal seperti pemerintah atau sponsor.

Nah, di tengah hiruk pikuk kehidupan kampus ini, politik kekuasaan yang diperankan oleh staf akademik serupa dengan aliran sungai yang tak terlihat, namun keberadaannya tak dapat dipungkiri dan terelakkan. Ia mengalir, membawa serta berbagai elemen, baik yang memberi kehidupan maupun yang mampu merubah bentang alam.

Dalam proses mencari kekuasaan ini, staf akademik bukan hanya sekadar pengajar atau peneliti; mereka adalah pemain dalam orkestra kehidupan kampus yang kompleks, apalagi di universitas yang besar populasinya. Mereka bergerak, terkadang dengan lembut dan terkadang dengan penuh gairah, membentuk pola-pola yang tak selalu mudah untuk dipahami.

Politik kekuasaan, dalam konteks ini, bukanlah entitas yang hitam putih, tetapi sangat berwarna yang mempunyai spektrum warna yang luas, di mana setiap individu memainkan peranannya, terkadang dengan niat yang tulus untuk perubahan dan reformasi, dan terkadang dengan dorongan untuk kepentingan pribadi. Ada juga yang cuek dan ada juga yang lihai bermain.

Di satu sisi, posisi yang positif, politik kekuasaan dapat menjadi alat untuk advokasi dan transformasi. Ia mampu membangkitkan kesadaran, mendorong diskusi, dan memicu perubahan. Staf akademik, dengan pengalaman dan pengetahuannya, seharusnya memiliki kapasitas untuk menjadi intelektual, membawa isu-isu penting ke permukaan dan mendorong komunitas kampus untuk bergerak menuju arah yang lebih baik.

Namun, di sisi lain, disisi negatif, politik kekuasaan dapat menciptakan bayang-bayang yang gelap, menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi. Ia dapat menghambat kreativitas dan inovasi, menciptakan lingkungan yang penuh kecurigaan. Lingkungan yang tidak kondusif secara akademik.

Dalam situasi ini, adalah penting untuk mempertahankan keseimbangan, untuk mengakui bahwa politik kekuasaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampus, namun juga untuk terus berusaha memastikan bahwa ia tidak mengalahkan tujuan utama pendidikan dan penelitian, dan juga etika akademis.

Kita harus berjalan di atas tali, dengan hati-hati dan penuh perhatian, memahami bahwa setiap langkah yang kita ambil membawa konsekuensi, dan bahwa tanggung jawab kita adalah untuk memastikan bahwa konsekuensi tersebut membawa kita menuju cahaya, bukan ke dalam kegelapan.

Dengan demikian, politik kekuasaan di kampus, dalam segala kompleksitas dan paradoksnya, menjadi sebuah cermin yang mencerminkan realitas kehidupan kita, sebuah panggung di mana drama kemanusiaan dipertunjukkan, dan sebuah pelajaran tentang bagaimana kita, sebagai bagian dari komunitas akademik, dapat berkontribusi terhadap pembentukan dunia yang lebih adil dan berpengetahuan. Dunia yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Jangan lupa ini.

YouTube – Jendela kehidupan seorang dosen

Silahkan klik gambar ini untuk terhubung dengan YouTube saya.

Channel YouTube ini mengajak para penonton mengintip kehidupan saya, seorang dosen di Universitas Negeri Malang (UM) yang membagikan berbagai aktivitas, dan momen berharga baik di dalam maupun di luar kampus. Konten-konten yang disajikan adalah pengalaman-pengalaman di koridor ilmu, ruangan kuliah, laboratorium, dan juga petualangan kuliner. Selain itu, channel ini diharapkan menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk para mahasiswa. Disamping itu, channel ini juga ingin mengenalkan lebih jauh Universitas Negeri Malang (UM), universitas tempat saya bernaung sekarang.

Nenek moyang saya

Foto dari tahun 1920-an di Payakumbuh, Sumatera Barat memperlihatkan nenek saya, Rakiah, ibu dari ayah saya. Dia berdiri ketiga dari kiri, dikelilingi oleh saudara-saudaranya. Urutan mereka dari kanan ke kiri adalah Bidah, Ripin (yang pegang map), Rakiah, Kusaan, dan Djuaini Datuk Rajo Mangkuto. Saya berdoa agar berkah menyertai mereka, para nenek moyang saya.

MJFAS

MJFAS memperoleh faktor dampaknya untuk pertama kalinya pada tahun 2023 dalam Journal Citation Reports (JCR).

Ada sebuah perjalanan waktu, sebuah rentang yang tak terasa telah mencapai 18 tahun, di mana saya dan Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) telah bersama. Seperti bayang-bayang yang tak pernah lepas, kenangan itu mengalir kembali: suatu hari di tahun 2005, saya mengusulkan kepada Prof. Halimaton Hamdan, Direktur Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS), bahwa IIS harus memiliki sebuah jurnal, yang kemudian diberi nama Journal of Fundamental Sciences (JFS).

Mulailah saya merajut mimpi itu menjadi kenyataan, dimana saya merancang situs web hingga sampul jurnal sendirian. Dan ketika itu, pada tahun 2007, JFS adalah jurnal pertama di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang menggunakan Open Journal System (OJS). Terima kasih kepada Pn. Zarina Junet yang telah menjadikan JFS online.

Kemudian, JFS bertransformasi menjadi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Sebuah nama yang mungkin berbeda, namun esensinya tetap sama. Tercatat MJFAS berhasil meraih CREAM Award 2018 dari Kementerian Pendidikan Malaysia dan berhasil terindeks Scopus pada tahun 2021 dan Web of Science (WOS) beberapa tahun sebelumnya. Namun lebih dari itu, MJFAS adalah sebuah cerita, sebuah kenangan, dan merupakan bagian dari diri saya. Meski langkah saya kini terbawa angin berpindah ke Universitas Negeri Malang (UM), MJFAS tetaplah bayangan yang menemani saya.

Mudah-mudahan, ke depannya, saya masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk terus berkontribusi, untuk terus menulis, dan untuk terus bermain dengan jurnal. Karena bagi saya, jurnal bukan sekadar pekerjaan, namun ia adalah passion.

Profesor Mardjono Siswosuwarno

Saya menulis tulisan ini setelah mengetahui bahwa guru saya, Profesor Mardjono Siswosuwarno, telah meninggal dunia pada 20 September 2019. Tulisan tersebut pernah saya publikasikan di blog saya, hadinur.net, namun saat ini blog tersebut sudah saya tutup untuk akses publik. Beliau benar-benar seorang guru yang menginspirasi.

Profesor Mardjono Siswosuwarno
(17 Mei 1948 – 20 September 2019)

Hari ini saya menerima berita sedih, guru saya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Mardjono Siswosuwarno, meninggal dunia jam 5.30 pagi tadi di Bandung. Bagi saya, Prof. Mardjono adalah guru yang layak untuk dikenang dengan cara beliau mendidik yang memberikan impak kepada murid-muridnya, termasuk saya. Saya menjadi mahasiswa beliau di Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB dari tahun 1993 sampai saya lulus pada bulan Februari 1995. Saya adalah lulusan pertama program ini dan satu-satunya yang diwisuda pada bulan April 1995. Beliau adalah dosen yang sangat menguasai materi perkuliahan. Ada beberapa mata kuliah yang diajar oleh beliau. Beliau mengajar nyaris tanpa alat bantu, dan hanya menggunakan spidol dan papan tulis. Kuliah beliau penuh dengan analogi dan sangat menarik. Walaupun kadang-kadang beliau marah ketika mahasiswanya tidak mengerti, namun beliau tetap berusaha menerangkan supaya materi tersebut dimengerti. Bagi saya, beliau adalah guru yang sangat bagus dan berdedikasi tinggi dalam mengajar dan mendidik, walaupun kadang-kadang emosional. Hampir semua ujian beliau “open book”. Beliau sangat fair dalam menilai. Saya pernah diberi nilai di atas 100, yaitu 105, dengan bonus 5 angka karena menyerahkan kertas jawaban sebelum waktunya.

Saya masih memiliki kenangan saat ujian akhir tesis magister yang dihadiri oleh beberapa penguji. Saat itu, beliau menanyakan rencana saya setelah lulus dengan pertanyaan, “Kamu berencana kemana setelah ini?”. Dengan ragu, saya menjawab, “Belum tahu, Pak”. Kemudian, beliau menawarkan kesempatan, “Bagaimana jika kamu menjadi dosen di ITB?”. Saya berpikir sejenak sebelum menjawab, “Saya akan pertimbangkan, Pak”. Setelah mendiskusikannya dengan istri saya, saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan bergabung dengan Program Studi Teknik Material ITB. Berdasarkan arahan dari beliau, saya kemudian menyusun surat permohonan untuk menjadi dosen di ITB. Tak lama kemudian, status saya berubah menjadi calon dosen ITB. Pak Mardjono menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor, baik di ITB maupun di Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven). Namun, akhirnya saya melanjutkan Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Setelah berhasil menyelesaikan program doktor di UTM pada bulan Mei 1998, lalu pulang ke ITB, dan meski telah mendapatkan rumah transit dari ITB, saya memilih untuk tidak mengabdi di ITB. Di tahun yang sama, Indonesia mengalami krisis moneter yang memaksa saya untuk kembali ke Malaysia. Ini murni masalah ekonomi saya yang sangat lemah. Saya kemudian bekerja sebagai postdoc di UTM, lalu ke Hokkaido University, dan kembali ke UTM sampai menjadi profesor penuh.

Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Pak Mardjono dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke Ph.D. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

Terima kasih Prof. Mardjono, “Seorang guru mempengaruhi keabadian; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti”. Jasamu dikenang.

Surat yang telah ditandatangani oleh Prof. Mardjono, serta salinan buku wisuda yang mencantumkan nama saya.

Afiliasi dengan UM

Dalam bayang-bayang hari ini, saya menyadari sebuah perubahan. Afiliasi yang selama ini terpatri di Scopus dan Publons—yang menunjuk pada Universiti Teknologi Malaysia (UTM)—kini telah bergeser, mengikuti jejak langkah saya menuju Universitas Negeri Malang (UM). Sebuah transisi, sebuah perjalanan.

Scopus

Web of Science

Potensi bisnis parkir

Seperti biasa, di sudut warung pojok yang menjadi saksi bisu rutinitas pagiku, sepiring bubur kacang hijau bercampur ketan hitam menemani. Sejenak, kesederhanaan sarapan ini membangkitkan rasa ingin tahu dalam diriku. Seolah-olah, di balik kesederhanaan ini, ada dunia yang begitu kompleks dan penuh misteri.

Dengan penuh ketelitian, selama satu menit, mata saya melalui kamera handphone tertuju pada jalan di depan warung. Jiwa saintis saya tergugah, mencatat setiap kendaraan yang melintas. Dalam hitungan menit, 83 sepeda motor, 15 mobil, 2 truk, 1 bus, dan 1 angkot berlalu di hadapan saya. Itulah gambaran pagi jam 7:40, sebuah kesibukan yang tak pernah berhenti.

Jika kita ekstrapolasi, mungkin dalam setengah jam, sekitar 2490 sepeda motor dan 450 mobil akan menghiasi jalan-jalan Kota Malang. Mereka, yang berangkat kerja atau menuju sekolah, membawa harapan dan cita-cita di pagi hari. Namun, di balik kesibukan itu, ada potensi ekonomi yang tak terduga.

Bayangkan, jika setiap sepeda motor dikenakan biaya parkir Rp 2 ribu, maka dalam setengah jam, pemasukan dari sepeda motor saja mencapai Rp 5 juta. Ditambah dengan mobil yang dikenakan biaya Rp 1,35 juta, dimana satu mobil dengan biaya parkir Rp 3 ribu. Dalam setengah jam, total pemasukan mencapai lebih dari Rp 6 juta. Angka yang mengejutkan, bukan?

Kota Malang, dengan segala kesibukannya, menyimpan potensi bisnis yang luar biasa, terutama di sektor parkir. Menghitung dan mengkhayal, mungkin saja, dengan kecerdikan dan strategi yang tepat, seseorang bisa menjadi jutawan hanya dari bisnis parkir. Betapa indahnya berimajinasi, sambil menikmati bubur kacang hijau di warung pojok.

Pagi hari di Departemen Kimia UM

Pagi hari di Departemen Kimia dimulai dengan peringatan untuk berpakaian rapi dan sopan, serta pentingnya memberi salam. Pak Dr. Husni Wahyu Wijaya, sekretaris departemen, simbol kehadiran dan cerita di departemen, menyambut untuk absensi. Di ruang rapat dan sekaligus tempat ngobrol dosen, foto-foto mantan Ketua Departemen mengingatkan sejarah, sementara Bu Dr. Nani Farida dan Pak Basori yang sedang menyapu lantai departmen menandai realitas hari ini dengan senyum dan kehadiran mereka. Rutinitas pagi ini, meskipun sederhana, penuh dengan jejak kisah dan interaksi.