Kumpulan video ini menangkap pengalaman dan pengamatan sehari-hari saya terhadap hal-hal kecil tanpa proses penyuntingan. Momen-momen ini, meskipun terkadang tanpa tujuan, saya simpan sebagai kenangan dan pengingat bahwa setiap momen berharga layak untuk dinikmati.
Tag: Pengalaman
Menggapai mimpi lewat sebuah dedikasi
Tulisan ini diminta oleh teman-teman alumni Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa tahun lalu, ketika saya masih berada di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Baru sekarang tulisan ini akan dicetak oleh penerbit Mizan dengan judul 105 Spektra Alumni Kimia ITB – In Harmonia Progressio. Jadi, sudah beberapa tahun tidak diperbarui, sementara saya sendiri sudah dua setengah tahun kembali ke tanah air dan menjadi dosen di Universitas Negeri Malang (UM).
Perjalanan buku: Dari masa kuliah di ITB
Perpindahan buku dari satu tempat ke tempat lain bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga perjalanan memori dan sejarah intelektual yang telah terbangun selama puluhan tahun. Buku-buku yang dahulu menemani masa perkuliahan di Institut Teknologi Bandung (ITB), sejak tahun 1987 hingga kelulusan, kini kembali berperan dalam membangun ruang kerja yang baru. Buku dengan perjalanan panjang melintas negara, dari Indonesia, Malaysia, Jepang dan lain-lain, bergantung dimana buku itu dibeli. Setiap halaman yang tersusun dalam rak dan meja bukan sekadar koleksi, tetapi jejak perjalanan intelektual yang tak lekang oleh waktu. Dari teks-teks akademik hingga referensi klasik, semuanya menjadi saksi atas proses pembelajaran yang terus berlanjut, bahkan setelah resmi meninggalkan bangku kuliah.
Buku-buku ini mencerminkan komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan bagaimana benda-benda yang tak lekas usang ini tetap memiliki nilai seiring berjalannya waktu. Saat buku-buku tersebut akhirnya tertata kembali di tempat baru, ada nuansa kehangatan yang muncul, seolah-olah ruang kerja ini bukan hanya sekadar tempat bekerja, tetapi juga pusat pemikiran dan refleksi. Di balik tumpukan buku itu, tersimpan ide-ide, inspirasi, dan mimpi yang telah menemani perjalanan panjang, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan.
Prof. Drs. Pratama Jujur Wibawa, M.Si., Ph.D.
Menolak tanpa basa-basi: Renungan editor
Sebagai editor, saya merasa seperti penjaga gerbang terakhir dalam dunia akademik, seorang pilar yang berdiri tegak untuk memastikan hanya karya terbaik yang layak melewati celah sempit publikasi. Bagi saya, menolak artikel bukanlah sekadar hobi atau kenikmatan tersendiri, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk melindungi integritas ilmu pengetahuan dari ancaman tulisan-tulisan yang ceroboh dan melanggar aturan.
Setiap penolakan yang saya berikan bukan keputusan sewenang-wenang. Ia lahir dari evaluasi, didasarkan pada pedoman pengajuan yang sudah disusun dengan penuh kehati-hatian. Pedoman ini bukan sekadar hiasan formalitas, melainkan fondasi yang dirancang untuk menciptakan keseragaman dalam struktur, format, dan kualitas. Ironisnya, pedoman ini sering kali diperlakukan seperti manual elektronik yang langsung diabaikan begitu kotak kemasannya dibuka.
Bagi para penulis yang bertanya mengapa naskah mereka ditolak, saya selalu merasa dilematis antara menjawab dengan kesabaran atau membiarkan mereka belajar dari rasa sakit penolakan. Namun, waktu yang terbatas dan daftar panjang naskah yang menunggu giliran memaksa saya untuk mengambil jalan pintas. Saya memilih diam, membiarkan pedoman berbicara untuk saya, karena menjelaskan hal yang sudah tertulis rasanya sama saja seperti mengajari ikan untuk berenang.
Saya sering membayangkan bagaimana frustrasinya penulis yang merasa karya mereka diperlakukan tanpa belas kasih. Namun, saya juga membayangkan bagaimana frustrasinya saya saat menemukan artikel yang ditulis tanpa memperhatikan aturan yang sudah jelas terpampang. Hubungan ini, antara penulis dan editor, sering kali terasa seperti permainan tarik tambang yang tidak pernah selesai.
Mungkin harapan terbaik saya sebagai editor adalah bahwa para penulis akhirnya akan memahami aturan permainan ini. Bahwa mereka akan mulai membaca pedoman seperti membaca kitab suci, menyusun naskah dengan ketelitian seorang arsitek, dan memastikan setiap kalimat telah melalui penyuntingan yang tajam. Saya juga berharap mereka akan berhenti mengirimkan abstrak yang terasa lebih seperti pidato kampanye daripada ringkasan penelitian.
Namun, dalam dunia yang bergerak cepat ini, impian tersebut sering kali hanya berakhir sebagai utopia. Sampai saat itu tiba, saya akan terus duduk di kursi penghakiman ini, menjaga pintu jurnal dengan tangan yang tegas tetapi hati yang lelah. Menolak tanpa basa-basi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tetap berdiri kokoh di atas pondasi yang bermutu.
Memaknai angka, merayakan proses
Mencapai 5.002 sitasi tentu tidak lepas dari dukungan dan inspirasi dari banyak pihak. Saya bersyukur atas kesempatan untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dan akan terus berusaha menghasilkan karya yang bermanfaat.
Jejak Perjalanan Hidup: Sebuah Catatan Syukur dan Harapan
Hidup ini hanyalah sekelip mata, sungguh begitu singkat dan sementara. Setiap langkah yang kita ambil, setiap pencapaian yang diraih, dan setiap tantangan yang dihadapi adalah bagian dari perjalanan yang telah ditentukan-Nya. Tabel ini saya susun sebagai pengingat atas jejak kehidupan yang telah dilalui. Ini hanya untuk mensyukuri setiap nikmat dan kesempatan yang diberikan. Semoga apa yang tertulis di sini membawa berkah, serta menjadi pengingat bahwa segala sesuatu yang kita capai hanyalah titipan yang harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
| Tanggal | Peristiwa/Kegiatan |
|---|---|
| 6 Mei 1969 | Lahir di Bukittinggi. |
| 1974–1987 | Pindah ke Padang. Menyelesaikan pendidikan dasar, menengah, dan atas. |
| 1987–1992 | Sarjana Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). |
| 26 April 1993 | Menikah dengan Terry Terikoh di Bandung. |
| 1993–1995 | Meraih Magister Teknik (cum laude) dalam Ilmu dan Teknik Material di ITB. |
| 2 April 1995 | Anak pertama, Farid Rahman Hadi, lahir di Bandung. |
| Desember 1995 – Mei 1998 | Menyelesaikan Ph.D. dalam Kimia Material di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). |
| 1 September 1998 – 31 Oktober 1999 | Postdoctoral Fellow di UTM. |
| 22 Juli 1999 | Anak kedua, Firda Hariri, lahir di Johor Bahru, Malaysia. |
| 2 Nopember 1999 – 1 Nopember 2001 | Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) Postdoctoral Fellow di Hokkaido University. |
| 1 Nopember 2001 – 31 Maret 2002 | COE Visiting Researcher di Hokkaido University. |
| 2002–2022 | Menjadi peneliti dan profesor penuh selama 12 tahun di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). |
| 12 September 2006 | Anak ketiga, Fahima Zikra, lahir di Johor Bahru, Malaysia. |
| 26 Nopember 2010 | Diangkat sebagai Profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). |
| 20 Juli – 4 September 2015 | Visiting scientist di Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy (HZB). |
| 2–21 September 2016 | Menunaikan ibadah Haji. |
| 1 Februari 2017 – 31 Juli 2022 | Adjunct Professor di Universitas Negeri Malang (UM). Merupakan Adjunct Professor pertama di UM. |
| 1 Agustus 2021 – sekarang | Diangkat sebagai Profesor di Universitas Negeri Malang (UM). |
| 1 Juni 2022 – sekarang | Diangkat sebagai Adjunct Professor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). |
| 1 Juli 2022 – sekarang | Diangkat sebagai Direktur Laboratorium Terpadu di Universitas Negeri Malang (UM). |
| 1 Oktober 2022 – sekarang | Guest Professor di Osaka University, Jepang. |
| 5 Agustus 2023 | Farid Rahman Hadi menikah dengan Zayanah Masturina Zainal di Kuala Lumpur, Malaysia. |
| Sekarang dan seterusnya | Semoga hidup terus mengalir dengan penuh makna, membawa kebahagiaan, kesehatan, dan memberikan manfaat bagi sesama. |
Kebahagiaan dalam mengajar dan membimbing
Sebagai seorang dosen dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di perguruan tinggi, melihat wajah-wajah mahasiswa yang penuh semangat selalu menjadi momen yang menghangatkan hati. Bagi saya, mereka bukan sekadar mahasiswa, melainkan seperti anak-anak sendiri yang membawa harapan besar untuk masa depan mereka. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menyaksikan mereka tumbuh, belajar, dan memupuk mimpi-mimpi mereka di setiap langkah perjalanan akademik.
Wajah-wajah di kelas saya semester ini
Semester ini, saya berkesempatan mengajar mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor di Universitas Negeri Malang (UM). Video ini menampilkan wajah-wajah penuh semangat mereka yang akan menjadi kenangan indah dari kelas saya. Semoga mereka selalu diberkahi dan sukses dalam menempuh pendidikan di UM.
Kolaborasi akademik internasional: Pengalaman di UniSZA
Pada 9 Desember 2024, saya berkesempatan untuk mengunjungi Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) di Terengganu, Malaysia, atas undangan dari Pusat Asasi Sains dan Perubatan (PUSPA). Sebagai seorang akademisi dari Departemen Kimia, Universitas Negeri Malang (UM), saya merasa terhormat diundang untuk menyampaikan kuliah internasional bertajuk “Chemical Kinetics” kepada mahasiswa dan staf akademik UniSZA. Kuliah ini berlangsung di Dewan Ibnu Khaldun, dimulai pukul 14.15 hingga 16.30 waktu setempat. Antusiasme peserta sangat terasa, terutama dalam sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang berlangsung setelah materi disampaikan.
Keesokan harinya, 10 Desember 2024, saya memimpin sebuah lokakarya bertajuk “Engagement with High Impact Editor and Winning Grant Proposal”. Lokakarya ini diadakan di Hospital Sultan Zainal Abidin dan dirancang khusus untuk membekali dosen dan peneliti UniSZA dengan strategi praktis dalam menulis proposal penelitian yang kompetitif serta menerbitkan artikel di jurnal bereputasi internasional. Dari pukul 08.00 hingga 16.30, kami berdiskusi intensif mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam dunia akademik, sembari berbagi pengalaman dan tips berdasarkan perjalanan saya sebagai seorang peneliti.
Selain mengisi kuliah dan lokakarya, saya juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Prof. Ts. Dr. Shukor Abdul Razak, Timbalan Naib Canselor (Penyelidikan & Inovasi) UniSZA. Dalam pertemuan ini, kami membahas potensi kolaborasi antara Universitas Negeri Malang dan UniSZA. Diskusi kami mencakup berbagai peluang kerja sama di bidang akademik dan penelitian, dengan harapan dapat mempererat hubungan antar institusi. Bagi saya, pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperkuat semangat untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di tingkat internasional.






You must be logged in to post a comment.