My lecture on Islamic science

Invited speaker at Program Wacana Intelektual Siri 2/2022: “UTM Holistic Capacity Building in science and Technology: Industrial Revolution 4.0 and Emerging Challenges for Sustainable Islamic Science and Technology”, organized by Faculty of Social Sciences and Humanities, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) on 4 January 2022.

Kami juara

Ada kecenderungan kita memandang sesuatu dengan bias, dalam psikologi disebut bias kognitif. Salah satunya adalah bias dalam melihat angka. Ini tidak bisa dihindari. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita dengan bijak melihat angka-angka tersebut. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi. Mengapa angka penting? Hal ini karena angka besar mewakili simbol kekuasaan, simbol kebesaran, dan simbol ketenaran. Angka besar juga melambangkan kekuatan.

Orang merasa menjadi juara karena angka. Namun ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan:

  • Pemenang dengan angka. Kita menang ketika kita mendapatkan skor tertinggi. Lebih dari orang lain.
  • Pemenang dengan integritas. Kita menang tanpa menindas dan/atau menghancurkan orang lain, dan tanpa klaim berlebihan.
  • Pemenang dengan nilai. Kita berguna bagi orang lain dan menghargai orang lain. Juara bukan hanya tentang menang, ini tentang berbuat baik kepada orang lain. Berkontribusi positif kepada masyarakat. Sayyidina Muhammad SAW mengatakan kepada kita bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia lainnya.

Kita berharap dapat memenangkan ketiga kategori di atas.

Prinsip melakukan penelitian ilmiah

Selama menjadi peneliti, saya melihat banyak para peneliti tidak mengikuti proses epistemologi dan juga metode penelitian yang baik sehingga hasil penelitian tersebut tidak berdampak kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di bawah ini ada sebelas prinsip yang perlu diperhatikan bagi sesiapa yang akan atau sedang melakukan penelitian ilmiah. Prinsip pertama, yaitu adab dan niat sebagai peneliti, adalah prinsip yang menjadi asas dari semua prinsip yang lain.

[1] Adab dan niat sebagai peneliti

Sebagai seorang Muslim, saya perlu merujuk kepada adab yang telah ditunjukkan oleh para ilmuwan Muslim suatu ketika dahulu, diantaranya adalah berkenaan dengan keperluan seorang peneliti atau ilmuwan untuk selalu merendah diri karana Allah SWT. Kata Imam al-Fudayl: “Barangsiapa yang merendah diri kerana Allah, maka akan dikaruniakan kepadanya hikmah atau kebijaksanaan daripada Allah.” Ini adalah kekuatan spiritual yang akan memberikan dampak kepada kualitas pemikiran.

Sumber gambar disini. 

[2] Kompetensi dan persiapan penelitian

Persiapan dan pelatihan dengan niat dan keinginan yang baik merupakan landasan yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Orang yang melakukan penelitian apapun spesialisasinya, harus melakukan dua hal: (1) orang tersebut harus mengenal prinsip-prinsip dan konsep-konsep dasar bidang yang ditekuni yang diperolehi dari pendidikan dan latihan, (2) berpijak pada bidang yang ditekuninya. Riset hanya akan dapat dilakukan dengan adanya peneliti, infrastruktur dan juga dana penelitian.

[3] Mengetahui bidang penelitian dan menguasainya

Adalah kewajiban setiap peneliti dalam bidang spesialisasi tertentu untuk mengetahui dimensi bidang di mana ia memunculkan dirinya sepenuhnya, sebelum ia mulai menulis tentang topik tersebut. Peneliti harus mengetahui dengan baik peneliti dan karya utama dari bidang yang diteliti. Peneliti perlu pengetahuan mendapatkan latihan dalam bidang yang diteliti. Pengunaan akal sehat saja tidak cukup.

[4] Riset ilmiah dan manfaatnya bagi kemanusiaan

Penting bagi peneliti untuk mengingat manfaat yang akan diperolehi dari hasil dari pekerjaannya, dan kontribusi yang akan diberikan oleh pekerjaannya. Apakah berkaitan dengan masalah umum atau khusus? mengatasi masalah yang ada, atau antisipasi? apakah hanya buang-buang waktu dan tidak memberikan manfaat?

[5] Penataan, pemetaan dan klasifikasi bidang penelitian yang tepat

Peneliti perlu menjelaskan pentingnya penataan dan pemetaan yang tepat dari bidang penelitian. Di antara hal-hal yang paling bermanfaat dalam bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga manfaat praktis untuk masyarakat. Pemilihan bidang penelitian bukan hanya tanggungjawab dari peneliti, tetapi juga oleh institusi yang mengarahkan bidang-bidang yang menjadi bidang tumpuan utama.

[6] Mengumpulkan informasi dengan kesadaran dan pemikiran sebelumnya

Awal dari setiap studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan penelitian yang bersangkutan, dan untuk mengetahui semua literatur yang relevan berdasarkan kekuatan dan kelemahannya, dan orientasi penulisnya. Walaubagaimanapun, peneliti harus berhati-hati dalam menelaah literatur karena jika salah interpretasi akan menyebabkan salah dalam mengambil kesimpulan.

[7] Menganalisis materi intelektual, urutan dan kerangka kerjanya

Setelah mengumpulkan materi, peneliti harus memeriksanya secara menyeluruh, berusaha untuk mendapatkan penilaian darinya, dan membingkainya dengan cara menyusunnya secara kronologi dengan memperhatikan pembentukan, perkembangan, dan perubahannya. Kerangka bekerja dalam penelitian perlulah mengikuti metodologi penelitian.

[8] Integritas ilmiah

Integritas ilmiah sangat penting, dan diharapkan peneliti dapat menjadi teladan kepada kebenaran dan integritas. Peneliti perlu meluruskan jika ada yang salah arah, dan menunjukkan di mana kesalahan tersebut. Peneliti harus berani menunjukkan kebenaran setiap saat.

[9] Pemahaman yang tepat dari teks dan menentukan artinya

Aspek lain dari integritas intelektual yang paling penting adalah masalah komitmen pada prinsip-prinsip untuk memahami teks dengan benar, dan menentukan maknanya dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Hal yang paling berbahaya dalam bidang pengetahuan adalah bahwa seseorang mengikuti keinginan dan pendapat subjektifnya sendiri. Pemahaman teks ini sangat penting terutama dalam bidang ilmu pengetahuan sosial seperti bidang politik dan sejarah karena jika pemahaman tidak tepat, dapat menyebabkan konflik dengan pihak-pihak tertentu.

[10] Mencari spesialis

Peneliti yang jujur ​​akan mengambil informasinya dari sumber asli dari spesialis yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Dalam dunia yang dibanjiri oleh hasil-hasil penelitian, kepercayaan kepada hasil-hasilnya kadangkala perlu merujuk kepada pakar dan spesialis pada bidang tersebut. Dengan tuntutan penerbitan hasil-hasil penelitian banyak hasil-hasil penelitian tidak dapat dipercaya, oleh karena itu kita perlu merujuk kepada spesialis.

[11] Kritik yang tidak memihak dan jujur

Kritik intelektual yang jujur ​​adalah ciri positif dari peneliti yang baik. Ini adalah tradisi intelektual yang perlu diteruskan dan dipelihara. Semangat kritik dan evaluasi menuntut agar hal itu dipraktikkan oleh peneliti sejati pada dirinya sendiri maupun orang lain.

Metrik untuk mendefinisikan prestasi

Seringkali kita sukar mendefinisikan prestasi karena ada yang beranggapan kesuksesan subjektif sifatnya. Walaubagaimanapun, kita perlu menilai prestasi dengan menggunakan metrik dan pengukuran. Matematika sebagai studi tentang besaran, ruang, struktur, dan perubahan menjadi sangat kompleks dan rumit sehingga kebanyakan orang tidak menyukainya. Seringkali kesuksesan dalam kehidupan dipresentasikan dengan metrik dan angka. Contoh yang paling mudah adalah kekayaan dimana kepemilikan harta dan uang lebih mudah dihitung.

“Jika kita ingin mendefinisikan prestasi dan benar-benar mengukurnya, kita memerlukan metrik.”

Walaubagaimanapun, matematika yang cukup kompleks seringkali digunakan untuk mengukur kesuksesan. Sebagai contoh adalah metrik yang digunakan untuk mengukur kualitas sebuah jurnal. Saya pernah terlibat dalam perdebatan dalam pengukuran kualitas sebuah jurnal. Perdebatan ini terjadi karena berhubungan dengan insentif (uang) yang diberikan universitas kepada dosen dari publikasi berdasarkan metrik. Universitas menetapkan insentif berdasarkan metrik CiteScore, dan ada dosen yang merasa dirugikan karena mendapatkan insentif yang lebih rendah karena menurut metrik SCImago Journal Rank (SJR), jurnal tersebut menduduki peringkat yang lebih baik. Jadi ukuran metrik yang digunakan berbeda.

Di bawah ini adalah cara perhitungan metrik SCImago Journal Rank (SJR) yang cukup kompleks karena mempertimbangkan lebih banyak parameter dibandingkan CiteScore.

Dari pengalaman ini, kita perlu berhati-hati dalam menggunakan metrik. Perlu pemahaman yang komplit dalam melihat metrik yang digunakan.

Bijaksana dalam melihat metrik dan pengukuran

Mau tidak mau kita masih perlu melihat apa yang kita dapatkan dari angka dan pengukuran. Kita mungkin kehilangan pemahaman yang dalam tentang makna kehidupan karena ditutupi oleh angka, namun itulah kenyataannya, kita tidak dapat dapat lari dari metrik dan pengukuran dalam kehidupan modern sekarang ini.

Walaubagaimanapun, kita perlu menghindari metrik yang menipu dan palsu. Di bawah ini ada beberapa contoh yang menggambarkan bahwa metrik bisa jadi tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

  • Kita kelihatan kaya, namun sebenarnya tidak kaya karena banyak hutang.
  • Senyuman kita dalam foto adalah betul-betul mencerminkan kebahagiaan, bukan berpura-pura.
  • Kita terlihat hebat dan pintar dengan analisis bibliometrik, namun sebenarnya tidak pintar.

Walaupun kita tidak dapat menghindari pengukuran prestasi dengan metrik, namun kita perlu sadar bahwa metrik bukanlah segalanya. Sadar atau tidak sadar, kita hidup dalam era masyarakat pamer (the show off era). Di era ini, banyak orang berusaha memamerkan prestasi di bidangnya masing-masing untuk tujuan prestise dan juga mendapatkan keuntungan ekonomi.

Ada dua jenis prestasi; prestasi sejati (genuine achievement) dan prestasi semu (pseudo achievement). Terkadang, kita salah menilai prestasi seseorang atau institusi. Prestasi semu biasanya dilakukan dengan manipulasi metrik dan menonjolkan hal-hal kecil menjadi besar, sehingga terlihat hebat. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapainya. Hanya dengan cara bijak kita bisa menilai apakah prestasi itu merupakan prestasi sejati (genuine achievement) dan prestasi semu (pseudo achievement).

Kekaguman

“Jangan kagum dengan uang, pengikut, gelar dan pangkat. Kagumlah kepada kebaikan, integritas, kerendahan hati, dan kemurahan hati.”

Richard Feynman

Zaman sekarang ini, kita sering terjebak dalam glamor Instagram dan kilau TikTok, ya? Semua orang sibuk pamer saldo rekening, followers yang segudang, atau gelar yang panjangnya bisa buat start line marathon. Tapi, coba kita renungkan sejenak sambil ngopi di warung kopi favorit kita (yang penting ada Wi-Fi gratis, tentunya).

Ada satu hal yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba digital ini: kebaikan, integritas, kerendahan hati, dan kemurahan hati. Sepertinya ini bukan hal baru. Dari zaman nenek moyang kita dulu, nilai-nilai ini sudah jadi bintang utama. Cuma, mungkin karena tidak se-seksi Bitcoin atau viral di media sosial, jadi kita agak lupa.

Gak perlu jauh-jauh, ingat ajaran nenek kita dulu, “Uang bisa dicari, gelar bisa dikejar, tapi hati yang mulia? Itu mahal, Nak!” Nah, itu dia. Di era yang serba cepat ini, kita mungkin lupa bahwa apa yang membuat kita ‘kaya’ sebenarnya bukan berapa banyak nol di rekening bank, tapi seberapa dalam kita bisa berempati dan berbagi dengan sesama.

Jadi, sambil kita scroll Instagram atau update status WhatsApp, mungkin bisa mulai berpikir, “Hari ini sudah berbuat baik belum?” atau “Sudahkah kita membuat orang lain tersenyum hari ini?” Bukannya mau menggurui, sih. Tapi, bayangin aja, dunia ini pasti akan jadi tempat yang lebih asyik kalau kita semua lebih menghargai kebaikan daripada kekayaan. Plus, kebaikan itu viralnya abadi, gak kayak story yang cuma 24 jam.

So, mari kita mulai dari hal-hal kecil. Sebarkan kebaikan, tunjukkan integritas dalam setiap tindakan, jaga kerendahan hati meski prestasi udah setinggi langit, dan jangan pelit untuk berbagi. Siapa tahu, dengan cara itu, kita bisa jadi influencer yang sebenarnya, influencer kebaikan. Merdeka!

Selamat pensiun Ohtani sensei

Seorang guru akan mempengaruhi tanpa batas waktu; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti.

Prof. Bunsho Ohtani, mentor saya di Hokkaido University (1999-2002) pernah mengunjungi saya di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) selama seminggu beberapa tahun yang lalu (November 2018). Saya adalah postdoc pertama di laboratorium beliau. Waktu saya datang 23 tahun yang lalu, beliau baru satu tahun menjadi profesor. Saya menyaksikan bagaimana beliau membangun grup riset dan laboratorium di Catalysis Research Center (CRC). Kemaren adalah kuliah terakhir beliau di Hokkaido University, dan pensiun secara resmi pada 31 Maret 2022. Secara akademik, beliau sudah punya cucu di UTM, karena Dr. Sheela Chandren, mahasiswa M.Sc. saya di UTM, lulus Ph.D. di bawah bimbingan beliau di Hokkaido University pada tahun 2012. Dari penampilan, beliau banyak berubah sejak saya bertemu beliau pada tahun 2009, sekarang lebih kurus. Beliau banyak mempengaruhi cara saya memandang sains. Beliau adalah saintis sejati. Terima kasih sensei, karena telah mendidik saya.

Keterangan gambar: Saya sebagai anggota grup riset Prof. Ohtani tahun 2000. Dari kiri kekanan: Dr. Bonamali Pal, Dr. Shigeru Ikeda, Dr. Hadi Nur, Prof. Bunsho Ohtani dan Noboru Sugiyama.

Keterangan gambar: Nama-nama dalam bulatan kuning yang merupakan formasi awal laboratorium Ohtani di Catalysis Research Center (CRC), Hokkaido University. Yun Hau Ng dalam bulatan coklat muda adalah mahasiswa M.Sc. saya di UTM dan kemudian menjadi mahasiswa Shigeru Ikeda di Osaka University. Shigeru Ikeda adalah assistant professor di laboratorium Ohtani pada tahun 1999 – 2003, dan pindah ke Osaka University pada tahun 2003.

Beliau juga bercerita mengenai sejarah penelitian katalisis di Jepang yang di mulai di Hokkaido University pada tahun 1940-an, tempat beliau dan saya melakukan penelitian. Tokoh penting dalam cerita beliau adalah Prof. Michael Polanyi, yang bekerjasama dengan Prof. Horiuti dari Research Institute for Catalysis di Hokkaido University, yang merupakan guru kepada Prof. T. Kagiya yang bekerja di laboratorium Prof. Fukui (penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1981) di Kyoto University. Prof. T. Kagiya adalah guru Prof. Ohtani di Kyoto University.

“Tanpa peranan Prof. Michael Polanyi, saya tidak akan seperti sekarang”, kata Prof. Ohtani. Dan saya tidak akan seperti sekarang jika saya tidak postdoc di Hokkaido University dengan beliau.

Di bawah ini adalah kuliah terakhir beliau tadi malam mengenai teknik baru yang dinamakan reversed double-beam photoacoustic spectroscopy (RDB-PAS) untuk karakterisasi material yang dihadiri oleh kolega-kolega dan juga murid-murid beliau.

Resep penelitian sains yang hebat

Ramalan saya pada 12 Februari 2016 adalah betul walau tidak tepat tahunnya, bahwa peneliti LIGO Scientific Collaboration (LSC) akan mendapatkan hadiah Nobel. Lalu apa yang dapat kita pelajari dari penemuan tersebut? Di bawah ini adalah beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari kesuksesan penelitian tersebut.

  • Penelitian yang baik membutuhkan waktu.
  • Dampak penelitian bukan berdasarkan impact factor tetapi dampak nyata dari publikasi tersebut.
  • Penelitian fundamental memerlukan peneliti yang ramai, yang disebut sebagai massa kritis.
  • Tim peneliti memberikan kritik pertukaran ide, mempromosikan kompetisi, dan menumbuhkan kerendahan hati.
  • Tim peneliti adalah inkubator untuk pelipatgandaan ide.
  • Peneliti yang unggul adalah masokis intelektual, menikmati aktivitas yang tampaknya menyakitkan atau membosankan.
  • Peneliti harus menerima ide-ide paling baru sampai ke jalan buntu.
  • Peneliti harus belajar menerima kegagalan, namun bertahan untuk terus mencoba berulang-ulang.
  • Peneliti hidup untuk sensasi langka mengenai terobosan baru.
  • Perlu ada waktu untuk peneliti untuk berpikir secara mendalam.
  • Penelitian berkualitas tinggi tidak dapat dilakukan dalam waktu luang.
  • Konsentrasi yang intens dalam kondisi nyaman, sehat, atau bahagia adalah sangat penting dalam melakukan penelitian.

Mengenal saya

Saya Hadi Nur, Profesor di bidang material sains dengan fokus pada material untuk katalis, biomaterial, dan energi terbarukan. Bergabung dengan Universitas Negeri Malang (UM) sejak 2022, saya memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia pendidikan dan riset, termasuk mengajar dan membimbing mahasiswa di UM dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Profil lengkap dapat diakses melalui https://hadinur.net.

Pak Hiskia Ahmad

Pak Hiskia Ahmad adalah dosen saya sewaktu saya kuliah di Program Studi Kimia ITB tahun 1987-1992. Beliau meninggal dunia pada 9 Juli 2014. Beliau menjadi dosen yang tidak pernah saya lupakan karena pernah menyuruh saya mengulang mata kuliah praktikum Kimia Anorganik sampai dua kali karena hanya lupa menyerahkan foto waktu mendaftar mata kuliah ini pada tahun 1990. Ini satu-satunya mata kuliah yang belum lulus walaupun saya sudah menyelesaikan tugas akhir pada tahun 1992, sehingga saya telat satu semester lulus sebagai sarjana dari ITB. Walaubagaimanapun, dedikasi beliau kepada bidang pendidikan kimia di Indonesia luar biasa. Buku kimia dasar karangan beliau digunakan secara nasional di sekolah menengah atas di Indonesia pada era 80-an.

Foto saya dengan Pak Hiskia Ahmad ketika saya berkunjung ke Jurusan Kimia ITB pada 17 Nopember 2009 sebagai dosen tamu. Ingatan beliau kepada mahasiswanya luar biasa. Beliau masih mengenali saya walaupun tidak pernah bertemu selama 17 tahun.

Prof. Dr. Susanto Imam Rahayu

Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un

Satu persatu orang yang menginspirasi saya telah berpulang ke rahmatullah. Jam 1.25 malam pada 28 Agustus 2021, Prof. Susanto Imam Rahayu, guru saya di ITB, mempunyai kepakaran langka yang dimiliki oleh dosen kimia di rantau ini yaitu bidang kimia teori, berpulang ke rahmatullah pada usia 86 tahun. Beliau lulus Ph.D. dalam bidang kimia teori pada tahun 1967 dari University of Wisconsin, Madison, USA. Semoga ilmu yang diajarkan kepada murid-murid beliau menjadi amal jariyah. Insya Allah.

Di bawah ini adalah foto kami dengan Prof. Santo ketika lulus dari ITB tahun 1992 yang saya ambil dari pertemanan saya dengan Prof. Santo di Facebook.

Pada acara pembacaan Surat Yassin, Tahlil dan mengenang Prof. Susanto Imam Rahayu pada 29 Agustus 2021 malam, saya ditodong oleh Prof. Ismunandar untuk memberikan ucapan satu menit kenangan dengan Prof. Susanto, dan inilah ucapan saya yang sempat direkam oleh istri saya.