Video unggulan

Kelima video ini adalah video unggulan yang ditampilkan di channel YouTube saya, yaitu pengukuhan saya sebagai guru besar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tahun 2011, pengukuhan saya sebagai guru besar di Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2022, orasi ilmiah saya di Dies Universitas Negeri Malang (UM) ke-68 tahun 2022, riwayat hidup saya, dan terakhir montase tentang ayah saya.

World’s Top 2% Scientist

Saya termasuk dalam World’s Top 2% Scientist kategori Career-Long Achievement dan Single Year Achievement seperti yang diumumkan oleh UTM. Saya baru empat bulan di Universitas Negeri Malang (UM). Semoga tahun depan afiliasi saya mewakili UM.

Sinapsis dan pembelajaran

Memahami proses paling mendasar di otak kita sangat penting dalam memahami belajar dan pembelajaran. Seringkali kita membuat kegiatan, sistem, program, dan kebijakan yang tidak berhubungan dengan proses yang paling mendasar, yaitu proses yang melibatkan saraf yang berfungsi untuk mentransmisikan molekul neurotransmitter secara kimia dan elektrik yang akan berfungsi sebagai platform untuk berpikir dan belajar.

Memahami sinapsis adalah hal yang paling fundamental. Sinapsis adalah struktur yang memungkinkan neuron (atau sel saraf) untuk melewatkan sinyal listrik atau kimia ke neuron lain atau ke sel efektor target. Video ini menunjukkan proses tersebut pada skala molekuler. Ada beberapa kata kunci yang terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu diantaranya adalah kesehatan, emosi, proses pembelajaran, sistem pembelajaran, ekosistem pembelajaran, dan yang paling luas perspektifnya adalah kebijakan pendidikan. Semua hal ini perlu dikaitkan dari hal yang paling mendasar dari pembelajaran, yaitu sinapsis!

Menemukan Tuhan dan kesederhanaan

Nothing to be proud of, tidak ada yang bisa dibanggakan. Ini refleksi yang saya letakkan pada bahagian akhir CV saya. Ini hanya untuk menasihati diri saya sendiri bahwa jika kita ingin dekat dan menemukan Tuhan, kita harus melepaskan kesombongan dan rasa bangga diri.

Untuk menemukan Tuhan, kesederhanaan sangat penting. Karena Tuhan ditemukan pada tingkat ketidakberdayaan, dan kesederhanaanlah yang melahirkan ketidakberdayaan. Jadi, kemewahan dan menemukan Tuhan tidak dapat disatukan. Di mana ada kemewahan, tidak ada kesempatan untuk merasakan ketidakberdayaan yang menjadi jalan untuk menemukan Tuhan.

Sebagai contoh, Khalifah Umar, seorang khalifah besar yang memerintah kerajaan yang luas, pernah melakukan perjalanan dengan menunggang unta. Meskipun orang-orang menyarankan dia untuk meninggalkan unta dan menunggang kuda yang lebih mewah, Umar tetap memilih unta karena dia mengerti bahwa hidup sederhana merupakan jalan untuk merasakan ketidakberdayaan.

Jika kita sombong, kita tidak dapat menemukan Tuhan. Sebaliknya, jika seseorang ingin menemukan Tuhan, dia harus memutuskan untuk hidup sederhana. Hanya dengan hidup sederhana, seseorang dapat merasakan ketidakberdayaan yang diperlukan untuk menemukan Tuhan. Oleh karena itu, hidup sederhana merupakan kunci untuk menemukan Tuhan dan mencapai kebahagiaan sejati.

Penipuan berdasarkan metrik

Ada beberapa catatan penting tentang penipuan berbasis metrik yang disebabkan oleh sistem pendidikan tinggi saat ini. Ini adalah beberapa fakta dan trik bermain dengan metrik. Catatan ini dapat dibaca dibuku yang berjudul “Gaming the Metrics: Misconduct and Manipulation in Academic Research” yang diterbitkan oleh MIT Press.

  • Metrik yang menguasai begitu banyak otoritas dalam pendidikan tinggi saat ini. Universitas semakin banyak berinvestasi untuk pengelolaan dan terkadang memalsukan angka untuk meningkatkan peringkat nasional dan global mereka, sambil secara bersamaan menggunakan metrik ketika memutuskan proyek pengembangan universitas.
  • Universitas dengan peringkat tinggi menerima peningkatan visibilitas dan prestise, menerima calon mahasiswa yang lebih bagus prestasi akademiknya, lebih banyak mendapatkan sumbangan dari alumni, dan, yang paling penting, potensi penghasilan yang lebih besar.
  • Wacana keunggulan adalah tren dan ciri khas dari universitas modern saat ini. Menjadi unggul hanya dapat dicapai melalui indikator kuantitatif seperti produktivitas dosen, dampak publikasi mereka, tingkat penerimaan mahasiswa, pengeluaran universitas per mahasiswa, sumbangan alumni, jumlah buku di perpustakaan, dana hibah yang diterima oleh universitas, peringkat ketenagakerjaan lulusan, gaji dosen, dan sebagainya.
  • Budaya audit sudah menjadi keseharian universitas modern. Ini adalah pergeseran dari bentuk evaluasi kualitatif kepada indikator kuantitatif untuk menilai keunggulan atau dampak. Hal ini menyebabkan polarisasi, terutama ketika metrik digunakan untuk mengevaluasi publikasi ilmiah seorang dosen melalui sitasi yang mereka terima. Cara ini perlu ditinjau ulang untuk memahami kualitas dari publikasi yang seringkali dipermainkan secara radikal di era metrik.
  • Penipuan dan manipulasi riset muncul sebagai respons terhadap lingkungan yang didasarkan kepada “publish or perish“, dan fenomena ini sudah bersifat epistemik. Penipuan riset ini termasuk fabrikasi, pemalsuan, dan plagiarisme dalam publikasi hasil penelitian.
  • Tinjauan sejawat (peer review) palsu adalah contoh lain dari permainan dalam publikasi. Ketika editor jurnal meminta Anda untuk memberikan nama-nama penilai, penulis mungkin memutuskan untuk memberikan nama-nama ilmuwan ternama tetapi memberikan alamat email non-institusional mereka, seperti pehul@yahoo.com. Akun itu sebenarnya bukan milik Dr. Pehul, tetapi milik penulis sehingga penulis sendiri yang menilai makalahnya.
  • Penulis membuat kolaborator dengan rekan penulis palsu dari universitas bergengsi (contoh dari Harvard University) yang berkontribusi pada dampak artikel penulis.
  • Cara yang lebih berani adalah dengan cara meretas database jurnal dengan menambahkan nama penulis sebelum artikel dicetak.
  • Jika cukup kaya dan memiliki uang, Anda dapat menggunakan uang tersebut untuk meletakkan nama Anda dalam artikel yang sudah ditulis dan dikirimkan untuk diterbitkan.
  • Editor dapat meningkatkan impact factor jurnal mereka dengan perjanjian co-citation dengan editor jurnal lain, yang melibatkan penulis dari satu jurnal untuk mensitasi artikel dari jurnal yang berkolusi. Ada juga beberapa universitas mengundang dosen dari universitas lain mereka untuk mengutip satu sama lain untuk membantu meningkatkan peringkat institusi.
  • Zaman sekarang, memiliki makalah yang dipublikasikan di jurnal berdampak tinggi kemungkinan besar tidak hanya membantu kenaikan pangkat tetapi juga menjadi promosi, kenaikan gaji, atau, di beberapa universitas dengan insentif tunai publikasi. Ini biaya mahal untuk universitas, tetapi publikasi berdampak tinggi akan berkontribusi pada peringkat universitas, dan dengan demikian dapat menarik donasi, kontrak, dan mendapatkan mahasiswa. Metrik memainkan peranan penting dalam pemeringkatan universitas.
  • Permainan metrik dalam dunia akademik semakin hari semakin canggih dan terus berkembang. Scientometrics pada awalnya dipahami sebagai pengindeksan literatur dan teknik pencarian, dengan cepat berkembang menjadi seperangkat alat evaluatif, dan sekarang telah menjadi infrastruktur yang juga memiliki nilai ekonomis. Jurnal telah menjadi komoditi yang “diperdagangkan” dan digunakan sebagai sebagai “alat pembayaran yang sah” dari dampak riset berdasarkan scientometrics.

Kartu nama

Kartu baru di Universitas Negeri Malang (UM) dan lama di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang menunjukkan tanggungjawab yang sama. Kita perlu memahami bahwa manusia ada karena memiliki identitas. Kartu nama ini tanpa saya sadari juga untuk membangun identitas saya.  Saya setuju dengan pendapat mereka bahwa ketakutan manusia terhadap kematian disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan identitas.

Pandainya hanya mengutip pendapat orang lain

Semasa hidupnya, Ali Akbar Navis, seorang sastrawan Indonesia yang terkenal dengan cerpennya yang berjudul “Robohnya surau kami”, seperti yang dituturkan oleh orang-orang terdekatnya pernah mengatakan bahwa “ada” sarjana ilmu sosial Indonesia yang pandai mengutip pendapat orang lain. Membaca tulisan-tulisan para cendekiawan sosial di media massa, maupun di jurnal-jurnal ilmu sosial yang terbit di Indonesia, saya bisa membenarkan pendapat Pak Navis.

Saya pernah membaca tulisan seorang antropolog Indonesia yang memiliki gelar Ph.D. dari universitas ternama di Amerika yang juga bergelar profesor. Meskipun tulisan-tulisannya memiliki banyak referensi, saya tidak menemukan pemikiran atau gagasannya sendiri (asli) yang diungkapkan dalam tulisan-tulisan tersebut. Orang awam mungkin akan terkagum-kagum dengan luasnya sumber bacaan dan banyaknya teori ilmu sosial (berasal dari pemikiran ilmuwan barat) yang dikuasai oleh para antropolog tersebut. Mungkin kehebatannya dalam mengutip teori-teori ilmiah bisa mengangkat ‘prestise’nya sebagai ilmuwan sosial di mata masyarakat awam. Tapi apa kontribusinya di bidang ini?

Apa alasannya tidak ada pendapat orisinal yang keluar dari para sarjana ilmu sosial ini? Jawabannya karena mereka tidak pernah melakukan penelitian ‘lapangan’. Hal ini sangat disayangkan, karena sebagian besar tulisan tentang masalah sosial di Indonesia ditulis oleh orang asing. Hal ini juga berlaku untuk ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, pendidikan, psikologi, politik dan sebagainya. Jika Anda tidak percaya, silakan cari ‘google scholar’. Jarang sekali sarjana ilmu sosial Indonesia banyak melakukan penelitian ‘lapangan’, banyak di antaranya adalah sarjana ilmu sosial yang pandai mengutip pendapat orang lain. Menurut saya, inilah yang menyebabkan banyak masalah sosial di Indonesia tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Jika ilmuwan sosial meneliti tentang santri, tentunya akan mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Clifford Geertz (ilmuwan sosial ternama dari Pricenton University). Mengapa tidak ada ‘Clifford Geertz’ dari Indonesia?