Konsep filsafat yang dibicarakan di sini adalah perbedaan antara suku Minang dan Jawa dalam hal pemikiran dan pandangan hidup. Konsep ini menyebutkan bahwa ada paradoks komplementer antara keduanya.
Suku Minang memiliki pandangan yang didasarkan pada realisme Aristoteles dan logika yang berfokus pada kenyataan. Ungkapan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menunjukkan bahwa mereka cenderung menghargai keberadaan fisik dan nyata, serta menghormati lingkungan sekitar sebagai guru.
Namun, suku Minang juga memiliki pandangan esoteris yang sangat penting bagi mereka, yang mengatakan bahwa alam semesta adalah guru dan Kitabullah (Al-Quran) adalah pedoman dimana “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi KItabullah”. Ini menunjukkan bahwa mereka menghargai aspek spiritual dan keilmuan yang lebih dalam.
Istilah “esoteris ” merujuk pada pemahaman atau keyakinan yang bersifat tersembunyi, rahasia, atau hanya dapat diakses oleh sekelompok kecil orang yang telah diinisiasi. Istilah ini sering digunakan dalam konteks agama, filsafat, dan kebatinan. Pandangan esoteris biasanya melibatkan pemahaman metafisik, ajaran spiritual, dan praktik yang dianggap memiliki kekuatan atau pengetahuan khusus.
Sementara itu, suku Jawa memiliki pandangan idealisme Plato dan logika yang lebih berfokus pada gagasan dan konsep. Ungkapan “Mikul duwur, mendem jero” mengatakan bahwa mereka cenderung memprioritaskan hal-hal yang lebih dalam dan abstrak, serta berfokus pada pembelajaran dan peningkatan diri.
“Mikul duwur, mendem jero” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang memiliki makna filosofis. Secara harfiah, ungkapan ini dapat diterjemahkan sebagai “mendorong ke atas, menarik ke bawah”. Namun, dalam konteks filosofis, makna ungkapan ini lebih dalam.
Dalam konteks kehidupan, “Mikul duwur, mendem jero” mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki cita-cita yang tinggi dan idealisme yang kuat, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam tindakan sehari-hari. Dengan kata lain, nilai-nilai spiritual dan praktis harus saling melengkapi dan diwujudkan secara seimbang dalam kehidupan.
Namun, suku Jawa juga menghargai nilai-nilai praktis dan kenyataan dalam hidup, yang menunjukkan bahwa mereka memahami bahwa ilmu dan amal adalah dua hal yang saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Dalam keseluruhan, konsep ini menunjukkan bahwa suku Minang dan Jawa memiliki pandangan yang berbeda namun saling melengkapi. Suku Minang cenderung lebih realistis dan menghargai kenyataan fisik, sementara suku Jawa cenderung lebih idealis dan berfokus pada gagasan dan konsep. Namun, keduanya menghargai aspek spiritual dan praktis dalam hidup dan memandangnya sebagai bagian yang penting dalam kehidupan.