Taksonomi universitas

Setelah membaca artikel yang ditulis oleh Han, Nunes, dan Drèze yang berjudul “Signaling Status with Luxury Goods: The Role of Brand Prominence” yang dipublikasikan di Journal of Marketing pada tahun 2010, saya berpikir bahwa ide-ide dari artikel tersebut dapat digunakan untuk mengkategorikan universitas berdasarkan taksonomi yang telah dijelaskan dalam paper tersebut. Artikel ini membahas tentang strategi pemasaran untuk penjualan barang mewah, khususnya dalam hal bagaimana merek yang terkenal dapat digunakan untuk menunjukkan status sosial seseorang. Dengan cara yang sama, kita bisa mengkategorikan universitas berdasarkan sumber daya finansial dan bagaimana mereka mempromosikan diri melalui branding mereka.

Poseur: Universitas miskin yang ingin dianggap sebagai universitas kaya

Universitas dalam kategori ini mungkin memiliki dana yang terbatas, namun mereka berusaha keras untuk mempromosikan diri sebagai institusi yang bergengsi. Mereka mungkin menggunakan logo dan simbol yang meniru universitas-universitas terkenal, serta menggunakan bahasa yang menggambarkan diri mereka sebagai institusi elit. Tujuan mereka adalah untuk menarik mahasiswa dan dosen dengan persepsi bahwa mereka adalah bagian dari kelompok universitas yang kaya dan bergengsi.

Patrician: Universitas kaya yang tidak perlu menunjukkan statusnya

Universitas dalam kategori ini memiliki dana yang cukup, tetapi mereka tidak terlalu peduli untuk menunjukkan kekayaan atau status mereka. Mereka fokus pada mutu pendidikan dan riset yang mereka tawarkan dan tidak mengandalkan promosi atau branding yang mencolok untuk menarik mahasiswa dan dosen. Contoh dari universitas semacam ini mungkin termasuk universitas yang fokus pada penelitian dan pendidikan, seperti Harvard, Stanford, MIT atau Caltech.

Parvenu: Universitas kaya yang pamer kekayaan

Universitas dalam kategori ini memiliki dana yang melimpah dan menggunakan branding yang mencolok untuk menunjukkan kekayaan dan status mereka. Mereka mungkin memiliki fasilitas yang mewah, menciptakan acara-acara mewah, dan menggunakan logo dan simbol yang mencerminkan kemewahan. Tujuan mereka adalah untuk menarik mahasiswa dan dosen yang tertarik dengan status dan kekayaan, serta untuk memisahkan diri dari universitas yang kurang mampu.

Proletar: Universitas miskin yang tidak perlu status

Universitas dalam kategori ini memiliki dana yang terbatas dan tidak mencoba untuk menunjukkan status atau kekayaan. Mereka fokus pada pendidikan dan riset yang mereka tawarkan, serta melayani kebutuhan mahasiswa dan dosen mereka. Mereka mungkin tidak memiliki fasilitas yang mewah atau branding yang mencolok, tetapi mereka tetap berusaha untuk memberikan pendidikan yang berkualitas. Contoh dari universitas semacam ini mungkin termasuk universitas negeri atau komunitas yang lebih fokus pada akses dan kesempatan bagi mahasiswa, daripada status atau kekayaan.

Pemahaman ini bisa membantu kita memahami bagaimana universitas berbeda dalam hal branding dan promosi, serta bagaimana mereka mencoba untuk menarik mahasiswa dan dosen berdasarkan kekayaan dan status mereka. Namun, penting untuk diingat bahwa kualitas pendidikan dan riset yang ditawarkan oleh universitas tidak selalu sejalan dengan kategori ini dan sangat bergantung pada berbagai faktor lainnya.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.