Fundamentalisme

Saya selalu membaca dan melihat ceramah, kuliah dan juga diskusi mengenai agama melalui internet. Saya dapat memilih siapa yang perlu dan tidak perlu saya baca dan lihat. Kita perlu tahu paham yang menjadi dasar dari isi ceramah dan kuliah tersebut. Salah satu paham itu adalah fundamentalisme.

Fundamentalisme biasanya memiliki konotasi keagamaan yang menunjukkan keterikatan yang tak tergoyahkan pada keyakinan yang tidak dapat direduksi. Fundamentalisme telah diterapkan oleh kelompok-kelompok tertentu — terutama, meskipun tidak secara eksklusif, dalam agama — yang ditandai dengan literalisme yang sangat ketat seperti yang diterapkan pada kitab suci, dogma, atau ideologi tertentu. Hal ini mendorong pemurnian dan keinginan untuk kembali ke cita-cita asal yang diyakini karena mereka menganggap pemahaman dan praktik keagamaan sekarang telah menyimpang dari asalnya.

Fundamentalisme dalam Islam kembali ke sejarah awal Islam pada abad ke-7, ke zaman Khawarij. Dari posisi politik dasar mereka, mereka mengembangkan doktrin ekstrim yang membedakan mereka dari aliran Islam Syiah dan Sunni. Khawarij terkenal karena mengadopsi pendekatan radikal untuk takfir, di mana mereka menyatakan Muslim lain sebagai kafir dan karena itu menganggap mereka layak mati.

Konflik agama Syiah dan Sunni sejak abad ke-7 membuka pintu bagi ideologi radikal, seperti Ali Shariati (1933-1977), untuk menggabungkan revolusi sosial dengan fundamentalisme Islam, seperti yang dicontohkan oleh Revolusi Iran tahun 1979. Fundamentalisme Islam telah muncul di banyak negara. Versi Salafi-Wahabi dipromosikan di seluruh dunia dan didanai oleh Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan.

Krisis sandera Iran 1979-1980 menandai titik balik utama dalam penggunaan istilah “fundamentalisme”. Media, dalam upaya untuk menjelaskan ideologi Ayatollah Khomeini dan Revolusi Iran kepada khalayak Barat, menggambarkannya sebagai “versi fundamentalis Islam” dengan analogi dengan gerakan fundamentalis Kristen di AS. Maka lahirlah istilah Islam fundamentalis, yang menjadi penggunaan umum istilah ini di tahun-tahun berikutnya. Tergantung pada konteksnya, label “fundamentalisme” bisa menjadi penghinaan, mirip dengan bagaimana menyebut perspektif politik “sayap kanan” atau “sayap kiri” yang dapat memiliki konotasi negatif.

Jika kita perhatikan melalui internet, orang-orang penganut paham fundamentalisme dapat terlihat dengan jelas. Mereka sering menyerang kelompok lain dengan prinsip yang berbeda. Mereka juga menganggap diri mereka lebih suci dan saleh daripada kelompok agama lain, dan dengan mudah melabeli orang lain sebagai “kafir” dalam beberapa hal. Kelompok fundamentalis ini sering menggunakan pendekatan Islami dalam menganalisis sesuatu. Mereka hampir tidak pernah menggunakan pendekatan historis, sosiologis, atau kultural dalam menganalisis sesuatu. Hal ini cukup sulit diterapkan untuk negara yang masyarakatnya plural — yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, ras dan agama. Seringkali pandangan fundamentalis ini dapat mengancam integritas dan keharmonian masyarakat.

Wallahu a’lam bishawab

Rujukan: https://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.