Apa itu agama?

Saya dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat yang ke-21 (1995-2000), dan Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah ketua yang ke-5 (1946-1949). Film di bawah ini adalah film mengenai kisah nyata dari pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang dikenal sebagai tokoh pembaharu Islam di Indonesia.

Sebuah percakapan sederhana antara seorang Kyai dan para remaja menggambarkan betapa pentingnya pendidikan agama yang benar dalam kehidupan. Mereka menyadari bahwa agama seperti musik yang mengayomi dan menyelimuti, namun tanpa memahami dan mempelajarinya dengan benar, agama bisa menjadi bahan tertawaan dan kekacauan.

Dalam sebuah ruangan, seorang Kyai sedang bermain biola bersama salah seorang santrinya. Ketika para remaja datang, Kyai menghentikan permainan biola dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menentukan topik pembelajaran. Ini adalah langkah yang tidak biasa, karena pada masa itu, Kyai dianggap sebagai sosok elit yang menentukan semua keputusan.

Setelah beberapa saat, salah seorang remaja mengajukan pertanyaan yang singkat, padat, namun penuh esensi: “Agama itu apa, Kyai?” Kyai tidak langsung menjawab, melainkan memainkan biola. Para remaja menikmati keindahan alunan biola yang syahdu dan menentramkan jiwa.

Kemudian, Kyai bertanya apa yang mereka rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi. Jawaban yang mereka berikan mencerminkan perasaan keindahan, mimpi, dan hilangnya permasalahan. Dari situ, Kyai menggambarkan bahwa hakikat agama itu seperti musik yang mengayomi dan menyelimuti.

Untuk menggambarkan lebih lanjut, Kyai menyuruh salah seorang santri memainkan biola. Suara yang dihasilkan adalah kacau karena santri tersebut baru pertama kali memainkan biola. Kyai mengambil kesempatan ini untuk menyampaikan pesan penting bahwa agama, jika tidak dipelajari dengan benar, akan membuat resah lingkungan dan menjadi bahan tertawaan.

Kisah ini mengajarkan kita betapa pentingnya memahami dan mempelajari agama dengan benar. Agama bisa menjadi sumber keindahan dan kedamaian bila diterapkan dengan cara yang tepat. Namun, jika kita melalaikan proses belajar dan pemahaman, agama bisa menjadi sumber kekacauan dan ketidaknyamanan. Oleh karena itu, marilah kita menjalani agama dengan penuh kebijaksanaan dan pemahaman yang mendalam.

“Kulo nuwun. Assalamu’alaikum, Kyai,” ucap seorang remaja.

“Wa’alaikumussalam, silahkan masuk,” jawab sang Kyai seraya menghentikan permainan biola. “Kebetulan ada Muhammad Sangidu di sini.” Di ruangan, Kyai sedang bersama salah seorang santrinya yang lain. “Saya menunggu kalian,” sambil menaruh sebuah biola kecil di pangkuannya.

“Kira-kira kita mau ngaji apa Kyai,” kata salah seorang.

“Kalian maunya ngaji apa?” Tanya Kyai. Pertanyaan ini tentu sangat tabu di masa itu. Di saat Kyai berada di posisi elit.

“Biasanya kalau pengajian itu, pembahasannya dari guru ngajinya, Kyai?” jawab salah seorang remaja. Dalam kebiasaannya ketika itu, para santri hanya menerima saja apapun yang diputuskan Kyai.

“Nanti yang pintar hanya guru ngajinya. Muridnya hanya mengikuti gurunya. Pengajian di sini kalian yang menentukan. Dimulai dari bertanya. Ayo, siapa yang mau bertanya?” Kyai menawarkan.

Dalam suasana yang agak canggung, sejenak tidak ada yang membuka suara. Sampai kemudian, salah seorang remaja memberanikan diri bertanya.

“Agama itu apa, Kyai?” pertanyaan singkat, padat, namun penuh esensi.

Kini giliran Kyai yang terdiam, tidak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian, ia malah memainkan biola yang ada di sampingnya.

Keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu tampak sangat menikmati permainan biola sang Kyai. Penuh syahdu dan menentramkan jiwa. Semua menikmati keindahan alunan biola.

“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?” Tanya sang Kyai sejenak setelah menghentikan permainan biola.

“Keindahan,” jawab remaja pertama sumbrigah.

“Kayak mimpi,” timpal remaja kedua.

“Rasanya semua permasalahan itu hilang, Kyai,” ungkap remaja ketiga.

Salah seorang yang lain masih menganggung-ngangguk dengan mata tertutup, tertidur dengan keindahan nada yang tadi diperdengarkan Kyai.

“Itulah agama,” kata Kyai.

“Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, tentram, damai, cerah. Karena hakikat agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti,” sambung sang Kyai.

“Sekarang, coba kamu mainkan,” kata Kyai sambil menyodorkan biola ke salah seorang santrinya. “Ayo sebisanya!”

Si santri mulai memainkan biola. Namun karena baru pertama kalinya, ia memainkan dengan seadanya. “Teruskan. Ayo yang mantap.” Suara yang keluar sama sekali mengusik sesiapa di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun menyerah.

“Apa yang kalian rasakan,” Kyai kembali bertanya.

“Kacau, Kyai.” Satu diantaranya menjawab.

Sambil tersenyum, Kyai merasa saatnya ia mengambil kesimpulan. Para santrinya dianggap telah bisa memahami pesan di balik peristiwa yang barusan terjadi.

“Itulah agama. Kalau kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan kita dan jadi bahan tertawaan,” jelas sang Kyai.

Sumber: https://suaramuhammadiyah.id/

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.