Orang bijak di sosial media

Bulan yang lalu saya pernah menulis mengenai apa perbedaan antara bijak, cerdik dan pandai menurut pengertian bahasa. Saya banyak jadi anggota grup WhatsApp, dari yang isinya mengenai pekerjaan sampai grup WhatsApp ngalor ngidul. Saya tidak suka terlibat dalam perdebatan dalam grup WhatsApp karena pesan yang disampaikan seringkali disalahpahami. Jika ada hal-hal penting dan sensitif yang perlu diselesaikan, biasanya saya bertemu langsung dengan orang tersebut. Dalam grup WhatsApp, saya lebih banyak menjadi pengamat. Sebagai pengamat, saya berusaha mengklasifikasikan orang-orang yang aktif dalam sosial media tersebut sebagai bijak, cerdik dan pandai.

Namun, saya tidak pernah menemukan orang (yang saya anggap) bijak yang sangat aktif dalam grup WhatsApp, karena orang bijak biasanya tidak begitu aktif dalam percakapan di sosial media. Mereka biasanya hanya diam, dan berkomentar sekali-kali saja, jika itu penting. Sekali berkomentar selalu tepat dan mengena. Saya baru melihat dan merasakan kebijaksanaan orang tersebut ketika saya mengobrol dengannya. Orang yang biasanya berkoar-koar dalam media sosial biasanya adalah pendaki sosial (social climber), yaitu orang yang ingin mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Biasanya orang ini selalu ingin pamer kepintaran dan keberhasilan. Kadang-kadang mengkritik, yang tujuannya sebenarnya secara halus memamerkan kehebatan. Dalam kenyataannya, banyak pendaki sosial ini pada akhirnya mendapat perhatian, pujian dan penghargaan, karena ini sebenarnya tujuan mereka bersosial media.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.