Orang bijaksana

Saya baru saja melihat perdebatan. Nampak sekali sekali orang-orang yang berdebat tersebut tidak bijaksana karena sangat beremosi. Mereka berteriak-teriak dan juga mengumpat. Fenomena ini juga sering kita lihat dan baca dimedia sosial. Terasa sekali emosi dan tidak bijaksananya orang-orang tersebut. Sayapun kadang-kadang juga tidak dapat mengontrol diri. Sering sekali terjerumus sehingga terbawa emosi. Nabi mengajarkan kita untuk istighfar. Minta maaf kepada kepada Allah atas segala kesalahan.

Kenapa orang tidak bijaksana? Ini pertanyaan yang perlu dijawab. Seringkali kita menyaksikan orang-orang yang tidak bijak ini mempunyai pendidikan formal yang tinggi dan juga mempunyai gelar yang panjang. Bahkan mempunyai jabatan yang tinggi. Dari perspektif ini terlihat bahwa kebijaksanaan tersebut bukan datang dari akal saja, tetapi juga rasa. Akal dan rasa inilah yang bersinergi untuk menjadikan orang bijaksana.

Manusia seringkali lupa mengasah rasa. Rasa tersebut berkaitan dengan perasaan atau hati. Hanya dengan hati yang lembutlah kebijaksanaan tersebut dapat tumbuh. Kebijaksanaan tidak dapat tumbuh dari hati yang keras. Hati yang penuh dengan marah, hasad dan dengki, dan sombong. Kebijaksanaan akan muncul dari hati yang bersih.

Dari keterangan-keterangan di atas, sudah sangat jelaslah bahwa sepatutnya kita dapat menilai siapa orang-orang yang bijaksana dan tidak bijak. Wallahu a’lam.

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.