Tulisan bagus dari Iman Yuen Sapoetra

Saya pikir ini tulisan yang bagus untuk kita renungkan. Saya salin dari Facebook seorang teman. Walaubagaimanapun, saya tidak kenal dengan Iman Yuen Sapoetra dan saya belum menemukan profil beliau di internet.

Saya miris dengan wacana people power

Seperti biasa, kalau urusannya politik, saya lebih banyak memilih diam. Di dalamnya terlalu banyak kepentingan orang banyak yang terlibat. Saya bukan pakar, secara profesi pun saya hanya free agent consultant dan musisi, yang di Indonesia lebih banyak dianggap hanya dua langkah lebih baik dari pengangguran. Tapi yang pasti saya tetap masyarakat, tetap ‘people‘ yang dipinjam namanya… Dan sebagai people, ini poin-poin saya:

  1. Bila dari awal sudah tidak percaya penyelenggaraan pemilu, kenapa masih ikut? Kenapa masih kampanye? Kenapa mencalonkan diri?
  2. Ketika bicara people power, yang dimaksud people di sini siapa? Pemilih dari calon yang disebut unggul dan dituduh curang juga ‘people‘.
  3. Sudahkah dihitung akibat pengerahan people power? Pengerahan massa secara masif di sini, Insya Allah, akan mendapatkan pengerahan massa tandingan, mengingat pendukung calon yang disebut unggul juga Insya Allah akan mencoba membela pilihannya. Aksi Insya Allah akan memancing reaksi. Ketika dua massa ini bertubrukan, sudahkah diperhitungkan dampak dari perbenturan ini? Bukan mustahil jadi all out civil clash. Apakah ini yang kita inginkan? Apakah ini yang mencerminkan kenegarawanan seorang pemimpin? Apakah perang saudara adalah harga yang pantas untuk ambisi dan syahwat kekuasaan sekelompok politikus? Saya yakin jawabnya adalah: tidak. Indonesia terlalu mahal dan berharga untuk dikorbankan untuk ambisi sekelompok orang.
  4. Apakah layak untuk merisikokan pertumpahan darah untuk ambisi politik 5 tahunan. Jelas, tidak ada dari keempat calon yang masuk kategori Nabi. Mereka politisi, apakah rakyat mau merisikokan kehidupan banyak orang untuk terbawa narasi ambisi politisi? Sudahkah berhitung apa yang akan terjadi andai na’udzubillahi mindzalik terjadi konflik fisik di antara pihak sipil? Banyak orang mungkin jadi korban. Sudahkah mereka, dan rakyat, berpikir tentang anak, istri, saudara dan tetangga mereka? People power deployment bukan peristiwa yang romantik. Sangat mungkin terjadi hal-hal buruk. Sering terjadi orang melakukan hal yang mereka sesali sangat kemudian karena terbawa emosi massa.
  5. Bagi saya pengerahan people power untuk ambisi politik seseorang bukan cara yang baik. Sayyidina Rasulullah SAW berjuang untuk umat manusia, bahkan lebih. Beliau adalah rahmatan lil ‘alamiin. Sementara yang mencontohkan pengerahan people power untuk dirinya sendiri, dan atau ambisi kelompoknya adalah orang-orang sejenis Musollini, Hitler, Mao Zhedong, dan sejenisnya. Apakah kita mau punya pemimpin dari tipe demikian?
  6. Jangan gampang menuduh orang berbohong. Saya sedih lihat orang-orang dituduh berbohong atau curang. Pertanyaan kecil saya, bila para lembaga survei tersebut memang dianggap tidak netral, memang apa untungnya buat mereka berpihak? Apa yang mereka dapat? Bila mereka dituduh sebagai lembaga bayaran, kenapa tidak ada yang bisa menunjukkan aliran uangnya? Where’s the money? Saya memang hanya konsultan kecilan, tapi saya tahu, professionals never come cheap, not in their class. Kalau mereka dibayar, tentunya akan ada aliran uang yang mudah dilacak. Faktanya tidak ada, terbukti yang menuduh tidak pernah menunjukkan bukti apapun… Delegitimasi dan defamasi adalah masalah serius. Jangan mudah menuduh orang.

Mungkin terlalu panjang saya menulis, tapi saya minta, coba dipikirkan lagi. Dalam keadaan seperti ini, people power wouldn’t be pretty.

Published by

Hadi Nur

An ordinary man living in Johor Bahru, Malaysia who likes to write anything. This is table of content of my blog posts.