Budaya barat dan timur

Baru-baru ini, saya kedatangan saintis dari negara maju yang mengaku tidak beragama. Beliau sangat rasional dan logik. Cara beliau memandang hidup adalah cara pandang budaya barat yang diterangkan di bawah ini dengan tulisan yang ditebalkan yang ditautkan dengan penjelasan di Wikipedia.

Budaya barat bersifat positivistik dan naturalistik, hanya melihat fakta secara mekanis, bergantung dan percaya pada rasionalitas. Budaya barat tidak dapat menerima pandangan alternatif yang tidak rasional. Budaya ini juga kurang dimensi spiritualitasnya, serba terukur dan terpola. Hidup seperti robot. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal, secara fisik dunia barat maju, tetapi kering secara batiniah. Keterulangan abadi (eternal recurrence) adalah kelemahan berpikir positivistik budaya barat.  Contoh dari keterulangan abadi adalah seperti contoh berikut. Hidup harus bekerja, tetapi kerja tidak enak. Untuk hidup enak, perlu rekreasi. Untuk rekreasi, perlu kerja untuk mendapatkan uang. Jika uang habis untuk rekreasi, kerja lagi untuk cari uang. Hal ini berulang-ulang tanpa henti yang akhirnya menghasilkan keletihan kehidupan.

46132237141_b6ae15154c_b

Karakter yang lain dari cara pandang positivistik adalah tamak kepada kebendaaan dan egois. Berbeda dengan budaya barat, budaya timur lebih mementingkan aspek batiniah. Budaya timur (bangsa Arab) juga pernah hebat pada abad 7 Masehi  sampai 13 Masehi walaubagaimanapun telah dikalahkan dalam aspek sains, teknologi dan ekonomi oleh budaya barat dari abad 14 sampai sekarang (lihat gambar di bawah).

Mistik, nasionalisme dan patriotisme adalah bentuk pelarian manusia dari budaya timur supaya tidak nampak kalah dalam peradaban. Namun perlu diingat, budaya timur (Islam) pernah sukses dan perlu diperjuangkan untuk menjadi hebat kembali. Munculnya susfisme askestis adalah salah satu penyebab kemunduran Islam. Kita perlu bangkit, jangan lari dari kenyataan. Kuasai dunia. Oleh karena itu, kita perlu menggali secara dalam konsep-konsep yang ditinggalkan oleh filsuf-filsuf ternama dari era kejayaan Islam, seperti Ibnu Sina. Inilah tanggung jawab kita bersama, termasuk tanggung jawab saya sebagai Director, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia.

history

If we were one great, then we can be great again!

Reference
https://en.wikipedia.org/wiki/University_of_Al_Quaraouiyine

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.