Julaybib dan status sosial

“Tidak tahu”, kata istri saya, ketika saya menanyakan apakah beliau tahu dengan Julaybib.

Julaybib adalah sahabat Rasullulah SAW yang pada zamannya juga tidak dikenal karena berkulit hitam dan buruk rupa. Garis keturunan Julaybib juga tidak diketahui dan tidak ada catatan siapa orang tuanya, sehingga beliau tidak bernasab. Beliau adalah orang Arab dari kaum Ansar di Madinah. Disebabkan keadaan fisiknya yang tidak menarik, masyarakat Madinah kurang suka dengan keberadaan beliau di kota tersebut. Bagaimanapun juga, akhlak dan perjuangannya membela Islam luar biasa, sehingga Rasullulah SAW dalam sebuah hadithnya mengatakan: “Sesungguhnya Julaybib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia”. Karena akhlaknya yang mulia, Julaybib dinikahkan oleh Rasullulah SAW dengan wanita cantik yang shalihah.

Kisah ini menjadi contoh, walaupun Julaybib tidak diabaikan dan dihargai oleh kebanyakan orang karena status sosialnya, beliau menjadi contoh bahwa status sosial dan prestasi dunia tidak menentukan penghargaan diberikan oleh Rasullulah SAW.

Seringkali dalam dunia yang narcissistic seperti sekarang ini, ramai orang yang ingin meninggikan status sosialnya dengan memamerkan prestasi mereka melalui status mereka di media sosial seperti di Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Mungkin ramai orang yang akan memuji dan kagum. Namun, apakah prestasi tersebut dihargai oleh Allah SWT?

Manusia yang hanya melekatkan hidup mereka untuk mencari kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang simbolik, mereka tidak sampai pada eksistensi hidup sebagai manusia.

Published by

Hadi Nur

Currently, I and my family enjoy living in Johor Bahru area and are glad that we made the move.