Salah kaprah dalam memandang prestasi keilmuan

Tidak selalunya tingginya h-indeks bermakna tingginya kualitas riset, dan tidak selalunya rendahnya h-indeks bermakna rendahnya kualitas riset. Bahkan, h-indeks dapat tinggi hanya dengan menulis ‘review article’, tanpa melakukan riset di laboratorium.

Kita dudukkan dulu apa arti “salah kaprah”. Dalam bahasa Inggris pengertian salah kaprah adalah “having or showing faulty judgment or reasoning” yang maksudnya adalah menunjukkan penilaian atau penalaran yang salah terhadap sesuatu.

Persepsi dapat dibentuk oleh media (termasuk media sosial). Seringkali kita salah kaprah memandang prestasi keilmuan orang atau institusi karena media memberikan informasi dan penjelasan yang tidak tepat. Seringkali informasi tersebut sengaja dibesar-besarkan supaya menarik perhatian. Padahal salah kaprah. Bagi orang yang tidak mengerti bidang-bidang keilmuan tertentu, kadang-kadang mereka hanya melihat pencapaian itu hanya dari bibliographic data seperti citation, h-index dan lain sebagainya. Ini contoh dua orang yang mempunyai h-index kurang dari 10, tetapi mempunyai prestasi yang luar biasa dalam bidang keilmuan yang mereka tekuni. Silahkan dianalisis contoh di bawah ini dengan mengklik nama dan publikasi mereka dalam Scopus database:

Publications of Prof. Shinichi Mochizuki (Kyoto University, JSPS prize): https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=7201984333

Catatan: Publikasi Prof. Shinichi Mochizuki banyak yang tidak diindeks. Ini publikasi beliau yang diletakkan dalam website pribadi beliau di Kyoto University: http://www.kurims.kyoto-u.ac.jp/~motizuki/papers-english.html

Publications of Prof. Maryam Mirzakhani (Fields Medalist, consider the highest award in the field of mathematics): https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=15127847300

Mungkin masih banyak contoh-contoh yang lain di negara-negara yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang sains dan matematika.

Di negara-negara berkembang, prestasi keilmuan seseorang atau institusi kadang-kadang sengaja dikemas sedemikian rupa oleh media sehingga menjadi menarik tetapi tidak mencerminkan prestasi sebenarnya dari pencapaian dalam bidang ilmu pengetahuan seseorang atau institusi tersebut. Saya ada beberapa contoh, namun tidak dapat saya tampilkan disini dengan alasan etika. Perlu diingat, prestasi keilmuan hanya menjadi prestasi yang sebenarnya jika diakui oleh rekan sejawat yang sebidang bidang keilmuannya atau yang betul-betul paham dalam bidang keilmuan tersebut. Bukan oleh wartawan media yang tidak mengerti bidang keilmuan tersebut. Ini yang disebut sebagai pseudo achievement.

Walaupun contoh di atas adalah contoh “ekstrim”, hanya pada bidang-bidang yang “khusus” seperti bidang yang ditekuni oleh Shinichi Mochizuki dan Maryam Mirzakhani, kita perlu “adil”, “jernih” dan “hati-hati” melihat prestasi keilmuan seseorang dan institusi. Itu saja.

Wallahu A’lam