Solvay Conference 1927 First row: Irving Langmuir, Max Planck, Marie Curie, Hendrik Lorentz, Albert Einstein, Pierre Langevin, Charles Eugene Guye, C. T. R. Wilson, Owen W. Richardson. Second row: Peter Debye, Martin Knudson, W. Lawrence Bragg, Hans Kramer, Paul Dirac, Arthur Compton, Louis de Broglie, Max Born, Niels Bohr. Third row: Auguste Piccard, Émile Henriot, Paul Ehrenfest, Edouard Herzen, Théophile de Donder, Erwin Schrodinger, Jules-Emile Vershaffelt, Wolfgang Pauli, Werner Heisenberg, Ralph Howard Fowler, Leon Brillouin. Absents: Sir W. H. Bragg, H. Delandres et E. Van Aubel
Banyak yang tidak kumengerti dalam hidup ini. Pagi ini aku membaca ternyata negara kaya mempunyai hutang yang lebih banyak dibandingkan dengan negara miskin. Kalau tidak percaya lihat website berikut ini:
Mamak, itulah panggilan kami untuk ibunda tercinta. Orangnya bersahaja, pendiam, tekun dan gigih. Bersahajanya apa yang rasa dia perlu itu yang dia cari, pendiamnya apa yang dia rasa perlu baru bicara, tekunnya selalu mengerjakan apapun sampai selesai, gigihnya tidak pernah berputus asa walaupun banyak rintangan. Sifat-sifat beliau inilah yang sangat aku sukai. Kalau mendengar kisah beliau, dadaku bergelora dan semangatku seperti menggebu.
Ketika para gadis seumuran dia betah di rumah, asyik belajar memasak, mengurus rumah bahkan siap meminang, mamak lebih siap melangkahkan kaki berkilo-kilo meter jaraknya dari rumah, menembus bukit, menjelajahi hutan, menapaki jalanan dan melintasi sungai. Tidak peduli hari itu hujan atau panas, tetap berangkat dengan tangan penuh menghimpit buku, yang dia pikirkan cepat sampai di sekolah dan tidak tertinggal pelajaran.
Buta huruf dan miskin adalah dua kata yang mengganggu pikiran mamak. Karena hampir semua penduduk disana adalah buta huruf. Desa Pamuatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat adalah desa miskin dan terpencil. Desa kelahiran mamak ini, tanahnya sangat gersang, berbukit dan terjal. Sehingga tidak ada mata pencaharian penduduk yang tertentu. Sebagian penduduk ada yang pergi merantau ada juga yang tetap bertahan. Mereka yang bertahan mencari nafkah dengan menggarap ladang orang di desa lain.
Ibunya sendiri adalah seorang yang buta huruf. Walaupun buta huruf, nenek pekerja keras. Dia mencari nafkah dengan berjualan kain di pasar. Hasil jualannya bisa menyekolahkan tiga orang anak gadisnya. Mamak lulusan terbaik sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang, kemudian melanjutkan sekolah di IAIN Jogyakarta. Boleh dikatakan mamak adalah sarjana perempuan pertama dari kampungnya, adiknya mamak yang kedua adalah bidan pertama dari kampungnya, dan yang bungsu adalah guru. Semua belajar ke luar daerah, membelah pulau, menerjang lautan dan pada akhirnya meninggalkan kampung halaman.
Ayah mamak, adalah juru tulis dan guru silat di kampungnya dan dia suka memendam uangnya sendiri. Kalau Nenek atau cucu-cucunya meminta uang selalu berdalih, Ilmu dibagikan akan bertambah tetapi kalau uang dibagikan akan berkurang. Nah kalau dalih ini sudah keluar, ini pertanda uangnya tidak bisa diganggu gugat. Walau bagaimanapun datuk masih bisa membaca, dan beliau selalu membantu nenek mengirimkankan uang untuk anak-anaknya melalui pos. Nenek sanggup bertahan membiayai tiga anak gadisnya menuntut ilmu di rantau sampai selesai.
Mamak bertemu bapak di kampus IAIN Jogyakarta (sekarang adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), beliau adalah salah satu aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi.
Pada tahun 1960 lahirlah anak lelaki pertama. Saat itu mamak sedang sibuk menyiapkan tugas akhirnya. Sempat keteter sampai menitipkan si anak kepada nenek di kampung. Namun semangat tidak pernah pudar, akhirnya mamak dapat menyelesaikan kuliahnya setelah bapak selesai terlebih dahulu. Kemudian mereka pulang ke Padang dan berkumpul kembali semua anak beranak.
Karir bapak dan mamak mulai stabil, mereka mengajar di universitas yang sama yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Kemudian lahirlah 3 anak lelaki pada tahun 1966, 1969 dan 1971. Aku adalah anak nomor 3, sebelumnya ada kakak perempuan satu. Tetapi meninggal waktu berumur 7 bulan karena meningitis. Dan katanya, aku adalah anak yang paling nakal. Karena selalu bergaduh tidak mengenal lawan apakah dia lelaki atau perempuan, hantam terus. Dan yang paling aku suka, orang bilang, sifatku lebih mirip mamak, terutama pintarnya, Alhamdulillah.
Keseharian mamak adalah mengajar dan mengurus ke 4 anak lelaki yang selalu bergaduh. Tetapi mamak dapat menghadapinya dengan tenang, rumah senantiasa dalam keadaan beres dan rapi, makanan favorit kami pun selalu tersedia. Hanya bapak yang selalu terganggu dengan ulah kami, beliau ini sering terpancing dan akhirnya marah-marah. Apabila ada yang merajuk, mamaklah penyejuknya. Nasihat mamak bagaikan air mengalir di padang pasir. Senakal-nakalnya kami, dengan nasihat mamak, bisa layu bagai bunga kena panas teriknya matahari bahkan kami dibuatnya menangis tersedu-sedu. Mamak dan bapak adalah suatu tim yang kompak. Perbedaan sifat keduanya dijadikannya penyatu, saling mengisi kekurangan satu sama lain. Mamak tidak suka ke luar rumah, maka bapaklah yang selalu bersedia pergi ke pasar untuk berbelanja atau mengurus keperluan. Bila bapak membuat penelitian, mamaklah penyumbang ide-ide cemerlangnya.
Sampai pada suatu ketika, mamak terpilih diantara calon-calon yang mendapat beasiswa belajar ke luar negeri. Dari hasil ujian, nilai mamak merupakan nilai tertinggi untuk bahasa Inggris. Kalau sekarang mungkin namanya TOEFL atau Test of English as a Foreign Language, rasa gembira menghiasi wajahnya. Mamak di terima di Macquarie University di Australia. Mulailah disiapkan segala keperluan, dari baju dingin sampai hal-hal yang sekiranya diperlukan disana. Semua sudah siap dalam koper, tinggal menunggu jadwal keberangkatan.
Menjelang keberangkatan mamak sering merenung, berdiam dalam bisu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Bapak sudah ikhlas mengantar kepergian mamak, dan siap mengurus anak-anak serta rumah. Karena bapak tahu, ini adalah kesempatan yang tidak boleh terlewati bagi seorang mamak yang pintar dan cerdas untuk mencapai cita-citanya. Bagimanapun mamak tidak tega membiarkan ke empat arjunanya tumbuh kembang tanpa seorang ibu. Baginya menuntut ilmu adalah pekerjaan yang mulia, tetapi lebih mulia lagi menjaga dan mengurus anak-anaknya sampai mencapai cita-cita mereka. Oh mamak! Allah SWT memberikan jalan yang terbaik untuk mamak sekeluarga, mamak tidak jadi meneruskan sekolahnya ke Australia.
Keputusan mamak yang penuh perhitungan akhirnya bermuara di telaga yang indah. Mamak dapat mengantar ke empat anak-anaknya menyelesaikan sekolah yang diinginkan. Pekerjaan mamak dan bapak yang penuh dedikasi, membuat aku bertekad ingin bekerja seperti mereka. Ketika aku lulus S1 dari jurusan Kimia ITB, mamak menawarkan aku untuk melanjutkan sekolah lagi sampai aku mau, dia siap menjadi penyandang dana. Bahkan ketika aku memutuskan menikah mudapun, bapak dan mamak tidak menghalanginya, padahal aku belum bekerja. Istriku tidak keberatan, ketika aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menjadi dosen, baginya asal halal saja itu sudah cukup. Aku menamatkan masterku di jurusan Teknik Material ITB dengan predikat cumlaude. Setelah itu aku melanjutkan S3 di Malaysia, dan mendapat beasiswa dari UTM yaitu Universiti Teknologi Malaysia.
Mamak memintaku untuk fokus dalam pelajaran, sampai dia menawarkan diri menjaga istri dan anakku di rumahnya. Istriku pun selalu mendukung aku, dia bersedia tinggal di rumah mertua sampai selesai belajarku. Dengan demikian semangatku semakin terpacu dan aku bisa menyelesaikan thesis doktorku dalam waktu 1 tahun 8 bulan, dan lulus ujian doktor dalam masa 2.5 tahun. Cepat bukan?
Dengan lulusnya program doktorku, kesempatan menjadi dosen semakin terbuka lebar, tawaran dari ITB dan UTM mulai mengalir, tapi aku masih haus untuk terus belajar. Akhirnya aku mendapat kesempatan mengikuti postdoc di Hokkaido University, Jepang. Kali ini aku memboyong istri dan kedua anakku. Mengajak mereka dengan harapan pengalaman baru akan menambah wawasan dan memperluas ruang lingkup pembelajaran. Tiga tahun setengah berkelana, cukuplah bagi kami mengais pengalaman. Pendidikan anak-anakku mulai membias dipikirannku. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk proses pembelajaran, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan. Pendidikan agama anak-anakku dan kecenderungan makanan halal yang susah didapat. Aku dan istriku sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling gencar memintaku menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anakku lebih terjamin dan ketiga Malaysia dekat dengan kampung halaman.
Akhirnya pertengahan tahun 2002, aku bekerja menjadi dosen di UTM. Tangga demi tangga aku tapaki, kudedikasikan ilmuku untuk mahasiwa dan penelitianku. Rasa syukur dan suka cita membelengguku tatkala aku diangkat menjadi salah satu profesor di UTM. Predikat profesor kini menyandang pundakku dalam usiaku di angka 41. Jatuh bangun proses pembelajaranku tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan mamak. Gigihnya mamak tidak bisa dibayar dengan kesuksesanku semata, tetapi aura dalam menjalani proses menuju keberhasilan itu yang terpatri dihatiku. Saat pidato pengukuhan profesorku, kujemput mamak dan bapak dalam suka cita. Kulepaskan seluruh asa yang terpancar. Ini adalah hadiah terindahku untuk Mamak. Terima kasih mamak dan bapak, berkat kalian dan doa yang tak pernah putus, semuanya bisa kuraih. Aku tetap meneladanimu, bahwa aku ingin gigih seperti kalian dan menjadi teladan juga buat anak-anakku.
Diceritakan kembali oleh penulis dari kisah suami tercinta, Prof. Dr. Hadi Nur, dosen di Universiti Teknologi Malaysia.
Hubungan Malaysia – Indonesia: Bercermin dari diaspora Suriname
Pada 4 Juli 2012, pesawat yang saya tumpangi, MH0092 mendarat dengan selamat di Los Angeles. Saya melewati imigrasi dengan lancar. Ada beberapa penumpang pesawat yang di interogasi lebih lanjut di lapangan terbang Los Angeles. Memang, pemeriksaan imigrasi sangat ketat, kata salah seorang staf KJRI Los Angeles yang menunggu peserta Congress of Indonesian Diaspora di depan pintu keluar lapangan terbang Los Angeles.
Panitia rupanya telah menyiapkan penginapan untuk saya di Marriot Hotel, Downtown, LA. Saya ditempatkan sekamar dengan peserta dari Suriname, seorang Mayor, tentara dari angkatan bersenjata Suriname yang bernama Edward Moejito Redjopawiro. Pangkat Mayor adalah pangkat yang lumayan tinggi di Suriname, karena pangkat tertinggi disana adalah Kolonel. Jadi kalau disetarakan dengan pangkat tertinggi adalah Jenderal, maka mungkin pangkat beliau setara dengan Mayor Jenderal di Indonesia.
Foto bersama Edward Moejito Redjopawiro, peserta dari Suriname.
Walaupun penduduk di Suriname menggunakan Bahasa Belanda, beliau masih fasih berbahasa Jawa (Ngoko). Beliau merupakan generasi ketiga orang Jawa di Suriname. Tidaklah mengherankan, karena 15% penduduk Suriname adalah keturunan Jawa, terutama dari Jawa Tengah, yang dulunya dibawa oleh Dutch East Indies (nama “Indonesia” ketika dijajah oleh Belanda) pada awal abad ke-20 untuk bekerja di perkebunan gula, kopi, kakao dan kapas disana. Sebelumnya sudah ada imigran dari India yang datang disana. Secara politik, orang Jawa memegang peranan penting dalam politik di Suriname, karena dengan sangat mudah, dilihat dari nama, dua dari 19 partai politik di Suriname menggunakan nama yang sangat kental Jawa-nya, iaitu Pertjajah Luhur dan Kerukanan Tulodo Pranatan Ingit. Mereka menguasai 18% kursi diparlemen, iaitu 9 dari 51 kursi.
Di Suriname, Mayor Edward Moejito Redjopawiro dikenal sebagai tentara yang juga intelektual. Beliau sedang menyelesaikan program Doktor dalam bidang yang berkaitan dengan Indo-Surinames Studies. Beliau memberikan buku karangan beliau yang berjudul “Impact of Indonesia Immigration on the Legal system of Suriname” kepada saya. Beliau banyak menceritakan bagaimana falsafah jawa yang membuat orang-orang Jawa di Suriname berhasil dalam bidang politik dan ekonomi. Keharmonian dan gotong royong merupakan prinsip yang diterapkan oleh komuniti Jawa di Suriname.
Buku karangan Edward Moejito Redjopawiro.
Budaya Jawa sangat kental melekat dengan “Pak Edward”. Beliau menjadi perhatian di kongres ini ketika beliau presentasi dengan menggunakan baju Jawa dan blangkon. Pagi hari sebelum berangkat, saya membantu memasangkan “peniti” di baju jawa beliau. Ini bisa menjadi contoh bahwa budaya Jawa di Suriname masih bertahan dalam era digital ini.
Jam empat pagi pada 8 Juli 2012, Pak Edward membangunkan saya. Beliau pamit pulang ke Suriname sambil mengenggam erat tangan saya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan melupakan peristiwa bersejarah dari Congress of Indonesian Diaspora di Los Angeles ini. Persahabatan kita tidak berakhir sampai disini, katanya.
Orang seperti Pak Edward, yang masih mempertahankan budaya nenek moyang mereka banyak saya jumpai di Malaysia. Beberapa komunitas diaspora di Malaysia masih menjaga hubungan politik yang kuat dengan tanah air mereka. Salah satu ciri khas dari diaspora adalah mereka masih mempertahankan komunitas mereka di negara tempat mereka merantau. Seringkali komunitas ini kurang berasimilasi dengan masyarakat tempatan. Inilah contoh, jika diaspora Indonesia masih mempertahankan budaya leluhur, maka rasa keterikatan mereka terhadap tanah leluhur mereka tidak akan pernah luntur. Hal ini juga berlaku dengan masyarakat keturunan Jawa, Bugis, Minang, Mandailing, Aceh dan lain sebagainya yang berada di Malaysia.
Ketika saya berbicara pada sesi “Education and Innovation” di Congress of Indonesian Diaspora saya mengatakan bahwa agak sukar membedakan orang Malaysia dan Indonesia karena berasal dari budaya yang sama. Yang membedakan adalah hanya kewarganegaraan. Melihat perkembangan berita di media massa di Indonesia dan juga Malaysia beberapa tahun terakhir ini, banyak pemberitaan yang tidak menguntungkan bagi persaudaraan diantara kedua negara. Yang timbul hanyalah kebencian. Jika Ebrahim Rasool, Duta Besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat, yang merupakan keturunan Bugis yang merantau ke Cape Town pada abad ke-16, bisa mendapat Diaspora Award dari panitia Congress of Indonesian Diaspora, maka layak jugalah Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak juga mendapatkan penghargaan tersebut. Beliau adalah keturunan Sultan Gowa. Mungkin penghargaan dapat juga diberikan kepada Sultan Negeri Sembilan yang keturunan Minangkabau atau Sultan Johor yang keturunan Bugis. Kalau kita melihat diaspora dalam konteks ini, adalah masuk akal menyatakan bahwa kebanyakan orang melayu di Malaysia adalah diaspora Indonesia. Bagaimanapun, hal ini masih bisa diperdebatkan dan perlu didefinisikan lebih jelas untuk keperluan Congress of Indonesian Diaspora yang akan datang.
Di bawah ini adalah beberapa upaya yang telah dan akan dilakukan untuk merapatkan lagi hubungan antara Malaysia dan Indonesia.
Seminar Diaspora
Tahun lalu di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) diadakan seminar “Diaspora Bugis”. Seminar ini mendapat sambutan yang hangat dan dihadiri oleh Sultan Johor yang keturunan Bugis dan dihadiri oleh peserta dari Sulawesi Selatan dan orang-orang Bugis yang telah menetap lama di Malaysia. Dari seminar tersebut terlihat rasa “kebugisan” yang mengikat tali persaudaraan orang Bugis dari Malaysia dan Indonesia. Tahun depan UTM juga akan merencanakan seminar “Diaspora Minangkabau”. Sultan Negeri Sembilan adalah keturunan Minangkabau. Seminar-seminar ini mungkin dapat menjadi pendukung Congress of Indonesian Diaspora yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Agustus 2013.
Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia
Salah satu upaya yang juga tengah dilakukan adalah pembentukan Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI). Forum ini adalah satu badan pemikir yang akan dibentuk dalam bentuk yayasan. Sumber dana akan diperolehi dari pemerintah Malaysia dan Indonesia dan sponsor. Pembentukan Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI) mempunyai beberapa objektif:
Untuk mengeratkan kerjasama kesarjanaan antara cendekiawan Malaysia dan Indonesia.
Untuk menyediakan forum serantau bagi inisiatif kesarjanaan yang mempertautkan rumpun Melayu-Islam di Malaysia dan Indonesia.
Untuk menganjurkan kerjasama dalam bidang penelitian, penerbitan, forum, seminar, diskusi ilmiah dan sebagainya.
Untuk meningkatkan lagi dukungan kesarjanaan cendekiawan Malaysia – Indonesia dalam hal-hal berkaitan budaya, agama, sains dan teknologi.
Melaksanakan program kerjasama dan sinergi mahasiswa seperti program seminar serantau dan pertukaran organisasi dan staf akademik.
Di Los Angeles, saya juga bertemu dengan Prof. Muhammad Nuh, menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, yang tahun lalu mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Saya mengatakan kepada beliau bahwa UTM telah menerima dana dari Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia untuk mengadakan forum ini pada bulan September di Kuala Lumpur. Mudah-mudahan dengan kerjasama dari kawan-kawan di Indonesia, program ini dapat dilaksanakan.
Jika forum ini diaktifkan, juru bicara (spokesperson) dari Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia ini dapat berfungsi meredakan ketegangan yang terjadi antara Malaysia dan Indonesia.
Program ‘Indonesia Mengajar’ di Malaysia
Di Congress of Indonesian Diaspora, saya juga telah diundang sebagai salah seorang pembicara dalam seksi “Educationand Innovation” bersama dengan Dr. Anies Baswedan, Assoc. Prof. Dr. Herry Utomo, Ismail Budhiarso, Dr. Tik Tan, Prof. Taufik and Prof. Yohanes Surya. Kepada Pak Anies Baswedan, penggagas program “Indonesia Mengajar”, saya mengusulkan kepada beliau supaya program ini juga dilaksanakan di Malaysia. Saya menceritakan bahwa terdapat ribuan anak-anak imigran gelap dari Indonesia yang tidak mendapat pendidikan yang layak di Malaysia. Beliau menyambut baik usulan saya. Jika keadaan mengizinkan, saya berkeinginan program ini dapat menjadi salah-satu agenda kegiatan yang dibicarakan di Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI) yang akan dibentuk.
As part of the university’s mission to promote and disseminate the research and knowledge of its professorial staff, Universiti Teknologi Malaysia organised the inaugural Professorial Lecture Series. The Professorial Lecture was held on 19th October 2011 at Lecture Theatre, Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, UTM, and featured Prof. Dr. Hadi Nur, whose lecture was titled “Better (and happy) life through heterogeneous catalysis research”. The lecture attracted around 100 students and academic staff. The Dean of the Nanotechnology Research Alliance, Prof. Dr. Mohd Marsin Sanagi delivered a speech to the audience introducing Prof. Dr. Hadi Nur.
The following is inaugural book of my professorial lecture.
This photo was taken on August 16, 2012, in Taman Sri Pulai, Senai, Johor, MY, using a Canon IXUS 220 HS.
Through my Facebook wall, I have received many kind wishes for Happy Eid Fitr and want to thank all those who have sent messages or like my Eid ul-Fitr Card (see above); they are really appreciated. It was an awesome social media Eid ul-Fitr!
In 2007, I, as a representative of the Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, UTM has been invited to present a paper at a seminar in Uzbekistan. However, this paper can not be presented there because of the problem on issue departure clearance.
Tulisan Prof. Quraish Shihab yang menurut saya sangat mencerahkan. Janganlah kita meniru semut yang sangat loba. Jadilah lebah yang bermanfaat untuk orang lain. Insya Allah.
This photo was taken on June 29, 2012, in St Michel – Nansouty – St Genés, Bordeaux, Aquitaine, FR, using a Canon IXUS 220 HS. Courtesy to Sofyan Muhammad, a Ph.D. student from Indonesia who is studying at Université Montesquieu – Bordeaux IV.
You must be logged in to post a comment.