Catatan ringan menghadiri Congress of Indonesian Diaspora di Los Angeles

Hubungan Malaysia – Indonesia: Bercermin dari diaspora Suriname

Pada 4 Juli 2012, pesawat yang saya tumpangi, MH0092 mendarat dengan selamat di Los Angeles. Saya melewati imigrasi dengan lancar. Ada beberapa penumpang pesawat yang di interogasi lebih lanjut di lapangan terbang Los Angeles. Memang, pemeriksaan imigrasi sangat ketat, kata salah seorang staf KJRI Los Angeles yang menunggu peserta Congress of Indonesian Diaspora di depan pintu keluar lapangan terbang Los Angeles.

Panitia rupanya telah menyiapkan penginapan untuk saya di Marriot Hotel, Downtown, LA. Saya ditempatkan sekamar dengan peserta dari Suriname, seorang Mayor, tentara dari angkatan bersenjata Suriname yang bernama Edward Moejito Redjopawiro. Pangkat Mayor adalah pangkat yang lumayan tinggi di Suriname, karena pangkat tertinggi disana adalah Kolonel. Jadi kalau disetarakan dengan pangkat tertinggi adalah Jenderal, maka mungkin pangkat beliau setara dengan Mayor Jenderal di Indonesia.


Foto bersama Edward Moejito Redjopawiro, peserta dari Suriname.

Walaupun penduduk di Suriname menggunakan Bahasa Belanda, beliau masih fasih berbahasa Jawa (Ngoko). Beliau merupakan generasi ketiga orang Jawa di Suriname. Tidaklah mengherankan, karena 15% penduduk Suriname adalah keturunan Jawa, terutama dari Jawa Tengah, yang dulunya dibawa oleh Dutch East Indies (nama “Indonesia” ketika dijajah oleh Belanda) pada awal abad ke-20 untuk bekerja di perkebunan gula, kopi, kakao dan kapas disana. Sebelumnya sudah ada imigran dari India yang datang disana. Secara politik, orang Jawa memegang peranan penting dalam politik di Suriname, karena dengan sangat mudah, dilihat dari nama, dua dari 19 partai politik di Suriname menggunakan nama yang sangat kental Jawa-nya, iaitu Pertjajah Luhur dan Kerukanan Tulodo Pranatan Ingit. Mereka menguasai 18% kursi diparlemen, iaitu 9 dari 51 kursi.

Di Suriname, Mayor Edward Moejito Redjopawiro dikenal sebagai tentara yang juga intelektual. Beliau sedang menyelesaikan program Doktor dalam bidang yang berkaitan dengan Indo-Surinames Studies. Beliau memberikan buku karangan beliau yang berjudul “Impact of Indonesia Immigration on the Legal system of Suriname” kepada saya. Beliau banyak menceritakan bagaimana falsafah jawa yang membuat orang-orang Jawa di Suriname berhasil dalam bidang politik dan ekonomi. Keharmonian dan gotong royong merupakan prinsip yang diterapkan oleh komuniti Jawa di Suriname.


Buku karangan Edward Moejito Redjopawiro.

Budaya Jawa sangat kental melekat dengan “Pak Edward”. Beliau menjadi perhatian di kongres ini ketika beliau presentasi dengan menggunakan baju Jawa dan blangkon. Pagi hari sebelum berangkat, saya membantu memasangkan “peniti” di baju jawa beliau. Ini bisa menjadi contoh bahwa budaya Jawa di Suriname masih bertahan dalam era digital ini.

Jam empat pagi pada 8 Juli 2012, Pak Edward membangunkan saya. Beliau pamit pulang ke Suriname sambil mengenggam erat tangan saya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan melupakan peristiwa bersejarah dari Congress of Indonesian Diaspora di Los Angeles ini. Persahabatan kita tidak berakhir sampai disini, katanya.

Orang seperti Pak Edward, yang masih mempertahankan budaya nenek moyang mereka banyak saya jumpai di Malaysia. Beberapa komunitas diaspora di Malaysia masih menjaga hubungan politik yang kuat dengan tanah air mereka. Salah satu ciri khas dari diaspora adalah mereka masih mempertahankan komunitas mereka di negara tempat mereka merantau. Seringkali komunitas ini kurang berasimilasi dengan masyarakat tempatan. Inilah contoh, jika diaspora Indonesia masih mempertahankan budaya leluhur, maka rasa keterikatan mereka terhadap tanah leluhur mereka tidak akan pernah luntur. Hal ini juga berlaku dengan masyarakat keturunan Jawa, Bugis, Minang, Mandailing, Aceh dan lain sebagainya yang berada di Malaysia.

Ketika saya berbicara pada sesi “Education and Innovation” di Congress of Indonesian Diaspora saya mengatakan bahwa agak sukar membedakan orang Malaysia dan Indonesia karena berasal dari budaya yang sama. Yang membedakan adalah hanya kewarganegaraan. Melihat perkembangan berita di media massa di Indonesia dan juga Malaysia beberapa tahun terakhir ini, banyak pemberitaan yang tidak menguntungkan bagi persaudaraan diantara kedua negara. Yang timbul hanyalah kebencian. Jika Ebrahim Rasool, Duta Besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat, yang merupakan keturunan Bugis yang merantau ke Cape Town pada abad ke-16, bisa mendapat Diaspora Award dari panitia Congress of Indonesian Diaspora, maka layak jugalah Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak juga mendapatkan penghargaan tersebut. Beliau adalah keturunan Sultan Gowa. Mungkin penghargaan dapat juga diberikan kepada Sultan Negeri Sembilan yang keturunan Minangkabau atau Sultan Johor yang keturunan Bugis. Kalau kita melihat diaspora dalam konteks ini, adalah masuk akal menyatakan bahwa kebanyakan orang melayu di Malaysia adalah diaspora Indonesia. Bagaimanapun, hal ini masih bisa diperdebatkan dan perlu didefinisikan lebih jelas untuk keperluan Congress of Indonesian Diaspora yang akan datang.

Di bawah ini adalah beberapa upaya yang telah dan akan dilakukan untuk merapatkan lagi hubungan antara Malaysia dan Indonesia.

Seminar Diaspora
Tahun lalu di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) diadakan seminar “Diaspora Bugis”. Seminar ini mendapat sambutan yang hangat dan dihadiri oleh Sultan Johor yang keturunan Bugis dan dihadiri oleh peserta dari Sulawesi Selatan dan orang-orang Bugis yang telah menetap lama di Malaysia. Dari seminar tersebut terlihat rasa “kebugisan” yang mengikat tali persaudaraan orang Bugis dari Malaysia dan Indonesia. Tahun depan UTM juga akan merencanakan seminar “Diaspora Minangkabau”. Sultan Negeri Sembilan adalah keturunan Minangkabau. Seminar-seminar ini mungkin dapat menjadi pendukung Congress of Indonesian Diaspora yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Agustus 2013.

Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia
Salah satu upaya yang juga tengah dilakukan adalah pembentukan Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI). Forum ini adalah satu badan pemikir yang akan dibentuk dalam bentuk yayasan. Sumber dana akan diperolehi dari pemerintah Malaysia dan Indonesia dan sponsor. Pembentukan Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI) mempunyai beberapa objektif:

 Untuk mengeratkan kerjasama kesarjanaan antara cendekiawan Malaysia dan Indonesia.
 Untuk menyediakan forum serantau bagi inisiatif kesarjanaan yang mempertautkan rumpun Melayu-Islam di Malaysia dan Indonesia.
 Untuk menganjurkan kerjasama dalam bidang penelitian, penerbitan, forum, seminar, diskusi ilmiah dan sebagainya.
 Untuk meningkatkan lagi dukungan kesarjanaan cendekiawan Malaysia – Indonesia dalam hal-hal berkaitan budaya, agama, sains dan teknologi.
 Melaksanakan program kerjasama dan sinergi mahasiswa seperti program seminar serantau dan pertukaran organisasi dan staf akademik.

Di Los Angeles, saya juga bertemu dengan Prof. Muhammad Nuh, menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, yang tahun lalu mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Saya mengatakan kepada beliau bahwa UTM telah menerima dana dari Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia untuk mengadakan forum ini pada bulan September di Kuala Lumpur. Mudah-mudahan dengan kerjasama dari kawan-kawan di Indonesia, program ini dapat dilaksanakan.

Jika forum ini diaktifkan, juru bicara (spokesperson) dari Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia ini dapat berfungsi meredakan ketegangan yang terjadi antara Malaysia dan Indonesia.

Program ‘Indonesia Mengajar’ di Malaysia
Di Congress of Indonesian Diaspora, saya juga telah diundang sebagai salah seorang pembicara dalam seksi “Educationand Innovation” bersama dengan Dr. Anies Baswedan, Assoc. Prof. Dr. Herry Utomo, Ismail Budhiarso, Dr. Tik Tan, Prof. Taufik and Prof. Yohanes Surya. Kepada Pak Anies Baswedan, penggagas program “Indonesia Mengajar”, saya mengusulkan kepada beliau supaya program ini juga dilaksanakan di Malaysia. Saya menceritakan bahwa terdapat ribuan anak-anak imigran gelap dari Indonesia yang tidak mendapat pendidikan yang layak di Malaysia. Beliau menyambut baik usulan saya. Jika keadaan mengizinkan, saya berkeinginan program ini dapat menjadi salah-satu agenda kegiatan yang dibicarakan di Forum Cendekiawan Malaysia – Indonesia (FCMI) yang akan dibentuk.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s