Etika akademis

Tulisan ini adalah opini pribadi, yang dapat diperdebatkan. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif (yang sebenarnya tidak baru) bahwa fungsi sebahagian universitas sekarang ini dalam kehidupan masyarakat sudah mulai bergeser. Ilustrasi di bawah ini menggambarkan opini yang terinspirasi oleh artikel yang ditulis oleh Prof. Richard Ernst, penerima hadiah Nobel kimia tahun 1991.

Saya melihat ada sebahagian universitas sudah mulai lupa pada tujuannya, yaitu mendidik manusia untuk mencari ‘kebenaran’ melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas sudah mulai dijajah oleh kepentingan prestise dan juga ekonomi. Universitas harus menjadi lembaga yang bijaksana. Mengapa universitas harus menjadi lembaga yang bijaksana? Jawabnya karena lembaga ini bertugas mendidik manusia menjadi orang yang berguna dan bijaksana dalam hidupnya. Menurut wikipedia, bijaksana atau dalam bahasa Inggrisnya “wisdom” didefinisikan sebagai berikut:

“Wisdom is a deep understanding and realization of people, things, events or situations, resulting in the ability to apply perceptions, judgements and actions in keeping with this understanding. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that universal principles, reason and knowledge prevail to determine one’s actions. Wisdom is also the comprehension of what is true or right coupled with optimum judgment as to action. Synonyms include: sagacity, discernment, or insight.”

Universitas juga harus bebas dari segala bentuk ‘penjajahan’. Penjajahan dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penguasaan yang ‘keterlaluan’ kepada orang lain, yang dalam konsisi yang paling parah dapat disebut sebagai penindasan. Penjajahan dalam bentuk apapun dalam kehidupan manusia dapat meninggalkan efek yang negatif. Perasaan rendah diri merupakan efek yang terjadi pada orang yang dijajah. Terdapat banyak bentuk penjajahan model baru pada zaman modern ini, sebagai contoh adalah penjajahan ekonomi, penjajahan media dan penjajahan dalam dunia akademik, yang seringkali tidak disadari oleh orang yang dijajah. Saya akan memberikan contoh bentuk penjajahan dalam bidang akademik.

Para ‘penjajah’ tentunya dengan sadar ‘menjajah’ dan mengaut keuntungan dari yang dijajah. Belum tentu yang dijajah sadar. Salah satu ciri dari mentalitas orang yang terjajah adalah, orang yang dijajah biasanya ‘mendewa-dewakan’ dan ‘mengikuti’ kehendak sang penjajah. Sebagai contoh adalah sistem ‘university ranking‘. Dapat kita lihat bahwa University Ranking (yang dibuat oleh perusahaan swasta, yang berorientasi keuntungan) dapat menyetir (menjajah) universitas-universitas yang mengejar ‘permainan’ ranking. Sebagai contoh, salah-satu kriteria ranking adalah jumlah publikasi ilmiah yang diindeks di ISI atau SCOPUS, yang kedua-duanya adalah produk dari perusahaan yang mengait keuntungan dari database jurnal-jurnal yang mereka indeks. Alhasil, universitas mencoba meningkatkan publikasi ilmiah di jurnal-jurnal yang diindeks didua perusahaan pengindeks jurnal ini. Banyak cara dan strategi digunakan oleh universitas untuk itu seperti memperketat kenaikan pangkat dengan melihat jumlah publikasi yang diindeks di ISI dan SCOPUS dan juga dengan memberikan imbalan dengan penerbitan di jurnal yang diindeks. Para dosen dan profesorpun berpikir dengan segala akalnya untuk itu. Yang paling mudah adalah dengan menggunakan para mahasiswa mereka menjadi mesin penulisan jurnal, yang seringkali dengan tidak mengabaikan ‘academic ethics‘ yang tidak mendidik. Yang terjadi adalah ‘penjajahan’ bukannya ‘pendidikan’ terhadap mahasiswa yang dibimbing. Akhirnya, naiklah jumlah publikasi ilimiah yang dindeks di SCOPUS dan ISI. Namun sayang, aspek negatif yang tidak terpikirkan dari strategi ini adalah, universitas tidak lagi menjadi tempat untuk ‘wisdom‘ dan ‘compassion‘. Yang dihasilkan adalah hanyalah orang-orang ‘opportunist‘ dan ‘greedy‘ yang lebih mengutamakan ‘hasil’ daripada proses. Mereka lupa bahwa sebenarnya tugas utama dari seorang dosen itu adalah mendidik.

Idealism dan realism mungkin dua perkataan yang dapat menggambarkan keadaan sekarang. Dalam realism-nya, apa yang ingin dicapai oleh semua universitas saat ini adalah prestise. Salah satu sasarannya adalah masuk dalam kelompok elit universitas yang mempunyai ranking yang tinggi, dan pada akhirnya mempunyai ‘branding‘ dan daya jual tinggi. Dengan prestise, orang akan melirik kita. Orang lain akan melihat kita berkualitas. Namun, hendaknyalah disadari bahwa semua itu dicapai tanpa mengabaikan idealism. Perlu diingat, dengan idealism-nya, universitas mempunyai tugas yang lebih mulia, iaitu mencetak orang-orang yang tidak hanya trampil tetapi juga bijaksana dan bermoral tinggi.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s