Falsafah hidup

Tulisan ini ditulis dari atas tempat tidur dengan menggunakan iPad. Mungkin karena faktor umur, saya mengalami nyeri pinggang bahagian bawah ketika saya mencoba mengangkat seember air pagi tadi. Sampai sekarang masih terasa sangat sakit jika digerakkan. Alhasil, saya sangat susah bergerak. Namun saya masih bisa melihat video menarik, iaitu kuliah umum oleh Dahlan Iskan, menteri BUMN Indonesia pada 17 Maret 2012 di ITB di Youtube.

Hal yang paling menarik perhatian saya dari kuliah tersebut adalah pada bahagian terakhir, dimana Dahlan Iskan ditanya oleh seorang mahasiswa mengenai falsafah hidupnya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai falsafah hidup dan juga cita-cita. Cita-cita hanya dipunyai oleh anak-anak di kota, sedangkan beliau dibesarkan oleh orangtua yang miskin di kampung. Jangan menanyakan cita-cita, ditanya orang saja saya tidak pernah, kata beliau. Jadi hidup dibiarkan mengalir dengan sendiri. Harus mengalir dengan deras. Ada keuntungan dari hidup yang tidak punya cita-cita, iaitu hidup tidak dijalani dengan ngotot. Orang yang mempunyai cita-cita, seringkali dihadapkan dengan ‘dinding’ hambatan. Bayangkan kalau dinding tersebut susah dilewati. Orang yang punya cita-cita pasti akan berbenturan dengannya. Bagaimana kalau orang tersebut tidak tahan menghadapinya? Dapat kita bayangkan akibat psikologisnya. Orang yang membiarkan hidupnya mengalir, akan mencoba mencari jalan lain ketika dihadapkan dengan dinding yang sukar atau tidak bisa dilewati.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s