Mengapa kita sombong?

Saya baru saja sebel melihat orang sombong. Oleh karena itulah tulisan ini saya tulis.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin banyak berhadapan dengan orang sombong. Ini contoh kesombongan. Seorang mahasiswa tingkat satu yang baru masuk Universitas pernah menjumpai saya dan menceritakan kepada saya bahwa dia dimarahi dan diceramahi oleh seorang dosen karena dia tidak memanggil dosen tersebut dengan panggilan ‘Profesor’ — karena sebagai mahasiswa baru dia masih belum kenal dengan dosen-dosen yang mengajarnya. Sang ‘Profesor’ sampai bercerita bahwa mendapatkan gelar itu sangatlah susah.

Bagaimana menghadapi orang sombong? Cara terbaik untuk berurusan dengan orang yang sombong adalah dengan memahami mengapa dia sombong. Orang yang sombong biasanya selalu berpikir bahwa mereka benar, mereka berpikir bahwa mereka lebih baik daripada kebanyakan orang biasa.

Penyebab kesombongan

Kesombongan adalah mekanisme pertahanan yang digunakan oleh pikiran bawah sadar (subconcious mind) untuk mencegah orang mengkritik kita. Jika seseorang memiliki pengalaman masa silam pernah disakiti oleh orang lain, dia akan menjadi sombong untuk mencegah orang lain menyakiti hatinya. Kesombongan ini biasanya akan berhasil sebagai perisai karena dia akan menganggap orang yang mengkritiknya adalah orang yang tidak berguna dan tidak perlu diperhitungkan.

Kesombongan juga diakibatkan karena seseorang merasa diabaikan. Jika seseorang tersebut merasa dirinya tidak mendapat perhatian dan diabaikan, secara tidak sadar dia akan menjadi sombong untuk menarik perhatian dari orang-orang yang tidak memperhatikannya.

Kesombongan juga tidak lebih dari sebuah perisai untuk menutupi kekosongan batin dan mekanisme untuk menutupi rasa rendah diri.

Cara mengatasi orang yang sombong

Berhadapan dengan orang yang sombong adalah mudah. Perlakukan mereka seolah-oleh mereka tidak hebat atau lebih dari orang lain — anggap mereka seperti orang kebanyakan yang lain. Sebenarnya orang yang sombong hanyalah orang yang meminta perhatian. Jadi, jika kita tidak memperhatikannya, lambat laun dia akan melupakan ‘kehebatannya’.

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.

5 thoughts on “Mengapa kita sombong?”

  1. assalamualaikum, saya seorang isteri yang mempunyai suami yang sangat sombong, hampir setiap hari saya dimarahi oleh suami. Sebab saya dimarahi seperti tak mengemas rumah sebaiknya, masak tak menepati citarasa atau kurang pekat, garam, dan sebagainya, juga kalau saya berjalan bersamanya di luar rumah, saya terpanggung kepala, baginya saya tak boleh pandang hadapan, hanya tunduk ketika jalan, tak menepati soalan yang ditanyanya dan banyak lagi. Saya amat penat dengan sikapnya, sombong tak boleh menerima sebarang teguran, terlalu cerewet, baginya apa yang dia dan keluarganya lakukan semua betul, apa yang saya buat semua salah. Saya masih bersabar. Tapi rasa macam nak gila kadang-kadang tu, bagaimana saya nak pecahkan sikap takabburnya tu? berilah saya pandangan.
    Terima kasih

  2. sebelum en mambalas coretan saya. Satu perkara saya dikongkong, tak ada hp dan email. Ini saya taip sebeleah suami saya dan dia tidur, maafkan saya email di atas tidak wujud, saya hanya menulisnya bagi membolehkan menulis pada cikgu. Saya rasa diri amat bodoh dengan tekanan yang saya hadapi sekarang ini.