Makna kehidupan dan teologi takdir

Masalah “makna dari kehidupan” dan “makna dalam kehidupan” merupakan hal yang perlu dimengerti dan dipahami sebagai landasan kita untuk dapat mencapai kejayaan didunia dan akhirat.

Kita kembali kepada pemikiran-pemikiran Islam masa lalu yang sangat kaya dengan pemikiran, baik dalam bidang teologi, filsafat, hukum maupun tasawuf. Dan kita jumpai adanya keragaman dalam pemikiran dan paham/aliran. Ada pertanyaan yang mengusik saya dari dulu sampai sekarang, kenapa umat Islam tidak maju-maju, dibandingkan dengan bangsa barat (terutama setelah hancurnya Baghdad abad ke 13)? Kenapa dengan konsep “meaning in life” yang dimiliki oleh bangsa barat, mereka dapat lebih maju dan menguasai kehidupan dunia ini? Salah satu penyebab, dari banyak penyebab, mungkin, menurut pendapat saya, karena pemahaman kita terhadap konsep-konsep dalam teologi Islam itu sendiri. Sebagai contoh adalah mengenai masalah teologi Takdir. Bagaimana kita memandang masalah takdir dalam kehidupan ini?

Teologi takdir adalah sangat penting; ia menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan maju dan mundurnya umat Islam. Ada paham takdir yang dapat menyebabkan umat Islam mundur dan lemah; sebaliknya ada pula paham takdir yang dapat mendorong umat Islam kepada kemajuan dan kekuatan. Dua pemikiran mengenai takdir tersebut adalah paham “Jabariyah” dan paham “Qadariyah”.

Pada umumnya para pemikir pembaharuan dalam Islam mempunyai pandangan bahwa lemahnya umat Islam adalah pengaruh dari paham “Jabariyah”. Menurut versi jabariyah, takdir Tuhan sedemikian rupa, sehingga manusia tidak ubahnya seperti wayang, yang berbuat begitu rupa mengikuti kelihaihan pengendalinya. Paham Jabariyah mulai meluas, sejalan dengan meluasnya paham Asy’ariah dan paham tarekat menguai dunia Islam, sejak hancur Baghdad sekitar 1200 M.

Versi lain dari paham takdir adalah apa yang disebut paham “kadariah”. Menurut paham ini, takdir Tuhan adalah ketentuan Tuhan bagi mahluk-Nya. Takdir ini menjelma dalam bentuk sifat-sifat alam atau hukum-hukum sebab-akibat yang pasti berlaku. Manusia diberi kebebasan dalam kemauan dan perbuatan, diberi tanggung jawab, supaya manusia dapat diuji apakah beriman, beramal saleh atau sebaliknya. Dengan paham ini, manusia diberi landasan untuk bekerja keras, bekerja semaksimal kemampuan dan bertanggung jawab demi dunia dan akhirat.

Ada yang merumuskan paham lain, yang dianggap sikap tengah antara jabariyah dan kadariah, yang disebut paham “kasab” (yang saya sendiri tidak mengetahuinya secara detail). Namun, dalam sejarah teologi Islam, sebahagian penulis hanya membagi paham takdir kepada dua paham yang disebutkan di atas.

Dari penjelasan di atas, sekarang, mungkin kita dapat merasakan, paham mana sekarang yang kita anut? dan paham-mana yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam sekarang ini?

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s