Kisah sukses dalam riset (bukan untuk ilmuwan)

Hadi Nur
Catalysis Research Center
Hokkaido University

Kisah-kisah keberhasilan dalam riset kadangkala menyenangkan untuk diketahui, setidak-tidaknya untuk membangkitkan rasa “ketertinggalan” kita, perasaan bahwa kita ini sebenarnya masih jauh dari kriteria sebagai ilmuwan (atau calon ilmuwan) yang baik. Banyak kisah-kisah yang menceritakan bahwa keberhasilan itu dicapai dengan kerja keras, ketekunan, dan juga keberuntungan (walaupun sebagai manusia yang beragama kita menyadari bahwa kita tidak dapat menentukan kita akan menjadi ‘siapa’ dan ‘bagaimana’ dikemudian hari). Cerita di bawah ini menceritakan kisah ‘unik’ seorang kimiawan yang hasil penemuannya merupakan terobosan dalam sains, tetapi bukan merupakan tipikal dari cerita sukses dari ilmuwan-ilmuwan ternama.

Kisah ini menceritakan tentang penemu fenomena osilasi dalam reaksi kimia (“the oscillating chemical reaction”). Saat ini, penemuannya menjadi begitu terkenal dan diminati oleh fisikawan, biologiwan dan matematikawan dan masih menjadi topik penelitian yang hangat. Biografinya tidak biasa bagi orang kebanyakan dan juga tidak biasa bagi para ilmuwan-ilmuwan ternama. Orang yang akan diceritakan itu bernama B. P. Belousov. Reaksi kimia yang ditemukannya dinamakan sebagai reaksi Belousov-Zhabotinsky (BZ).

B. P. Belousov dilahirkan dari keluarga Rusia kebanyakan pada akhir abad 19. Dia salah satu anak dari lima bersaudara dari keluarga tersebut. Pada waktu itu faham dari Perancis: “Liberte, egalite et fraterite” sangat populer di Rusia. Faham inilah yang membawa Rusia dari sistem kerajaan kepada Republik komunis. Kemungkinan, ketertarikannya Boris terhadap bidang kimia muncul ketika dia bersama dengan abangnya mencoba membuat bom untuk melawan kerajaan. Membuat bom merupakan aktivitas yang sangat menarik bagi para remaja pada saat itu.

Keluarga Belousov ditahan oleh penguasa pada tahun 1905, ketika terjadi usaha revolusi yang pertama dan gagal di Rusia. Belousov muda juga ikut ke kantor polisi dengan membawa boneka beruangnya. Tidak lama kemudian, keluarga Belousov akhirnya dibebaskan dan diusir keluar dari Rusia. Mereka pindah ke Switzerland. Di sana Belousov meninggalkan semua aktivitasnya dalam bidang politik dan mulai mempelajari sains. Dia mendapatkan pendidikan kimia di Zurich.

Awal perang dunia I, Belousov lupa akan penghinaannya terhadap kerajaan dan kembali ke Rusia dengan hasrat besar untuk menolong bangsanya dan mengabdi di dunia militer. Tetapi dia tidak diterima menjadi tentara karena alasan kesehatan. Bagaimanapun dia berhasil diterima di laboratorium militer di bawah bimbingan kimiawan ternama Profesor Ipatiev. Sedikit yang diketahui mengenai aktivitas Belousov di laboratorium militer. Berdasarkan surat referensi, dia dikenal sebagai kimiawan yang sangat terampil. Dia dianugerahi pangkat kemiliteran ‘Combrig’, yang sebenarnya jarang diperolehi oleh kimiawan. Pangkat ini mungkin setara dengan Kolonel atau malah Jenderal pada struktur kepangkatan militer yang modern. Di dinas militer, dia dipengaruhi oleh disipilin militer yang kaku dan menjalankan pekerjaan dengan cara yang terorganisasi. Setelah pensiun, kehidupannya masih dipengaruhi oleh disiplin militer. Adalah sulit baginya membiasakan diri bekerja ditempat baru, yaitu disebuah institut kesehatan. Aktivitas barunya adalah dalam bidang toksikologi.

Sangat susah menceritakan bagaimana Beulosov menemukan fenomena osilasi dalam reaksi kimia. Awal tahun 1950 dia menulis sebuah artikel mengenai reaksi osilasi. Tulisan ini dikirimkan kesebuah jurnal, tetapi ditolak karena komentar ‘referee’ adalah “tidak mungkin”. Mengapa tidak mungkin? karena reaksi kimia selalu mencapai kesetimbangan secara termodinamika (“the thermodynamic equilibrium”). Reaksi harus mencapai kesetimbangan secara halus (smoothly); yang merupakan opini yang konvensional pada saat itu.

Jika sebuah tulisan ditolak untuk dimuat disebuah jurnal, ini hanya akan sedikit merampas kejiwaan pengarang. Tetapi hal yang berbeda terjadi pada Belousov, dia ‘sakit hati’. Di laboratorium militer, biasanya hasil eksperimen dicek beberapa kali sebelum dibuat kesimpulan. Jika mereka mengatakan “terjadi”, ini benar-benar terjadi. Untuk itulah, demi keyakinan mereka, hasil eksperimen harus diulang beberapa kali.

Kemungkinan Belousov mengharapkan’referee’ dari jurnal kimia tersebut mempunyai logika berpikir yang sama dengan dia. Tetapi dia keliru. Dia merasa ini adalah sebuah tragedi, sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan sains selamanya.

Perkembangan sains mungkin akan terlambat beberapa dekade, atau beberapa tahun jika tidak seorangpun sadar akan penemuan Belousov. Bagaimanapun, sejarah memilih cara lain: pertengahan tahun 50-an, seorang biokmiawan muda bernama S. E. Shnoll, sekarang menjadi Profesor di Institute for Theoretical and Experimental Biophysics, Puschino, Rusia yang tertarik terhadap proses periodik dalam bidang biokimia mendengar mengenai penemuan Belousov, dan menjumpainya di Moskow. Dia berusaha membujuk Belousov untuk meneruskan pekerjaannya, tetapi gagal. Belousov betul-betul telah memutuskan meninggalkan sains. Dia hanya menyerahkan resep dari reaksi yang telah dia kerjakan kepada Shnoll dan setuju artikelnya dipulikasikan sebagai sebagai laporan tahunan dalam bidang radiologi di Institute for Theoretical and Experimental Biophysics tahun 1957. Kenapa disana? ini karena menghindari proses ‘reviewing’.

Kemudian, A. M. Zhabotinsky (silahkan homepage beliau di http://hopf.chem.brandeis.edu/members_content/anatol/anatol.htm), di bawah bimbingan S. E. Shnoll meneliti mekanisme reaksi secara detail; dialah yang pertama kali menggunakan reaksi ini untuk mempelajari ‘spatially distributed patterns’. Pada tahun 1966, sebuah konperensi diadakan mengenai ‘oscillating and excitable systems’ di Puschino. Walaupun puluhan pertemuan ilmiah telah diadakan berbagai tempat di belahan bumi ini, B. P. Belousov, si penemu fenomena ini, tidak pernah lagi melibatkan diri dalam kegiatan riset ini. Satu-satunya tulisan yang pernah dia pulikasikan adalah pada tahun 1957 itu.

Apakah dia pernah mengharapkan pekerjaannya begitu sangat terkenal dikalangan fisikawan, biologiwan dan matematikawan? kita tidak tahu jawabannya. Dia hanyalah kimiawan yang menemukan reaksi osilasi.

___________________
*Tulisan ini disadur dari homepage Prof. Rubin R. Aliev (Vanderbilt University)
http://www.musc.edu/~alievr

Published by

Hadi Nur

An ordinary man living in Johor Bahru, Malaysia who likes to write anything. This is table of content of my blog posts.