Dalam zaman digital, sebuah fenomena bernama selfie muncul, bagai titik cahaya yang berkelip di tengah kegelapan. Sebuah tindakan yang tampaknya sederhana, namun mengandung lapisan makna yang tak terhingga. Ketika seseorang membagikan potret dirinya, bukan sekadar wajah yang dia tunjukkan, melainkan sebuah jiwa yang tengah mencari tempat di dunia.
Namun, ada paradoks yang tersembunyi di balik setiap jepretan. Dalam upaya menonjolkan diri, seseorang justru menyerahkan eksistensinya pada tangan orang lain, pada komentar-komentar yang datang dari ruang maya. Sebuah ruang yang tak kasat mata, namun memiliki kekuatan untuk mendefinisikan keberadaan.
Kehidupan, dengan segala kerumitannya, memang penuh paradoks. Di satu sisi, ada keinginan mendalam untuk dikenal, untuk diakui. Namun, di sisi lain, eksistensi yang sejati bukanlah yang datang dari pengakuan semata, melainkan dari pemahaman dan penerimaan diri sendiri.
Dan fenomena ini tak hanya berlaku pada diri individu. Di dunia akademik, kehebatan seorang dosen seringkali diukur dari angka-angka prestasi yang terkadang bersifat semu. Namun, bukankah kehebatan sejati seorang dosen terletak pada intelektualitasnya? Pada pemikiran-pemikiran yang bernas, karya-karya yang diakui oleh rekan sejawat, bukan sekadar angka-angka yang bisa memudar seiring waktu.
Dalam kecepatan zaman ini, sungguh ironis, bahwa di antara hiruk-pikuk informasi dan kemajuan yang tiada henti, kita tersandera oleh pertanyaan eksistensial yang tak kunjung menemukan jawabannya. Adakah akhir dari pencarian ini? Mungkin, saat kita mengerti bahwa arti keberadaan bukanlah sekadar bagaimana pandangan dunia terhadap kita, melainkan bagaimana kita mengintip ke dalam dan merangkul apa yang ada. Dan di sanalah, barangkali, kita akan menemui hakikat hidup yang sebenarnya.
Kampus Universitas Negeri Malang (UM) seolah bertransformasi menjadi panggung vitalitas pada pagi hari ini. Kesibukan bukan lagi monoton, tetapi serangkaian harmoni dari anak-anak muda yang memulai hari dengan semangat mencari pengetahuan.
Ada yang berjalan dengan ritme tenang, seolah setiap tapak kakinya mencium bumi, berterima kasih atas kesempatan untuk belajar. Beberapa lainnya memilih Gojek, simbol dari era digital yang menyingkap batas ruang dan waktu. Dan tak ketinggalan, ada yang dengan riang memacu sepeda motornya, membelah pagi dengan suara mesin yang menjanjikan kecepatan.
Namun, di antara kesibukan itu, tercipta satu babak dramatis: sebuah bottle neck di depan lift. Seperti pementasan klasik, di mana setiap aktor tahu kapan harus maju dan kapan harus menunggu. Sabar, mereka antri. Mungkin dalam diam, mereka merenung, mempersiapkan diri untuk setiap kata dan konsep yang akan disuguhkan oleh dosen-dosen mereka.
Refleksi ini tentang masa depan. Anak-anak muda ini, dengan segala semangat dan cara mereka mencapai kelas, menjadi saksi atas asa kita semua. Dalam dada mereka, mungkin bersemayam harapan: menjadi generasi yang tidak hanya pandai, tetapi juga bijak. Generasi yang nantinya akan mengemban tugas untuk menjadikan dunia lebih baik.
Amiin. Semoga dalam setiap langkah dan desah napas mereka, terpatri doa kita semua untuk masa depan yang lebih cerah.
Dalam lipatan malam yang sunyi, ketika doa-doa berbisik lembut bagai desauan daun-daun kering, ada kontradiksi yang terselubung. Di antara kita, ada yang dengan kesungguhan mendalam, mengangkat tangan, menundukkan kepala, berbisik pada Semesta. Namun, ada pula yang menjadikan doa sebagai tarian tanpa musik, sebuah pagelaran yang dilakoni bukan dari kedalaman hati, melainkan sekadar tata cara.
Dengan sentuhan sastra yang halus dan mendalam, gambaran ini bisa dilihat sebagai sebuah pentas senja. Sebuah drama di mana para aktor berdoa bukan untuk Sang Pencipta, melainkan untuk mata yang tengah memandang. Mereka melafalkan kata-kata bagai syair yang terdengar indah, namun tanpa kedalaman makna; bergerak dengan ritme yang sempurna, namun tanpa keikhlasan.
Di tengah gemerlap ritual dan upacara, kita sering terjebak dalam keramaian tanpa esensi. Sebagaimana ajaran Islam, doa bukan sekadar lantunan kata atau gerakan tubuh, melainkan sebuah dialog rohaniah dengan Sang Khalik. Namun, ironisnya, banyak di antara kita yang menjadikan doa sebagai pertunjukan tanpa jiwa, sebuah tarian untuk memenuhi norma sosial, bukan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam renungan yang mendalam, mungkin kita perlu merenung: Apakah doa kita benar-benar tulus? Apakah kita benar-benar memahami setiap kata yang kita lantunkan? Ataukah kita hanya menjadi pelakon dalam drama kehidupan, berdoa demi tontonan, bukan demi dialog dengan Yang Maha Esa?
Dalam kesunyian, mungkin kita akan menemukan jawaban sejati. Dan mungkin, kita akan kembali ke inti berdoa, bukan sebagai upacara kosong, melainkan sebagai jembatan rohaniah dengan Sang Pencipta.
Di sebuah hutan yang sunyi, hewan-hewan berkumpul di sekitar sebuah layar besar. Mereka sedang menonton “Hutan’s Got Talent”, sebuah acara pencarian bakat di hutan. Para kontestan, yang merupakan hewan-hewan elit hutan, berlomba-lomba menunjukkan keahlian mereka, dari menyanyi hingga menari.
Seekor monyet, dengan percaya diri, berdiri di atas panggung dan mulai berbicara tentang pentingnya menjaga hutan. Namun, ironisnya, dia lupa bahwa hutan bukan hanya tentang pohon dan tanah, melainkan tentang semua makhluk yang hidup di dalamnya.
Seekor kura-kura tua mendekati monyet dan berbisik, “Semakin sering kita terlibat dalam acara-acara seperti ini, semakin kita sadar bahwa ini semua hanya untuk kepentingan pribadi para kontestan, bukan untuk hutan.”
Para hewan, dengan mata berbinar, melihat monyet sebagai bintang yang akan membawa perubahan. Namun, monyet dengan cepat menunjukkan kesalahan para kontestan lain sambil menyembunyikan kesalahannya sendiri. Di panggung “Hutan’s Got Talent”, kejujuran menjadi barang langka.
Seekor tupai berbisik kepada temannya, “Untuk tahu siapa monyet sebenarnya, kita tidak bisa hanya mendengar dari penggemarnya. Kita harus mendengar dari mereka yang tidak menyukainya. Karena dalam setiap kritikan, ada sedikit kejujuran.”
Acara itu berakhir, dan semua hewan kembali ke rumah mereka, mengingat bahwa “Hutan’s Got Talent” seharusnya tentang menemukan bakat terbaik untuk hutan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Hari ini, kraton Yogyakarta—tempat di mana waktu berhenti tapi tetap bergerak—mengajak saya dan sekeluarga untuk masuk ke dalam sejarahnya yang luas, seolah-olah kita semua adalah pelancong dalam sebuah zaman. Didirikan pada tahun 1756, kraton ini mengingatkan kita bahwa masa lalu tak pernah benar-benar lenyap; ia selalu ada, tersembunyi di balik simbol dan makna.
Di pintu masuk, gambar kepala penolak bala menyapa kita. Seolah mengajarkan bahwa ada kekuatan lebih besar yang melindungi kraton ini, dan mungkin juga kita yang masuk ke dalamnya. Dinding-dindingnya adalah sastra yang belum sepenuhnya dibaca; setiap kamar, setiap sudut, memiliki cerita yang hanya bisa diungkap oleh mereka yang memahami bahasanya.
Di antara kompleks seluas 18 hektar ini, tersembunyi sekitar 5000 abdi dalam—roh dari kesultanan yang tetap bersemangat, walaupun dunia di luar sana berubah dengan cepat. Kesetiaan mereka adalah filosofi yang hidup, sebuah pengabdian yang mengejutkan bagi saya yang tumbuh di tanah Minangkabau, di mana egalitarianisme menjadi ajaran utama.
Tapi mungkin inilah kekayaan Indonesia: sebuah mozaik dari berbagai filosofi, etos kerja, dan tradisi yang saling berdampingan dalam harmoni. Kraton Yogyakarta, dalam keseriusan dan keagungannya, adalah satu dari sekian banyak wajah Indonesia—sebuah perspektif unik yang menawarkan sesuatu yang berbeda, tetapi tetap berharga.
Begitulah, dalam keteduhan kraton ini, saya tersadar bahwa keanekaragaman itu indah, dan setiap keunikan memiliki keunggulan tersendiri yang berhak untuk dihormati dan dihargai. Di kraton ini, saya menemukan sebuah Indonesia yang lebih besar dari yang pernah saya kenal; sebuah tanah air yang mengajarkan saya untuk selalu melihat ke dalam dan ke luar, sekaligus.
Duduk di warung Soto Pak Min Klaten di Yogyakarta, aroma kaldu yang menggugah selera mengisi udara. Tiba-tiba, sebuah gitar sederhana dan suara yang lirih merayu perhatian. Seorang pengamen menghampiri, menyanyikan lagu-lagu yang tak asing di telinga. Di detik itu, dilema moral berkecamuk: memberi atau tidak memberi?
Menjadi sebuah paradoks, bukan? Di satu sisi, derasnya empati mendorong kita untuk memberikan sesuatu—dalam hal ini uang—kepada pengemis atau pengamen. Sepotong koin sebagai wujud kasih sayang, namun juga bisa jadi sebuah perangkap, menjadikan mereka terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan. Di sisi lain, ketidakpedulian kita yang terkesan kejam, ironisnya, bisa menjadi bentuk peduli yang lebih dalam, dengan mengajari mereka bahwa dunia ini tak selalu memberi apa yang kita inginkan hanya karena kita memintanya.
Akhirnya, saya memberikan 2000 rupiah. Apakah ini tindakan yang benar atau malah sebuah kesalahan? Saya tak bisa pastikan. Agama, seringkali, berbicara tentang bersedekah sebagai tindakan yang mulia. Tetapi, apakah bersedekah selalu harus berbentuk materi? Bukankah pengetahuan dan peluang bisa lebih berharga daripada uang tunai yang dengan cepat habis terpakai? Lagipula, tak semua bersedekah berujung pada kebaikan. Ada bersedekah yang meracuni, ada yang membebaskan.
Di tengah-tengah kebingungan moral ini, masing-masing dari kita harus membuat pilihan sendiri. Tak ada jawaban mutlak, hanya ada pertimbangan dan, tentu saja, konsekuensi. Jadi, sebelum kita merogoh kantong, mari kita pikirkan: Apa yang sesungguhnya kita berikan? Apakah kita memberikan jalan keluar atau justru jalan buntu?
Setiap pagi, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri dari balik gedung-gedung, tetapi kehidupan sudah bergerak cepat. Saya mengantar si bungsu ke sekolah, melewati simpang yang selalu macet di pagi hari. Di sana, sebuah panggung kehidupan terbentang, dan saya adalah penonton yang setia.
Di samping simpang itu, ada penjual bubur kacang hijau. Sebuah warung sederhana. Setelah mengantar si bungsu, saya memilih untuk ‘nongkrong’ di sana, menyeruput teh hangat sambil menikmati bubur kacang hijau yang lembut. Tapi, apa yang saya nikmati lebih dari itu adalah teater kehidupan yang terjadi di simpang tersebut.
Saya memvideokan simpang itu, dan dari lensa kamera handphone, karakter asli manusia bermunculan. Ada keserakahan; mobil mewah yang menerobos, seolah dunia ini miliknya sendiri. Ada yang bermental menerabas; motor-motor yang melaju kencang, mengejar waktu yang seolah tak pernah cukup. Ada yang sabar; menunggu giliran dengan tenang, wajahnya menunjukkan ketenangan meski di tengah kekacauan. Ada yang licik; memanfaatkan celah kecil untuk menerobos, seolah aturan adalah hal yang bisa ditawar. Ada yang sok berkuasa. Dan ada rakyat kecil dengan motor seadanya; mereka yang hanya ingin pulang atau pergi ke tempat kerja, hidupnya sederhana tetapi penuh perjuangan.
Semua ini saya rekam, tidak hanya dalam video tetapi juga dalam benak saya. Ini adalah potret kehidupan, sebuah mosaik dari berbagai karakter manusia. Di sini, di simpang ini, saya merenung tentang kompleksitas kehidupan. Saya menikmati ini semua sambil menyeruput teh dan mengunyah kacang hijau, merasa menjadi bagian dari sebuah dunia yang begitu beragam tetapi juga begitu sama: penuh dengan keinginan, harapan, dan kekecewaan.
Simpang ini, bagi saya, adalah sebuah metafora tentang Indonesia, tentang dunia, tentang kita semua. Di sini, di tengah kekacauan dan keindahan, kita menemukan diri kita. Dan mungkin, hanya mungkin, kita bisa belajar sesuatu tentang diri kita dan orang lain, sambil menikmati bubur kacang hijau yang hangat dan teh yang menyegarkan.
Dalam konteks kehidupan, apa yang berguna bagi banyak orang seringkali lebih berharga daripada apa yang hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Seseorang yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dan memamerkannya sebagai prestasi, pada kenyataannya, belum mencapai esensi sejati dari prestasi. Keberhasilan yang tidak memberikan dampak positif kepada masyarakat lebih mirip ilusi ketimbang pencapaian nyata. Apa artinya kehebatan jika hanya dinikmati sendiri tanpa memberikan kontribusi nyata kepada orang lain? Hal ini pernah saya sampaikan dalam pidato pengukuhan saya sebagai profesor di Universitas Negeri Malang pada tahun 2022.
Pengaruh individu yang meluas. Tindakan individu memiliki efek terbesar ketika mereka mempengaruhi sistem yang lebih luas, dari pribadi sampai kultural.
Seorang intelektual didefinisikan sebagai individu yang menggunakan pemikiran kritis dan refleksi dalam mengejar pengetahuan, terutama di bidang yang memerlukan penelitian mendalam. Dalam dunia akademik, evolusi dampak yang diberikan oleh seorang profesional seringkali mengalami transformasi. Di awal karir, fokus cenderung pada pencapaian pribadi, didorong oleh tuntutan sistem pendidikan tinggi yang mengukur kesuksesan berdasarkan produktivitas penelitian. Namun, seiring berjalannya waktu, perspektif ini mulai bergeser.
Seiring dengan bertambahnya pengalaman, jejaring, dan kapasitas kepemimpinan, kontribusi tidak lagi terbatas pada skala individu, tetapi meluas ke skala komunitas dan organisasi, bahkan publik dan kultural. Adalah penting untuk menyadari bahwa memberikan dampak yang lebih besar, seperti kepada publik dan budaya, adalah manifestasi dari esensi pendidikan yang sejati.
Dengan komitmen untuk memberikan dampak yang lebih luas, ini adalah refleksi dari kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan bersama yang harus dibagikan dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Landasan filosofis di balik ini adalah keyakinan bahwa sejati intelektual bukanlah seseorang yang hanya berfokus pada dirinya sendiri dan kelompoknya, tetapi seseorang yang bertransformasi dari oportunis untuk kepentingan pribadi menjadi oportunis untuk kepentingan yang lebih luas. Semoga dengan niat baik ini, dampak positif yang diharapkan dapat terwujud dan memberikan inspirasi bagi generasi mendatang untuk selalu berkontribusi bagi kebaikan yang lebih besar.
Dr. Polan adalah seorang periset muda yang berbakat di bidang kimia. Dia selalu memiliki semangat yang tinggi untuk menemukan solusi bagi masalah yang ada di dunia. Dr. Polan selalu bekerja keras dan tidak pernah menyerah meskipun menghadapi banyak tantangan.
Suatu hari, Dr. Polan mendapatkan ide untuk melakukan penelitian tentang pengobatan penyakit langka yang belum ada obatnya. Dia mulai melakukan penelitian dengan penuh semangat. Dr. Polan menghabiskan berjam-jam di laboratorium, melakukan eksperimen dan analisis data.
Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian, Dr. Polan akhirnya menemukan formula yang bisa menjadi obat untuk penyakit langka tersebut. Dia sangat senang dan segera mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah terkemuka.
Tak lama kemudian, Dr. Polan mendapatkan kabar bahwa dia telah dinominasikan untuk menerima hadiah prestige di bidang kimia. Dia sangat terkejut dan tidak percaya bahwa dia bisa mendapatkan penghargaan sebesar itu.
Saat hari pemberian hadiah tiba, Dr. Polan mengenakan jas dan berjalan menuju panggung dengan hati berdebar-debar. Saat namanya diumumkan sebagai pemenang, Dr. Polan merasa sangat bahagia dan terharu.
Dr. Polan menerima hadiah tersebut dengan tangan gemetar dan memberikan pidato yang menginspirasi. Dia mengatakan, “Saya sangat berterima kasih atas penghargaan ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga, teman, dan kolega yang selalu mendukung saya. Saya juga ingin mengingatkan kepada semua periset muda di luar sana untuk tidak pernah menyerah dan terus bekerja keras. Karena dengan kerja keras dan dedikasi, kita bisa mencapai apa pun yang kita inginkan.”
Semua orang yang hadir bertepuk tangan meriah dan memberikan selamat kepada Dr. Polan. Dr. Polan merasa sangat bahagia dan bangga dengan pencapaiannya. Dia berharap bahwa penelitiannya bisa membantu banyak orang yang menderita penyakit langka tersebut.
Dari hari itu, Dr. Polan menjadi inspirasi bagi banyak periset muda di seluruh dunia. Dia terus melakukan penelitian dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan. Dr. Polan selalu mengingat bahwa kesuksesan bukanlah tujuan akhir, tetapi proses dan usaha yang dilakukan untuk mencapainya yang lebih penting.
Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah bahwa banyak kisah yang memenuhi pikiran orang dengan cerita-cerita sukses, membuat orang cenderung lebih sering berkhayal. Namun, hal ini sebenarnya menyesatkan, karena apa yang tidak terlihat adalah bahwa mungkin ada ribuan orang yang tidak sukses. Ini merupakan kesalahan logika yang dikenal sebagai bias bertahan hidup, atau dalam bahasa Inggris disebut survivorship bias.
Dalam konteks pemilihan pemimpin, kelicikan dalam dunia politik sering dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dihindari. Sama seperti hewan yang licik dalam mencari makan dan bertahan hidup, terdapat politisi yang memanfaatkan kecerdikannya untuk memanipulasi situasi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Meskipun demikian, sangat penting bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang memiliki integritas dan berkomitmen untuk melayani kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Kelicikan dalam dunia politik sering kali diibaratkan dengan perilaku hewan yang licik dalam mencari makan dan bertahan hidup. Seperti rubah yang dikenal licik dan cerdas dalam mengelabui predator atau mangsa, terdapat politisi yang memanfaatkan kecerdikannya untuk memanipulasi situasi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Mereka mungkin akan berpura-pura mendukung suatu isu, tetapi sebenarnya memiliki agenda tersembunyi yang menguntungkan diri mereka sendiri.
Analogi ini juga dapat diterapkan pada politisi yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai situasi politik, seperti oktopus yang dapat mengubah warna kulitnya untuk menyamar. Politisi ini mungkin akan mengubah pandangannya atau sikapnya sesuai dengan keadaan dan kepentingan yang ada pada saat itu. Mereka mungkin akan mendukung suatu isu saat ini, tetapi berubah sikap saat kepentingan mereka berubah.
Dalam konteks pemilihan pemimpin, sering kali terdapat politisi yang bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai tujuan tertentu, mirip dengan serigala yang berburu dalam kelompok. Mereka mungkin akan membentuk koalisi atau aliansi dengan politisi lain untuk mendukung suatu isu atau kandidat tertentu. Dalam proses ini, mereka mungkin akan menggunakan strategi yang cerdas dan licik untuk memenangkan dukungan publik dan mengalahkan lawan politik mereka.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua politisi menggunakan taktik licik ini. Ada juga politisi yang memiliki integritas dan berkomitmen untuk melayani masyarakat dengan tulus. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk melayani kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi atau kelompoknya, dalam pemilihan presiden tahun depan.
Sejarah kelicikan
Kelicikan dalam politik bukanlah fenomena baru. Sejak zaman kuno, politisi telah menggunakan taktik licik untuk memenangkan dukungan dan kekuasaan. Misalnya, dalam sejarah Romawi kuno, politisi sering kali menggunakan intrik dan konspirasi untuk mengalahkan lawan politik mereka. Dalam sejarah Cina kuno, ada konsep “arti perang” yang mengajarkan bagaimana menggunakan taktik licik dan strategi untuk memenangkan pertempuran dan perang. Dalam sejarah India kuno, ada konsep “niti shastra” yang mengajarkan bagaimana menggunakan taktik licik dan diplomasi untuk mencapai tujuan politik.
Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki integritas dan berkomitmen untuk melayani kepentingan publik sering kali dihargai dan diingat sebagai pemimpin besar. Misalnya, pemimpin seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Martin Luther King Jr. dihargai karena integritas dan komitmen mereka untuk melayani kepentingan publik.
Ciri-ciri kelicikan
Dalam dunia politik, tidak hanya individu yang bisa bersikap licik, tetapi juga partai politik. Partai yang licik biasanya memiliki karakteristik yang mirip dengan individu yang licik. Mereka mungkin akan memanipulasi situasi dan orang lain untuk kepentingan partai atau kelompoknya. Partai yang licik sering kali tidak jujur dalam komunikasi dan tindakan mereka. Mereka mungkin akan berbohong atau menyesatkan publik untuk mencapai tujuan mereka. Sifat oportunistik juga sering kali dimiliki oleh partai yang licik. Mereka akan mengambil keuntungan dari situasi dan orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Partai yang licik juga biasanya tidak transparan dalam niat dan tindakan mereka, dan mungkin memiliki agenda tersembunyi. Selain itu, mereka mungkin akan berubah-ubah dalam pandangan atau sikap mereka sesuai dengan kepentingan yang ada pada saat itu.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua partai politik bersikap licik. Ada juga partai yang memiliki integritas dan berkomitmen untuk melayani kepentingan publik. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memilih partai yang memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk melayani kepentingan publik, bukan kepentingan partai atau kelompoknya. Dengan demikian, kita dapat membangun sistem politik yang lebih adil dan transparan, dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pemimpin yang memiliki integritas dan berkomitmen untuk melayani kepentingan publik.
Permasalahan besar dalam menghadapi realitas
Ya, paragraf terakhir memang menggambarkan kondisi ideal yang kita harapkan dalam dunia politik. Namun, realitas yang sering dihadapi adalah bahwa sistem politik yang ada seringkali memaksa individu untuk bersikap licik demi bertahan dalam dunia politik yang kompetitif. Akibatnya, sulit untuk menemukan pemimpin yang benar-benar terbebas dari kelicikan. Dalam situasi seperti ini, kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apakah kita harus memilih pemimpin yang paling tidak licik dan busuk di antara pilihan yang ada? Ini ibarat membeli buah-buahan yang hampir semuanya memiliki bagian yang busuk, dan kita memilih yang busuknya paling sedikit. Meskipun pilihan ini jauh dari ideal, ini mungkin adalah pilihan terbaik yang bisa kita ambil dalam situasi yang tidak ideal karena tidak ada di dunia ini keadaan ideal. Ini prinsip.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa kita memiliki kekuatan untuk mengubah sistem politik yang ada. Dengan berpartisipasi aktif dalam proses politik, kita dapat mendorong perubahan yang lebih besar dan menciptakan sistem yang lebih adil dan transparan. Paling minimal adalah dengan cara menulis blog dengan topik ini.
You must be logged in to post a comment.