Kartu kenangan

Saya dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai mahasiswa Ph.D. pada tahun 1995 dan terus melangkah hingga mencapai posisi sebagai profesor pada tahun 2010 dan pindah ke Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2022. Kartu-kartu ini menyimpan banyak cerita tentang perjalanan saya dengan universitas ini.

Ketahanan dan transformasi demokrasi Indonesia di tengah dinamika politik

Berdasarkan artikel dari Ben Bland di Foreign Affairs, “Indonesia’s Democracy Is Stronger Than a Strongman: Why Prabowo Would Find It Hard to Rule as an Authoritarian,” yang dipublikasikan kemaren, mari kita memahami bagaimana demokrasi di Indonesia sebenarnya sangat kuat, meski ada tokoh kuat seperti Prabowo Subianto yang sedang naik daun, dan baru saja menang menjadi presiden versi quick count. Tulisan ini adalah ringkasan dalam versi bahasa Indonesia dan lebih santai. Saya hanya membuat tulisan tersebut lebih ringkas dan mudah dipahami intisarinya. Walaupun ada setuju dan tidak setuju dengan pandangan Ben Bland ini, tema ini perlu terus didiskusikan dan diperdebatkan. Saya mendengar ada yang berpendapat demokrasi Indonesia sudah salah kaprah karena sudah dikontrol oleh partai, bukan lagi oleh rakyat.

Pertama, cerita tentang Prabowo ini membuktikan bahwa politik di Indonesia penuh warna dan tidak kaku. Meskipun ia memiliki latar belakang militer dan kisah masa lalu yang menarik perhatian, Prabowo bisa menjadi bagian dari pemilu yang demokratis dan bahkan bergabung dengan presiden saat ini, Jokowi. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah cukup matang, dimana pertarungan strategi politik bisa terjadi dalam bingkai yang lebih besar dari sekedar perebutan kursi.

Kedua, generasi muda Indonesia yang aktif dalam pemilu ibarat angin segar bagi demokrasi. Mereka terhubung, terdidik, dan mempunyai peluang emas untuk membentuk masa depan politik negara ini. Partisipasi mereka dalam demokrasi dapat menjadi kunci untuk memperkuat nilai-nilai demokrasi dan mengatasi tantangan yang ada.

Ketiga, meskipun terdapat kekhawatiran akan terkikisnya beberapa prinsip demokrasi, keberadaan masyarakat sipil yang aktif, media yang tidak dapat ditindas, dan sistem pemerintahan yang terdesentralisasi merupakan jaminan bahwa terdapat mekanisme check and balances kekuasaan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, sistem di Indonesia mempunyai kemampuan beradaptasi dan mengoreksi diri.

Keempat, kolaborasi antara Jokowi dan Prabowo yang sebelumnya memiliki persaingan ketat menunjukkan politik pragmatis di mana kepentingan nasional dan strategi jangka panjang bisa lebih penting dibandingkan perbedaan ideologi. Hal ini dapat dilihat sebagai tanda kedewasaan politik Indonesia atau strategi untuk bertahan di dunia politik yang berubah dengan cepat.

Yang terakhir, perhatian internasional dan regional terhadap pemilu Indonesia menegaskan posisi strategis negara ini di kancah global. Cara Indonesia mengelola hubungan dengan Tiongkok dan AS, serta menjaga keseimbangan antara nasionalisme dan keterbukaan internasional, akan sangat dipengaruhi oleh siapa yang memenangkan pemilu kali ini.

Jadi, pemilu 2024 tidak hanya penting bagi Indonesia, tapi juga menjadi contoh bagi dunia bagaimana demokrasi di negara berkembang bisa menghadapi tantangan dari dalam dan luar. Ketahanan dan kemampuan adaptasi demokrasi Indonesia akan menjadi topik menarik untuk direnungkan dalam konteks demokrasi global di abad ke-21. Jadi, bukankah politik Indonesia menarik?

Mudah-mudahan ringkasan dari artikel yang di tulis oleh Ben Bland di Foreign Affairs dapat dipahami dengan baik melalui blog ini. Merdeka!

Yang menang adalah mayoritas diam

Tadi pagi saya ikut pemilu dan menyoblos di TPS dekat rumah. Sekarang saya menyaksikan hasil quick count dan sudah hampir dipastikan siapa pemenangnya. Sebelum pemilu, kita menyaksikan dunia maya yang memekakkan terkadang terasa seperti pasar malam versi abad 21, dimana setiap orang bisa menjadi juru bicara tanpa microphone dari balik layar, ada sekelompok netizen yang kerap luput dari perhatian kita, tapi mereka ada, Sangat nyata, tidak bisa dianggap enteng: Mayoritas diam.

Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah kru VIP dari acara drama media sosial yang memilih untuk menikmati pertunjukan dari penonton. Mereka bukan tipe orang yang terjun ke arena dan terlibat argumen atau mengisi kolom komentar dengan pendapatnya. Mereka memilih untuk low profile, bukan karena tidak peduli, namun karena mereka sadar betul bahwa kegaduhan yang terjadi di media sosial seringkali tidak mencerminkan apa yang terjadi di dunia nyata.

Di zaman sekarang ini, di mana hampir semua orang bisa menjadi kritikus atau analis politik dadakan di media sosial, kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa pihak yang bersuara keraslah yang mendominasi. Namun, mayoritas diam menampar kita dengan kenyataan bahwa keributan di media sosial hanyalah sebagian dari cerita. Dunia nyata, kehidupan sehari-hari, seringkali jauh lebih kompleks.

Mereka, mayoritas diam, memilih menjawab segala macam sindiran, ejekan dan provokasi bukan dengan perang kata-kata, namun dengan tindakan. Mereka bekerja di belakang layar, melakukan hal-hal nyata yang benar-benar bisa membawa perubahan. Mereka percaya bahwa satu langkah nyata lebih berharga dibandingkan ribuan tweet atau status yang berakhir hanya menjadi gaung kosong tanpa dampak.

Dalam keheningan mereka, mayoritas diam sebenarnya yang berbicara. Mereka berbicara tentang kerja keras yang perlahan tapi pasti mengubah masyarakat. Mungkin tidak terlihat atau terdengar di dunia maya, namun pengaruhnya sangat terasa dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jadi, lain kali, sebelum kita terburu-buru menilai opini publik dari kebisingan di media sosial, ingatlah mayoritas diam. Mereka mungkin tidak berteriak di dunia maya, namun suara mereka sangat nyata di dunia nyata, melalui tindakan dan kontribusi yang mereka lakukan. Dan pada akhirnya, itulah yang terpenting.

Literasi dan kepemimpinan di era instan

Menelusuri kepemimpinan di Indonesia ibarat minum kopi di warung pinggir jalan; ada rasa, ada cerita, dan tentunya ada kehangatan unik yang membuat kita selalu ingin kembali lagi. Mulai dari era Soekarno yang bak rockstar di atas panggung, berapi-api dan penuh semangat, hingga Soeharto dengan ciri khas senyumnya yang menenangkan, seolah mengingatkan kita pada tetangga sebelah yang selalu ramah.

Lalu ada Habibie dengan otaknya yang mirip komputer, mengajak kita berfantasi tentang masa depan yang penuh inovasi. Gus Dur, dengan lawakannya yang tajam namun efektif, mengajarkan kita bahwa hikmah bisa datang dari sudut yang tidak kita duga. SBY yang berhati-hati, mengingatkan pengemudi yang berhati-hati, selalu memastikan semuanya aman sebelum memulai perjalanan.

Tapi, sekarang kok rasanya berbeda. Ibarat minum kopi tapi lupa gulanya. Era saat ini lebih merupakan era “instan”. Pesannya cepat, mudah dicerna, namun terkadang kita lupa, apa intisarinya? Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, bagaimana generasi penerus bangsa bisa memahami dan mengapresiasi pentingnya ‘membaca’ lebih dalam, tidak hanya melihat ‘sampul’ luarnya saja.

Kita juga rindu para pemimpin yang bisa menulis, yang karyanya bisa kita baca dan renungkan. Seperti Bung Karno atau Bung Hatta yang tulisan-tulisannya bisa membuat kita takjub dan berpikir, “Wah, ini baru pemimpin!” Mereka seperti kopi yang diseduh dengan sempurna; kuat, berani, dan meninggalkan kesan mendalam.

Semoga kedepannya kita dapat memiliki pemimpin yang memahami pentingnya literasi dan ide-ide cemerlang. Yang tidak hanya pandai berbicara, namun juga bisa menginspirasi melalui tulisan dan pemikirannya. Agar kelak generasi mendatang bisa melihatnya dan berkata, “Nah, ini warisan keren dari nenek moyang kita.” Sehingga kelak, literasi dan pemikiran mendalam akan menjadi semacam ‘morning coffee’ yang wajib dimiliki bangsa ini; bangun, memberi energi, dan tentu saja menginspirasi.

Niat seorang dosen, sang pendidik

Ngomong-ngomong soal dosen yang publikasi dan bekerja demi kenaikan jabatan atau reputasi, ini sepertinyanya jadi topik seru. Bayangkan saja, seorang dosen yang seharusnya jadi pahlawan cerdas cermat buat anak-anak muda di kampus, malah sibuk mengejar setoran publikasi buat naik pangkat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan motivasinya.

Jadi, bukan rahasia lagi kalau di dunia akademik itu publikasi adalah kunci. Semakin banyak kamu publikasi, semakin bagus reputasimu. Tapi, kalau niatnya cuma itu, kasihan mahasiswanya. Mereka butuh bimbingan, inspirasi, dan ilmu yang benar-benar berguna buat hidup mereka, bukan cuma teori dari jurnal yang ditulis demi poin tambahan.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ini bisa jadi bumerang. Dosen yang seharusnya jadi role model jadi terlihat seperti salesman ilmu yang lagi promo diri. Ini tidak cuma bikin nilai edukasi jadi turun, tapi juga bisa membuat citra akademisi jadi kurang baik di mata masyarakat.

Tapi, tidak semua harapan itu hilang. Masih banyak dosen-dosen hebat yang niatnya lurus, yang mau berbagi ilmu bukan karena ingin naik jabatan, tapi karena mereka pengen bikin perubahan yang nyata di masyarakat. Mereka ini yang sebenarnya pahlawan pendidikan. Jadi, buat para dosen yang mungkin lagi membaca ini, mari kita ingat-ingat lagi kenapa kita memilih jadi dosen. Bukan cuma soal jabatan atau gaji, tapi lebih ke gimana caranya kita bisa bikin dunia ini jadi lebih baik lewat ilmu yang kita bagikan.

Pokoknya, tetap semangat ya buat semua dosen dan akademisi! Dunia pendidikan itu luas dan penuh dengan kemungkinan. Mari kita isi dengan niat-niat baik dan kontribusi yang bermakna. Selamat menyoblos calom presiden besok!

Demokrasi: Ketika pemilih menjadi penonton yang tertipu

Dalam pementasan demokrasi kontemporer, kita sering disuguhi ironi yang menyayat hati: bukan hanya ketidakcerdasan pemilih yang menjadi sorotan, tetapi lebih lagi dominasi modal dan kekuatan uang yang mengendalikan orkestra politik. Sistem yang seharusnya menjadi panggung harmonis bagi para pemain terampil dan konduktor bijak, kini seringkali berubah menjadi teater bagi mereka yang bertumpu pada kekuatan finansial.

Ironi ini mungkin bersumber dari pendidikan politik yang kurang, media yang cenderung mengutamakan sensasi ketimbang analisis mendalam, dan kampanye politik yang terfokus pada pencitraan. Ketiadaan pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dari pemimpin mereka menjadi cerminan dari keadaan ini.

Dalam konteks yang demikian, tanggung jawab menciptakan simfoni yang harmonis tidak hanya berada di tangan pemimpin, melainkan juga di tangan pemilih. Penting bagi setiap individu untuk mengasah kecerdasan politik, memahami isu-isu yang dihadapi, dan membuat keputusan yang didasari analisis kritis, bukan sekadar emosi atau popularitas.

Pendidikan politik yang lebih baik dan kesadaran sosial yang meningkat bisa membantu pemilih menjadi lebih cerdas dalam memilih pemimpin. Ini ibarat mengajarkan penonton untuk mengapresiasi nuansa musik, memahami peran setiap instrumen, dan mengenali keahlian sejati seorang konduktor. Dengan pemilih yang lebih cerdas dan informasi yang lebih tepat, kita bisa berharap melihat pemimpin yang lebih kompeten dan kebijakan yang lebih harmonis, menciptakan simfoni yang indah untuk masa depan demokrasi kita.

Namun, realitas politik kontemporer sering kali menampilkan paradoks yang menggelitik: pemilihan pemimpin seringkali lebih didasarkan pada popularitas dan retorika, bukan irama dan harmoni kompetensi. Analogi orkestra simfoni Plato, di mana setiap pemain memainkan instrumen sesuai dengan keahlian dan peran alaminya, tampaknya mengalami disonansi dalam praktik politik saat ini.

Dalam orkestra, keindahan musik tercipta dari keselarasan antara pemain, instrumen, dan konduktor. Namun, dalam dunia politik, seringkali kita melihat individu naik ke panggung kekuasaan bukan karena keahlian mereka dalam ‘memainkan instrumen’ politik, melainkan karena mereka berhasil memikat massa dengan janji-janji manis atau karena kekuatan nama dan jaringan.

Ketika pemimpin yang tidak kompeten menduduki posisi kunci, hasilnya seringkali seperti orkestra tanpa konduktor yang ahli. Tanpa koordinasi yang efektif, masing-masing pemain bermain sesuai keinginannya, menciptakan suara yang tidak harmonis. Ini bukan hanya kegagalan individu, tetapi juga sistem yang memungkinkannya.

Dalam konteks ini, penting untuk kembali merenungkan esensi keadilan dan kepemimpinan dalam politik. Keadilan, menurut Plato, bukan hanya soal distribusi kekuasaan yang adil, tetapi juga menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat. Ini bukan hanya soal keadilan distributif, tetapi keadilan berbasis pada kebijaksanaan dan keahlian.

Maka, dalam cakrawala politik saat ini, kita perlu menggali lebih dalam lagi makna keadilan dan kepemimpinan. Bukan sekadar memilih pemimpin yang populer, tetapi lebih kepada memilih pemimpin yang benar-benar mengerti dan mampu memainkan ‘instrumen’ mereka dengan baik, untuk menciptakan harmoni dalam masyarakat. Kita memerlukan pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dan keahlian untuk mengarahkan ‘orkestra’ masyarakat menuju simfoni yang indah.

Dalam perjalanan demokrasi, kita dituntut untuk menjadi bukan hanya pendengar yang pasif, tetapi juga kritikus yang aktif, yang mampu membedakan antara musik yang harmonis dan sekadar kebisingan. Kita perlu memastikan bahwa panggung politik kita tidak hanya diisi oleh mereka yang mahir dalam permainan simbal tanpa mengerti irama, tetapi oleh mereka yang benar-benar menguasai alat musiknya, siap menciptakan simfoni keadilan yang sesungguhnya.

Dalam pandangan ini, kita diajak untuk melihat lebih jauh dari sekadar wajah dan kata-kata yang memenuhi panggung politik. Kita diajak untuk menilai, bukan hanya berdasarkan apa yang tampak dan terdengar, tetapi apa yang benar-benar ada di balik tirai – kompetensi, kebijaksanaan, dan kemampuan sejati para pemimpin kita.

Memilih pemimpin

Inilah tantangan yang kita hadapi dalam demokrasi kontemporer: mencari dan memilih pemimpin yang tidak hanya bermain musik dengan baik tetapi juga mengerti komposisi keseluruhan, yang bisa mengatur orkestra masyarakat kita dengan keterampilan dan kebijaksanaan. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menavigasi kompleksitas politik dengan keahlian, bukan hanya dengan kekuatan suara atau daya tarik mereka.

Demokrasi tidak hanya tentang memilih, tetapi juga tentang mengerti dan menghargai proses memilih itu sendiri. Seperti penonton yang cerdas dalam sebuah konser, pemilih harus bisa membedakan antara musik yang asal dibuat dan yang benar-benar berkualitas. Ini memerlukan pendidikan dan keterlibatan politik yang lebih mendalam, sebuah perjalanan yang mungkin panjang dan penuh tantangan, tetapi penting untuk masa depan demokrasi yang lebih sehat dan lebih harmonis.

Plato, dalam karyanya, mungkin telah menawarkan visi ideal, tetapi dalam realitasnya, kita harus bekerja keras untuk mendekati ideal tersebut. Ini bukan hanya soal memilih pemimpin yang tepat, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan di mana pemimpin semacam itu dapat muncul dan berkembang. Kita harus berusaha untuk menciptakan masyarakat yang memahami nilai kebijaksanaan dan keahlian, bukan hanya popularitas dan kekuatan. Hanya dengan cara itu kita dapat mengharapkan untuk mendengar simfoni demokrasi yang sejati, dimainkan oleh mereka yang benar-benar menguasai seni kepemimpinan.

Budaya Minang dan Jawa

Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya akan keberagaman budaya, menyimpan sebuah paradoks yang memikat antara dua budayanya yang paling menonjol: Minang dan Jawa. Meski berada di bawah naungan yang sama, kedua budaya ini menawarkan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi dalam memahami dunia.

Di satu sisi, budaya Minang menghidupkan ‘Logika Realisme Aristoteles’. Berakar dari pemikiran Aristoteles, realisme ini menekankan pentingnya pengamatan dan pengalaman empiris dalam memahami realitas. Ungkapan Minang, ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, mencerminkan pandangan pragmatis mereka yang kuat, di mana adaptasi dan pemahaman terhadap dunia nyata berdasarkan pengalaman langsung menjadi kunci. Masyarakat Minang menghargai pembelajaran langsung dari alam, sebagaimana tercermin dalam filosofi ‘Alam terkembang sebagai guru’. Hal ini merujuk pada pendekatan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama yang lebih berfokus pada makna luar atau tekstual dari ajaran tersebut, bukan pada interpretasi simbolis atau metaforis.

Di sisi lain, budaya Jawa membawa kita ke dunia ‘Logika Idealisme Plato’. Berasal dari pemikiran Plato, idealisme ini menganggap ide-ide abstrak dan bentuk-bentuk ideal sebagai esensi sejati realitas. Ungkapan Jawa, ‘Mikul duwur, mendem jero’ (membawa di atas, menyelam ke dalam), menggambarkan pendekatan introspektif dan esoteris mereka. Masyarakat Jawa cenderung mencari makna yang lebih dalam dan filosofis, seringkali melampaui realitas fisik, dengan menekankan pada pengetahuan batiniah atau esoteris dari ajaran agama. Hal ini memberi fokus pada aspek-aspek spiritual yang lebih dalam dan seringkali tersembunyi dalam ajaran agama. Ini adalah pendekatan yang berbeda dari interpretasi literal atau eksoteris dari budaya Minang.

Paradoks ini menjadi menarik karena kedua pendekatan tersebut sebenarnya saling melengkapi. Realisme Minang memberikan keseimbangan dengan menekankan pentingnya beradaptasi dan bertindak sesuai kondisi nyata, sementara idealisme Jawa menawarkan kedalaman pemikiran dan pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan dan alam semesta. Kedua budaya ini, dengan cara mereka yang unik, mengajarkan kita bahwa pemahaman yang lengkap tentang kehidupan memerlukan keseimbangan antara pemikiran konkret dan abstrak, antara eksoteris dan esoteris, serta antara ilmu dan amal.

Dalam konteks yang lebih luas, paradoks ini merupakan cerminan dari kekayaan dan keragaman budaya Indonesia. Setiap suku dan budaya di Indonesia memiliki cara unik dalam memandang dan menginterpretasikan dunia, yang semuanya berkontribusi pada tapestri budaya yang kaya dan kompleks. Paradoks budaya Minang dan Jawa ini bukan hanya sebuah perbedaan, melainkan sebuah harmoni yang menggambarkan keindahan dalam keragaman Indonesia.

70 tahun JCCS

Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk mendapatkan undangan menulis paper untuk edisi khusus yang merayakan 70 tahun Journal of the Chinese Chemical Society (1954 – 2024). Paper tersebut dapat diakses secara online dan juga tersedia dalam format PDF melalui tautan ini: link untuk file PDF.

This image has an empty alt attribute; its file name is Screenshot-2024-01-09-at-07.35.18-1024x816.png

Cerita absurd mengenai tata kelola riset

Cerita ini menggambarkan dilema etika keilmuan dalam situasi absurd, di mana karakter-karakternya terdorong untuk mengambil jalan pintas yang meragukan demi memenuhi tekanan output riset yang tidak realistis. Ini menyoroti bagaimana tekanan untuk publikasi dan hasil dapat menggoda individu atau institusi untuk mengorbankan integritas akademis, mengundang refleksi tentang pentingnya menjaga standar etika dalam penelitian. Kisah ini mengajarkan pentingnya integritas dan etika keilmuan sebagai pilar utama dalam menghasilkan pengetahuan yang valid dan bermanfaat, serta menegaskan konsekuensi serius dari tindakan tidak etis dalam dunia akademis dan penelitian.

Tokoh:

  • Profesor Xenon, Profesor
  • Dr. Curium, Peneliti Senior
  • Radon, Mahasiswa S3
  • Cesium, Mahasiswa S1

Lokasi: Ruang Rapat di Fakultas Antah Berantah

(Suasana ruang rapat penuh dengan tumpukan proposal dan dokumen. Profesor Xenon tampak gelisah sambil memainkan kacamata di tangannya. Dr. Curium, Radon, dan Cesium duduk mengelilingi meja oval yang besar.)

Profesor Xenon: (Menghela nafas) “Kita semua tahu, dana riset tahun ini turun di pertengahan tahun. Dan tahu-tahu, mereka ingin hasil akhir tahun ini juga! Bagaimana mungkin?“

Dr. Curium: “Saya punya ide, tapi… mungkin sedikit… ah, bagaimana ya, ‘kreatif’? Kita bisa gunakan data dari riset tahun lalu. Saya yakin masih banyak yang belum terpublikasi.“

Radon: (Terkejut) “Tapi, Dr. Curium, bukankah itu akan melanggar etika penelitian? Kita tidak bisa sembarangan mempublikasikan data lama sebagai yang baru.“

Cesium: (Dengan nada polos) “Kenapa tidak kita gunakan saja dana yang ada untuk membantu mahasiswa seperti saya? Saya dengar banyak dari kami yang kesulitan mendanai risetnya. Plus, saya dengar ada dana yang tidak terpakai tahun lalu walaupun SPJ-nya 100%.“

Profesor Xenon: (Tertawa kecil) “Cesium, Cesium… itu ide yang ‘menarik’. Kita bisa saja mengalokasikan dana tersebut untuk membantu mahasiswa. Tapi, kita harus pintar-pintar ‘menyamarkan’ proposalnya agar terlihat seperti riset baru.“

Dr. Curium: “Benar, kita bisa membuat proposal yang mirip-mirip dengan riset sebelumnya. Dengan begitu, kita bisa ‘menghemat’ waktu dan dana. Dan, tentu saja, kita akan mendapat publikasi di akhir tahun.“

Radon: “Tapi, bukankah itu akan menjadi masalah jika ada audit atau pengecekan? Kita bisa terjebak dalam masalah besar.“

Profesor Xenon: (Mengangguk serius) “Risiko memang ada, Radon. Tapi, kita di sini untuk ‘mencari solusi’. Universitas membutuhkan output. Kita harus berpikir cepat dan efisien, meskipun… yah, harus ‘kreatif’.”

Cesium: “Saya rasa saya mulai mengerti. Jadi, kita akan menggunakan data lama dan dana yang tidak terpakai dari tahun lalu, membantu mahasiswa dengan dana ‘terselubung’, dan semua ini untuk memastikan kita tetap mendapat dana tahun depan?“

Dr. Curium: “Tepat sekali, Cesium. Ini adalah tentang survival. Tentang bagaimana kita tetap relevan dan mendapat dukungan. Etika? Yah, kadang kala harus ‘dilenturkan’ demi keberlangsungan kita semua.“

Profesor Xenon: (Berdiri) “Baiklah, mari kita mulai merencanakan. Ingat, ini tetap harus rahasia. Kita bermain di zona abu-abu, tapi demi keberlangsungan riset dan pendidikan di universitas kita. Semoga langkah kita ini membawa lebih banyak kebaikan di masa depan.“

(Semua anggota rapat mulai membungkuk ke arah tumpukan dokumen, mulai merencanakan dengan ‘kreativitas’ mereka. Suasana menjadi semakin serius namun ada semangat ‘kebersamaan’ yang aneh di antara mereka.)

Akhir Dialog

(Cerita ini adalah fiksi dan hanya bertujuan untuk menggambarkan situasi absurd yang mungkin terjadi dalam pengelolaan riset di suatu tempat yang tidak ditentukan. Ini tidak mencerminkan praktik sebenarnya di institusi atau negara mana pun.)

Tak terhingga (infinity) dan maknanya tentang keikhlasan

Tulisan ini saya tulis setelah melihat film yang berjudul “A Trip to Infinity” di Netflix yang menjelaskan pendapat para pakar ternama mengenai tak terhingga (infinity) di bidang matematika, fisika partikel, dan kosmologi menelusuri keabadian dan dampaknya yang mencengangkan bagi semesta.

Dalam dunia matematika, konsep tak terhingga sering kali muncul dalam pembagian mendekati nol dan perkalian yang tidak terbatas. Namun, bagaimana jika kita menerapkan pemahaman ini ke dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks ikhlas? Mari kita jelajahi bagaimana pembagian mendekati nol dan perkalian dengan tak hingga bisa mengilustrasikan kekuatan dan nilai dari ikhlas.

Pembagian mendekati nol: Memberi tanpa batas

Dalam matematika, pembagian oleh angka yang mendekati nol menghasilkan nilai yang mendekati tak terhingga. Dalam kehidupan, ini bisa diibaratkan dengan tindakan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Bayangkan setiap kebaikan yang Anda lakukan sebagai ‘pembilang’ yang tetap, sementara ‘penyebut’ adalah harapan Anda akan balasan. Semakin Anda mengurangi harapan akan balasan (mendekati nol), semakin berharga dan signifikan tindakan tersebut. Ini seperti memberi air di gurun pasir; nilai dari setiap tetes air yang Anda bagikan menjadi sangat berharga karena kelangkaannya.

Perkalian dengan tak hingga: Pengaruh kebaikan yang tak terbatas

Perkalian tak terbatas dalam matematika menunjukkan bagaimana angka yang besar menjadi lebih besar, mendekati tak terhingga. Dalam konteks ikhlas, ini bisa diartikan sebagai efek berantai dari tindakan baik. Setiap tindakan baik yang Anda lakukan, tidak peduli seberapa kecil, bisa menginspirasi lebih banyak tindakan baik, menciptakan efek domino yang tak terbatas. Seperti mengecat dinding yang tak berujung, tindakan ikhlas Anda terus menambah keindahan dan nilai ke dunia, menciptakan warisan kebaikan yang tak terukur.

Kasus khusus (0 × ∞): Menyebarkan kebaikan dalam keterbatasan

Dalam matematika, 0 dikali tak hingga adalah bentuk tak tentu, hasilnya tidak pasti dan bisa bervariasi. Dalam kehidupan, ini bisa diartikan sebagai menyebarkan kebaikan meskipun dalam keterbatasan. Anda mungkin memiliki sedikit untuk diberikan (mendekati nol), tetapi keinginan Anda untuk memberi manfaat bisa tak terbatas. Meskipun apa yang Anda berikan mungkin tampak tidak signifikan, dampak kolektif dari tindakan kecil tersebut bisa sangat besar dan tidak terdefinisi. Ini mengingatkan kita bahwa bahkan dalam keterbatasan, kita bisa membuat perbedaan yang signifikan.

Kesimpulan: Nilai tak terhingga dari ikhlas

Mengaitkan konsep matematika dengan ikhlas membuka perspektif baru tentang bagaimana tindakan yang tampaknya kecil atau sumber daya yang terbatas bisa memiliki dampak yang luas dan tak terduga. Ikhlas dalam memberi dan bertindak melampaui batasan dan memiliki nilai yang tak terhingga dalam kehidupan kita dan orang lain. Seperti dalam matematika, di mana nilai mendekati tak terhingga membuka pemahaman baru dan lebih dalam, ikhlas dalam kehidupan membuka hati dan pikiran kita ke kemungkinan dan pengaruh yang tak terbatas. Mari kita terapkan prinsip ‘pembagian mendekati nol’ dan ‘perkalian dengan tak hingga’ dalam kehidupan kita, menyebarkan kebaikan dan ikhlas yang tak terhingga.