Debat kusir

Terkadang saya perlu menghindari debat kusir. Istilah debat kusir, yaitu istilah yang menggambarkan sebuah perdebatan yang tidak ada habisnya, sia-sia, dan tidak memiliki kesimpulan. Dalam kuliah terakhir Metodologi Penelitian kemaren, saya menekankan kepada mahasiswa untuk selalu berpikir sebagai seorang saintis, dan menghindari perdebatan yang sia-sia. Mudah-mudahan ilmu kimia yang mereka pelajari selama satu semester ini dapat mereka terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dari beberapa sumber, cerita tentang debat ini berawal dari cerita tentang perbualan antara Pak Kusir yang sedang mengendarai delman (dogcart) dan temannya. Konon, dari sinilah istilah itu berasal. Pada suatu kesempatan, Pak Kusir sedang asyik berbincang dengan temannya. Dalam percakapan itu terjadi percakapan bebas di antara mereka. Sambil mengobrol mereka mendengar kuda kentut. Begitu mendengar kudanya kentut, Pak Kusir berkata “kuda saya masuk angin”, tetapi kemudian temannya menjawab “tidak, kuda itu keluar angin”. Akhirnya terjadilah perdebatan diantara mereka. Debat ini kemudian diistilahkan dengan debat kusir, debat yang tidak ada penghujungnya, mana yang betul antara “keluar angin” dan “masuk angin”.

Nah, inilah fenomena debat kusir yang terlihat jelas di media sosial. Ambil ini sebagai hiburan jangan terlalu memikirkannya dan dibawa ke hati.

Ujaran kebencian

Ujaran kebencian merupakan istilah yang sedang trending di media massa di Indonesia. Ujaran kebencian ini merupakan emosi negatif yang bersumber dari kemarahan dan memiliki kekuatan negatif. Hal ini dapat dijelaskan dari bagan di bawah ini yang saya ambil dari penjelasan tingkat emosi oleh Dr. David R. Hawkins.

Level emosi manusia menurut Dr. David R. Hawkins.

Bias kognitif

Lima puluh bias kognitif umum yang penting diketahui, dan jika kita memahaminya, ini akan dapat membantu kita untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan yang tepat. Bias-bias ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi saya sebagai seorang dosen dan peneliti, ini juga dapat membantu saya untuk mengajarkan kepada mahasiswa bahwa bias-bias ini perlu dihindari ketika kita melakukan penelitian.

1. Kesalahan Atribusi Mendasar

Kesalahan atribusi mendasar adalah menilai orang lain berdasarkan karakter dan kepribadian mereka. Pada saat menilai diri kita sendiri, kita tidak melihatnya dari karakter dan kepribadian diri, tapi kita menyalahkan situasi. Ini adalah bias kognitif sosial dan keyakinan.

2. Bias Melayani Diri Sendiri

Bias melayani diri sendiri adalah bahwa kegagalan kita bersifat situasional, tetapi untuk keberhasilan, kita menganggap itu adalah karena kehebatan diri sendiri. Kitalah yang menyebabkan kesuksesan kita tetapi kalau gagal kita menyalahkan situasi. Ini berbasis sosial dan kepercayaan, dan terkadang juga bias kognitif berbasis uang.

3. Favoritisme dalam Grup

Bias favoritisme dalam kelompok adalah bahwa kita lebih menyukai orang-orang yang ada dalam kelompok kita daripada orang yang tidak masuk kelumpok kita. Bias ini adalah bias sosial, keyakinan, dan politik.

4. Efek Ikut-ikutan

Efek ikut-ikutan adalah bias kognitif bahwa semakin banyak orang yang mengadopsi ide, mode, dan keyakinan, semakin kita cenderung ingin mengadopsi keyakinan itu. Ini adalah bias sosial, kepercayaan, dan politik.

5. Pemikiran Kelompok

Pemikiran kelompok adalah nama contoh bias kognitif yang saya berikan di bagian bias kognitif berbasis sosial di atas. Ini adalah keinginan untuk konformitas dan harmoni dalam suatu kelompok, menyebabkan kita membuat keputusan yang tidak rasional untuk meminimalkan konflik. Pemikiran kelompok adalah bias kognitif sosial, keyakinan, dan politik.

6. Efek Halo

Efek Halo adalah bias kognitif yang ikut-ikutan terhadap pendapat orang kebanyakan. Seperti tiga bias kognitif yang baru saja kita bicarakan, ini adalah bias yang berbasis sosial, kepercayaan, dan politik.

7. Keberuntungan Moral

Keberuntungan moral adalah bias kognitif yang menghubungkan nasib baik dengan nilai moral yang lebih tinggi dan nasib buruk dengan nilai moral yang lebih rendah. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, politik, dan memori.

8. Konsensus Palsu

Konsensus yang salah adalah bias kognitif dimana kita mengikuti konsensus berdasarkan jumlah orang yang setuju padahal hal tersebut tidak benar. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, dan politik.

9. Kutukan Pengetahuan

Kutukan pengetahuan adalah bias kognitif bahwa begitu kita mengetahui sesuatu, kita juga mengira semua orang juga mengetahuinya. Ini adalah bias kognitif berbasis keyakinan, sosial, politik, pembelajaran, dan memori.

10. Efek Sorotan

Efek sorotan adalah bias kognitif bahwa kita melebih-lebihkan bahwa banyak orang yang memperhatikan kita, padahal tidak. Mereka tidak memikirkan kita. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial dan memori.

11. Heuristik Ketersediaan

Bias kognitif heuristik ketersediaan mengacu pada kecenderungan kita untuk mengandalkan contoh langsung yang muncul dalam pikiran ketika membuat penilaian. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, sosial, memori, politik, dan keyakinan.

12. Atribusi Defensif

Bias kognitif atribusi defensif adalah salah satu yang dimaksudkan untuk membuat kita tetap aman. Sebagai saksi dari suatu kecelakaan atau situasi, kita akan menyalahkan orang yang kurang kita hubungkan dalam situasi tersebut daripada yang lebih banyak kita hubungkan. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, memori, dan politik.

13. Hipotesis Dunia yang Adil

Hipotesis dunia yang adil atau kekeliruan dunia yang adil adalah bias kognitif yang mengasumsikan bahwa “orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan” – bahwa tindakan akan memiliki konsekuensi yang adil dan sesuai secara moral bagi pelaku. Misalnya, asumsi bahwa tindakan mulia pada akhirnya akan dihargai dan tindakan jahat pada akhirnya akan dihukum termasuk dalam hipotesis ini. Ini adalah bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

14. Realisme Naif

Realisme naif adalah bias kognitif yang kita yakini bahwa kita mengamati realitas objektif sementara orang lain tidak rasional, kurang informasi, atau bias. Pada kenyataannya, kita semua tidak rasional, bisa lebih banyak informasi, dan agak bias. Ini adalah bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

15. Sinisme Naif

Sinisme Naif, seperti realisme naif, didasarkan pada gagasan bahwa kita mengamati realitas objektif sementara yang lain tidak. Perbedaannya adalah bahwa dalam hal ini kami percaya itu karena orang lain memiliki bias egosentris yang lebih tinggi daripada yang sebenarnya mereka lakukan dalam niat dan tindakan mereka. Ini juga merupakan bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

16. Efek Forer (atau Barnum)

Efek Barnum, juga disebut efek Forer atau, lebih jarang, efek Barnum-Forer, adalah fenomena psikologis umum di mana individu memberikan peringkat akurasi tinggi untuk deskripsi kepribadian mereka yang seharusnya dirancang khusus untuk mereka, namun sebenarnya tidak jelas. Efek ini dapat memberikan penjelasan parsial untuk penerimaan luas dari beberapa kepercayaan dan praktik paranormal, seperti astrologi, meramal, membaca aura, dan beberapa jenis tes kepribadian. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan keyakinan. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan keyakinan.

17. Efek Dunning-Kruger

Efek Dunning-Kruger mengacu pada menjadi lebih percaya diri tentang mata pelajaran yang kita ketahui sedikit dan menjadi kurang percaya diri tentang mata pelajaran yang kita ketahui banyak (sampai titik pengetahuan tertentu di mana kita menjadi lebih percaya diri lagi). Ini didasarkan pada enam jenis sumber bias kognitif: kepercayaan, ingatan, pembelajaran, politik, uang, dan sosial.

18. Penambatan

Penambatan adalah bias kognitif yang sangat kita andalkan pada informasi pertama yang diperkenalkan saat membuat keputusan. Ini adalah bias kognitif berdasarkan pembelajaran, kepercayaan, sosial, dan memori.

19. Bias Otomatisasi

Bias otomatisasi adalah bias kognitif yang relatif baru. Ini mengacu pada kecenderungan kita untuk terlalu mengandalkan sistem otomatis, terkadang mempercayai koreksi otomatis atas keputusan yang sudah benar. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, memori, dan keyakinan.

20. Google Effect atau Digital Amnesia

Efek Google atau Amnesia Digital adalah bias kognitif baru-baru ini. Ini mengacu pada kecenderungan kita untuk dengan mudah melupakan informasi yang mudah diakses. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, memori, dan keyakinan.

21. Reaktansi

Reaktansi adalah kecenderungan untuk melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan kepada kita, terutama ketika kita merasakan ancaman terhadap kebebasan pribadi kita. Ini adalah keyakinan berbasis politik, sosial, dan bias kognitif.

22. Bias Konfirmasi

Bias konfirmasi adalah bias kognitif yang membuat kita lebih mungkin menemukan dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah kita pegang. Ini adalah pembelajaran, memori, keyakinan, dan bias kognitif berbasis politik.

23. Efek Bumerang

Efek bumerang mengacu pada bukti penyangkalan yang benar-benar memperkuat keyakinan kita pada sesuatu. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

24. Efek Orang Ketiga

Efek orang ketiga mengacu pada keyakinan bahwa orang lain lebih terpengaruh oleh media massa daripada kita. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, sosial, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

25. Bias Keyakinan

Bias keyakinan menilai argumen dengan seberapa masuk akal kesimpulannya menurut kita, bukan seberapa kuat argumen itu sebenarnya mendukungnya dalam pikiran kita. Ini adalah keyakinan, pembelajaran, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

26. Kaskade Ketersediaan

Kaskade ketersediaan mengacu pada keyakinan kolektif yang mendapatkan lebih banyak masuk akal karena pengulangan publik. Ini menyiratkan semua enam jenis bias kognitif: kepercayaan, ingatan, pembelajaran, politik, uang, dan sosial.

27. Deklinisme

Deklinisme mengacu pada kecenderungan untuk meromantisasi masa lalu dan memandang masa depan secara negatif, percaya bahwa segala sesuatunya pada umumnya menurun. Ini adalah memori, keyakinan, sosial, dan bias kognitif berbasis politik.

28. Status Quo Bias

Bias status quo mengacu pada kecenderungan kita untuk menginginkan segala sesuatunya tetap sama, menganggap perubahan dari baseline menjadi kerugian baik itu benar-benar terjadi atau tidak. Ini bisa menjadi alasan mengapa beberapa orang begitu takut untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Bias kognitif ini berakar pada enam jenis: memori, pembelajaran, kepercayaan, sosial, politik, dan uang.

29. Kekeliruan Biaya Tenggelam atau Eskalasi Komitmen

Penelitian biaya tenggelam mengacu pada kecenderungan untuk berinvestasi lebih banyak dalam sesuatu yang telah merugikan kita daripada mengubah investasi kita bahkan jika kita menghadapi konsekuensi negatif. Ini adalah memori berbasis sosial, keyakinan, dan bias kognitif.

30. Kekeliruan Penjudi

Kekeliruan penjudi adalah asumsi bahwa kemungkinan masa depan dipengaruhi oleh peristiwa masa lalu. Ini bukan untuk mengatakan bahwa tidak ada di masa depan yang dipengaruhi oleh apa pun dari masa lalu. Hanya saja tidak semuanya terikat bersama seperti yang Anda pikirkan. Ini adalah bias kognitif berbasis memori, sosial, dan keyakinan.

31. Bias Tanpa Risiko

Bias risiko nol adalah kecenderungan keinginan untuk mengurangi hal-hal berisiko kecil menjadi nol risiko bahkan ketika ada opsi lain yang mengurangi risiko keseluruhan lebih banyak. Ini adalah keyakinan, sosial, dan bias kognitif berbasis politik.

32. Efek Pembingkaian

Efek pembingkaian adalah kecenderungan untuk menafsirkan informasi yang sama dengan cara yang berbeda berdasarkan bagaimana informasi itu dibingkai. Ini adalah pembelajaran, memori, sosial, keyakinan, dan bias kognitif berbasis politik.

33. Stereotip

Stereotip adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung mengadopsi keyakinan tentang anggota suatu kelompok karena keanggotaan mereka pada kelompok itu tanpa sepengetahuan individu tersebut. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori, kepercayaan, pembelajaran, sosialisasi, dan politik.

34. Bias Homogenitas di Luar Grup

Bias homogenitas luar group adalah kecenderungan untuk percaya bahwa luar group kita kurang lebih homogen sedangkan dalam group kita lebih beragam. Ini menyiratkan semua enam jenis bias kognitif: sosial, kepercayaan, politik, pembelajaran, memori, dan uang.

35. Otoritas Bias

Bias otoritas adalah kecenderungan untuk percaya dan lebih dipengaruhi oleh pendapat figur otoritas. Bias kognitif ini adalah bias kognitif berbasis sosial, keyakinan, pembelajaran, dan politik.

36. Efek plasebo

Efek plasebo adalah zat atau pengobatan palsu yang dirancang untuk tidak memiliki nilai terapeutik yang diketahui. Plasebo yang umum termasuk tablet inert (seperti pil gula), suntikan inert (seperti saline), dan operasi palsu. Ini diduga merupakan memori, keyakinan, dan bias kognitif berbasis sosial.

37. Bias Kelangsungan Hidup

Bias kelangsungan hidup adalah kecenderungan untuk fokus pada mereka yang selamat dari suatu proses dan mengabaikan mereka yang gagal. Ini adalah keyakinan, sosial, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis politik.

38. Takipsikia

Takipsikia adalah kecenderungan persepsi kita tentang waktu untuk berubah tergantung pada trauma, penggunaan narkoba, dan aktivitas fisik. Seperti efek plasebo, saya tidak yakin ini bias kognitif. Ini seharusnya merupakan bias kognitif berbasis memori, pembelajaran, dan keyakinan.

39. Hukum Sepele

Hukum sepele adalah kecenderungan kita untuk memberikan bobot yang tidak proporsional pada masalah sepele sambil menghindari masalah yang lebih besar dan lebih kompleks. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis politik.

40. Efek Zeigarnik

Efek Zeigarnik adalah kecenderungan untuk mengingat tugas yang belum selesai lebih dari yang selesai. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori dan pembelajaran.

41. Efek IKEA

Efek IKEA adalah kecenderungan untuk menempatkan nilai yang lebih tinggi pada hal-hal yang kita sendiri memiliki andil dalam menciptakannya. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, dan bias kognitif berbasis sosial.

42. Efek Ben Franklin

Efek Ben Franklin sebenarnya bukan tentang mendapatkan uang Rp 1.000.000. Ini adalah gagasan bahwa kita lebih cenderung melakukan kebaikan untuk seseorang yang telah kita bantu. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, pembelajaran, dan politik.

43. Efek Pengamat

Efek pengamat adalah fenomena semakin banyak orang di sekitar kita, semakin kecil kemungkinan kita untuk membantu korban. Itu berasal dari gagasan bahwa orang lain akan membantu, jadi itu bukan tanggung jawab kami. Ini adalah bias kognitif berbasis keyakinan dan pembelajaran.

44. Sugestibilitas

Sugestibilitas mengacu pada kecenderungan untuk salah mengira ide yang disarankan oleh penanya sebagai ingatan. Ini biasanya berasal dari apa yang disebut pengacara sebagai “pertanyaan yang dimuat”. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis sosial.

45. Memori Palsu

Ingatan palsu adalah kecenderungan untuk salah mengira imajinasi sebagai ingatan nyata. Ini adalah bias kognitif berbasis memori, keyakinan, dan pembelajaran.

46. Kriptomnesia

Kriptomnesia adalah kebalikan dari memori palsu. Saat itulah kita salah mengira ingatan sebagai imajinasi. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori, pembelajaran, dan sosialisasi.

47. Ilusi Pengelompokan

Ilusi pengelompokan adalah kecenderungan untuk mengelompokkan atau menemukan pola dalam data acak. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan keyakinan.

48. Bias pesimisme

Pesimisme adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan hasil yang buruk. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan pembelajaran.

49. Optimisme bias

Optimisme bias adalah kecenderungan untuk terlalu optimis tentang hasil. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan pembelajaran.

50. Bias Titik Buta

Bias titik buta mengacu pada kecenderungan kita untuk berpikir bahwa orang lain lebih berpikir dan bertidak secara bias daripada kita. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis sosial.

Rujukan: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_cognitive_biases

Foto hari raya

Walaupun hujan lebat dan ramai yang sudah pulang kampung, kami staf Institut Ibnu Sina UTM masih menyempatkan diri berfoto bersama untuk menyambut hari raya.

Dosen kimia UTM

Ini adalah dosen kimia Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk foto menyambut hari raya Idul Fitri. Banyak dosen muda dan saya satu-satunya profesor dalam foto ini. Setelah berhenti dari UTM pada bulan Mei 2002 ini dan pindah ke Universitas Negeri Malang (UM), saya berharap akan ada profesor baru di Departemen Kimia UTM. Waktu berlalu dengan cepat, tidak sadar saya telah meninggalkan Indonesia sejak tahun 1995.

Kartu dosen UTM

Kartu pengenal saya sebagai dosen di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) telah berumur 11 tahun 6 bulan, ketika saya diangkat menjadi profesor di UTM pada tahun 2010. Kartu ini diperlukan untuk akses ke perpustakaan di UTM dan selalu disimpan di dompet saya — sampai terlihat lusuh.

Berpikir kritiskah kita?

Dengan teknologi informasi, manusia mudah sekali terhubung. Oleh karena itu, berpikir kritis sangat diperlukan untuk selalu menjaga supaya keputusan dan tindakan yang diambil berdasarkan pertimbangan yang bijaksana. Di bawah ini adalah tulisan yang menarik yang ambil dari postingan seorang teman di Facebook yang tulisan aslinya dalam bahasa Inggris.

Semua orang berpikir namun banyak pemikir kritis sebenarnya melakukan pemikiran kritis yang semu. Berpikir kritis dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memecahkan masalah, dan dapat mencegah kita tertipu atau dirugikan. Di bawah ini ada beberapa prinsip berpikir kritis.

  • Menyadari bahwa pemikiran cacat dan rentan terhadap kesalahan. Menyadari bahwa persepsi mungkin tidak akurat dan ingatan tidak sempurna. Memahami bahwa otak mengambil jalan pintas untuk membuat keputusan yang cepat dan mudah, yang berpotensi pada pemikiran yang bias.
  • Memikirkan bagaimana berpikir. Bertanya pada diri sendiri bagaimana mencari kebenaran dan menyadari bias dari apa yang ketahui. Menghindari penalaran yang melibatkan emosi dan intuisi. Mengaktifkan pemikiran tingkat tinggi yang prosesnya lebih lambat.
  • Keingintahuan dan belajar yang tinggi membuat bertanya. Terbuka terhadap jawaban, meskipun hal tersebut tidak ingin dengar.
  • Memisahkan identitas dari keyakinan. Menyadari bahwa sulit untuk menolak keyakinan yang dimiliki. Berusaha percaya pada hal-hal yang benar, dan tidak percaya pada hal-hal yang tidak benar, bahkan juga terhadap hal yang membuat tidak nyaman.
  • Menerima kritik dari orang lain. Menyadari bahwa argumen adalah proses kolaboratif untuk mencari kebenaran, dan mampu mengevaluasi dari sudut pandang lain secara adil.
  • Menggunakan bukti untuk sampai pada kesimpulan. Tahu bahwa klaim luar biasa memerlukan bukti yang juga luar biasa, dan klaim tanpa bukti perlu ditolak.
  • Menghindari pemikiran hitam-putih dan menyadari bahwa dunia ini kompleks. Menjadikan masalah menjadi dua ekstrem akan mempersulit memahami masalah dan menemukan solusi.
  • Rendah hati. Jujur ​​pada diri sendiri tentang apa yang diketahui dan tidak ketahui, dan menghindari terlalu percaya diri. Menyadari bahwa mungkin salah. Menghargai pendapat orang lain.

Berpikir kritis adalah sebuah perjalanan. Tetapi dunia ini penuh dengan informasi yang salah dan bias.

Rujukan: https://en.wikipedia.org/wiki/Critical_thinking

Profesor Adjung UTM

Setelah berhenti sebagai profesor di UTM pada 31 Mei 2022 dan pindah ke Universitas Negeri Malang (UM) pada 1 Juni 2022, saya masih terhubung dengan institusi yang telah membesarkan saya. Saya akan resmi menjadi Profesor Adjung di UTM mulai 1 Juni 2022.

Bangunan Institut Ibnu Sina

Satu persatu tugas saya sebagai Direktur Lembaga dan Pusat Penelitian selama lebih dari 7 tahun di UTM selesai. Hari ini, kontraktor melalui Jabatan Harta Bina UTM menyerahkan kembali bangunan yang telah direnovasi kepada pihak institut. Semoga fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh 6 Pusat Penelitian di bawah Institut Ibnu Sina. Semoga membawa kebaikan dan berkah untuk semua.