Catatan Kenangan untuk Sahabatku, Epo (Ira Nevasa)

Terkejut mendengar berita ini grup WhatsApp: Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang Ira Nevasa pagi ini di RS Medistra Jakarta (pada jam 5 pagi tanggal 6 September 2025). Mohon dibukakan pintu maaf.

Saya mengenal Ira Nevasa, yang akrab kami panggil Epo, sejak masa kecil. Kami sama-sama bersekolah di TK Labor IKIP Padang (1974-1976), SD PPSP IKIP Padang (1976–1981) dan kemudian di SMA Negeri 3 Padang (1984-1987). Kenangan masa SMA begitu jelas di ingatan saya. Di kelas dua dan tiga kami sekelas, lalu sama-sama melanjutkan kuliah di ITB. Saya masuk jurusan Kimia, sementara Epo memilih Teknik Elektro. Pada wisuda Oktober 1992, kami kembali berdiri bersama, berfoto setelah acara yang penuh rasa bangga itu.

Kedekatan kami bukan hanya karena sekolah dan kuliah, tetapi juga karena kebetulan keluarga ayah kami berasal dari Payakumbuh. Ayah saya dan ayah Epo saling mengenal, membuat hubungan kami terasa lebih dekat.

Epo sejak SMA sudah dikenal sebagai siswa yang cerdas. Kemampuan matematikanya luar biasa, terbukti dari pencapaian nilai EBTANAS tertinggi di Sumatera Barat. Sayangnya, ia tidak lolos lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Namun, dengan keyakinan yang tinggi, ia mendaftar SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di ITB dengan satu pilihan saja: Teknik Elektro. Tidak ada pilihan kedua. Sebegitu besar kepercayaan dirinya. Dan benar saja, ia diterima. Kami berdua termasuk dari lima orang yang berhasil lolos ke ITB dari angkatan kami.

Saat kuliah, kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tetapi kenangan kecil tetap hidup. Saya ingat suatu kali saat melanjutkan S2 di ITB, saya bertemu Epo di atas kereta api. Ia menggunakan seragam PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api, sekarang bernama KAI – Kereta Api Indonesia). Dari sanalah saya menyadari bahwa Epo meniti kariernya di dunia perkeretaapian.

Perjalanan kariernya memang mulus. Ia pernah menjabat di berbagai posisi strategis di PT Kereta Api Indonesia, mulai dari Deputy EVP Daop 4 Semarang, VP Signal and Telecommunication, VP Infrastructure Assets, hingga akhirnya menjadi Vice President Human Resources Development sampai pensiun tahun 2025. Dari Padang, Cirebon, Semarang, Bandung, jejak langkahnya selalu meninggalkan prestasi.

Saya kembali bertemu Epo saat reuni angkatan 1987 ITB di Bandung, Januari 2018, dan terakhir Epo mengunjungi saya di Malang, Januari 2023, sesudah saya kembali dari Malaysia setelah merantau selama 27 tahun. Saat itu saya tahu Epo sedang berjuang dengan penyakit diabetes. Namun, ia sangat telaten menjaga diri, disiplin mengatur makanan, dan paham betul bagaimana menghadapi penyakitnya.

Yang membuat saya selalu kagum adalah daya ingat Epo. Ia bisa mengingat detail-detail kecil tentang teman-temannya, termasuk hal-hal tentang diri saya yang bahkan saya sendiri sudah lupa. Memori fotografisnya membuat ia menjadi pribadi yang perhatian dan hangat.

Hari ini, Epo telah pergi mendahului kita semua. Namun kenangan bersamanya tetap hidup, tentang kecerdasannya, ketelitiannya, kebaikan hatinya, dan persahabatan yang tulus.

Selamat jalan, Epo.
Engkau akan selalu dikenang sebagai sahabat yang luar biasa.

Hadi Nur (6 September 2025, Malang)

Mengenang Pembimbing Skripsi Saya, Dr. Harjoto Djojosubroto

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Pada 18 Agustus 2025 saya menerima kabar duka melalui WhatsApp:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allohummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara kita purnabakti BATAN Bandung, Bapak Harjoto Djojosubroto, pada hari Senin, 18 Agustus 2025, pukul 05:18 WIB. Semoga Almarhum diterima iman Islamnya, ditempatkan dalam kenikmatan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.

Saya mengenang beliau bukan hanya sebagai pembimbing skripsi saya, tetapi juga sebagai dosen yang membekas dalam perjalanan akademik saya. Ketertarikan saya untuk memilih penelitian tugas akhir di bawah bimbingan beliau berawal dari ketertarikan saya pada mata kuliah Kimia Inti dan Radiasi yang beliau ajarkan. Dari mata kuliah itu, saya melihat sosok beliau sebagai seorang saintis yang jujur, tegas, dan sederhana.

Saya masih teringat jelas, saat ujian mata kuliah tersebut dilaksanakan di Gedung Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB. Saya menjadi mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan ujian, keluar ruangan lebih dulu, dan akhirnya mendapat nilai A. Kenangan itu melekat kuat, karena memperlihatkan betapa beliau mampu membuat ilmu yang sulit sekalipun terasa logis dan menantang untuk saya dalami.

Pada waktu skripsi, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Teknologi Nuklir (PPTN) BATAN Bandung. Saya diberi kesempatan melakukan penelitian di kawasan nuklir Bandung, yang memiliki reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 250 kW (diresmikan 1965 dan ditingkatkan menjadi 2 MW pada tahun 2000). Beliau dengan penuh kepercayaan memberi izin bagi saya untuk mengiradiasi sampel berupa serum darah manusia langsung di reaktor. Itu pengalaman yang amat berharga yang membuka wawasan riset saya di kemudian hari.

Saya juga masih mengingat pesan beliau ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Dengan nada bercanda tetapi penuh makna, beliau berkata: “Yang penting lanjut sampai S3, menjadi doktor sastra juga nggak apa-apa.”

Pesan sederhana itu mendorong saya untuk tidak berhenti belajar. Kini saya menyadari betapa kalimat itu adalah dorongan moral seorang pembimbing kepada mahasiswanya.

Setelah lulus S2 di ITB tahun 1995, saya tidak pernah lagi bertemu beliau secara langsung. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau adalah melalui SMS pada bulan Oktober 2012. Setelah itu, komunikasi kami terputus, hingga saya mendengar kabar duka ini.

Selamat jalan, Pak Harjoto. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keteladanan yang Bapak wariskan. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah Bapak, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

Diterpa Penolakan, Ditempa Kesadaran

Ia tidak menyangka, pintu yang dulu begitu akrab kini tertutup rapat di hadapannya. Sebuah lamaran, sederhana dan penuh harap, tak berbalas sebagaimana ia kira. Penolakan itu datang dari tempat yang pernah ia sebut rumah, tempat ia menanam waktu, tenaga, dan keyakinan bertahun-tahun. Tapi rumah itu kini menjelma jadi ruang asing, sunyi, bahkan getir.

Barangkali memang di sanalah titik lentingnya. Dari sebuah pintu yang tertutup, seseorang belajar mendengar suara yang datang dari dalam dirinya sendiri. Ia, yang selama ini tegak berdiri di atas pijakan pengakuan luar, kini goyah. Tapi justru di kegoyahan itu, ia mulai mengenal kembali apa yang selama ini nyaris ia tinggalkan: dirinya sendiri.

Mungkin ada saat di mana prestasi, jabatan, dan status tak lagi cukup menjelaskan siapa kita sebenarnya. Di titik itu, manusia menghadapi dirinya, tak sebagai pemilik titel, tapi sebagai jiwa yang telanjang dari simbol. Dan dari titik itulah ia mulai berjalan, bukan untuk mengulang prestasi, tapi untuk memahami makna keberadaan tanpa perlu pembuktian.

Ia mulai membaca ulang hidupnya, tak sebagai narasi karier, tapi sebagai perjalanan kesadaran. Dari luar yang menolak, ia masuk ke dalam yang menerima. Dalam diam, dalam kecewa yang tak dijelaskan kepada siapa pun, ia mulai belajar mendengar. Suara yang lirih tapi jujur. Bahwa nilai bukanlah hadiah dari luar, tapi cahaya yang dinyalakan dari dalam.

Dan seperti banyak cerita lain yang tak ditulis dengan gegap gempita, kisah ini berakhir bukan dengan jabatan yang diraih, tapi dengan pemahaman yang ditemukan. Tapi ia jadi lebih tahu siapa dirinya. Barangkali, dalam dunia yang gaduh dengan pencapaian, itu adalah capaian yang paling sunyi, tapi paling jernih.

Saya yang Pulang

Dalam hidup, barangkali yang paling sulit bukanlah memilih untuk pergi, melainkan memutuskan kapan untuk kembali. Kisah hijrah, perjalanan saya pulang, bukan sekadar catatan perjalanan akademik, melainkan semacam perenungan batin tentang akar, identitas, dan tanggung jawab. Saya menulis bukan sebagai seseorang yang hendak mengumumkan pencapaiannya, melainkan sebagai manusia yang tengah mencari makna dari waktu yang berlalu dan tanah yang ia tinggalkan.

Hijrah, dalam kisah ini, bukan sekadar peristiwa geografis. Ia adalah peristiwa neurologis. Otak sosial manusia yang tertanam dalam evolusi kita sebagai makhluk yang saling tergantung tak pernah benar-benar bisa memutus relasi dengan tempat asalnya. Dalam perantauan, ia menyerap nilai, kebiasaan, bahkan logika berpikir yang baru. Namun ada suara kecil yang terus bertanya: siapa aku, dan kepada siapa aku akan kembali?

Barangkali itulah mengapa kepulangan terasa lebih rumit dari keberangkatan. Sebab ketika kembali, yang kita temui bukan hanya kampung halaman yang berubah, melainkan diri kita sendiri yang sudah tak sama. Bahasa ibu terasa asing, wajah-wajah akrab telah menjadi formal, dan kehangatan masa lalu tergantikan oleh formalitas sistem. Namun kepulangan, dalam kisah ini, bukan didorong oleh nostalgia, melainkan oleh keyakinan bahwa tanggung jawab terhadap negeri sendiri bukanlah pilihan, tetapi panggilan.

Ada keberanian di balik keputusan itu. Bukan hanya keberanian untuk berhadapan dengan sistem yang kaku, tetapi juga keberanian untuk percaya bahwa kerja senyap akan melahirkan perubahan. Di sini, peran otak sosial mencapai bentuk tertingginya. Bukan sekadar menjadi bagian dari komunitas, tetapi menjadi katalis bagi perbaikan yang mungkin tidak langsung terlihat. Ia memilih untuk membaur, bukan demi kenyamanan, tapi demi pengaruh yang pelan namun pasti.

Dan seperti semua kisah pulang yang besar, bukan sambutan yang ditunggu, tapi ruang untuk bertindak. Sebab yang paling penting bukan siapa yang menyambut, tapi apa yang bisa dilakukan setelah pintu terbuka.

Mad Man Moon (Genesis – 1976)

Verse 1:

  • “Was it summer when the river ran dry / Or was it just another dam?”: Apakah semangat belajar dan idealisme mengering secara alami seiring berjalannya waktu (“musim panas”), ataukah karena intervensi sistem yang salah (“bendungan”) seperti kurikulum yang tidak relevan atau kebijakan yang membingungkan?
  • “When the evil of a snowflake in June / Could still be a source of relief”: Ketika masalah kecil yang tidak seharusnya ada (“jahatnya kepingan salju di bulan Juni”) justru terasa melegakan di tengah sistem yang lebih besar dan bermasalah. Misalnya, sedikit kebebasan dalam tugas terasa menyenangkan di tengah kurikulum yang kaku.
  • “Oh, how I love you, I once cried long ago / But I was the one who decided to go”: Dahulu ada cinta dan harapan terhadap pendidikan, tetapi akhirnya individu memilih untuk “pergi” secara mental atau bahkan fisik (putus sekolah, apatis) karena kekecewaan terhadap sistem.
  • “To search beyond the final crest / Though I’d heard it said just birds could dwell so high”: Keinginan untuk mencari ilmu dan potensi diri melampaui batasan yang ditetapkan sistem (“puncak terakhir”), meskipun ada anggapan bahwa hanya “orang-orang tertentu” (mungkin yang memiliki privilese atau kecocokan dengan sistem) yang bisa meraih kesuksesan tinggi.

Verse 2:

  • “So I pretended to have wings for my arms / And took off in the air”: Upaya siswa untuk berinovasi dan belajar dengan cara mereka sendiri (“berpura-pura memiliki sayap”) di tengah keterbatasan sistem.
  • “I flew to places which the clouds never see / Too close to the deserts of sand”: Mencari pengetahuan dan pemahaman di luar apa yang diajarkan secara formal (“tempat yang tak terlihat awan”), namun justru terperangkap dalam “gurun pasir” sistem yang kering akan inspirasi dan relevansi.
  • “Where a thousand mirages, the shepherds of lies / Forced me to land and take a disguise”: Janji-janji palsu tentang masa depan cerah setelah lulus (“seribu fatamorgana,” “gembala kebohongan”) memaksa siswa untuk menyesuaikan diri (“mendarat dan mengambil penyamaran”) dengan harapan palsu sistem.
  • “I would welcome a horses kick to send me back / If I could find a horse not made of sand”: Keputusasaan mencapai titik di mana siswa lebih memilih kejujuran yang menyakitkan (“tendangan kuda”) daripada terus terperangkap dalam ilusi sistem yang tidak nyata (“kuda yang terbuat dari pasir”).

Chorus:

  • “If this desert’s all there’ll ever be / Then tell me what becomes of me”: Jika sistem pendidikan yang kering dan tidak memberdayakan ini adalah satu-satunya yang ada, bagaimana nasib individu?
  • “A fall of rain? / That must have been another of your dreams / A dream of mad man moon”: Harapan akan perubahan positif dan sistem yang lebih baik (“hujan”) dianggap sebagai ilusi belaka (“mimpi”) dari seseorang yang dianggap idealis atau tidak realistis (“mad man moon”).

Instrumental Break:

  • Memberikan waktu untuk merenungkan kekosongan dan frustrasi dalam sistem.

Bridge:

  • “Hey man, I’m the sand man / And, boy, have I news for you”: Munculnya personifikasi “sand man” sebagai representasi sistem yang korup dan tidak peduli.
  • “They’re gonna throw you in jail and you know they can’t fail / ‘Cause sand is thicker than blood”: Sistem akan “memenjarakan” (membatasi potensi dan kebebasan) individu, dan mereka pasti berhasil karena kekuasaan sistem (“pasir”) lebih kuat dari ikatan kemanusiaan atau potensi individu (“darah”).
  • “But a prison in sand is a haven in Hell / For a jail can give you a goal”: Ironisnya, keterbatasan sistem (“penjara di pasir”) justru memberikan “tujuan” bagi sebagian orang, mungkin sekadar bertahan atau lulus.
  • “And a goal can find you a role on the muddy pitch in Newcastle / Where it rains so much you can’t wait for a touch / Of sun and sand”: Tujuan tersebut mungkin mengarahkan individu ke lingkungan yang sama-sama sulit (“lapangan berlumpur di Newcastle”), di mana mereka justru merindukan elemen yang hilang dari sistem sebelumnya (“sentuhan matahari dan pasir” – kejelasan, inspirasi).

Verse 3:

  • “Within the valley of shadowless death / They pray for thunderclouds and rain”: Dalam lingkungan pendidikan yang tanpa harapan dan tanpa perkembangan (“lembah kematian tanpa bayangan”), siswa dan pendidik berharap akan perubahan besar (“awan badai dan hujan”).
  • “But to the multitude who stand in the rain / Heaven is where the sun shines”: Namun, bagi mereka yang merasakan dampak buruk dari sistem yang kacau (ibarat berdiri di bawah hujan kebijakan yang buruk), “surga” adalah sistem yang adil dan memberikan pencerahan (“matahari bersinar”).
  • “The grass will be greener till the stems turn to brown / And thoughts will fly higher till the Earth brings them down”: Inisiatif dan ide-ide segar dalam pendidikan (“rumput yang lebih hijau,” “pikiran yang terbang tinggi”) pada akhirnya akan layu dan dibatasi oleh realitas sistem yang mengekang (“Bumi menurunkannya”).
  • “Forever caught in desert lands / One has to learn to disbelieve the sea”: Terjebak selamanya dalam sistem pendidikan yang tandus, individu harus belajar untuk tidak mempercayai janji-janji indah atau harapan palsu (“laut”) yang ditawarkan sistem.

Dari perspektif ini, “Mad Man Moon” menjadi alegori yang kuat tentang perjuangan individu dalam sistem pendidikan yang rusak, hilangnya harapan, dan penerimaan yang pahit terhadap keterbatasan yang ada. Liriknya menggambarkan siklus harapan yang pupus, janji-janji kosong, dan keinginan untuk menemukan makna di tengah kekeringan intelektual dan spiritual.

Kampus berdampak

Pergantian slogan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, dari Kampus Merdeka ke Kampus Berdampak, jangan hanya retorika. Pengalaman sebagai dosen menunjukkan bahwa slogan apapun akan hampa jika kita gagal memanusiakan dosen dan mahasiswa. Pendidikan tinggi yang sesungguhnya adalah tentang memanusiakan dan mencerdaskan.

Many too many (Genesis – 1978)

  • “Many too many have stood where I stand / Many more will stand here too”: Anda mungkin merasa bahwa banyak orang lain juga mengalami kekecewaan serupa setelah pindah ke tempat kerja baru. Ini bukan pengalaman yang unik.
  • “The thing what I find strange is the way you built me up / Then knocked me down again”: Sebelum Anda pindah, mungkin ada janji-janji, presentasi yang menarik, atau ekspektasi positif yang dibangun oleh tempat baru tersebut. Namun, kenyataan setelah Anda tiba dan mulai bekerja ternyata jauh berbeda dan mengecewakan.
  • “The part was fun but now it’s over / Why can’t I just leave the stage?”: Mungkin ada aspek-aspek tertentu di awal yang terasa baik atau menjanjikan, tetapi seiring berjalannya waktu, kekecewaan semakin mendalam. Anda mungkin merasa ingin keluar dari situasi ini (“leave the stage”) tetapi terhalang oleh berbagai faktor.
  • “Maybe that’s because you securely locked me up / Then threw away the key”: Anda mungkin merasa “terperangkap” dalam situasi ini. Janji-janji awal atau komitmen yang Anda buat mungkin terasa seperti “kunci” yang hilang, membuat Anda sulit untuk pergi atau mencari alternatif lain.
  • “Oh, mama, please would you find the key / Oh, pretty mama, please won’t you let me go free” / “Oh, mama, please help me find our way / Oh, pretty mama, please lead me through the next day”: Seruan kepada “mama” bisa diartikan sebagai kerinduan akan dukungan, bimbingan, atau solusi dari seseorang yang Anda percayai untuk membantu Anda keluar dari situasi yang tidak memuaskan ini dan menemukan jalan ke depan.
  • “I thought I was lucky, I thought that I’d got it made / How could I be so blind?”: Anda mungkin awalnya merasa beruntung mendapatkan pekerjaan ini dan pindah ke tempat baru. Namun, pengalaman yang mengecewakan membuat Anda bertanya-tanya bagaimana Anda bisa begitu tidak menyadari potensi masalah atau idealis terhadap situasi tersebut.
  • “You said goodbye on a corner / That I thought led to the straight / You set me on a firmly laid and simple course / And then removed the road”: Mungkin ada harapan atau jalur karir yang dijanjikan yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Anda merasa seperti diberi arah yang jelas, tetapi kemudian arah tersebut tiba-tiba menghilang.  

Lagu ini menangkap kekecewaan, kebingungan, dan rasa terjebak yang mungkin Anda alami setelah menyadari bahwa ekspektasi Anda terhadap tempat Anda bekerja tidak sesuai dengan kenyataan. Lirik ini bisa menjadi cara yang puitis untuk mengungkapkan kekecewaan dan refleksi Anda terhadap situasi tersebut.

Cerita Bapak mencari tukang cukur

Pada suatu pagi, pada tanggal 26 Juni 2024, Hamdi Nur atau panggilannya Uda Andi, kakak saya, mengingat kejadian kemarin di grup WhatsApp keluarga. Beliau bercerita mengenai bapak yang sekarang berumur 93 tahun berjalan sendirian keluar rumah untuk mencukur rambut. “Kemaren bapak tidak ada di rumah jam 3-an,” katanya kepada kami di grup WhatsApp. Mamak, ibu saya, sendirian di rumah saat itu. Ingatan Uda Andi melayang ke hari sebelumnya, saat bapak menelepon meminta diantar ke tukang cukur.

Uda Andi mencari bapak ke mana-mana, bahkan sampai ke daerah Jalan Cendrawasih di Air Tawar, Kota Padang, dan menuju Stasiun Tabing dekat rel, namun bapak tidak ditemukan. Karena merasa haus, Uda Andi berhenti di dekat penjual es tebak di simpang menuju Parupuk. Ketika bertanya pada penjual es itu, ia diberitahu bahwa 15 menit yang lalu ada yang menanyakan arah ke tukang cukur. Mendengar itu, Uda Andi tidak jadi minum es dan segera bergegas menuju Parupuk.

“Ya Allah, bapak…” ucap Terry Terikoh, istri saya, terkejut mendengar cerita Uda Andi.

Uni Venni, istri Uda Anda, kakak saya yang paling tua, yang ikut mendengar cerita itu merasa kasihan pada bapak. “Kasihan bapak nyari sendiri tukang cukur. Jadi yang memberi tahu bapak itu adalah tukang es itu, Andi?” tanyanya.

Uda Andi mengangguk, “Iya, tukang es cerita.”

“Apakah Andi berhasil menemukan tukang cukur itu?” tanya Uni Venni lagi.

Uda Andi menjelaskan bahwa ternyata empat bulan yang lalu, tukang es itu pernah mengantar bapak pulang menggunakan motor karena bapak bingung jalan pulang. Dan kali ini, setelah bertanya pada tukang es, Uda Andi mendapat petunjuk ke arah tukang cukur di Parupuk. Sesampainya di sana, Uda Andi menemukan bapak yang sudah selesai cukur dan sedang berjalan pulang.

Ketika Uda Andi sampai, bapaknya sudah berjalan sekitar 2 kilometer dari tempat cukur. “Bapak ketemu ketika sudah selesai cukur dan mau jalan pulang dari tempat cukur,” lanjut Uda Andi.

Uda Andi lalu mengajak bapak kembali ke penjual es untuk menikmati es tebak yang sempat tertunda. Mereka duduk bersama, menikmati es. Peristiwa ini mengajarkan pentingnya kebersamaan dan perhatian dalam keluarga.

Foto bapak yang sedang menikmati es tebak setelah cukur rambut.

Pythagoras’ numerical principles

Nowadays, our perspective on numbers significantly differs from what Pythagoras and his colleagues believed in the past. If we ponder it, their concept of numbers is truly unique. They didn’t just consider numbers as something found in mathematics textbooks or as a counting tool at the supermarket cashier. For them, numbers seemed to have their own life, carrying deeper meanings beyond mere value or quantity.

Now, consider whether we are starting to perceive numbers similarly. For example, when we see the numbers on our birthdate, it’s not just a marker for blowing out candles; rather, it symbolizes the unique story that each of us has. When we look at scores in sports, it’s not only about winning or losing but also represents the tale of effort, hard work, and spirit exhibited by athletes.

However, in this digital era, we have grown accustomed to the numbers that appear on our mobile phones and computer screens. These numbers are often only seen as data or information that needs to be processed. We forget that behind each number may be a story, meaning, or even profound philosophy.

Sometimes, we need to take a step back and try looking at numbers in a more ‘Pythagorean’ way. Who knows, by doing so, we might discover new perspectives or deeper meanings of things that we have always considered ordinary. Just imagine: the world could become even more fascinating if we could see beyond the numbers displayed right before us.

Ranking and numbers

Regarding ranking, this can be a perfect example of how numbers can have more meaning than just position or order. In many aspects of life, we often encounter ranking systems, starting from class rankings and top song lists to the ranking of countries in various global indices.

When we attempt to view things through the ‘Pythagorean lens,’ ranking is not just about who is number one, two, or three. Rather, it could be about the stories behind the struggle to achieve those positions, what we can learn from those at the top, and also how we can appreciate the process and effort made, not just the end result alone.

For example, in sports, the numbers on the scoreboard or athlete rankings do not only indicate who is faster or stronger. Instead, they can also reflect dedication, discipline, and a spirit of continuous effort, which can inspire us all. In an academic setting, class rankings can teach us about the importance of hard work and how each person has uniqueness and strengths that are not always measurable by numbers.

By viewing rankings not only as numbers or positions but as reflections of stories, struggles, and deeper meanings, we can come to appreciate the process and journey more. Instead of just focusing on the end goal, this perspective can make us more empathetic and appreciative of others’ efforts. It may also motivate us to strive in our own way without being overly fixated on numbers or rankings.

So, perhaps it’s time for us to start looking at numbers and rankings with a broader and deeper perspective, similar to Pythagoras. Who knows, by doing so, we might discover meaning and happiness in the process, not just in the achievements.

Identitas kampus: Lebih dari sekadar angka!

Pernahkah Anda merasa bahwa identitas sebuah universitas itu sering kali hanya dinilai dari prestasi atau peringkat? Seperti, “Wah, universitas ini sangat unggul, lihatlah jumlah publikasinya!” Atau, “Kampus ini hebat, mahasiswanya banyak yang menjadi juara ini itu.” Namun, sejatinya, ada aspek yang jauh lebih mendalam dari sekadar angka-angka atau piala yang dipajang di lemari trofi.

Mari kita gali lebih dalam tentang apa sebenarnya yang membuat sebuah universitas memiliki ‘jiwa’. Ini bukan hanya tentang berapa banyak riset yang diterbitkan atau berapa banyak lulusannya yang langsung mendapatkan pekerjaan. Melainkan, bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas kampus tersebut? Apa yang membuat Anda bangga menjadi bagian dari keluarga besar universitas Anda?

Pertama-tama, identitas kampus itu seperti cerminan dari apa yang dirasakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga staf dan alumni. Ini tentang bagaimana mereka berinteraksi, berbagi pengalaman, dan tumbuh bersama. Kampus bukan hanya tempat untuk belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat di mana kita belajar tentang kehidupan, bertemu teman sejati, dan tentu saja, mencari jati diri.

Kedua, identitas kampus yang kuat terbangun dari kualitas pengalaman yang kita peroleh. Bukan hanya soal seberapa sering kita memenangkan kompetisi, tetapi lebih kepada seberapa dalam kita merasa terhubung dan dapat berkontribusi kepada komunitas kampus. Ditambah lagi, bagaimana kampus tersebut menyiapkan kita untuk menghadapi dunia luar yang penuh tantangan.

Ketiga, sebuah universitas yang memiliki identitas kuat tidak hanya mengandalkan tradisi atau prestasi masa lalu, tetapi juga terus berinovasi dan beradaptasi dengan zaman. Ini tentang bagaimana kampus mempertahankan nilai-nilainya sambil tetap relevan. Jadi, ini bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, tetapi lebih kepada apa yang dapat kita lakukan bersama-sama sebagai bagian dari komunitas ini.

Jadi, intinya, identitas kampus itu lebih dari sekadar angka atau prestasi. Ini tentang pengalaman, nilai, dan perasaan yang kita bagi bersama. Ini tentang bagaimana kita, sebagai bagian dari komunitas, dapat meninggalkan jejak yang berarti, bukan hanya di kampus, tetapi juga di masyarakat luas. Mari kita bangun identitas kampus yang kuat bersama-sama, dengan cara yang otentik dan bermakna!