Pergantian slogan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, dari Kampus Merdeka ke Kampus Berdampak, jangan hanya retorika. Pengalaman sebagai dosen menunjukkan bahwa slogan apapun akan hampa jika kita gagal memanusiakan dosen dan mahasiswa. Pendidikan tinggi yang sesungguhnya adalah tentang memanusiakan dan mencerdaskan.
Category: Umum
Many too many (Genesis – 1978)
- “Many too many have stood where I stand / Many more will stand here too”: Anda mungkin merasa bahwa banyak orang lain juga mengalami kekecewaan serupa setelah pindah ke tempat kerja baru. Ini bukan pengalaman yang unik.
- “The thing what I find strange is the way you built me up / Then knocked me down again”: Sebelum Anda pindah, mungkin ada janji-janji, presentasi yang menarik, atau ekspektasi positif yang dibangun oleh tempat baru tersebut. Namun, kenyataan setelah Anda tiba dan mulai bekerja ternyata jauh berbeda dan mengecewakan.
- “The part was fun but now it’s over / Why can’t I just leave the stage?”: Mungkin ada aspek-aspek tertentu di awal yang terasa baik atau menjanjikan, tetapi seiring berjalannya waktu, kekecewaan semakin mendalam. Anda mungkin merasa ingin keluar dari situasi ini (“leave the stage”) tetapi terhalang oleh berbagai faktor.
- “Maybe that’s because you securely locked me up / Then threw away the key”: Anda mungkin merasa “terperangkap” dalam situasi ini. Janji-janji awal atau komitmen yang Anda buat mungkin terasa seperti “kunci” yang hilang, membuat Anda sulit untuk pergi atau mencari alternatif lain.
- “Oh, mama, please would you find the key / Oh, pretty mama, please won’t you let me go free” / “Oh, mama, please help me find our way / Oh, pretty mama, please lead me through the next day”: Seruan kepada “mama” bisa diartikan sebagai kerinduan akan dukungan, bimbingan, atau solusi dari seseorang yang Anda percayai untuk membantu Anda keluar dari situasi yang tidak memuaskan ini dan menemukan jalan ke depan.
- “I thought I was lucky, I thought that I’d got it made / How could I be so blind?”: Anda mungkin awalnya merasa beruntung mendapatkan pekerjaan ini dan pindah ke tempat baru. Namun, pengalaman yang mengecewakan membuat Anda bertanya-tanya bagaimana Anda bisa begitu tidak menyadari potensi masalah atau idealis terhadap situasi tersebut.
- “You said goodbye on a corner / That I thought led to the straight / You set me on a firmly laid and simple course / And then removed the road”: Mungkin ada harapan atau jalur karir yang dijanjikan yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Anda merasa seperti diberi arah yang jelas, tetapi kemudian arah tersebut tiba-tiba menghilang.
Lagu ini menangkap kekecewaan, kebingungan, dan rasa terjebak yang mungkin Anda alami setelah menyadari bahwa ekspektasi Anda terhadap tempat Anda bekerja tidak sesuai dengan kenyataan. Lirik ini bisa menjadi cara yang puitis untuk mengungkapkan kekecewaan dan refleksi Anda terhadap situasi tersebut.
Cerita Bapak mencari tukang cukur
Pada suatu pagi, pada tanggal 26 Juni 2024, Hamdi Nur atau panggilannya Uda Andi, kakak saya, mengingat kejadian kemarin di grup WhatsApp keluarga. Beliau bercerita mengenai bapak yang sekarang berumur 93 tahun berjalan sendirian keluar rumah untuk mencukur rambut. “Kemaren bapak tidak ada di rumah jam 3-an,” katanya kepada kami di grup WhatsApp. Mamak, ibu saya, sendirian di rumah saat itu. Ingatan Uda Andi melayang ke hari sebelumnya, saat bapak menelepon meminta diantar ke tukang cukur.
Uda Andi mencari bapak ke mana-mana, bahkan sampai ke daerah Jalan Cendrawasih di Air Tawar, Kota Padang, dan menuju Stasiun Tabing dekat rel, namun bapak tidak ditemukan. Karena merasa haus, Uda Andi berhenti di dekat penjual es tebak di simpang menuju Parupuk. Ketika bertanya pada penjual es itu, ia diberitahu bahwa 15 menit yang lalu ada yang menanyakan arah ke tukang cukur. Mendengar itu, Uda Andi tidak jadi minum es dan segera bergegas menuju Parupuk.
“Ya Allah, bapak…” ucap Terry Terikoh, istri saya, terkejut mendengar cerita Uda Andi.
Uni Venni, istri Uda Anda, kakak saya yang paling tua, yang ikut mendengar cerita itu merasa kasihan pada bapak. “Kasihan bapak nyari sendiri tukang cukur. Jadi yang memberi tahu bapak itu adalah tukang es itu, Andi?” tanyanya.
Uda Andi mengangguk, “Iya, tukang es cerita.”
“Apakah Andi berhasil menemukan tukang cukur itu?” tanya Uni Venni lagi.
Uda Andi menjelaskan bahwa ternyata empat bulan yang lalu, tukang es itu pernah mengantar bapak pulang menggunakan motor karena bapak bingung jalan pulang. Dan kali ini, setelah bertanya pada tukang es, Uda Andi mendapat petunjuk ke arah tukang cukur di Parupuk. Sesampainya di sana, Uda Andi menemukan bapak yang sudah selesai cukur dan sedang berjalan pulang.
Ketika Uda Andi sampai, bapaknya sudah berjalan sekitar 2 kilometer dari tempat cukur. “Bapak ketemu ketika sudah selesai cukur dan mau jalan pulang dari tempat cukur,” lanjut Uda Andi.
Uda Andi lalu mengajak bapak kembali ke penjual es untuk menikmati es tebak yang sempat tertunda. Mereka duduk bersama, menikmati es. Peristiwa ini mengajarkan pentingnya kebersamaan dan perhatian dalam keluarga.

Pythagoras’ numerical principles
Nowadays, our perspective on numbers significantly differs from what Pythagoras and his colleagues believed in the past. If we ponder it, their concept of numbers is truly unique. They didn’t just consider numbers as something found in mathematics textbooks or as a counting tool at the supermarket cashier. For them, numbers seemed to have their own life, carrying deeper meanings beyond mere value or quantity.
Now, consider whether we are starting to perceive numbers similarly. For example, when we see the numbers on our birthdate, it’s not just a marker for blowing out candles; rather, it symbolizes the unique story that each of us has. When we look at scores in sports, it’s not only about winning or losing but also represents the tale of effort, hard work, and spirit exhibited by athletes.
However, in this digital era, we have grown accustomed to the numbers that appear on our mobile phones and computer screens. These numbers are often only seen as data or information that needs to be processed. We forget that behind each number may be a story, meaning, or even profound philosophy.
Sometimes, we need to take a step back and try looking at numbers in a more ‘Pythagorean’ way. Who knows, by doing so, we might discover new perspectives or deeper meanings of things that we have always considered ordinary. Just imagine: the world could become even more fascinating if we could see beyond the numbers displayed right before us.
Ranking and numbers
Regarding ranking, this can be a perfect example of how numbers can have more meaning than just position or order. In many aspects of life, we often encounter ranking systems, starting from class rankings and top song lists to the ranking of countries in various global indices.
When we attempt to view things through the ‘Pythagorean lens,’ ranking is not just about who is number one, two, or three. Rather, it could be about the stories behind the struggle to achieve those positions, what we can learn from those at the top, and also how we can appreciate the process and effort made, not just the end result alone.
For example, in sports, the numbers on the scoreboard or athlete rankings do not only indicate who is faster or stronger. Instead, they can also reflect dedication, discipline, and a spirit of continuous effort, which can inspire us all. In an academic setting, class rankings can teach us about the importance of hard work and how each person has uniqueness and strengths that are not always measurable by numbers.
By viewing rankings not only as numbers or positions but as reflections of stories, struggles, and deeper meanings, we can come to appreciate the process and journey more. Instead of just focusing on the end goal, this perspective can make us more empathetic and appreciative of others’ efforts. It may also motivate us to strive in our own way without being overly fixated on numbers or rankings.
So, perhaps it’s time for us to start looking at numbers and rankings with a broader and deeper perspective, similar to Pythagoras. Who knows, by doing so, we might discover meaning and happiness in the process, not just in the achievements.
Identitas kampus: Lebih dari sekadar angka!
Pernahkah Anda merasa bahwa identitas sebuah universitas itu sering kali hanya dinilai dari prestasi atau peringkat? Seperti, “Wah, universitas ini sangat unggul, lihatlah jumlah publikasinya!” Atau, “Kampus ini hebat, mahasiswanya banyak yang menjadi juara ini itu.” Namun, sejatinya, ada aspek yang jauh lebih mendalam dari sekadar angka-angka atau piala yang dipajang di lemari trofi.
Mari kita gali lebih dalam tentang apa sebenarnya yang membuat sebuah universitas memiliki ‘jiwa’. Ini bukan hanya tentang berapa banyak riset yang diterbitkan atau berapa banyak lulusannya yang langsung mendapatkan pekerjaan. Melainkan, bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas kampus tersebut? Apa yang membuat Anda bangga menjadi bagian dari keluarga besar universitas Anda?
Pertama-tama, identitas kampus itu seperti cerminan dari apa yang dirasakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga staf dan alumni. Ini tentang bagaimana mereka berinteraksi, berbagi pengalaman, dan tumbuh bersama. Kampus bukan hanya tempat untuk belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat di mana kita belajar tentang kehidupan, bertemu teman sejati, dan tentu saja, mencari jati diri.
Kedua, identitas kampus yang kuat terbangun dari kualitas pengalaman yang kita peroleh. Bukan hanya soal seberapa sering kita memenangkan kompetisi, tetapi lebih kepada seberapa dalam kita merasa terhubung dan dapat berkontribusi kepada komunitas kampus. Ditambah lagi, bagaimana kampus tersebut menyiapkan kita untuk menghadapi dunia luar yang penuh tantangan.
Ketiga, sebuah universitas yang memiliki identitas kuat tidak hanya mengandalkan tradisi atau prestasi masa lalu, tetapi juga terus berinovasi dan beradaptasi dengan zaman. Ini tentang bagaimana kampus mempertahankan nilai-nilainya sambil tetap relevan. Jadi, ini bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, tetapi lebih kepada apa yang dapat kita lakukan bersama-sama sebagai bagian dari komunitas ini.
Jadi, intinya, identitas kampus itu lebih dari sekadar angka atau prestasi. Ini tentang pengalaman, nilai, dan perasaan yang kita bagi bersama. Ini tentang bagaimana kita, sebagai bagian dari komunitas, dapat meninggalkan jejak yang berarti, bukan hanya di kampus, tetapi juga di masyarakat luas. Mari kita bangun identitas kampus yang kuat bersama-sama, dengan cara yang otentik dan bermakna!
Harmonisasi semantik: Kunci penilaian yang adil dan akurat
Mari kita bicara tentang sesuatu yang awalnya mungkin terdengar sangat teknis: harmonisasi semantik. Apa itu? Sederhananya, ini tentang memastikan bahwa setiap orang berbicara dalam bahasa yang sama ketika kita mengumpulkan dan membandingkan data. Bayangkan kita semua berada di konser musik tetapi setiap orang mendengar versi lagu yang berbeda. Pasti akan membingungkan bukan? Harmonisasi semantik adalah upaya untuk memastikan bahwa setiap orang mendengarkan “lagu” yang sama, sehingga ketika kita membandingkan sesuatu, kita benar-benar membandingkan apel dengan apel, bukan apel dengan jeruk. Contoh dari harmonisasi semantik dapat dibaca dalam paper yang berjudul “Fuzzy data definitions distort fair comparability of universities in university rankings: results from Italy and Belgium on the Times Higher Education Ranking“, yang dipublikasikan tahun 2023 di Quality in Higher Education.
Sekarang, mari kita bawa ide ini ke dunia pendidikan tinggi dan penelitian. Kita sering membandingkan universitas, fakultas dan dosen berdasarkan prestasinya bukan? Namun pernahkah Anda berpikir bahwa tidak semua universitas dan fakultas memainkan kartu yang sama? Ada yang punya dana penelitian melimpah, ada pula yang bekerja keras dengan apa yang mereka punya. Lantas, adilkah jika membandingkan keluarannya secara langsung tanpa mempertimbangkan faktor pendukung seperti pendanaan penelitian dan infrastruktur riset yang mendukung?
Bayangkan jika di perguruan tinggi yang dananya terbatas, para dosennya bisa saja setengah hati berinovasi dan membuahkan hasil yang tidak sehebat hasil dari perguruan tinggi kaya. Alternatifnya, universitas yang berfokus pada pengajaran mungkin akan kurang kompetitif jika hanya jumlah publikasi yang dipertimbangkan. Bukankah ini tidak adil?
Di sinilah harmonisasi semantik menjadi penting. Kita perlu mempertimbangkan konteks dan kondisi masing-masing universitas atau dosen ketika mengevaluasi atau mengambil keputusan. Hal ini bukan hanya tentang keadilan dan akurasi, namun juga tentang menghargai keberagaman dan kompleksitas dalam dunia pendidikan tinggi dan penelitian.
Bagaimana kita melakukannya? Kita perlu merancang sistem evaluasi yang tidak hanya mempertimbangkan hasil akhir, namun juga pendanaan, infrastruktur, efisiensi, inovasi, dan dampak relatif dari apa yang dihasilkan. Hal ini dapat berarti mengembangkan metrik yang lebih inklusif atau memberikan penekanan lebih besar pada aspek-aspek tertentu yang mencerminkan upaya dan inovasi.
Dengan mempertimbangkan harmonisasi semantik, kita dapat membuat penilaian yang lebih adil dan akurat. Hal ini juga akan mendorong semua pihak, sebesar apa pun sumber dayanya, untuk terus berinovasi dan berkontribusi. Mari kita mulai melihat lebih dalam dan luas agar kita bisa mengapresiasi dan mengakui setiap usaha dan pencapaian secara lebih adil.
Kisah C. N. R. Rao
Kita sekarang membahas tentang seorang ilmuwan yang kehidupan pribadinya cukup simpel. Ada seorang ilmuwan yang sangat terkenal dan hebat, tetap saja menimbulkan kontroversi. Ilmuwan terkenal itu bernama C. N. R. Rao. Kisahnya dapat dibaca di Wikipedia. Yang menarik dari Rao adalah dia takut dengan teknologi (technophobia). Bayangkan saja, dia tidak pernah mengecek emailnya sendiri dan hanya menggunakan ponselnya untuk menelepon istrinya.
Tapi, di balik kehidupan pribadinya yang luar biasa, karir Rao ternyata tidak semulus itu. Di tahun 1987, dia dan timnya pernah membuat heboh karena mempublikasikan empat paper, tapi tiga di antaranya dituduh tidak mencantumkan tanggal penerimaan manuskrip, yang seharusnya wajib hukumnya. Ternyata setelah diselidiki, manuskrip-manuskrip itu diterima setelah tanggal publikasi, alias sepertinya ada yang diutak-atik tanggalnya. Akhirnya, mereka kena cap “Menggunakan cara salah membuat klaim prioritas.”
Belum selesai sampai di situ, Rao juga pernah kena tuduh plagiarisme. Pada tahun 2011, Rao dan timnya di Indian Institute of Science di Bangalore, termasuk dua mahasiswanya, mempublikasikan paper tentang detektor fotoinfra merah yang berbasis pada graphene. Tapi, setelah diterbitkan, editor jurnal menemukan beberapa kalimat yang diambil persis dari paper lain yang terbit tahun sebelumnya. Ini membuat gempar. Rao mengatakan bahwa dia membaca manuskripnya, tapi fokusnya lebih kepada hasil dan diskusi. Mereka akhirnya minta maaf.
Yang tambah membuat seru, beberapa ilmuwan lain mengatakan bahwa bagian yang di-plagiat itu tidak berpengaruh ke temuan mereka. Tapi, cara Rao dan timnya menanggapi berita membuat beberapa orang mengangkat alis. Mereka malah menyalahkan mahasiswa yang menulis bagian itu, dan Rao mengatakan, “Ini seharusnya tidak dianggap plagiat, cuma menyontek beberapa kalimat saja.” Dia juga sempat menyalahkan salah satu anggota timnya, mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu soal itu.
Dan ternyata, bukan cuma itu saja kasusnya. Ada lagi tuduhan plagiat di beberapa artikel lain yang dia co-author. Bahkan, ada yang sampai menyontek gambar dari studi lain. Rao sempet berkata, “Kalau saya pernah mencuri ide atau hasil penelitian seumur hidup, gantung saya.”
Yang paling luar biasa, Rao pernah menerima Bharat Ratna, penghargaan sipil tertinggi dari pemerintah India, meskipun ada kontroversi plagiat ini. Bahkan, sempat ada yang mengajukan ke pengadilan buat cabut penghargaannya karena kasus plagiat, tapi pengadilan bilang itu cuma cari sensasi. Dan, di satu kesempatan, Rao pernah sebut politisi India “idiot” karena menurut dia mereka kurang dukung pendanaan riset. Walaupun belakangan dia mengatakan itu adalah cuma ungkapan frustrasi karena kurangnya investasi di bidang sains.
Jadi, bisa dikatakan, meskipun seseorang itu sudah berkontribusi besar di dunia ilmu pengetahuan, tetap saja ada celah-celah yang bisa membuat kontroversi. sepertinya, di dunia ini tidak ada yang sempurna, termasuk para ilmuwan kita.
Resep rahasia pemimpin besar bukan hanya cinta tanah air
Ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan dari fenomena hari ini mengenai pemimpin idaman. Kita sering mendengar, “Pemimpin harus mencintai negaranya sampai mati!” Sepertinya benar juga, tapi menurut saya itu hanya setengah resepnya. Ibarat masak rendang tanpa santan, rasanya kurang menendang!
Pertama, cinta tanah air itu wajib. Tapi, pemimpin juga harus punya visi yang jelas. Bukan sekedar lamunan indah, namun sebuah visi realistis yang bisa diwujudkan. Bagaimana melakukan? Ya, dengan benar-benar memahami situasi saat ini dan memiliki rencana yang akurat untuk masa depan.
Jadi, pemimpin juga harus jujur dan bertanggung jawab. Sama seperti Spiderman, “Dengan kekuatan besar datang pula tanggung jawab yang besar.” Harus dapat dipercaya dan tidak bermain-main dengan kekuasaan. Transparansi menjadi kuncinya, agar kita tidak bingung.
Komunikasi juga penting sekali. Seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasannya dengan cara yang inspiratif. Membuat masyarakat tergerak untuk ambil bagian. Itulah nama pemimpin yang mampu membangkitkan semangat!
Tapi jangan lupa, dunia ini luas dan penuh perbedaan. Seorang pemimpin yang baik harus mampu mengelola berbagai kepentingan dan menemukan solusi yang adil. Ditambah lagi, kamu harus bisa bermain cantik di kancah internasional. Diplomasi itu penting!
Terakhir, ingatlah, kita tidak hidup sendiri. Anda juga harus memikirkan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan dan inklusif, itulah yang kita butuhkan. Jadi, ini bukan hanya tentang hari ini saja, tapi juga esok hari dan seterusnya.
Jadi, kesimpulannya, menjadi pemimpin lebih dari sekedar cinta tanah air. Hal ini memerlukan unsur-unsur lain seperti visi, integritas, keterampilan komunikasi, diplomasi, dan pemikiran jangka panjang. Resep baru dan lengkap untuk seorang pemimpin hebat. Ibarat rendang yang sempurna, butuh waktu dan bumbu yang tepat!
Nah, Anda mungkin dapat menduga siapa pemimpin yang sedang saya bicarakan ini. Siapa ya?
Drama pemilu dan tradisi tuduhan kecurangan
Nah, ngomong-ngomong soal pemilu dan cerita tentang keadaan yang selalu muncul sebagai bumbu tambahan di mie instan favorit kita, berikut cerita menariknya. Jadi, setiap ada pemilu, pasti ada masyarakat yang tidak terima dengan hasilnya dan seketika tuduhan kebohongan beterbangan di udara seperti layang-layang rusak. Ini ibarat tradisi lima tahunan yang tak pernah gagal pada tahun 2014, 2019 dan 2024.
Bayangkan saja, persaingan di dunia politik bisa sangat ketat. Jika Anda merugi sedikit saja, Anda mungkin akan kehilangan segalanya, mulai dari uang hingga kursi empuk di pemerintahan. Jadi wajar jika ada yang tidak mau langsung mengaku kalah dan memilih berkata “Eh, ini pasti curang!”
Lalu, ada juga cerita tentang harapan yang setinggi langit. Dukungannya ibarat ombak di Pantai Kuta, tapi tiba-tiba hasilnya tidak sesuai, lalu kenapa? Saya pastinya sangat kecewa. Daripada mengaku kalah, lebih baik tuduh saja ada yang berbuat curang. Itu lebih mudah daripada harus introspeksi dan mengakui bahwa mungkin strategi kampanye Anda kurang efektif.
Oh ya, jangan lupa mencurigai sistemnya. Ini serius, terkadang masyarakat tidak percaya dengan sistem pemilunya sendiri. Mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan mengalami sendiri kondisi tersebut, sehingga kini Anda tidak bisa membayangkan apa pun. Hal ini membuat tuduhan-tuduhan tersebut seolah menjadi santapan sehari-hari di musim pemilu.
Dan yang paling licik, ada yang sengaja menciptakan kondisi politik. Sehingga kalian tetap bisa mendapatkan sorotan dan dukungan meski mengalami kekalahan. Hal ini dilakukan agar tetap eksis dan tidak hilang dari peredaran.
Saat ini, dengan media sosial yang bisa menyebarkan informasi lebih cepat daripada berita ringan, berita palsu atau setengah-setengah bisa membuat keadaan semakin panas. Hal ini menjadi bahan bakar api tuduhan yang semakin berkobar.
Terakhir, masalah pemilu muncul bisa jadi karena aturan utamanya belum sempurna. Sistem dan pengawasannya yang masih bisa diperbaiki membuat masyarakat lebih rentan curiga dan dituduh.
Nah, begitulah suasana saat pemilu. Memang menyenangkan, namun terkadang juga membuat pusing. Yang penting, kita sebagai bagian masyarakat harus terus melihat situasi dengan jernih. Jangan langsung percaya dengan tuduhan tanpa bukti yang jelas. Kita harus menjaga demokrasi dengan bijak, dengan tetap menikmati drama politik yang ada. Tetap tenang dan tetap cerdas, ya!
Komeng dan fenomena politik

Kali ini kita membahas tentang fenomena yang cukup unik dan bikin kita tersenyum. Bayangkan saja, Komeng, komedian yang kita kenal bersama, berhasil memenangkan pemilu menjadi anggota DPD Jabar. Apa ceritanya? Dengan strategi yang tidak biasa, ia menggunakan foto-foto kampanye yang lucu. Tak main-main, strategi tersebut ternyata berhasil meraih suara terbanyak. Mari kita coba, selami lebih dalam kenapa hal ini bisa terjadi, namun kita bahas dengan santai ya.
Pertama-tama, mari kita bicara tentang estetika politik. Ini sepertinya senjata ampuh Komeng. Dengan menggunakan humor sebagai alatnya, ia berhasil menarik perhatian dan simpati masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya seni dan humor dalam mempengaruhi pikiran dan hati banyak orang, terutama di dunia politik yang terkadang terasa kaku dan serius.
Lalu, ada juga yang disebut postmodernisme. Ini adalah istilah keren yang sebenarnya bisa diartikan sebagai keinginan kita untuk melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Masyarakat kita kini sepertinya sudah mulai bosan dengan politik yang itu-itu saja. Mereka menginginkan sesuatu yang baru, segar, tidak konvensional. Nah, Komeng dengan gaya uniknya berhasil mewujudkan keinginan itu.
Kita juga tidak bisa melupakan demokrasi dan partisipasi. Hal ini menunjukkan bahwa di era saat ini, masyarakat lebih leluasa memilih siapa yang ingin menjadi wakilnya, dengan berbagai alasan, termasuk faktor hiburan.
Nah, dari segi psikologis, ada beberapa hal yang menarik juga. Pertama, ada yang disebut efek halo. Hal ini terjadi ketika kita melihat seseorang baik dalam satu aspek, lalu kita berasumsi bahwa dia baik dalam aspek lain juga. Jadi, karena Komeng lucu dan disukai banyak orang, orang mengira dia juga akan menjadi pemimpin yang baik.
Lalu, kita semua mempunyai kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain. Komeng dengan gaya yang lebih santai dan humor berhasil membuat banyak orang semakin dekat dengannya. Hal ini tampaknya memberi kita kelegaan dari semua ketegangan politik yang biasa kita rasakan.
Kelelahan politik juga merupakan faktor penting. Banyak di antara kita yang mulai bosan dengan segala drama politik yang tiada habisnya. Komeng, dengan pendekatannya yang berbeda, memberi kita semacam oase di tengah gurun politik yang gersang.
Terakhir, tentang identitas sosial. Banyak orang mungkin melihat Komeng sebagai representasi “rakyat biasa” dibandingkan politisi tradisional. Hal ini membuat banyak orang merasa lebih terwakili olehnya.
Jadi, kesimpulannya, kemenangan Komeng bisa dilihat sebagai perpaduan antara kebosanan dengan politik konvensional dan keinginan akan sesuatu yang baru dan segar, ditambah dengan berbagai dinamika psikologis yang mempengaruhi cara kita memilih pemimpin. Ini semua menunjukkan betapa kompleks dan menariknya politik, bahkan bisa dikatakan politik itu sendiri adalah sebuah bentuk seni. Dan Komeng dengan segala keunikannya berhasil menjadi maestro di kancah seni politik ini.
You must be logged in to post a comment.