Prof. Richard Robert Ernst

Prof. Richard Robert Ernst telah pergi, namun karyanya abadi. Saya sempat berfoto dengan Prof. Richard Robert Ernst, penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1991. Beliau berfoto dengan saya dengan latar belakang spektrometer Nuclear Magnetic Resonance (NMR) yang saya operasikan pada tahun 2004. Penghargaan Nobel Kimia 1991 dianugerahkan kepada beliau atas kontribusi pada pengembangan metodologi spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR).

Foto di sebelah kanan di bawah ini adalah foto beliau yang saya ambil dari website pribadi beliau. Nampak tua. Terlihat juga dari kedua foto tersebut bahwa kehidupan itu tidak abadi. Namun, manusia akan meninggalkan hasil karyanya untuk dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Kebaikan itulah yang akan diingat orang. Itulah makna dari kedua foto di bawah ini.

Walaupun saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau, namun saya membaca tulisan beliau mengenai pendidikan tinggi yang sekarang sudah kehilangan prespektif mengenai tanggungjawabnya. Ini catatan saya sembilan tahun yang lalu mengenai ini.

Waspada penipu

Bukan sekali ini saya ditelepon oleh penipu (scammer). Modusnya adalah saya mendapat hadiah dari operator seluler, dan dia mengirimkan nomor TAC melalui SMS. Karena saya ditelepon ketika sedang ngobrol dengan istri, kami merekam percakapan penipu ini. Rencananya saya dan istri mau mempermainkan penipu ini, namun niat ini saya urungkan.

Saya tampilkan sekali nomor penipu ini, yaitu +601157961907, supaya kita waspada. Setelah saya cari di junckcall.org, ternyata benar ini adalah modus penipuan.

Harapan manusia

Semua orang pasti mempunyai harapan walaupun seringkali harapan tersebut hanya tinggal harapan yang tidak pernah terwujud. Saya pun ada harapan. Walaubagaimanapun kita perlu sadar bahwa hakikat kehidupan manusia adalah antara usaha dan harapan. Jadi, semua cerita kehidupan manusia sebenarnya adalah cerita antara usaha dan harapan.

Saya juga menuliskan harapan saya sebagai pernyataan untuk menguatkan dan memberikan perspektif kepada saya bahwa ini adalah realitas sebenarnya dari kehidupan. Saya menuliskan harapan saya di blog ini (hanya untuk pribadi) untuk memberikan efek psikologis yang positif untuk saya.

Hakikat kehidupan manusia

“Nabi S.A.W membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: (persegi yang digambar Nabi). Dan beliau bersabda:

“Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.” (HR. Bukhari)

image_575641209833497

Rujukan: Vbi Djenggotten, “99 Pesan Nabi: Edisi Lengkap Komik Hadis Bukhari-Muslim”, halaman 361-362, 2014.

Identitas manusia

Kita perlu memahami bahwa manusia ada karena memiliki identitas. Website pribadi (hadinur.net) ini tanpa saya sadari juga untuk membangun identitas saya. Dalam politik, identitas memainkan peran penting dalam membangun kepercayaan publik. Reputasi yang dibuat untuk waktu yang lama dapat hancur seketika oleh kinerja yang buruk dan mungkin oleh fitnah. Oleh karena itu, permainan dengan menggunakan media untuk membangun identitas menjadi penting saat ini. Nick Bostrom dan Anders Sandberg menulis argumen di bawah ini. Saya setuju dengan pendapat mereka bahwa ketakutan manusia terhadap kematian disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan identitas.

Memiliki identitas pribadi – menjadi seseorang, dengan masa lalu dan masa depan – dan memiliki seperangkat identitas sosial – menjadi seseorang bagi orang lain – adalah bagian penting dari kondisi manusia. Keterbatasan kemampuan ini merupakan ancaman yang menakutkan bagi kebanyakan orang. Dapat dikatakan bahwa ketakutan kita akan kematian sebenarnya adalah ketakutan akan kehilangan identitas. Banyak orang menganggap sebagai bagian terburuk dari penyakit Alzheimer, hilangnya identitas naratif secara bertahap dari penderitanya. Hilangnya reputasi telah memotivasi orang untuk membunuh dan bunuh diri. Orang-orang rela menjalani cobaan besar – baik berpartisipasi dalam Big Brother di TV, belajar untuk gelar Ph.D., atau menjalani operasi penggantian kelamin – untuk mendapatkan identitas yang berarti bagi mereka.

Teknologi masa depan tidak mungkin mengubah ini selama 15 tahun ke depan. Bahkan dengan teknologi masa depan yang benar-benar radikal, tidak mungkin manusia ingin menggunakannya jika melibatkan perubahan yang tidak diinginkan pada identitas mereka. Sebaliknya, orang akan tertarik pada teknologi yang mereka pikir akan meningkatkan identitas mereka: memperluas jaringan sosial mereka dan memoles reputasi mereka, memperkuat ciri-ciri kepribadian yang mereka rasa berharga, dan memungkinkan mereka melakukan hal-hal yang mereka anggap ekspresif dari "diri sejati" mereka.

Hal ini sejalan dengan pertumbuhan nilai ekspresi diri yang ditemukan oleh World Values ​​Survey: ketika masyarakat menjadi lebih makmur, penekanan bergeser dari keamanan ekonomi dan fisik ke kesejahteraan subjektif, ekspresi diri, dan kualitas hidup. Oleh karena itu, kita harus mengharapkan minat yang meningkat pada teknologi dan institusi yang membantu mengelola, memanipulasi, dan melindungi identitas kita. Pada saat yang sama, ekspektasi dan tuntutan yang meningkat dari waktu ke waktu juga akan membuat banyak orang lebih kritis terhadap institusi yang ada, menganggap mereka tidak layak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mengizinkan partisipasi publik dan menjaga kepercayaan semakin diperlukan tidak hanya untuk lembaga publik tetapi juga untuk perusahaan dan teknologi.

Kebijakan publik di masa depan perlu mempertimbangkan beberapa perluasan identitas pribadi ini: di dunia dengan identitas yang ditingkatkan secara teknologi, orang-orang cenderung sangat melindungi aset digital, reputasi online, “eksoselves”, dan peningkatan biomedis mereka, adalah kepemilikan fisik dan integritas tubuh saat ini. Meskipun ada kecenderungan tingkat keterbukaan yang tinggi tentang informasi pribadi, terutama di kalangan generasi muda, keinginan untuk tetap mengontrol informasi ini tetap ada. Orang dapat dengan bebas berbagi sebagian besar kehidupan mereka, tetapi bereaksi keras terhadap upaya untuk mengeksploitasi atau memanipulasinya dengan cara yang tidak mereka setujui. Teknologi memperkuat banyak inkonsistensi manusiawi dalam cara kita memperlakukan identitas kita.

Rujukan: Nick Bostrom and Anders Sandberg, Report, Commissioned by the UK’s Government Office for Science, 2011 [PDF]

Kangen Indonesia

Orang Jepang saja kangen, apalagi saya. Ada satu perkataaan yang sesuai untuk ini, yaitu “nostalgia”. Perkataan nostalgia yang berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu nóstos yang artinya “pulang ke rumah” dan álgos yang artinya “sakit”, adalah menggambarkan bahwa keinginan untuk pulang itu adalah untuk mengobati rasa kangen.

Di bawah ini adalah beberapa paragraf dari prolog buku menarik yang dikarang oleh Hisanori Kato yang berjudul “Kangen Indonesia: Indonesia di mata orang Jepang”, yang tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Sangat membuka mata mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Saya tersenyum membacanya.

Sewaktu bekerja di Jakarta International School dari tahun 1991 sampai tahun 1994, kehidupan di Jakarta terasa menyiksa batin saya. Hari-hari yang saya lalui jauh berbeda dengan kehidupan sewaktu di Jepang dan Amerika. Tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan pergaulan terbatas hanya dengan kolega orang Eropa dan Amerika di sekolah. Saya merasa hari-hari berlalu begitu hampa. Meskipun jaraknya dekat jika dibandingkan dengan Amerika dan secara geografis memiliki kesamaan dengan negara Asia yang lain, Indonesia betul-betul "luar negeri bagi saya. Pada tahun 1991, McDonald hanya ada satu di pusat kota Jakarta. 

Di masa-masa ketika mengajar di International School, saya yang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik ini, bagi orang Indonesia mungkin hanya dianggap sebagai "orang asing yang kaya". Meski saya berkeinginan membiasakan diri dengan Indonesia, ingin tahu tentang Indonesia, tetapi hanyalah kesusahan yang saya temui. Di bus yang hampir tidak pernah digunakan orang asing, entah berapa kali dompet saya dicuri. Saya bahkan pernah ditodong dengan pisau, uang serta jam tangan saya diambil. Pernah juga uang saya dicuri oleh pembantu di rumah. Setiap kali saya mengalami peristiwa seperti itu, pikiran saya untuk meninggalkan negeri ini pun memenuhi benak saya.

Suatu ketika saya naik bus di Jakarta, tanpa diduga-duga ada pengamen yang "mengalunkan" lagu. Sehabis menyanyikan lagu, mereka meminta uang kepada penumpang, lalu turun tanpa membayar ongkos bus. Melihat hal itu, langsung terlintas di benak saya, "Saya mau balas dendam pada Indonesia, saya mau mengambil kembali uang saya yang dicuri dan dengan menjadi pengamen".

Saya memutuskan mengajak teman sesama Jepang yang bisa bermain gitar, lalu membentuk duo dadakan yang saya namakan "The Selamat". Lalu saya mengamen di bus kota jurusan Blok M-Kota, Kalau tidak salah itu terjadi pada bulan April tahun 1994. Dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, kami mulai beraksi di bus yang bergoyang-goyang. Ketika saya berteriak "kami datang dari Jepang, silakan dengarkan lagu-lagu kami", semua penumpang serentak mendongakkan kepala mereka dan tampak terkejut melihat penampilan The Selamat.

Ketika dentingan gitar mengiringi saya bernyanyi orang-orang Indonesia mulai bertepuk tangan. Kelihatannya mereka semua senang, tetapi di antaranya ada juga yang menahan tawa. Selesai menyanyikan tiga buah lagu, seketika saya membuka topi lalu saya berkeliling ke semua penumpang untuk meminta uang dan hampir semua penumpang memberi saya uang. Ada juga yang memberi seribu dan lima ratus ruplah. Padahal ongkos bus waktu itu tiga ratus rupiah. Sejak saat itulah perasaan saya terhadap Indonesia mulai berubah. Merekalah yang mengubahnya, para penumpang bus yang menerima pengamen asing yans tiba-tiba muncul di dalan bus. Balas dendam saya terhadap Indonesia menjadi "anugerah" besar yang mengubah pandangan saya terhadap Indonesia dan orang Indonesia.

Di zaman sekarang ini, istilah internasionalisasi begitu disanjung. Pentingnya mempelajari bahasa asing diserukan, dan banyak orang yang mengeluarkan uang untuk belajar di sekolah bahasa asing. Pada umumnya mereka mengartikan bahasa asing adalah bahasa Inggris. Namun tidak hanya terbatas pada bahasa Inggris, dalam "internasionalisasi" bahasa asing sangatlah penting, Kita tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada masalah jika tidak mempelajarinya. Tetapi, jauh sebelum istilah itu didengung-dengungkan, para penumpang bus di Jakarta misalnya, mereka bergembira dan mengatakan "menarik" pengamen asing yang jelas-jelas berbeda dengan diri mereka. Bahkan berkeinginan untuk bernyanyi bersama dengan pengamen itu. Hal ini membuat saya berpikir, bukankah itu sesungguhnya langkah awal sebuah "internasionalisasi"? Dalam pengertian tersebut, Indonesia adalah negara yang maju dalam internasionalisasi. Yang saya catat di sini adalah beberapa pengamatan saya yang sangat subjektif pada tentang Indonesia.

Pada bagian epilog, Hisanori Kato meletakkan lirik lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki, lagu yang mengingatkan beliau akan Indonesia. Begitu juga untuk saya.

Keprofesoran

Ada dua peristiwa penting dalam perjalanan karir saya sebagai dosen, pertama ketika diangkat sebagai profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2010, dan dikukuhkan pada tahun 2011, dan kedua ketika dianugerahkan adjunct professor oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2017. Ada istilah penting yang diharapkan dari penganugerahan tersebut, yaitu ‘keprofesoran’, yang maksudnya adalah sifat dan kewibawaan sebagai profesor. Kewibawaan itu tidak bisa dilihat dari angka-angka saja seperti jumlah publikasi dan sitasi, karena kewibawaan itu hanya kelihatan dari pandangan rekan-rekan sejawat (peer group).

Patut dipahami bahwa profesor adalah jabatan. Dari jabatan ini, diharapkan seseorang itu dapat mengembangkan bidang ilmu yang diembankan kepadanya. Oleh karena ini adalah jabatan, diharapkan seorang profesor tersebut dapat bertindak layaknya sebagai sebuah institusi kecil untuk menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan juga Amerika Serikat dimana seorang profesor mengetuai sebuah unit kecil yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan dan riset. Di universitas di Jepang, unit ini dinamakan sebagai Koza. Sebuah Koza mempunyai laboratorium diketuai oleh seorang profesor, dan terdiri dari associate professor, assistant professor, postdoc, mahasiswa B.Sc., M.Sc., dan Ph.D. Dengan begitu, proses dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat dilakukan dengan lebih terarah dan mendalam karena setiap Koza mempunyai spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Dari sinilah keprofesoran itu dapat diwujudkan dan berkembang dengan baik.

Tulisan lama saya mengenai keprofesoran dapat dirujuk dari tautan di bawah ini, yang saya tulis tiga belas tahun yang lalu.

Statistik blog

Saya sudah menulis di blog ini sejak 10 Oktober 1999. Sekarang, blog ini mempunyai 2,049 posting, 27 halaman, 37 draf, 118 komentar (sekarang sudah saya tutup), 2 pengguna, 512 tanda, dan 508,326 kata. Di bawah ini adalah daftar isi dari blog ini.