Serakah

Hari ini, jam 10:45 saya terbang dari Radin Inten II Airport, Bandar Lampung dan mendarat di Terminal 3, Soekarno-Hatta International Airport pada jam 11:40. Saya keluar dari Terminal 3 jam 12.20 dan perlu meneruskan perjalanan menggunakan pesawat AirAsia yang boarding jam 14:10 dari Terminal 2 menuju KLIA2. Taksi adalah transportasi yang cepat untuk pindah terminal. Keluar dari terminal, saya langsung berjalan ke taxi stand. Seorang sopir taksi mendekati saya. “Berapa?” kata saya menanyakan ongkos. Saya terkejut ketika dia berkata ongkosnya Rp 100 ribu, padahal jaraknya sangat dekat dan banyak taksi-taksi lain yang juga ada disitu. Banyak pilihan. Ketika saya menawar, dia menjawab, “Saya sudah menunggu 2 jam tetapi tidak ada yang naik taksi saya”, katanya. Saya berpikir betapa ngobloknya orang ini yang hanya memikirkan keuntungan tanpa pertimbangan bahwa orang juga tidak mudah ditipu dan dengan mudah dapat menukar pilihannya.

Akhirnya saya memilih taksi Blue Bird yang lebih profesional. Walaupun hanya perlu membayar Rp 22 ribu, saya berikan Rp 70 ribu kepada supir taksi Blue Bird.

Ini cerita mengenai keserakahan di Soekarno-Hatta International Airport hari ini yang ditulis sambil menunggu pesawat ke Senai Airport, Johor Bahru.

Visiting professor at Universitas Lampung

I was appointed as a visiting professor at Universitas Lampung from 22 September to 2 October 2019. I also delivered a keynote speech at International Conference on Science Technology and Interdisciplinary Research IC-STAR) on 24 September 2019. This conference is organized by Faculty of Engineering, Universitas Lampung.

Which one?

There are only four types of person you can be.

    1. Very bright, Industrious (You’re perfect)
    2. Very bright, Lazy (A damn shame)
    3. Stupid, Lazy (You’ll just sit on your ass, so you’re a wash)
    4. Stupid, Industrious (Oh, oh, you’re dangerous)

Oh no, I found someone with character number 4, stupid and industrious. The trouble maker. 😥

Kegiatan di Padang

Kegiatan saya di Padang bulan ini adalah memberikan ceramah di SMA Semen Padang (18 September 2019) dan menjadi keynote speaker di International Conference on Nuclear Energy Technologies and Sciences 2019 (ICoNETS 2019) pada 19 September 2019 di Universitas Andalas. Di bawah ini adalah foto-foto dari kegiatan tersebut.

 

Silahturahmi dengan keluarga merupakan kegiatan penting ketika berkunjung ke Padang.

Profesor Mardjono Siswosuwarno

Profesor Mardjono Siswosuwarno
(17 Mei 1948 – 20 September 2019)

48765830122_37d1d43dde_bHari ini saya menerima berita sedih, guru saya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Mardjono Siswosuwarno, meninggal dunia jam 5.30 pagi tadi di Bandung. Bagi saya, Prof. Mardjono adalah guru yang layak untuk dikenang dengan cara beliau mendidik yang memberikan impak kepada murid-muridnya, termasuk saya. Saya menjadi mahasiswa beliau di Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB dari tahun 1993 sampai saya lulus pada bulan Februari 1995. Saya adalah lulusan pertama program ini dan satu-satunya yang diwisuda pada bulan April 1995. Beliau adalah dosen yang sangat menguasai materi perkuliahan. Ada beberapa mata kuliah yang diajar oleh beliau. Beliau mengajar nyaris tanpa alat bantu, dan hanya menggunakan spidol dan papan tulis. Kuliah beliau penuh dengan analogi dan sangat menarik. Walaupun kadang-kadang beliau marah ketika mahasiswanya tidak mengerti, namun beliau tetap berusaha menerangkan supaya materi tersebut dimengerti. Bagi saya, beliau adalah guru yang sangat bagus dan berdedikasi tinggi dalam mengajar dan mendidik, walaupun kadang-kadang emosional. Hampir semua ujian beliau “open book”. Beliau sangat fair dalam menilai. Saya pernah diberi nilai di atas 100, yaitu 105, dengan bonus 5 angka karena menyerahkan kertas jawaban sebelum waktunya.

Saya masih ingat setelah selesai ujian akhir tesis magister yang dihadiri oleh beberapa penguji, beliau bertanya, “Setelah lulus magister kamu mau kemana?”. Saya menjawab, “Tidak tahu Pak”. Kemudian beliau berkata, “Apakah kamu mau menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB?”. Saya tidak langsung mengiyakan dan menjawab, “Saya pikirkan dulu Pak”. Setelah pulang dan berdiskusi dengan istri saya, akhirnya saya menerima tawaran beliau menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB. Setelah itu saya disuruh oleh beliau membuat surat permohonan menjadi dosen ITB. Status saya setelah itu adalah calon dosen ITB, sehingga Pak Mardjono berinisiatif agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven) walaupun akhirnya saya tidak jadi berkhidmat di ITB dan sudah mendapat rumah transit sebagai dosen ITB setelah saya lulus doktor tahun 1998.

Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Pak Mardjono dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke Ph.D. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

Terima kasih Prof. Mardjono, “Seorang guru mempengaruhi keabadian; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti”. Jasamu dikenang.

Ini berita di media massa mengenai beliau yang pakar dalam menyelidiki kecelakaan pesawat terbang:

Sumber asli berita di bawah ini: https://bit.ly/2kLrVs6

KOTAK HITAM AIRASIA
Mardjono, Empu Pemecah Misteri Musibah Penerbangan
Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Sabtu, 17/01/2015 20:07 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Blackbox (kotak hitam) pesawat bukanlah benda yang dengan mudah dapat dibaca dan diteliti oleh orang biasa. Perlu keahlian dan pengertian yang cukup agar seseorang dapat meneliti isi rekaman untuk mengetahui ragam penyebab kecelakaan pesawat.

Musibah AirAsia QZ8501 di penghujung 2014, pencarian blackbox langsung prioritas tim operasi yang bergerak di lapangan setelah pencarian korban. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera membentuk Tim Investigasi Musibah nahas pesawat dengan destinasi Singapura dari Surabaya itu.

Tim Investigasi Musibah QZ8501 bentukan KNKT dipimpin oleh Mardjono Siswosuwarno (67). Profesor Institut Teknologi Bandung yang dipercaya memimpin penyelidikan dengan melibatkan Bureau d'Enquetes et d'Analyses (BEA), KNKT dari Perancis sebagai negara asal pesawat AirAsia rakit, dan beberapa ahli dari Korea Selatan dan Singapura.

Sosok Mardjono di dunia penerbangan khususnya ihwal kecelakaan menjadi spesialisasinya. "Pengalaman saya pernah terlibat penyelidikan kecelakaan Adam Air (2007), Garuda di Jogjakarta (2007), peristiwa Merpati di Kaimana (2011), dan musibah Sukhoi (2012)," ujar Mardjono Siswosuwarno ketika diwawancarai oleh CNN Indonesia, Kamis lalu.

Posisi ketua investigasi dalam berbagai musibah kecelakaan ia pernah ketuai. Penyelidikan isi kotak hitam pesawat Sukhoi yang menabrak Gunung Salak 2012 silam juga dipimpin oleh dirinya. Kali ini, KNKT pun tampaknya sudah benar meminta jasanya untuk kembali memimpin tim investigasi kecelakaan AirAsia QZ8501.

Selama menjadi bagian dari tim investigasi kecelakaan pesawat, cerita jatuhnya Silkair di Sungai Musi menjadi yang paling unik ia rasakan dan bisa dibilang terburuk. Saat itu 1997, pesawat terbenam di dasar Sungai Musi dengan kondisi sedemikian hancur.

"Saya baru lihat ada pesawat yang demikian hancur sampai dikeruk dari dasar sungai, hanya tersisa 73 persen bagian pesawatnya," ujar Mardjono.

Kekhawatiran tidak bisa menyelesaikan tugas sempat dirasakan Mardjono. Jatuhnya Adam Air di 2007 di Selat Makasar membuat rasa pesimis Mardjono mengemuka karena sulit dan lamanya waktu pencarian kotak hitam

"Paling mendebarkan itu pengalaman di peristiwa Adam Air karena ada keraguan jangan-jangan blackboxnya ga bisa diambil. Tapi ternyata (blackbox) bisa diambil," ujar Mardjono menyampaikan pengalamannya.

Pria lulusan pendidikan Doktor In De Toege Paste Belgia tahun 1978 itu menilai, fasilitas laboratorium untuk investigasi isi kotak hitam di KNKT sudah cukup baik. Walaupun beberapa tambahan perangkat lunak untuk keperluan penyelidikan masih dibutuhkan di laboratorium yang ada. Namun, ia berharap penyediaan kapal khusus dan Remotely Operated Vehicle (ROV) dapat terwujud untuk sewaktu-waktu digunakan jika dibutuhkan seperti saat musibah QZ8501 terjadi.

"Belum punya ROV tapi perlu punya ya mungkin walaupun itu membutuhkan modal. ROV tidak akan bermanfaat kalau punya kapal khusus untuk itu," ujar Mardjono.

Antara Keluarga, Dosen, dan Pekerjaan

Dosen, seorang ayah dan investigator kecelakaan pesawat, ia jalani dengan porsi yang sangat sesuai. Mengajar di ITB, selalu ia sempatkan, dua kali per pekan.

Selama penyelidikan kotak hitam AirAsia QZ8501 misalnya, Mardjono selalu menyempatkan diri untuk tetap mengajar di ITB sesuai jadwal yang telah ditentukan. "Saya mengajar dua mata kuliah semester ini. Besok senin ini saya pulang ke Bandung untuk mengajar, terus balik lagi ke Jakarta. Bolak-balik Jakarta-Bandung saya," cerita Mardjono.

Tanggung jawab sebagai dosen tidak pernah ia tinggalkan karena bentuk kewajiban untuk membimbing anak didiknya, Tidak sedikit mahasiswa yang menggantungkan nasibnya kepada Mardjono karena tengah berkutat dengan tugas akhir. Sebagai konsekuensi atas keterbatasan waktunya, maka Mardjono membebaskan anak didiknya untuk bimbingan skripsi, tesis, maupun disertasi melalui berbagai media.

"Saya membimbing mahasiswa S1 dua orang, S2 dua orang, dan calon dokter dua orang. Bagaimana membimbingnya? Saya memperbolehkan bimbingan lewat telepon, email, sms, atau tatap muka," jelas Mardjono bagai dosen yang sedang mengajar.

Konsekuensi posisinya sebagai ketua tim investigasi dan dosen menyebabkan dirinya jarang memiliki waktu di rumah. Beruntung kedua anak Mardjono telah hidup mandiri dan tidak menjadi tanggungan langsung bagi dirinya lagi.

Kakek dari satu cucu itu mengatakan, kemajuan teknologi saat ini sangat membantu dirinya untuk berkomunikasi dengan keluarganya setiap saat meskipun tak ia pungkiri pertemuan keluarga secara tatap muka menjadi pelepas rindu paling ampuh di sela sibuknya mengabdi dan bekerja. (pit/sip)

Stupidity

I realize that not all people are smart, some are stupid, those who have behavior that shows a lack of good sense or judgment.

Stupidity is a lack of intelligence, understanding, reason, wit, or sense. The modern English word “stupid” has a broad range of application, from being slow of mind (indicating a lack of intelligence, care or reason), dullness of feeling or sensation (torpidity, senseless, insensitivity), or lacking interest or point (vexing, exasperating). It can either infer a congenital lack of capacity for reasoning, or a temporary state of daze or slow-mindedness.

Currently, I am dealing with these stupid people. This is the reality that must be faced in life.

May Allah protect and guide us, May He forgive us for what we do and don’t do and may He open our eyes and grant us hidayah.

Screenshot 2019-09-16 at 7.06.11 AM