Kualitas atau kuantitas?

Dalam genggaman zaman, gelar dan predikat bagai embun pagi yang cepat menguap. Namun, apa arti embun tanpa kesegaran yang ditinggalkannya? Di balik dinding universitas, seorang profesor berdiri, menjadi pilar bagi generasi yang haus akan ilmu. Bukan sekedar gelar, melainkan sebuah tanggung jawab yang berat bagai gunung.

“Prof,” panggilan yang sering kudengar, bukanlah sekedar hembusan angin, melainkan sebuah bisikan tanggung jawab. Di antara lembaran-lembaran jurnal, kualitas adalah mutiara yang paling berharga. Bukan sekedar angka, melainkan esensi dari setiap kata yang tertulis.

Alhamdullilah, dalam kualitas, karyaku bersemayam, menunjukkan bahwa setiap detik yang kulewati bukanlah sia-sia. Namun, “prof” bukanlah puncak, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang, bagai sungai yang mengalir tanpa henti.

Dalam “Kuantitas atau kualitas?”, pertanyaan itu kugulirkan, mencari makna di balik setiap kata. Seorang profesor, bukanlah sekedar jumlah, melainkan kualitas yang menjadi nyawa dari setiap karyanya.

Menurut Sinta (Science and Technology Index), saya telah mempublikasikan sebanyak 70 artikel di jurnal berkualitas Q1, yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jurnal yang tidak berkualitas. Alhamdulillah.

Maka, biarlah “prof” menjadi simbol dari tanggung jawab, bukan sekedar predikat. Sebagai profesor, kita adalah penerang bagi generasi yang gelap, memberikan cahaya ilmu yang tak pernah padam. Semoga kita semua, bagai pohon yang tegak, memberikan teduh bagi mereka yang berlindung di bawahnya.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.