Lagi-lagi politik

Di tengah hiruk pikuk zaman, seorang yang berjuluk intelektual tak semata-mata menjadi gelar hiasan. Ia haruslah berjuang, berjibaku dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dan jika takdir menempatkannya di universitas, ia harus mendidik. Universitas, sebuah institusi yang seharusnya menjadi mercusuar bagi masyarakat, menjadi sumber ilmu yang tak pernah kering. Namun, adakah kita sadar? Universitas yang sakit mencerminkan masyarakat yang terluka.

Revolusi Prancis, sebuah peristiwa monumental dalam sejarah, melahirkan “Ideologi” sebagai kompas bagi civitas akademika dalam berpolitik di kampus. Namun, alangkah ironisnya, kompas tersebut kerap kali terpesona oleh magnetisme kepentingan sekelompok, bukan menunjuk ke arah utara kebenaran yang hakiki. Universitas, yang seharusnya menjadi oasis bagi ide-ide murni dan pengetahuan, kini terkadang berubah menjadi arena pertarungan ideologi yang membara.

Konservatisme, liberalisme, sosialisme; tonggak-tonggak ideologi klasik yang berdiri tegak. Namun, kampus tak pernah berhenti berinovasi, melahirkan ideologi-ideologi baru yang kadang-kadang kabur definisinya. Tidak ada ideologi yang murni, hanya kepentingan kekuasaan yang berkedok. Namun, adakah kita pernah berhenti sejenak dan bertanya: Apakah ideologi-ideologi tersebut murni? Ataukah mereka hanyalah topeng yang menutupi wajah kepentingan pribadi atau kelompok? Betapa pilunya, jika posisi strategis dikuasai bukan oleh mereka yang benar-benar kompeten, melainkan mereka yang loyal pada kepentingan kelompok tertentu. Tidak jelas apa yang diperjuangkan, ideologi atau kelompok? Yang pasti tentulah kekuasaan. 

Ironi memang, kampus yang seharusnya menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan dunia dengan cahaya pengetahuannya, kini terkadang terbenam dalam kegelapan bayang-bayang politik. Namun, di balik tebalnya kabut politik yang menyelimuti, selalu ada secercah harapan. Harapan bahwa generasi muda akan bangkit, menyadari, dan kembali ke esensi sejati pendidikan tinggi: bukan semata-mata soal politik atau kekuasaan, melainkan tentang pengetahuan, integritas, dan kebenaran yang abadi.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.