Tema utama hari ini ialah kesadaran, topik yang sering diremehkan dalam budaya ilmiah dan filosofis. Mengapa? Karena kesadaran adalah prasyarat penting dalam kehidupan. Tanpa kesadaran, apakah peduli dengan sains, filsafat, musik, seni, atau apapun, semuanya akan sia-sia. Menjadi ironis jika kesadaran bukanlah pusat perhatian.
Seiring bertambahnya ketertarikan pada kesadaran, seringkali muncul opini-opini kontroversial. Bahkan upaya serius untuk meneliti perkembangan kesadaran sering kali berlangsung sangat lambat. Salah satu kendala adalah, pada awalnya, kesadaran tampak seperti masalah biologi yang sederhana yang bisa diselesaikan oleh ahli saraf. Namun ternyata, banyak yang merasa canggung ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka merasa malu.
Ada resistensi dan antipati yang aneh terhadap kesadaran. Mungkin ini disebabkan oleh dua asumsi yang ada dalam budaya intelektual. Pertama, kesadaran bukan bagian dari dunia fisik, melainkan bagian dari dunia spiritual, milik jiwa. Inilah tradisi Tuhan, jiwa, dan keabadian. Tradisi lain yang berseberangan dengan ini adalah materialisme ilmiah, yaitu bahwa kesadaran bukan bagian dari dunia fisik, entah itu tidak ada atau adalah sesuatu yang lain, seperti program komputer.
Argumen sering muncul yang menyebabkan perdebatan, salah satunya berbunyi: “Sains adalah objektif, kesadaran adalah subjektif, oleh karena itu, tidak mungkin ada sains dari kesadaran.” Argumen ini sangat menarik karena memiliki banyak ambiguitas tentang konsep objektivitas.
Namun, pesan utama yang disampaikan dalam diskusi ini adalah bahwa kesadaran adalah fenomena biologis, seperti fotosintesis, pencernaan, mitosis, dan semua fenomena biologis lainnya. Dan dengan menerima hal itu, sebagian besar, meskipun tidak semua, masalah sulit tentang kesadaran hanya akan hilang!
Terdapat beberapa pendapat yang cukup aneh tentang kesadaran. Ada empat yang paling menonjol. Pertama, “Kesadaran tidak ada. Itu adalah ilusi, seperti matahari terbenam.” Kedua, “Mungkin ada, tapi itu adalah sesuatu yang lain, yaitu program komputer yang berjalan di otak.” Ketiga, “Yang benar-benar ada adalah perilaku!” Keempat, “Mungkin kesadaran ada, tapi itu tidak bisa membuat perbedaan di dunia. Bagaimana spiritualitas bisa mempengaruhi sesuatu?”
Namun, kesadaran benar-benar ada dan tidak dapat dihilangkan. Semua keadaan kesadaran memiliki karakter kualitatif; ada perasaan yang dirasakan saat minum bir, yang tidak seperti perasaan saat mengisi pajak penghasilan.
Mungkin ada kebingungan antara objektivitas dan subjektivitas sebagai fitur realitas (di mana kesadaran berada – ini adalah fitur subjektif dari realitas), dan objektivitas dan subjektivitas sebagai fitur klaim yang dibuat, proposisi yang diajukan, yang bisa benar atau salah. Oleh karena itu, untuk merangkum poin ini, ilmu pengetahuan yang sepenuhnya objektif tentang kesadaran dapat dimiliki.
Selanjutnya, argumen bahwa kesadaran adalah ilusi – tidak ada, dapat ditinjau kembali. Sangat mudah untuk membuktikan kesalahan pendapat ini. Kesadaran adalah aspek paling fundamental dari eksistensi. Tindakan mendebat apakah kesadaran itu ada menunjukkan bahwa itu ada – jika tidak, debat itu sendiri tidak akan disadari. Tidak mungkin untuk meremehkan atau menyangkal keberadaan kesadaran sebagaimana mudahnya membubarkan ilusi optik.
Pandangan umum lainnya adalah bahwa kesadaran hanyalah program komputer yang berjalan di otak. Ini juga salah. Sementara komputasi dan algoritma ditentukan oleh manipulasi simbol dan sintaksis, kesadaran manusia melampaui ini. Ia memiliki konten dan semantik – kedalaman makna dan pengalaman yang tidak bisa ditangkap oleh pemrosesan simbol semata. Lebih lagi, kesadaran melahirkan realitas yang independen dari pengamat, seperti institusi sosial dan konsep. Komputasi, di sisi lain, bergantung pada pengamat – baik itu makhluk sadar yang melakukan komputasi atau mesin yang kita interpretasikan sebagai melakukan komputasi.
Aspek lain dari kesadaran yang harus disebutkan adalah dampaknya terhadap perilaku. Keputusan sadar mengarah ke tindakan fisik. Ini bukan proses mistis atau supranatural. Ini hanyalah rangkaian proses neurobiologis, dari otak yang memicu neurotransmiter hingga otot yang bergerak sebagai respons.
Akhirnya, harus dipertimbangkan pula pendapat yang menyarankan bahwa kesadaran tidak membuat perbedaan di dunia. Pandangan ini mengabaikan dampak besar kesadaran terhadap dunia. Setiap tindakan manusia, setiap perubahan masyarakat, setiap karya seni atau terobosan ilmiah adalah manifestasi dari kesadaran yang bekerja.
Untuk sepenuhnya memahami kesadaran, perlu dihargainya sebagai fenomena biologis – sebenarnya dan fundamental seperti proses biologis lainnya. Jika pandangan ini diterima, banyak masalah sulit tentang kesadaran mulai menghilang. Ilmu pengetahuan yang sepenuhnya objektif tentang kesadaran dapat dimiliki, yang menyelidiki realitas yang secara fundamental subjektif. Dan dengan memahami ini, pemahaman yang lebih dalam tentang pikiran dan dunia di sekitar dapat dibuka.
Kesadaran adalah fenomena subjektif yang terkait dengan kemampuan individu untuk mengalami dan merasakan berbagai hal. Dalam konteks filsafat dan psikologi, kesadaran sering didefinisikan sebagai keadaan yang melibatkan pengetahuan dan pemahaman diri serta lingkungan sekitar.
Dalam istilah sederhana, kesadaran dapat dianggap sebagai “pengalaman pribadi”, suatu keadaan dalam diri individu di mana ia menyadari keberadaannya, pikiran, perasaan, dan persepsi. Ini mencakup kemampuan untuk merasakan lingkungan sekitar, pemahaman tentang hubungan diri dengan orang lain dan lingkungan, dan kemampuan untuk merencanakan dan merenungkan masa depan.
Kesadaran bukanlah sesuatu yang dapat diamati secara langsung dari luar, karena merupakan fenomena internal dan subjektif. Namun, ilmuwan dapat mengamati dan mencatat perilaku dan respons seseorang terhadap berbagai rangsangan, yang dapat memberikan petunjuk tentang keadaan kesadaran mereka.
Dalam konteks ilmiah, kesadaran dianggap sebagai hasil dari aktivitas otak yang kompleks dan terpadu. Beberapa teori ilmiah mencoba menjelaskan kesadaran sebagai fenomena yang muncul dari aktivitas jaringan saraf dalam otak, yang memungkinkan kita untuk memproses, menginterpretasikan, dan merespons informasi yang kita terima dari lingkungan kita.
Namun, meski sudah banyak penelitian, kesadaran masih tetap menjadi topik yang misterius dan kompleks dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan, dengan banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.
Ada banyak tokoh dalam bidang psikologi, neurologi, dan filsafat yang mendukung pandangan bahwa kesadaran adalah fenomena biologis. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Pandangan ilmuwan
Ada banyak tokoh dalam bidang psikologi, neurologi, dan filsafat yang mendukung pandangan bahwa kesadaran adalah fenomena biologis. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Francis Crick: Ahli biokimia dan neurosains Inggris yang dikenal karena pekerjaannya dalam menemukan struktur molekul DNA. Ia juga telah menulis banyak tentang kesadaran sebagai fenomena biologis. Dalam bukunya yang berjudul “The Astonishing Hypothesis”, Crick berargumen bahwa kesadaran diterangkan sepenuhnya oleh aksi dan interaksi neuron dalam otak.
- Christof Koch: Seorang ilmuwan saraf Amerika yang telah banyak bekerja sama dengan Crick dalam penelitian tentang asal-usul biologis kesadaran. Koch telah menerbitkan sejumlah artikel dan buku tentang subjek ini, termasuk “The Quest for Consciousness” dan “Consciousness: Confessions of a Romantic Reductionist”.
- Antonio Damasio: Seorang profesor neurologi, psikologi, dan filsafat dan direktur Brain and Creativity Institute. Dia terkenal dengan teori somatic marker, yang menjelaskan bagaimana emosi berperan dalam pembuatan keputusan, dan dia telah berkontribusi banyak ke pemahaman kita tentang kesadaran dan diri.
- Patricia Churchland: Seorang filsuf yang terkenal dengan pendekatannya terhadap filsafat pikiran menggunakan neurosains. Dia telah menulis banyak buku dan makalah tentang topik ini, termasuk “Brain-Wise: Studies in Neurophilosophy” dan “Touching a Nerve: The Self as Brain.”
Dalam dunia filsafat dan ilmu pengetahuan, banyak tokoh yang berargumen bahwa kesadaran adalah konsep subjektif, beberapa di antaranya adalah:
- David Chalmers: Seorang filsuf dan ilmuwan kognitif yang dikenal karena memopulerkan konsep “masalah sulit” kesadaran. Menurut Chalmers, meski kita mungkin bisa menjelaskan perilaku dan proses kognitif dengan pengetahuan ilmiah, menjelaskan pengalaman subjektif atau apa yang disebut “kualia” tetap menjadi tantangan besar.
- Thomas Nagel: Seorang filsuf Amerika yang dikenal karena esainya “What Is it Like to Be a Bat?”, di mana ia berargumen bahwa ada aspek subjektif dari kesadaran (yaitu apa rasanya menjadi suatu organisme tertentu) yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh pengetahuan objektif.
- John Searle: Dikenal dengan “argumen ruangan Tiongkok”-nya, Searle berpendapat bahwa meskipun kita mungkin bisa memprogram komputer untuk meniru perilaku manusia, itu tidak berarti komputer tersebut memiliki kesadaran subjektif.
- Ned Block: Seorang filsuf yang membedakan antara “kesadaran fenomenal” (pengalaman subjektif) dan “kesadaran akses” (keterlibatan kesadaran dalam fungsi kognitif seperti memori dan keputusan).