


Tadi saya menghadiri acara Halal bi Halal yang diselenggarakan oleh warga Nahdathul Ulama Universitas Negeri Malang (UM). Acara ini merupakan tradisi yang diadakan setiap tahun sebagai ajang silaturahmi dan saling memaafkan antara umat Muslim, khususnya di lingkungan kampus UM. Dalam acara tersebut, Prof. Rofi’uddin, mantan Rektor UM, memberikan kata sambutan yang mengangkat tema pentingnya menutup aib sesama Muslim.
Prof. Rofi’uddin menyampaikan bahwa menutup aib sesama Muslim merupakan bentuk rasa persaudaraan dan solidaritas yang diharapkan dalam ajaran Islam. Menutup aib tidak hanya berarti menyembunyikan kesalahan atau kekurangan yang dimiliki oleh seseorang, tetapi juga menghindari menyebarkan gosip atau cerita negatif yang berpotensi merusak reputasi individu tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa menutup aib sesama Muslim sejalan dengan konsep tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Menjaga kehormatan dan harga diri orang lain merupakan amanah yang harus dijaga oleh setiap Muslim, karena setiap individu memiliki martabat dan hak untuk dihargai.
Dalam konteks kampus, menutup aib sesama Muslim dapat diterapkan dalam berbagai situasi, seperti menjaga privasi teman yang sedang mengalami masalah, tidak mengejek atau menghina rekan yang sedang kesulitan, dan membantu mereka yang membutuhkan dukungan. Melalui sikap ini, kita dapat membangun lingkungan yang harmonis dan rasa persaudaraan yang kuat, sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Sebagai penutup, Prof. Rofiuddin menegaskan bahwa menutup aib sesama Muslim adalah salah satu cara untuk menghargai keberagaman dan menjaga persatuan umat. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus saling menghargai, saling melindungi, dan mengedepankan kebaikan bersama. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar, bekerja, dan hidup bersama dalam suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan.
You must be logged in to post a comment.